PENGKHOTBAH 9
Penjelasan dan kisah Alkitab untuk remaja (13 tahun ke atas)
Penjelasan
Pengkhotbah pasal 9 dimulai dengan kalimat yang berat: nasib orang benar dan orang jahat itu sama. Orang baik dan orang jahat, orang yang beribadah dan yang tidak, semuanya berjalan menuju kematian yang sama. Penulis tidak menutup-nutupi ini. Ia menyebutnya "kemalangan," sesuatu yang terasa tidak adil di bawah matahari.
Lalu ia berkata sesuatu yang aneh: anjing hidup lebih baik daripada singa mati. Singa itu simbol kekuatan dan kehormatan, tapi kalau sudah mati, ia tidak bisa apa-apa lagi. Anjing, binatang yang rendah pada masa itu, justru masih punya sesuatu yang berharga selama ia hidup, yaitu hidup itu sendiri. Maksud Pengkhotbah, selama kamu masih hidup, ada harapan, ada kesempatan untuk melakukan sesuatu. Orang mati tidak punya itu lagi.
Dari situ ia memberi nasihat yang mengejutkan: makanlah rotimu dengan gembira, minumlah anggurmu dengan hati senang, pakailah pakaian putih, jangan biarkan kepalamu kekurangan minyak, nikmati hidup bersama orang yang kamu cintai. Ini bukan ajakan untuk hidup sembarangan. Ini ajakan untuk benar-benar hidup, menikmati hal-hal sederhana yang Allah berikan, karena itulah bagianmu di dunia yang penuh kesia-siaan ini.
Kemudian ia memberi contoh nyata: perlombaan tidak selalu dimenangkan oleh yang cepat, pertarungan tidak selalu dimenangkan oleh yang kuat, kekayaan tidak selalu didapat oleh yang pintar. Waktu dan kesempatan menentukan banyak hal, dan manusia tidak pernah tahu kapan waktunya akan tiba, seperti ikan yang tiba-tiba terjerat jala.
Pasal ini ditutup dengan kisah kota kecil yang dikepung raja besar. Ada orang miskin yang berhikmat, dialah yang menyelamatkan kota itu. Tapi setelah semua selesai, tidak ada yang mengingatnya. Hikmatnya terbukti nyata, tapi dunia tetap melupakannya. Pengkhotbah menutup dengan kalimat pahit, satu orang berdosa bisa membinasakan banyak hal baik.
Artinya Apa?
Pasal ini tidak memberi jawaban yang nyaman. Pengkhotbah tidak bilang "jalani hidup baik-baik, maka semuanya akan berakhir indah." Ia justru menunjukkan kenyataan yang kamu mungkin sudah rasakan sendiri, bahwa dunia ini tidak selalu membalas kebaikan dengan kebaikan, dan kejahatan dengan hukuman. Orang baik bisa mati muda. Orang jahat bisa hidup lama dan sejahtera. Orang berhikmat bisa dilupakan begitu saja.
Tapi di tengah kenyataan pahit itu, ada sesuatu yang justru membuat hidup berarti, bukan karena hidup itu adil, tapi karena hidup itu diberikan. Pengkhotbah tidak menyuruhmu menyerah pada nasib. Ia menyuruhmu untuk benar-benar hadir dalam hidupmu sendiri, makan, minum, bekerja, mencintai, dengan sungguh-sungguh, selagi kamu masih bisa. Itu bukan filosofi "pasrah saja." Itu lebih seperti kejujuran yang dalam, hidup ini terbatas, maka jangan sia-siakan.
Benang Merah
Ecclesiastes sering terasa seperti suara yang jujur tapi kelam, dan memang begitu adanya. Tapi justru di situlah ia mempersiapkan hati kita untuk sesuatu yang lebih besar. Pengkhotbah benar, di bawah matahari, kematian memang menyamakan semua orang. Tidak ada jalan keluar dari situ kalau kita hanya melihat dunia ini saja.
