YOHANES 19:25
Teks
Sementara para prajurit sibuk membagi-bagi pakaian dan membuang undi atas jubah tanpa jahitan itu, di sisi lain salib ada kelompok kecil yang tidak berbuat apa-apa selain berdiri. Yohanes menyebut nama mereka satu per satu: "ibu Yesus, saudara perempuan ibu Yesus, Maria istri Klopas, dan Maria Magdalena, berdiri di dekat salib-Nya." Empat perempuan, atau mungkin tiga, tergantung bagaimana kita membaca koma-koma itu; teksnya sendiri tidak mau memastikan. Yang pasti hanyalah posisi mereka: dekat. Bukan menonton dari kejauhan seperti kerumunan, bukan melarikan diri seperti sebagian murid, melainkan berdiri di jarak yang membuat mereka bisa mendengar napas-Nya yang tersengal. Satu kalimat, tanpa keterangan perasaan, tanpa air mata yang dicatat. Hanya nama dan tempat.
Inti
Yohanes tidak memberi tahu kita apa yang mereka rasakan, dan justru di situ letak beratnya. Kita ingin tahu apakah Maria menangis, apakah ia mengerti, apakah ia mengingat kata-kata Gabriel. Injil diam. Yang tersisa hanyalah kata kerja "berdiri", dan itu ternyata cukup untuk membentuk seluruh teologi tentang bagaimana kasih bertahan ketika kasih tidak bisa lagi menolong. Sebab tidak ada yang bisa mereka lakukan. Mereka tidak bisa menurunkan Dia, tidak bisa meredakan nyeri-Nya, tidak bisa membantah imam-imam kepala. Kehadiran mereka sama sekali tidak mengubah jalannya peristiwa. Namun Roh Kudus menganggapnya layak dicatat, sementara nama-nama para prajurit yang membunuh-Nya hilang selamanya. Allah rupanya menghitung dengan cara lain daripada kita: bukan hasil, melainkan kesetiaan yang tinggal di tempat yang paling ingin ditinggalkan.
Benang Merah
Di taman pertama, sesudah segalanya rusak, terdengar janji tentang keturunan perempuan yang akan meremukkan kepala ular sementara tumit-Nya sendiri diremukkan (Kejadian 3:15). Ada sesuatu yang menggetarkan ketika kita sadar bahwa di Golgota seorang perempuan berdiri dekat, menyaksikan tumit itu diremukkan di depan matanya. Yohanes memang menyukai lingkaran yang menutup: taman di awal Alkitab, taman di ayat 41 tempat Yesus dikuburkan. Dan di antara keduanya, seorang ibu yang tidak tahu bahwa ia sedang berdiri di titik sambung sejarah keselamatan. Ia hanya melihat anaknya mati. Kita yang membaca kemudian melihat lebih banyak, tetapi kita tidak boleh terlalu cepat melihat lebih banyak. Kadang iman berarti berdiri di dalam adegan sebelum memahami maknanya.
Cermin
Ada penderitaan yang bisa kita perbaiki, dan itu memang panggilan kita. Tetapi ada juga ruang rumah sakit tempat obat sudah dihentikan, ada anak yang memilih jalan yang menghancurkan dirinya dan tidak mau mendengar, ada pernikahan sahabatmu yang sudah retak terlalu dalam, ada orang tua yang perlahan tidak mengenalimu lagi. Kita cenderung menghindari tempat-tempat itu, dan kita menyebutnya "tidak tahu harus berkata apa". Yang sebenarnya kita takuti adalah rasa tidak berguna. Berdiri dekat salib berarti menyerahkan kebutuhan untuk berguna. Kehadiranmu tidak menyembuhkan siapa pun, dan tetap dicatat oleh Allah. Hari ini juga, kirimkan satu pesan kepada orang yang penderitaannya tidak bisa kauperbaiki, tanpa nasihat, tanpa ayat, hanya: aku memikirkanmu dan aku tidak pergi.
