Untuk remaja usia 13 tahun ke atas

2 TAWARIKH 18

Penjelasan dan kisah Alkitab untuk remaja (13 tahun ke atas)

Alkitab

Penjelasan

Bayangkan dua raja duduk di atas takhta mereka, mengenakan jubah kebesaran, di depan gerbang kota. Di hadapan mereka, empat ratus nabi berteriak serempak, meyakinkan bahwa perang ini akan menang. Itu adalah pertunjukan yang meyakinkan. Tapi satu orang tidak ikut bersorak.

Yosafat, raja Yehuda, sedang berkunjung ke Ahab, raja Israel. Mereka sudah menjadi keluarga lewat pernikahan, dan Ahab menjamunya dengan pesta besar, lalu membujuknya untuk ikut berperang merebut Ramot-Gilead. Yosafat setuju, tapi ia masih punya kepekaan rohani untuk bertanya, "Mari mencari petunjuk Allah terlebih dahulu." Pertanyaan yang bagus. Sayangnya, caranya salah.

Ahab memanggil empat ratus nabi. Semuanya bersuara sama: "Majulah, engkau akan berhasil." Terdengar meyakinkan, sampai Yosafat merasa ada yang kurang. Ia bertanya, "Tidak ada lagikah seorang nabi TUHAN?" Pertanyaan ini mengungkap sesuatu yang penting, bahwa kebulatan suara bukan jaminan kebenaran.

Ternyata ada satu nabi lagi, Mikha, anak Yimla. Tapi Ahab membencinya karena Mikha "tidak pernah menubuatkan yang baik" tentang dia. Perhatikan logikanya. Ahab tidak membenci Mikha karena nubuatnya salah, tapi karena nubuatnya tidak menyenangkan.

Ketika Mikha dipanggil, utusan raja membisikkan tekanan sosial yang halus, "Semua nabi sepakat meramalkan yang baik, katakan hal yang baik juga." Mikha menjawab dengan tegas bahwa ia hanya akan mengatakan apa yang Allah firmankan, bukan apa yang orang ingin dengar.

Mulanya Mikha justru menjawab seperti nabi-nabi lain, mungkin dengan nada sindiran. Ahab menuntutnya bersumpah demi kebenaran. Barulah Mikha berbicara serius, memberitahukan bahwa Israel akan kalah, rajanya akan mati, dan pasukan akan tercerai berai tanpa pemimpin.

Lalu Mikha menyingkapkan sesuatu yang mengejutkan, sebuah penglihatan tentang takhta Tuhan di surga. Tuhan bertanya siapa yang akan membujuk Ahab supaya ia maju dan tewas. Satu roh menawarkan diri untuk menjadi roh dusta di mulut nabi-nabi Ahab. Tuhan mengizinkannya.

Zedekia, pemimpin para nabi palsu itu, menampar Mikha dan mengejeknya. Ahab memerintahkan Mikha dipenjara dengan roti dan air kesengsaraan sampai ia pulang dengan selamat dari perang. Mikha menjawab tenang, jika Ahab benar-benar pulang dengan selamat, berarti Tuhan tidak berbicara melaluinya.

Akhirnya perang terjadi. Ahab menyamar, mungkin berpikir ia bisa mengakali nasibnya sendiri. Yosafat tetap mengenakan jubah kebesaran dan hampir terbunuh karena dikira Ahab, tapi Tuhan menolongnya. Ahab yang menyamar justru terkena panah yang ditembakkan sembarangan, kena di sela baju zirahnya, celah kecil yang tidak terlindungi. Ia mati saat matahari terbenam, persis seperti kata Mikha.

Apa Artinya Ini?

Pasal ini tentang kebenaran yang tidak populer melawan konsensus yang menyenangkan. Empat ratus suara berkata satu hal, satu suara berkata hal lain, dan yang satu itu benar. Ini mengganggu asumsi kita bahwa kebenaran bisa diukur dari jumlah orang yang setuju, atau dari seberapa nyaman kita mendengarnya.

