1 RAJA-RAJA 6
Teks
Pada tahun keempat pemerintahannya, di bulan Ziw, Salomo mulai membangun rumah bagi TUHAN: enam puluh hasta panjangnya, dengan serambi, jendela berkerai, dan kamar-kamar bertingkat yang melingkari dinding tanpa sekali pun menancapkan balok ke dalamnya. Batu-batunya sudah dikerjakan tuntas di penggalian, sehingga di lokasi pembangunan "palu, kapak, atau perkakas besi tidak terdengar selama pembangunan bait." Di tengah proyek raksasa itu, firman TUHAN justru datang dengan syarat dan janji: jika Salomo hidup dalam ketetapan-Nya, "Aku akan tinggal di antara keturunan Israel, dan tidak akan meninggalkan umat-Ku Israel." Sesudah itu pasal ini kembali ke detail: kayu aras, emas murni, dua kerub kayu zaitun yang sayapnya bersentuhan, ukiran kerub, pohon kurma, dan bunga mekar di setiap dinding. Tujuh tahun, lalu selesai di bulan Bul.
Intinya
Perhatikan di mana firman itu disisipkan: bukan di awal sebagai peresmian, bukan di akhir sebagai penutup, melainkan di tengah, di antara kayu aras dan lapisan emas, persis ketika pekerjaan paling memukau dan paling mudah membuat orang lupa diri. Seolah TUHAN menyela pekerja bangunan-Nya sendiri dan berkata: rumah ini tidak mengikat Aku. Yang mengikat adalah perjanjian. Kehadiran Allah di tengah umat-Nya tidak dibeli dengan emas murni; emas hanya menutupi apa yang sudah lebih dahulu dijanjikan kepada Daud. Inilah sisi yang menggelisahkan sekaligus membebaskan: Allah sungguh mau berdiam di antara manusia, serendah itu Ia bersedia turun, tetapi Ia tidak bisa disimpan. Bait yang paling indah pun tetap bergantung pada satu hal yang tak bisa dipahat tukang mana pun, yaitu hati yang "tetap hidup di dalamnya", hidup di dalam perintah-perintah-Nya.
Benang Merah
Kata yang dipakai untuk "tinggal" dalam janji itu berakar pada kata Ibrani shakan, berkemah, mendiami tanpa menjadi milik tempatnya. Dari akar yang sama lahir kata untuk Kemah Suci di padang gurun. Artinya, bait batu Salomo bukanlah kemajuan dari tenda, melainkan kelanjutannya: Allah tetap Allah yang berkemah, kini di bawah atap kayu aras. Dan justru itulah yang membuat Yohanes menulis bahwa Firman menjadi manusia dan berkemah di antara kita; ia memakai gambaran yang sama, tetapi memindahkannya dari bangunan ke tubuh. Ukiran pohon kurma dan bunga mekar di setiap dinding bait itu adalah Eden yang dipahat ulang, kerinduan akan taman tempat Allah berjalan bersama manusia. Salomo memahatnya di kayu. Kristus mengembalikannya dalam daging, lalu membiarkan tubuh-Nya dirobohkan supaya kemah itu tidak pernah lagi bisa dibakar musuh.
Cermin
Batu-batu bait itu dikerjakan tuntas di penggalian, jauh dari lokasi, sehingga di tempat pembangunan tidak terdengar satu pun pukulan palu. Yang dilihat orang hanyalah hasil yang tenang dan rapi. Pemahatan terjadi di tempat yang berdebu, bising, dan tidak difoto siapa pun. Kamu mungkin sedang berada di penggalian itu sekarang: pernikahan yang sedang dipahat, pekerjaan yang terasa seperti dihantam dari segala sisi, tubuh yang mengecewakanmu, anak yang membuatmu terjaga. Tidak ada yang melihat. Dan sementara itu, ada sisi lain dalam dirimu yang justru sibuk menyepuh emas: kalimat rohani yang kamu pilih di grup, kesan tenang yang kamu jaga di gereja, laporan yang membuatmu terlihat sanggup. Emas di atas batu yang belum pernah kamu akui kasar.
Ambil secarik kertas sekarang, tulis satu hal yang biasa kamu sepuh supaya orang tidak melihat apa yang ada di baliknya, lalu ucapkan keras-keras kepada Tuhan: "Ini batunya. Pahat saja."