Konteks
Penyaliban Romawi dirancang sebagai tontonan yang mempermalukan, dilakukan di jalur ramai dekat kota supaya "banyak orang Yahudi membaca tulisan itu". Berdiri dekat orang yang dieksekusi sebagai pemberontak politik bukan tindakan netral; itu pernyataan keberpihakan di depan tentara bersenjata. Para murid laki-laki punya alasan untuk takut. Perempuan dianggap kurang berbahaya, tetapi tetap saja mereka mengambil risiko sosial yang besar: dikenali sebagai keluarga seorang terhukum berarti membawa aib itu pulang ke kampung. Dan ini hari persiapan Paskah, saat seluruh kota sibuk menyembelih domba dan menyucikan diri. Mereka justru berada di tempat paling najis menurut ukuran ritual, dekat kematian, sementara imam-imam kepala menjaga kesucian mereka.
Pertanyaan
Mengapa Maria harus melihatnya? Allah bisa saja mengatur agar ia tiba terlambat, agar ia pingsan, agar seseorang membawanya pergi. Tidak ada dalam teks yang menyiratkan bahwa penderitaannya diperlukan untuk keselamatan siapa pun. Ia berdiri di sana dan tidak diselamatkan dari apa yang dilihatnya. Kita ingin menjelaskan itu, mengubahnya menjadi pelajaran tentang keberanian atau tentang gereja yang lahir di kaki salib, dan penjelasan-penjelasan itu tidak seluruhnya salah. Tetapi tak satu pun menghapus fakta kasar bahwa seorang ibu menonton anaknya mati perlahan selama berjam-jam. Injil tidak menawarkan penghiburan di titik ini. Ia hanya memberi tahu kita bahwa Allah sendiri berada di dalam penderitaan itu, bukan di luarnya sebagai penonton.
Profil
Pembaca pertama Injil ini adalah jemaat yang sebagian dikucilkan dari sinagoge, kehilangan keluarga, tempat, dan nama baik karena mengaku percaya. Bagi mereka, daftar nama ini bukan detail sejarah melainkan cermin. Mereka mengenali diri di dalamnya: kelompok kecil yang tak berdaya, berdiri dekat, tidak bisa mengubah apa pun. Dan mereka mendengar sesuatu yang mudah luput dari kita. Dalam dunia mereka, kesaksian perempuan bernilai rendah di pengadilan. Namun Yohanes menempatkan perempuan-perempuan ini sebagai saksi mata paling dekat dari peristiwa yang menjadi pusat imannya. Allah menyusun daftar saksi-Nya dari orang-orang yang tidak diperhitungkan. Itu terdengar sebagai janji bagi jemaat yang sedang merasa tidak diperhitungkan juga.
Refleksi
Siapa yang sedang berada dalam penderitaan yang tidak bisa kauperbaiki, dan apa yang sebenarnya membuatmu enggan berdiri dekat di sana?
Jika kehadiranmu tidak mengubah apa pun, apakah kamu masih percaya bahwa itu berharga di mata Allah, dan apa artinya kalau kamu tidak percaya?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang John 19:25
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti YOHANES 19:25?
Tentang apakah YOHANES 19:25?
Apa konteks historis dari YOHANES 19:25?
Apa yang YOHANES 19:25 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana YOHANES 19:25 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang John 19
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Terima kasih, Tuhan Yesus, karena tuduhan itu ternyata benar: Engkau memang Anak Allah. Engkau tidak menyangkal jati diri-Mu meski itu berarti hukuman mati. Aku bersyukur Engkau rela dianggap bersalah karena kebenaran, supaya aku yang bersalah dinyatakan benar.
Kemudian, Pilatus menyerahkan Yesus kepada mereka untuk disalibkan." Pilatus tahu Yesus tidak bersalah, tapi ia memilih aman. Ia tidak menghukum, ia hanya menyerahkan, seolah tangannya tetap bersih. Ada kalanya kita pun begitu: tidak menolak Yesus terang-terangan, hanya menyerahkan Dia pada suara terbanyak. Hari ini, di mana kamu diam supaya tetap aman?
Hari Sabat itu tidak boleh ternoda oleh tubuh yang tergantung di salib. Maka mereka meminta kaki orang-orang itu dipatahkan supaya cepat mati dan diturunkan. Rapi secara agama, tetapi hati mereka baru saja menyalibkan Tuhan atas hari Sabat. Aku bertanya pada diriku: apa yang kujaga bersih di luar, sementara di dalam aku melewatkan Dia?
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi