Untuk anak usia 6 sampai 12 tahun

BILANGAN 22

Penjelasan dan kisah Alkitab untuk usia sekolah dasar (6-12)

Alkitab

Penjelasan

Umat Israel baru saja berkemah di dataran Moab, dekat Sungai Yordan. Mereka sudah mengalahkan bangsa Amori, dan kabar itu membuat raja Moab, yaitu Balak, menjadi takut setengah mati. Dia melihat umat Israel sebagai gerombolan besar yang akan "membabat habis" negerinya, seperti sapi yang memakan semua rumput di ladang.

Karena takut, Balak tidak mengirim tentara. Dia mengirim utusan kepada seorang peramal bernama Bileam, dan memintanya untuk mengutuk Israel. Bileam bukan nabi Israel, tetapi dia tahu tentang TUHAN, Allah Israel. Ketika Allah bertanya siapa yang datang kepadanya, Allah langsung berkata dengan tegas, "Jangan pergi bersama mereka. Jangan mengutuk bangsa itu sebab mereka diberkati." Bileam pun menolak tawaran Balak yang pertama.

Namun Balak tidak menyerah. Dia mengirim utusan yang lebih banyak dan lebih terhormat, dengan tawaran upah yang besar. Kali ini Bileam berkata hal yang benar, bahwa dia tidak akan melanggar perintah TUHAN meski diberi emas dan perak sepenuh istana. Tetapi lihatlah yang terjadi selanjutnya: Allah mengizinkan Bileam pergi, dengan syarat dia hanya mengatakan apa yang Allah perintahkan. Lalu dalam perjalanan, Allah justru menjadi murka karena Bileam pergi.

Di sinilah bagian yang paling mengejutkan: seekor keledai melihat malaikat TUHAN berdiri di jalan dengan pedang terhunus, tetapi Bileam, si peramal yang katanya bisa melihat hal-hal gaib, tidak melihat apa-apa. Keledai itu berbelok tiga kali untuk menghindari malaikat itu, dan tiga kali dipukul oleh Bileam yang marah. Lalu TUHAN membuka mulut keledai itu, dan keledai berbicara! Baru sesudah itu mata Bileam dibuka, dan dia melihat malaikat yang hampir membunuhnya. Bileam bersujud dan mengaku berdosa.

Apa Artinya Ini?

Cerita ini mengajak kita berpikir tentang siapa yang sebenarnya memegang kendali. Balak berpikir dia bisa membeli kutukan dengan uang. Bileam, meski tahu kebenaran tentang Allah, tetap tergoda oleh upah besar dan berangkat juga, meski hatinya sebenarnya sudah diberi jawaban yang jelas. Kadang kita tahu apa yang benar, tetapi tetap mencari jalan supaya keinginan kita bisa terwujud juga. Apakah Bileam benar-benar taat, atau dia mencari cara untuk tetap mendapatkan upahnya sambil berpura-pura taat? Teks ini sendiri tidak memberi jawaban yang mudah, dan itu jujur, karena hati manusia memang sering begitu rumit.

Yang pasti, Allah tidak bisa dibeli, dan berkat-Nya atas Israel tidak bisa dibatalkan oleh siapa pun, termasuk oleh seorang peramal yang disewa dengan emas.

Benang Merah

Allah sudah berjanji memberkati umat-Nya, dan janji itu disebut perjanjian, yaitu ikatan setia yang Allah pegang sendiri. Balak dan Bileam berusaha mengubah arah janji itu dengan kutukan, tetapi mereka gagal total sejak awal, karena Allah sudah berfirman, "mereka diberkati." Ini mengingatkan kita bahwa keselamatan dan berkat Allah bagi umat-Nya tidak bergantung pada kekuatan manusia, juga tidak bisa digagalkan oleh kuasa gelap. Jauh di kemudian hari, berkat ini akan mengalir sampai kepada Yesus Kristus, keturunan Israel yang datang untuk memberkati seluruh dunia, bukan dengan kutukan, tetapi dengan nyawa-Nya sendiri.

Untukmu

Pernahkah kamu sudah tahu jawaban yang benar, tetapi tetap mencari-cari alasan supaya bisa melakukan yang kamu inginkan? Bileam melakukan itu. Ceritakan sesuatu dengan jujur kepada dirimu sendiri: kapan kamu pernah seperti itu, tahu yang benar tetapi berharap ada jalan lain?

Hal lain yang menarik, Allah memakai seekor keledai untuk melihat apa yang tidak dilihat Bileam. Itu mengajarkan bahwa kadang orang yang kita anggap hebat dan pintar bisa buta terhadap hal yang justru dilihat oleh yang kecil dan sederhana. Jangan pernah meremehkan suara kebenaran, dari mana pun datangnya.

Bahas Bersama

Mengapa menurutmu Allah mengizinkan Bileam pergi pada kali kedua, padahal sebelumnya Dia sudah melarangnya?