Tokoh Utama
Salomo adalah lelaki angka. Enam puluh hasta, dua puluh, tiga puluh, lima, enam, tujuh. Ia tahu persis berapa lebar tiap tingkat dan bagaimana membuat lekukan dinding agar balok tidak perlu ditancapkan. Ia seorang perencana yang luar biasa teliti, dan ketelitian itu bukan dosa; itu bentuk hormat. Tetapi perhatikan satu kekosongan yang mencolok: ketika firman TUHAN datang kepadanya di tengah pasal ini, Salomo tidak menjawab sepatah kata pun. Tidak ada doa, tidak ada "ya, Tuhan", tidak ada gentar. Narator hanya meneruskan: "Demikianlah Salomo membangun bait dan menyelesaikannya." Ia kembali ke pekerjaannya. Mungkin itu kesalehan yang diam. Mungkin juga itu awal dari tragedi yang kita tahu akhirnya, ketika hatinya terbagi di usia tua. Seorang manusia bisa menyelesaikan rumah Allah tanpa pernah menjawab suara Allah.
Pertanyaan
Kenapa ada "jika" di situ? "Jika kamu mengikuti ketetapan-ketetapan-Ku… maka Aku akan menepati janji-Ku." Janji kepada Daud terdengar tanpa syarat, tetapi di sini ada pintu yang bisa ditutup. Dan sejarah menjawab dengan kejam: bait ini dirobohkan, emasnya diangkut, kerub-kerubnya hilang. Jadi apakah kehadiran Allah bergantung pada prestasi rohani kita? Saya tidak mau menghaluskan ini. Teksnya memang bersyarat, dan syaratnya memang dilanggar. Yang bisa saya katakan: janji terakhirnya tidak berbunyi "Aku akan tinggal di bait ini", melainkan "Aku akan tinggal di antara keturunan Israel, dan tidak akan meninggalkan umat-Ku Israel". Bangunannya bisa jatuh; kesetiaan-Nya terhadap umat ternyata lebih keras kepala daripada reruntuhan. Itu bukan penghiburan murah. Itu penghiburan yang harus menunggu seseorang yang akhirnya memenuhi syarat itu dari pihak kita.
Profil
Kitab Raja-Raja dibaca dengan serius oleh orang-orang yang bait itu sudah tidak ada lagi bagi mereka: generasi pembuangan di Babel, yang mendengar ukuran demi ukuran sebuah gedung yang kini tinggal puing. Bayangkan mendengar daftar emas murni dan kayu aras sambil duduk di negeri asing. Dua hal menusuk mereka. Pertama, angka 480 tahun sejak keluar dari Mesir: pembangunan bait ditempatkan sebagai puncak dari pembebasan, dan mereka tahu mereka sedang berjalan mundur ke perbudakan. Kedua, kata "jika" itu menjelaskan mengapa semuanya runtuh, tanpa menuduh Allah tidak setia. Tetapi mereka juga mendengar kalimat terakhir janji itu dan menyimpannya seperti bara: Ia tidak akan meninggalkan umat-Nya. Rumah boleh hilang. Pemiliknya tidak pindah.
Refleksi
Di bagian hidupmu yang mana kamu sedang bekerja keras menyepuh emas, sementara batu di bawahnya belum pernah kamu bawa ke hadapan Tuhan?
Kapan terakhir kali kamu benar-benar menjawab sesuatu yang Tuhan katakan kepadamu, bukan sekadar meneruskan pekerjaan rohanimu seperti Salomo?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang 1 Kings 6
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti 1 RAJA-RAJA 6?
Tentang apakah 1 RAJA-RAJA 6?
Apa konteks historis dari 1 RAJA-RAJA 6?
Apa yang 1 RAJA-RAJA 6 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana 1 RAJA-RAJA 6 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang 1 Kings 6
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Terima kasih, Tuhan, karena Salomo melapisi bagian dalam Bait Suci dengan emas murni, bahkan di ruang yang tak dilihat orang banyak. Engkau layak menerima yang terbaik, juga di bagian hidupku yang tersembunyi. Kerjakanlah itu di dalam hatiku.
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau menyediakan ruang di bagian dalam Bait itu untuk menempatkan Tabut Perjanjian TUHAN. Engkau tidak jauh, melainkan mau tinggal di tengah umat-Mu. Terima kasih Engkau menyiapkan tempat bagi hadirat-Mu, juga di dalam hatiku hari ini.
Dua puluh hasta di bagian paling dalam dipisahkan lebih dulu, dilapisi papan kayu aras dari lantai sampai dinding, "untuk Ruang Mahakudus." Ruangan itu disiapkan sebelum ada apa pun di dalamnya. Salomo menyekat tempat itu supaya tak ada yang lain masuk. Adakah ruang seperti itu dalam hidupmu, yang kamu tutup rapat dan simpan hanya untuk Tuhan?
Terima kasih untuk keindahan pintu kayu minyak itu, dengan ukiran kerub, pohon palem, dan bunga mekar yang dilapisi emas. Engkau layak menerima yang terbaik, bahkan pada detail terkecil. Ajar aku mengerjakan bagianku dengan ketelitian dan cinta yang sama.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