Tapi Allah tidak membiarkan kematian menjadi kata terakhir. Yesus Kristus datang bukan untuk membuat hidup ini "adil" menurut ukuran kita, tapi untuk mematahkan kuasa kematian itu sendiri. Pengkhotbah berkata orang mati tidak punya upah lagi, kenangan tentang mereka dilupakan. Tapi dalam Kristus, kematian bukan akhir dari segalanya. Ia bangkit, dan karena itu, hidup yang kamu jalani sekarang, dengan segala ketidakadilannya, bukan sia-sia belaka.
Hikmat orang miskin yang dilupakan di ayat 15 juga mengingatkan kita pada Yesus sendiri, seorang yang rendah, yang diabaikan dunia, tapi justru melalui-Nyalah keselamatan datang. Dunia tidak selalu mengenali siapa yang sebenarnya menyelamatkan.
Untukmu
Mungkin kamu sedang merasakan sendiri apa yang ditulis Pengkhotbah. Kamu berusaha jadi orang baik, tapi hidup tetap terasa berat. Kamu melihat orang yang tidak peduli pada Tuhan justru hidup lebih mudah daripada kamu. Itu bukan tandanya imanmu salah. Itu tanda kamu hidup di dunia yang memang belum sempurna, persis seperti yang dikatakan teks ini.
Yang ditawarkan Pengkhotbah bukan jawaban instan, tapi cara hidup, hidup dengan sadar bahwa waktumu terbatas, maka jangan menunda untuk benar-benar menikmati yang baik, mengasihi orang yang kamu cintai, bekerja dengan sungguh hati, bukan karena kamu yakin semua akan berjalan adil, tapi karena Allah sudah lama berkenan atas apa yang kamu kerjakan. Itu kalimat yang luar biasa di tengah pasal yang getir ini. Allah tetap berkenan, meski dunia tidak selalu adil.
Mari Bicarakan
Apakah kamu pernah merasa hidup ini tidak adil, bahwa usaha baikmu tidak dihargai sebagaimana mestinya? Bagaimana kamu biasanya menanggapi perasaan itu?
Pengkhotbah mengajak menikmati hidup bukan karena hidup ini adil, tapi karena hidup ini diberikan. Apa bedanya cara pandang itu dengan sekadar mencari kesenangan sesaat?
Berdoa Bersama
Tuhan, dunia ini sering terasa tidak adil, dan aku tidak selalu mengerti jalan-Mu. Ajari aku untuk tetap hidup dengan sungguh-sungguh, mengasihi, bekerja, dan bersyukur, bukan karena semua berjalan sesuai harapanku, tapi karena Engkau tetap berkenan atas hidupku. Ingatkan aku bahwa dalam Kristus, kematian bukan kata terakhir. Amin.
Pertanyaan tentang PENGKHOTBAH 9
Jawaban singkat bagi siapa saja yang baru pertama kali membaca tentang ini.
Tentang apakah PENGKHOTBAH 9?
Apa yang dikatakan PENGKHOTBAH 9?
Apa yang PENGKHOTBAH 9 ajarkan tentang Tuhan?
Apa yang dapat dipelajari remaja dari PENGKHOTBAH 9?
Mengapa PENGKHOTBAH 9 menjadi kisah Alkitab yang penting?
Yang ditemukan orang lain
Pengkhotbah berhenti pada satu kepastian: "orang-orang benar dan orang-orang bijak, serta perbuatan-perbuatan mereka ada di tangan Allah." Lalu ia jujur, kita tidak bisa membaca kasih atau kebencian Allah dari apa yang menimpa kita. Sakitmu bukan tanda Dia membencimu. Lancarmu bukan tanda Dia berkenan. Yang tersisa: tangan-Nya tetap memegang.
Nikmatilah hidup dengan istri yang kamu kasihi sepanjang hari-hari kehidupanmu yang sia-sia." Kalimat ini lahir setelah Pengkhotbah lama merenungkan kematian. Justru di situ ia berkata: pulanglah, makan bersama, tertawalah dengan orang yang kaukasihi. Hari-hari biasa itu bukan sisa hidupmu. Itulah bagianmu. Sudahkah kau menikmatinya hari ini?
Mencari yang cocok untuk anak yang lebih kecil?
Kami juga memiliki versi khusus untuk balita (usia 3-5) dan usia sekolah dasar (6-12).
Buka di alat Alkitab Anak