Untuk anak usia 7 hingga 12 tahun

YEREMIA 36

Penjelasan dan kisah Alkitab untuk usia sekolah dasar (7-12)

Alkitab

Penjelasan

Cerita ini terjadi pada zaman Raja Yoyakim, sekitar enam ratus tahun sebelum Yesus lahir. Allah menyuruh Nabi Yeremia menuliskan semua firman yang pernah Ia sampaikan, mulai dari zaman Raja Yosia sampai hari itu, ke atas sebuah gulungan kitab. Tujuannya jelas: mungkin bangsa Yehuda mau mendengar, berbalik dari jalan hidupnya yang jahat, dan Allah akan mengampuni mereka.

Yeremia sendiri dilarang masuk ke rumah Tuhan, jadi ia meminta temannya, Barukh, menuliskan semua firman itu dan membacakannya di depan orang banyak. Barukh melakukannya dengan setia. Ketika seorang pejabat bernama Mikhaya mendengar isi gulungan itu, ia langsung melaporkannya kepada para pejabat lain. Mereka ketakutan dan berkata, "Raja harus mendengar ini."

Lalu gulungan itu dibawa ke istana dan dibacakan di depan Raja Yoyakim. Saat itu musim dingin, dan raja duduk dekat perapian yang menyala. Tiap kali beberapa kolom selesai dibaca, raja memotongnya dengan pisau dan melemparkannya ke dalam api, sampai seluruh gulungan itu habis terbakar. Beberapa pejabat, yaitu Elnatan, Delaya, dan Gemarya, membujuknya untuk berhenti, tetapi raja tidak mau mendengarkan. Setelah itu ia malah menyuruh orang menangkap Barukh dan Yeremia, tetapi Tuhan menyembunyikan mereka berdua.

Firman Tuhan kemudian datang lagi kepada Yeremia. Ia disuruh menuliskan ulang semua firman itu di gulungan yang baru, dan Barukh menuliskannya sekali lagi, bahkan dengan tambahan perkataan lain yang serupa.

Artinya Apa?

Cerita ini menunjukkan sesuatu yang mengejutkan sekaligus menyedihkan: firman Tuhan bisa dibakar oleh manusia, tetapi tidak bisa dibinasakan. Raja Yoyakim berpikir bahwa dengan membakar gulungan itu, ia bisa menyingkirkan kata-kata yang tidak ia sukai. Ia tidak takut, ia tidak menyesal, bahkan ia tidak merobek pakaiannya seperti tanda dukacita yang biasa dilakukan orang saat mendengar berita buruk dari Tuhan. Ia hanya ingin masalah itu lenyap dari pandangannya.

Tetapi firman Tuhan tidak bergantung pada selembar kertas. Begitu gulungan pertama musnah, Allah menyuruh menuliskannya lagi, malah lebih lengkap. Ini mengajarkan bahwa perkataan Allah punya kehidupan sendiri yang tidak bisa dipadamkan manusia, sekeras apa pun ia berusaha.

Menariknya, ada juga orang-orang seperti Mikhaya, Elnatan, Delaya, dan Gemarya yang justru gelisah dan berusaha menyelamatkan gulungan itu. Mereka bukan pahlawan besar, tetapi mereka mendengarkan dengan hati yang masih terbuka, berbeda dari raja mereka.

Benang Merah

Kisah ini bicara tentang firman Tuhan yang terus hidup meski ditolak manusia. Itu mengingatkan kita pada Yesus Kristus, yang disebut Firman Allah yang datang dalam rupa manusia. Manusia juga pernah menolak-Nya, bahkan membunuh-Nya di kayu salib, seperti Yoyakim membakar gulungan itu. Tetapi Tuhan tidak berhenti di sana. Sama seperti Yeremia menuliskan gulungan baru, Allah membangkitkan Yesus dari kematian. Firman-Nya, kasih-Nya, tidak bisa dipadamkan oleh api, oleh kematian, atau oleh penolakan siapa pun.

Untukmu

Pernahkah kamu mendengar sesuatu dari Tuhan, lewat firman-Nya atau lewat suara hati, yang sebenarnya tidak ingin kamu dengar? Mungkin tentang kejujuran, tentang sikapmu pada teman, atau tentang kebiasaan yang sulit kamu lepaskan. Raja Yoyakim memilih menutup telinga dan membakar suara itu. Tetapi kamu bisa memilih seperti Mikhaya dan kawan-kawannya, yang mendengarkan dengan hati yang gelisah, bukan hati yang keras. Mendengarkan firman Tuhan kadang tidak nyaman, tetapi di situlah Allah menawarkan pengampunan dan jalan baru, bukan hukuman semata.

