EZRA 3
Penjelasan dan kisah Alkitab untuk remaja (13 tahun ke atas)
The Explanation
Bayangkan sekelompok orang yang baru pulang dari pengasingan. Selama puluhan tahun mereka hidup di negeri asing, dan sekarang akhirnya kembali ke tanah yang hanya mereka kenal dari cerita kakek nenek. Kota mereka hancur. Bait Allah, tempat yang dulu menjadi pusat ibadah Israel, tinggal reruntuhan. Itulah situasi di Ezra pasal 3.
Pada bulan ketujuh, orang-orang Israel berkumpul di Yerusalem. Hal pertama yang mereka lakukan bukan membangun rumah mereka sendiri atau memperbaiki tembok kota. Yesua dan Zerubabel bangkit membangun mazbah, tempat kurban, lebih dulu dari segala sesuatu yang lain. Mereka melakukannya meskipun mereka takut kepada penduduk sekitar yang bermusuhan. Di tengah rasa takut itu, mereka tetap mempersembahkan kurban bakaran pagi dan petang, merayakan Hari Raya Pondok Daun, dan menjalankan semua ibadah sesuai Taurat Musa. Semua ini terjadi sebelum fondasi Bait Allah sendiri diletakkan.
Baru setahun kemudian, pada bulan kedua tahun kedua, pekerjaan pembangunan fondasi benar-benar dimulai. Para Lewi yang berumur dua puluh tahun ke atas ditugaskan mengawasi pekerjaan itu. Dan ketika fondasi akhirnya diletakkan, terjadi sesuatu yang luar biasa: para imam berdiri dengan jubah mereka, meniup trompet, para Lewi memukul ceracap, dan semua orang bernyanyi bersahut-sahutan, memuji Tuhan karena Ia baik dan kasih setia-Nya untuk selama-lamanya.
Tapi di tengah sorak-sorai itu ada suara lain: tangisan. Para tua-tua yang pernah melihat Bait Allah yang pertama, yang megah, menangis keras melihat fondasi yang baru ini. Mungkin karena ukurannya jauh lebih kecil, mungkin karena ingatan akan kemuliaan yang hilang. Yang menarik, Alkitab mencatat bahwa orang-orang tidak bisa membedakan lagi mana suara sukacita dan mana suara tangisan. Keduanya bercampur, sama kerasnya, terdengar sampai jauh.
What Does This Mean?
Ini bukan sekadar laporan tentang konstruksi gedung ibadah. Ini adalah gambaran tentang bagaimana sebuah umat memulai kembali hidupnya dengan Allah setelah kehancuran total. Yang menarik, mereka tidak menunggu sampai semua stabil dan aman baru beribadah. Mazbah dibangun lebih dulu, bahkan sebelum fondasi Bait Allah ada, bahkan di tengah ketakutan terhadap musuh di sekitar mereka. Ibadah bukan hadiah untuk situasi yang sudah beres. Ibadah adalah yang pertama, justru karena situasinya belum beres.
Dan perhatikan juga kejujuran teks ini. Ia tidak memaksakan satu emosi saja. Ada yang bersorak penuh sukacita karena pembangunan rumah Tuhan akhirnya dimulai lagi. Ada yang menangis karena teringat kemuliaan yang hilang dan menyadari betapa kecilnya permulaan ini dibanding masa lalu. Alkitab tidak menghapus salah satu dari dua suara itu demi membuat cerita terdengar rapi. Keduanya dibiarkan berdiri berdampingan, bahkan bercampur sampai tak terbedakan.
The Common Thread
Bait Allah dalam Perjanjian Lama adalah tempat Allah berjanji hadir di tengah umat-Nya, tempat dosa diperdamaikan lewat kurban, tempat langit dan bumi seolah bertemu. Ketika Yesus Kristus datang, Ia sendiri menyebut diri-Nya lebih besar dari Bait Allah. Ia adalah tempat Allah benar-benar hadir di tengah manusia, bukan lagi dalam bangunan batu, tetapi dalam tubuh-Nya sendiri. Dan ketika Ia mati di kayu salib, itu adalah kurban yang tidak perlu diulang pagi dan petang lagi seperti di Ezra 3, karena itu kurban yang sempurna, sekali untuk selamanya.
Yang menarik, pola di Ezra 3 muncul lagi dalam hidup orang percaya: permulaan yang kecil, campuran sukacita dan dukacita, dan tetap setia beribadah di tengah ketidakpastian. Gereja mula-mula pun memulai dari yang sangat sederhana, dikejar-kejar, tidak megah sama sekali, tapi Tuhan tetap bekerja di dalamnya. Kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, itulah yang dinyanyikan umat Israel, dan itulah juga yang menjadi dasar harapan orang percaya sampai hari ini, bahkan ketika semuanya terasa jauh dari sempurna.