Ahab tidak benar-benar ingin tahu kehendak Tuhan. Ia ingin konfirmasi atas keputusan yang sudah ia buat. Itu sebabnya ia mengumpulkan nabi-nabi yang akan mengatakan apa yang ia mau dengar, dan membenci satu nabi yang jujur. Ini pola yang sangat manusiawi, dan sangat berbahaya. Kita bisa melakukan hal yang sama: mencari nasihat, membaca Alkitab, berdoa, tapi sebenarnya hanya mencari pembenaran, bukan kebenaran.

Bagian paling menggelisahkan dari pasal ini adalah penglihatan Mikha tentang takhta Tuhan. Teks ini berkata terang-terangan bahwa Tuhan mengizinkan roh dusta masuk ke mulut para nabi Ahab. Ini bukan Tuhan yang jahat, tapi Tuhan yang berdaulat bahkan atas penipuan, menggunakannya untuk menjalankan penghakiman yang adil atas raja yang sudah berulang kali menolak kebenaran. Ahab sudah lama diberi kesempatan untuk mendengar firman Tuhan dan memilih untuk membencinya. Pada akhirnya, ia mendapatkan apa yang ia cari, suara-suara yang menyenangkan telinganya, dan suara-suara itu membawanya pada kematian.

Benang Merah

Mikha berdiri sendirian membawa firman Tuhan yang tidak disukai, dibenci dan ditampar karena kejujurannya, dipenjara dengan roti dan air kesengsaraan. Jauh berabad-abad kemudian, satu Pribadi lain akan berdiri sendirian membawa kebenaran yang ditolak banyak orang, diolok-olok, dipukul, dan dihukum, bukan karena Ia salah, tapi karena kebenaran-Nya terlalu menusuk bagi orang-orang yang sudah menutup hati mereka. Yesus Kristus adalah Nabi sejati yang jauh lebih sering ditolak daripada diterima, justru karena Ia tidak pernah mengatakan apa yang orang ingin dengar, hanya apa yang benar.

Ahab mati karena panah yang ditembakkan sembarangan menembus celah kecil di baju zirahnya. Tidak ada yang kebetulan di hadapan Tuhan. Takhta Tuhan yang dilihat Mikha, dikelilingi seluruh tentara surga, mengingatkan kita bahwa sejarah manusia, termasuk perang dan kematian seorang raja, berjalan di bawah kedaulatan Tuhan yang tidak pernah kehilangan kendali, bahkan ketika semuanya tampak kacau.

Untukmu

Kamu hidup di dunia yang penuh suara. Media sosial, teman sebaya, bahkan komunitas gerejamu, semua punya "nabi-nabi" yang siap bicara apa yang kamu ingin dengar. Pertanyaannya bukan apakah kamu akan mendengar banyak suara, tapi apakah kamu berani mencari yang satu suara yang jujur, meskipun itu tidak menyenangkan.

Pikirkan, berapa sering kamu bertanya kepada Tuhan hanya untuk mendapat konfirmasi atas keputusan yang sudah kamu buat duluan? Doa bisa jadi topeng untuk mencari pembenaran, bukan kebenaran. Keberanian Mikha untuk berkata benar meski sendirian, meski harus dipenjara, adalah teladan yang menuntut sesuatu darimu: keberanian untuk mendengar kebenaran yang tidak nyaman, dan keberanian untuk mengatakannya, bahkan ketika kamu satu-satunya suara yang berbeda.

Mari Bicarakan

Pernahkah kamu mencari nasihat atau "tanda dari Tuhan" padahal sebenarnya kamu hanya ingin pembenaran atas keputusan yang sudah kamu buat? Apa yang membuatmu sadar akan hal itu?