Diskusikan

Mengapa menurutmu Raja Yoyakim lebih memilih membakar gulungan itu daripada mendengarkannya baik-baik?

Ceritakan sebuah saat ketika kamu tahu Tuhan ingin kamu berubah, tetapi itu terasa berat untuk dilakukan.

Berdoa Bersama

Tuhan, terima kasih karena firman-Mu tidak bisa dibakar atau dihapus oleh siapa pun. Tolong kami untuk mendengarkan-Mu dengan hati yang terbuka, bukan hati yang keras seperti Raja Yoyakim. Berilah kami keberanian seperti Barukh, yang setia menuliskan dan membacakan firman-Mu, walau itu tidak selalu disukai orang. Dalam nama Yesus kami berdoa, amin.

Bagikan kisah Alkitab ini

Untuk orang tua atau guru lain yang mungkin merasa ini bermanfaat.

WhatsApp Email Facebook X / Twitter

Pertanyaan tentang YEREMIA 36

Jawaban singkat bagi siapa saja yang baru pertama kali membaca tentang ini.

Tentang apakah YEREMIA 36?
Cerita ini terjadi pada zaman Raja Yoyakim, sekitar enam ratus tahun sebelum Yesus lahir. Allah menyuruh Nabi Yeremia menuliskan semua firman yang pernah Ia sampaikan, mulai dari zaman Raja Yosia sampai hari itu, ke atas sebuah gulungan kitab. Tujuannya jelas: mungkin bangsa Yehuda mau mendengar, berbalik dari jalan hidupnya yang jahat, dan Allah akan mengampuni mereka.
Apa yang dikatakan YEREMIA 36?
Lalu gulungan itu dibawa ke istana dan dibacakan di depan Raja Yoyakim. Saat itu musim dingin, dan raja duduk dekat perapian yang menyala. Tiap kali beberapa kolom selesai dibaca, raja memotongnya dengan pisau dan melemparkannya ke dalam api, sampai seluruh gulungan itu habis terbakar.
Apa yang YEREMIA 36 ajarkan tentang Tuhan?
Cerita ini menunjukkan sesuatu yang mengejutkan sekaligus menyedihkan: firman Tuhan bisa dibakar oleh manusia, tetapi tidak bisa dibinasakan. Raja Yoyakim berpikir bahwa dengan membakar gulungan itu, ia bisa menyingkirkan kata-kata yang tidak ia sukai. Ia tidak takut, ia tidak menyesal, bahkan ia tidak merobek pakaiannya seperti tanda dukacita yang biasa dilakukan orang saat mendengar berita buruk dari Tuhan.
Apa yang dapat dipelajari anak-anak dari YEREMIA 36?
Menariknya, ada juga orang-orang seperti Mikhaya, Elnatan, Delaya, dan Gemarya yang justru gelisah dan berusaha menyelamatkan gulungan itu. Mereka bukan pahlawan besar, tetapi mereka mendengarkan dengan hati yang masih terbuka, berbeda dari raja mereka.
Mengapa YEREMIA 36 menjadi kisah Alkitab yang penting?
Pernahkah kamu mendengar sesuatu dari Tuhan, lewat firman-Nya atau lewat suara hati, yang sebenarnya tidak ingin kamu dengar? Mungkin tentang kejujuran, tentang sikapmu pada teman, atau tentang kebiasaan yang sulit kamu lepaskan. Raja Yoyakim memilih menutup telinga dan membakar suara itu.

Yang ditemukan orang lain

Wawasan Editorial pada ayat 9

Puasa itu diumumkan pada bulan kesembilan, musim dingin, saat hati orang mudah gelisah. "mereka memaklumkan puasa di hadapan TUHAN." Tepat di hari itu Baruch membaca gulungan firman. Tuhan memakai ibadah yang ramai itu untuk menyelipkan suara-Nya. Pertanyaannya: kau datang berpuasa, atau datang mendengar?

Mencari kelompok usia yang lain?

Kami juga menyediakan versi khusus untuk balita (usia 3-6) dan remaja (12 tahun ke atas).

Buka di alat Alkitab Anak

For parents and teachers: Ditulis untuk anak usia 7 hingga 12 tahun yang sudah bisa membaca sendiri. Cocok untuk ibadah keluarga dan pelajaran Alkitab di sekolah. This explanation is generated automatically by language models. While we strive for theological soundness, the software can make mistakes.

© 2026 Faith.Network. Hak cipta dilindungi.

Faith.network adalah pelayanan dari Faith.network · KvK 84972599 · connect@faith.network