For You
Pernahkah kamu merasa bahwa hidupmu, atau imanmu, terlalu kecil dan berantakan untuk berarti apa-apa di mata Tuhan? Mungkin kamu baru mulai percaya, atau baru kembali setelah lama menjauh, dan rasanya seperti para tua-tua itu, membandingkan yang sekarang dengan sesuatu yang dulu lebih baik, lebih kuat, lebih yakin. Ezra 3 tidak menyuruhmu berpura-pura semuanya baik-baik saja. Ia memberi ruang untuk menangis sambil tetap bersorak. Dua hal itu bisa ada bersamaan dalam hatimu, dan itu tidak membuatmu munafik atau kurang beriman.
Yang ditunjukkan umat ini adalah keberanian untuk mulai lagi, bahkan dari fondasi yang kecil, bahkan di tengah rasa takut. Mereka tidak menunggu rasa takut hilang dulu baru beribadah. Mungkin itu tantangan untukmu: jangan menunggu sampai imanmu terasa kuat dan yakin seratus persen baru kamu berdoa, baru kamu datang ke gereja, baru kamu membuka Alkitab. Mulai dari fondasi yang ada sekarang, sekecil apa pun itu. Tuhan tidak mengukur kebesaran fondasi, Ia melihat kesetiaan untuk memulai.
Talk About It
Pernahkah kamu mengalami momen ketika sukacita dan kesedihan bercampur jadi satu, sampai kamu sendiri bingung apa yang sebenarnya kamu rasakan? Bagaimana itu memengaruhi caramu memandang Tuhan saat itu?
Umat Israel membangun mazbah dan beribadah sebelum semuanya aman dan selesai. Apa yang biasanya kamu tunggu dulu sebelum kamu merasa "layak" atau "siap" untuk benar-benar mendekat kepada Tuhan?
Praying Together
Tuhan, kadang hidupku terasa seperti fondasi yang kecil, jauh dari apa yang kubayangkan seharusnya. Terima kasih karena Engkau tidak menuntut kemegahan dariku, hanya kesetiaan untuk mulai dan terus datang kepada-Mu. Ajar aku untuk jujur ketika hatiku campur aduk, dan untuk tetap percaya bahwa kasih setia-Mu nyata selama-lamanya, bahkan ketika aku belum bisa melihatnya dengan jelas. Dalam nama Yesus Kristus aku berdoa, amin.
Pertanyaan tentang EZRA 3
Jawaban singkat bagi siapa saja yang baru pertama kali membaca tentang ini.
Tentang apakah EZRA 3?
Apa yang dikatakan EZRA 3?
Apa yang EZRA 3 ajarkan tentang Tuhan?
Apa yang dapat dipelajari remaja dari EZRA 3?
Mengapa EZRA 3 menjadi kisah Alkitab yang penting?
Yang ditemukan orang lain
Perhatikan siapa yang berdiri mengawasi pekerjaan di rumah Allah: Yesua bersama anak-anak dan saudara-saudaranya, Kadmiel bersama anak-anaknya, anak-anak Henadad bersama saudara-saudara mereka. Keluarga-keluarga, bahu-membahu. Pelayanan yang paling tahan lama sering lahir di rumah, bukan di panggung. Siapa yang sedang kamu ajak bekerja di sampingmu?
Yang tua menangis, yang muda bersorak, dan keduanya berdiri di atas fondasi yang sama. "Banyak orang tua yang pernah melihat Bait Allah yang pertama menangis dengan suara keras." Mereka ingat yang hilang. Yang lain hanya melihat yang baru dimulai. Mungkin kamu sedang berdiri di antara keduanya, berterima kasih dan berduka sekaligus. Allah menerima dua suara itu.
Bait Allah belum berdiri, hanya mazbah di atas puing. Namun mereka tetap merayakan Hari Raya Pondok Daun, tinggal di pondok yang rapuh, dan "mempersembahkan kurban bakaran setiap hari sesuai jumlah yang ditentukan". Bukan satu ibadah besar sekali seumur hidup, tetapi hari demi hari. Hidupmu mungkin juga belum utuh. Kamu boleh mulai menyembah sekarang, di atas reruntuhan itu.
Mencari yang cocok untuk anak yang lebih kecil?
Kami juga memiliki versi khusus untuk balita (usia 3-5) dan usia sekolah dasar (6-12).
Buka di alat Alkitab Anak