KIDUNG AGUNG 2
Penjelasan dan kisah Alkitab untuk usia sekolah dasar (7-12)
Penjelasan
Bacalah pelan-pelan, karena ini seperti mendengar dua kekasih bicara satu sama lain. Sang perempuan berkata, ia seperti bunga bakung di lembah, sederhana dan indah. Kekasihnya, kata dia, seperti pohon apel di antara pohon-pohon hutan. Ia suka duduk di bawah naungannya, dan buahnya manis di mulutnya. Kekasihnya membawanya ke rumah anggur, dan di atasnya berkibar panji cinta.
Lalu perempuan itu berkata, ia sakit asmara, rindu sekali. Tangan kekasihnya ada di bawah kepalanya, memeluknya erat. Ia berpesan pada gadis-gadis Yerusalem, jangan membangunkan cinta sebelum waktunya. Cinta itu berharga, tidak boleh diburu-buru.
Tiba-tiba, dengar! Ada suara. "Suara kekasihku!" seru perempuan itu. Kekasihnya datang melompat-lompat di atas gunung, seperti seekor kijang yang cepat dan gesit. Ia berdiri di balik tembok, mengintip lewat jendela, mencari-cari wajah kekasihnya. Lalu ia berbicara, "Bangunlah, sayangku, cantikku. Marilah! Musim dingin sudah lewat, hujan sudah berhenti. Bunga-bunga tampak di tanah, burung tekukur bernyanyi, pohon ara berbuah manis, pohon anggur berbunga harum. Bangunlah, marilah!"
Ia memanggil perempuan itu keluar dari persembunyiannya, dari celah bukit batu, karena ia ingin mendengar suaranya dan melihat wajahnya. Perempuan itu menjawab, "Kekasihku adalah milikku, dan aku miliknya." Ia menggembalakan dombanya di antara bunga-bunga bakung, sampai hari mulai malam dan bayang-bayang hilang.
Apa Artinya Ini?
Kidung ini adalah nyanyian tentang cinta yang sungguh-sungguh, antara seorang laki-laki dan perempuan yang saling merindukan. Tuhan menciptakan cinta seperti ini, indah dan penuh sukacita, seperti musim semi setelah musim dingin yang panjang. Perhatikan, sang kekasih tidak diam saja menunggu. Ia datang melompat-lompat penuh semangat, memanggil dengan suara yang jelas, "Bangunlah, marilah!" Cinta yang sejati itu memanggil, bukan memaksa. Dan perempuan itu menjawab dengan sukacita, karena ia tahu, "Aku miliknya, dan dia milikku."
Benang Merah
Sepanjang Alkitab, Tuhan memakai gambaran cinta seperti ini untuk menunjukkan betapa Ia mengasihi umat-Nya. Yesus Kristus disebut Mempelai Laki-laki, dan orang-orang yang percaya kepada-Nya disebut mempelai-Nya. Seperti kekasih dalam kidung ini yang datang melompat penuh semangat, Yesus datang mencari kita, meski jalannya berat, meski Ia harus menyeberangi gunung penderitaan sampai ke salib. Suara-Nya memanggil, "Bangunlah, marilah!" Ia mengajak kita keluar dari musim dingin dosa, masuk ke musim semi hidup yang baru bersama-Nya.
Untukmu
Pernahkah kamu mendengar seseorang memanggil namamu dengan penuh sukacita, seperti "Ayo, ikut main!"? Rasanya senang sekali, bukan? Begitulah Tuhan memanggilmu setiap hari, "Bangunlah, marilah bersama-Ku." Dia tidak berteriak marah, tetapi memanggil dengan kasih, seperti kekasih yang melompat gembira menghampiri kita. Cobalah, saat kamu bangun besok pagi, dengarkan dalam hatimu, Tuhan sedang memanggilmu untuk berjalan bersama-Nya hari itu. Kamu bisa menjawab dengan doa singkat, "Tuhan, aku milik-Mu, dan Engkau adalah milikku."
Yuk, Diomongin
Kalau kamu jadi perempuan dalam kidung ini, dan mendengar suara kekasihmu memanggil dari jauh, apa yang kamu rasakan?
Menurutmu, bagaimana caranya kita bisa mendengar Tuhan memanggil kita di hari yang baru?
Berdoa Bersama
Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau memanggil kami dengan penuh kasih, seperti musim semi yang datang setelah musim dingin. Bukalah telinga kami untuk mendengar suara-Mu setiap hari. Kami mau menjawab, kami milik-Mu, dan Engkau milik kami. Amin.
Pertanyaan tentang KIDUNG AGUNG 2
Jawaban singkat bagi siapa saja yang baru pertama kali membaca tentang ini.
Tentang apakah KIDUNG AGUNG 2?
Apa yang dikatakan KIDUNG AGUNG 2?
Apa yang KIDUNG AGUNG 2 ajarkan tentang Tuhan?
Apa yang dapat dipelajari anak-anak dari KIDUNG AGUNG 2?
Mengapa KIDUNG AGUNG 2 menjadi kisah Alkitab yang penting?
Yang ditemukan orang lain
Kekasihku milikku, dan aku miliknya; dia menggembalakan domba di antara bunga-bunga bakung." Perhatikan urutannya: dia milikku dulu, baru aku miliknya. Bukan karena egois, tetapi karena hati yang aman selalu mulai dari apa yang sudah diberikan padanya. Apakah kamu masih ragu bahwa kamu dimiliki?
Dia baru saja menyebut dirinya bunga bakung di lembah, seolah berkata, "Aku biasa saja." Lalu kekasihnya menjawab, "Seperti bunga bakung di antara semak berduri, demikianlah kekasihku di antara anak-anak perempuan." Dia tidak membantah kerendahan hatinya, dia justru memakainya untuk memuji. Pernahkah kamu dicintai seperti itu? Begitulah Allah memandangmu.
Jangan kamu membangkitkan atau menggerakkan cinta sampai dia menginginkannya." Yang menarik, kalimat ini justru keluar saat sang mempelai sedang paling bahagia, bersandar pada kekasihnya. Di puncak rasa itu dia berkata: tunggu. Cinta punya waktunya sendiri, dan yang dipaksa mekar lebih cepat biasanya juga lebih cepat hancur. Sabar pun sebuah bentuk kasih.
Dia membawa aku ke rumah pesta anggur, dan panjinya di atasku adalah cinta." Panji itu bendera pasukan, dikibarkan tinggi supaya semua orang melihat milik siapa kau. Kasih-Nya padamu bukan bisikan rahasia yang malu diakui. Kau dibawa masuk, didudukkan, dan diumumkan. Beranikah kau berdiri di bawah bendera itu hari ini?
Mencari kelompok usia yang lain?
Kami juga menyediakan versi khusus untuk balita (usia 3-6) dan remaja (12 tahun ke atas).
Buka di alat Alkitab Anak