Zedekia dan nabi-nabinya memilih berkata enak didengar. Mikha memilih berkata benar meski sendirian dan harus menanggung akibatnya. Dalam hidupmu sekarang, suara siapa yang paling sering kamu dengar, dan apakah suara itu jujur atau hanya menyenangkan?

Berdoa Bersama

Tuhan, kadang aku lebih suka mendengar apa yang enak daripada apa yang benar. Berikan aku hati yang mau mendengar suara-Mu meski itu menegur dan menggangguku. Ajar aku untuk berani berkata benar seperti Mikha, dan untuk percaya bahwa Engkau tetap memegang kendali atas segala yang terjadi, bahkan ketika dunia di sekitarku penuh suara yang bertolak belakang. Dalam nama Yesus Kristus, amin.

Bagikan kisah Alkitab ini

Untuk orang tua atau guru lain yang mungkin merasa ini bermanfaat.

WhatsApp Email Facebook X / Twitter

Pertanyaan tentang 2 TAWARIKH 18

Jawaban singkat bagi siapa saja yang baru pertama kali membaca tentang ini.

Tentang apakah 2 TAWARIKH 18?
Bayangkan dua raja duduk di atas takhta mereka, mengenakan jubah kebesaran, di depan gerbang kota. Di hadapan mereka, empat ratus nabi berteriak serempak, meyakinkan bahwa perang ini akan menang. Itu adalah pertunjukan yang meyakinkan. Tapi satu orang tidak ikut bersorak.
Apa yang dikatakan 2 TAWARIKH 18?
Ketika Mikha dipanggil, utusan raja membisikkan tekanan sosial yang halus, "Semua nabi sepakat meramalkan yang baik, katakan hal yang baik juga." Mikha menjawab dengan tegas bahwa ia hanya akan mengatakan apa yang Allah firmankan, bukan apa yang orang ingin dengar.
Apa yang 2 TAWARIKH 18 ajarkan tentang Tuhan?
Akhirnya perang terjadi. Ahab menyamar, mungkin berpikir ia bisa mengakali nasibnya sendiri. Yosafat tetap mengenakan jubah kebesaran dan hampir terbunuh karena dikira Ahab, tapi Tuhan menolongnya. Ahab yang menyamar justru terkena panah yang ditembakkan sembarangan, kena di sela baju zirahnya, celah kecil yang tidak terlindungi.
Apa yang dapat dipelajari remaja dari 2 TAWARIKH 18?
Mikha berdiri sendirian membawa firman Tuhan yang tidak disukai, dibenci dan ditampar karena kejujurannya, dipenjara dengan roti dan air kesengsaraan. Jauh berabad-abad kemudian, satu Pribadi lain akan berdiri sendirian membawa kebenaran yang ditolak banyak orang, diolok-olok, dipukul, dan dihukum, bukan karena Ia salah, tapi karena kebenaran-Nya terlalu menusuk bagi orang-orang yang sudah menutup hati mereka.
Mengapa 2 TAWARIKH 18 menjadi kisah Alkitab yang penting?
Pernahkah kamu mencari nasihat atau "tanda dari Tuhan" padahal sebenarnya kamu hanya ingin pembenaran atas keputusan yang sudah kamu buat? Apa yang membuatmu sadar akan hal itu?

Yang ditemukan orang lain

Wawasan Editorial pada ayat 8

Ahab tahu persis nama orang yang bisa menyampaikan firman TUHAN. Bahkan ia menyuruh pegawainya: "Bawalah Mikha anak Yimla ke sini dengan segera." Cepat, tapi hatinya sudah memutuskan. Kadang kita juga begitu, mencari nasihat yang benar sambil berharap diamini. Kamu ingin mendengar Tuhan, atau ingin direstui?

Mencari yang cocok untuk anak yang lebih kecil?

Kami juga memiliki versi khusus untuk balita (usia 3-5) dan usia sekolah dasar (6-12).

Buka di alat Alkitab Anak