Apa yang membuatmu merasa seperti Bileam, yaitu tahu yang benar tetapi tetap mencari jalan sendiri?

Berdoa Bersama

Tuhan, kami bersyukur karena berkat-Mu tidak bisa dibeli atau dibatalkan oleh siapa pun. Bukalah mata kami seperti Engkau membuka mata Bileam, supaya kami melihat kehendak-Mu dengan jelas dan berani melakukannya, bukan dengan terpaksa, tetapi dengan hati yang percaya. Amin.

Bagikan kisah Alkitab ini

Untuk orang tua atau guru lain yang mungkin merasa ini bermanfaat.

WhatsApp Email Facebook X / Twitter

Pertanyaan tentang BILANGAN 22

Jawaban singkat bagi siapa saja yang baru pertama kali membaca tentang ini.

Tentang apakah BILANGAN 22?
Umat Israel baru saja berkemah di dataran Moab, dekat Sungai Yordan. Mereka sudah mengalahkan bangsa Amori, dan kabar itu membuat raja Moab, yaitu Balak, menjadi takut setengah mati. Dia melihat umat Israel sebagai gerombolan besar yang akan "membabat habis" negerinya, seperti sapi yang memakan semua rumput di ladang.
Apa yang dikatakan BILANGAN 22?
Namun Balak tidak menyerah. Dia mengirim utusan yang lebih banyak dan lebih terhormat, dengan tawaran upah yang besar. Kali ini Bileam berkata hal yang benar, bahwa dia tidak akan melanggar perintah TUHAN meski diberi emas dan perak sepenuh istana. Tetapi lihatlah yang terjadi selanjutnya: Allah mengizinkan Bileam pergi, dengan syarat dia hanya mengatakan apa yang Allah perintahkan.
Apa yang BILANGAN 22 ajarkan tentang Tuhan?
Cerita ini mengajak kita berpikir tentang siapa yang sebenarnya memegang kendali. Balak berpikir dia bisa membeli kutukan dengan uang. Bileam, meski tahu kebenaran tentang Allah, tetap tergoda oleh upah besar dan berangkat juga, meski hatinya sebenarnya sudah diberi jawaban yang jelas.
Apa yang dapat dipelajari anak-anak dari BILANGAN 22?
Allah sudah berjanji memberkati umat-Nya, dan janji itu disebut perjanjian, yaitu ikatan setia yang Allah pegang sendiri. Balak dan Bileam berusaha mengubah arah janji itu dengan kutukan, tetapi mereka gagal total sejak awal, karena Allah sudah berfirman, "mereka diberkati.
Mengapa BILANGAN 22 menjadi kisah Alkitab yang penting?
Hal lain yang menarik, Allah memakai seekor keledai untuk melihat apa yang tidak dilihat Bileam. Itu mengajarkan bahwa kadang orang yang kita anggap hebat dan pintar bisa buta terhadap hal yang justru dilihat oleh yang kecil dan sederhana. Jangan pernah meremehkan suara kebenaran, dari mana pun datangnya.

Yang ditemukan orang lain

Wawasan Editorial pada ayat 22

Akan tetapi, Allah menjadi marah karena Bileam pergi." Aneh, bukan? Allah sendiri yang mengizinkannya berangkat. Tetapi Allah melihat apa yang ada di hati Bileam, bukan hanya langkah kakinya. Kadang izin yang kita dapat bukan tanda berkat, melainkan ujian. Dan Malaikat TUHAN berdiri di jalan bukan untuk membinasakan, tetapi untuk menghentikan. Adakah hambatan di jalanmu hari ini yang sebenarnya adalah belas kasihan?

Wawasan Editorial pada ayat 39

Lalu, Bileam pergi bersama Balak, dan mereka tiba di Kiryat-Huzot." Satu kalimat pendek, tanpa drama. Padahal baru saja ada pedang malaikat terhunus di jalan itu. Bileam tetap melanjutkan perjalanan, kini berjalan berdampingan dengan orang yang ingin membeli mulutnya. Kadang teguran Tuhan sudah kita dengar, tapi kaki kita tetap melangkah ke arah yang sama. Ke mana kakimu sedang berjalan hari ini?

Wawasan Editorial pada ayat 16

Utusan kedua datang dengan kalimat manis: "Jangan biarkan apa pun menghalangimu untuk datang kepadaku." Padahal yang menghalangi Bileam bukan apa pun, melainkan Allah sendiri yang sudah berkata tidak. Godaan jarang menyerah pada penolakan pertama; ia kembali dengan tawaran lebih besar, seolah jawaban Tuhan cuma soal harga. Apa yang sedang kamu tawar ulang kepada-Nya?

Mencari kelompok usia yang lain?

Kami juga punya versi khusus untuk balita (usia 3-5) dan remaja (13 tahun ke atas).

Buka di alat Alkitab Anak