KELUARAN 4:10
Teks Itu
Di kaki gunung di padang Midian, setelah tongkatnya berubah menjadi ular dan tangannya memutih lalu pulih, Musa masih punya satu keberatan lagi. Ia tidak membantah tanda-tanda itu; ia membantah dirinya sendiri. "Oh, Tuhanku, aku bukan orang yang pandai berkata-kata, baik dahulu maupun sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mu ini," katanya, lalu menutup dengan alasan yang paling telanjang: "aku lambat berbicara dan lambat lidah." Ini keberatan ketiganya, dan yang paling pribadi. Yang pertama soal siapa dirinya, yang kedua soal apakah orang akan percaya, yang ini soal mulutnya sendiri: alat kerja seorang utusan yang, menurut pengakuannya, rusak sejak dulu dan tidak diperbaiki bahkan oleh suara Allah yang baru saja berbicara kepadanya.
Intinya
Bahasa Ibraninya lebih berat daripada terjemahan mana pun: kevad peh, "berat mulut." Kata yang sama dipakai untuk hati Firaun yang mengeras dan untuk beban kerja yang menindih Israel. Musa merasa mulutnya seperti batu yang harus diseret. Dan justru di titik itu Allah tidak menyembuhkannya. Dia tidak melonggarkan lidah Musa, tidak memberinya kefasihan seorang juru bicara istana; Dia mengajukan pertanyaan balik tentang siapa yang membuat mulut, bisu, tuli, melihat, buta, lalu berkata: "pergilah!" Inilah intinya. Allah tidak memanggil berdasarkan kapasitas yang sudah terbukti, dan Dia tidak selalu menghapus keterbatasan yang membuat panggilan itu terasa mustahil. Dia menyertainya. Pembebasan Israel tidak akan bergantung pada retorika yang memukau, melainkan pada Allah yang hadir di mulut yang berat.
Benang Merah
Perhatikan apa yang Allah janjikan di ayat 12: "Aku akan menyertai mulutmu dan mengajarkan kepadamu apa yang harus kamu ucapkan." Kalimat itu menjadi cetakan bagi seluruh jajaran nabi sesudahnya. Nabi bukan orang yang pandai berbicara; nabi adalah orang yang mulutnya dipinjam. Yeremia akan memakai alasan yang hampir sama, bahwa ia tidak pandai berkata-kata karena masih muda, dan menerima jawaban yang sama bentuknya: Allah menaruh firman-Nya di mulut itu. Saya sebut Yeremia karena pengulangan ini memperlihatkan bahwa keberatan Musa bukan kelemahan pribadi yang kebetulan, melainkan pola kerja Allah: Dia memilih mulut yang berat supaya jelas siapa yang berbicara. Dan garis itu berakhir di tempat yang mengejutkan. Dalam Yesus Kristus, Firman itu tidak lagi dipinjamkan kepada seseorang; Firman itu sendiri menjadi manusia dan berbicara. Perantara yang tidak membutuhkan Harun.
Cermin
Anda mungkin mengenali Musa lebih baik daripada yang ingin Anda akui. Ada percakapan yang Anda tunda berbulan-bulan dengan ayah Anda, dengan rekan kerja yang Anda lukai, dengan anak remaja yang menjauh, dan alasannya selalu terdengar rohani: saya bukan orang yang pandai berkata-kata. Ada permintaan untuk memimpin, mengajar, bersaksi, dan Anda menolak dengan kejujuran yang sesungguhnya adalah perlindungan diri. Musa tidak berbohong soal lidahnya. Itulah yang membuat ayat ini menyakitkan: alasan yang benar pun bisa menjadi tempat persembunyian. Allah tidak membantah fakta tentang mulut Musa, Dia hanya menolak kesimpulan yang ditarik Musa dari fakta itu. Hari ini juga, kirimkan pesan itu kepada orang yang namanya baru saja muncul di benak Anda. Tiga kalimat, canggung, tidak dipoles, tanpa menunggu sampai Anda tahu persis harus berkata apa.
Konteks
Bayangkan tempatnya. Padang Midian, timur laut Sinai, bau domba dan debu, seorang pria berusia delapan puluh tahun yang sudah empat puluh tahun tidak memegang apa pun yang lebih berharga daripada tongkat gembala. Ia pernah dibesarkan di istana, dalam kebudayaan yang memuja kefasihan; naskah-naskah hikmat Mesir memuji "orang yang pandai berkata-kata" sebagai yang paling berkuasa di ruang pengadilan dan di hadapan Firaun. Di dunia itu, berdiri di hadapan penguasa menuntut protokol, retorika, dan nada yang tepat. Salah bicara berarti mati. Lalu ada sisi lainnya: Musa harus meyakinkan para tua-tua Israel, budak-budak yang lelah, yang bahasanya mungkin sudah terasa asing di lidahnya setelah puluhan tahun di padang. Ia merasa tidak cocok di kedua ruangan itu. Seorang buronan tanpa posisi, diminta berbicara kepada dua pihak yang sama-sama bisa menolaknya.
Pertanyaan
Mengapa Allah tidak menyembuhkan saja mulut Musa? Dia baru mengubah tongkat menjadi ular dan menyembuhkan tangan yang kusta dalam hitungan detik. Lidah yang berat jelas bukan persoalan bagi-Nya. Tetapi Dia memilih untuk tidak. Dan beberapa ayat kemudian "kemarahan TUHAN pun menyala atas Musa," bukan ketika Musa jujur tentang kelemahannya di ayat 10, melainkan ketika ia berkata: utuslah orang lain saja. Garisnya tipis dan tidak nyaman. Allah bersabar dengan keberatan, tetapi marah terhadap penolakan. Lalu Dia memberi Harun, dan pemberian itu sekaligus kehilangan: Harun yang sama kelak akan membentuk anak lembu emas. Saya tidak bisa merapikan ini. Allah mengabulkan permintaan Musa, dan pengabulan itu membawa harganya sendiri. Kadang yang kita minta sebagai kemudahan diberikan, dan kita harus hidup dengan akibatnya.
Tokoh Utama
Musa di ayat ini bukan pahlawan yang rendah hati; ia pria yang pernah gagal dan belum pulih. Empat puluh tahun lalu ia mencoba membebaskan seorang Ibrani dengan tangannya sendiri, dan berakhir mengubur mayat di pasir lalu lari. Sejak itu ia menggembalakan domba milik mertuanya. Orang yang pernah salah menilai dirinya terlalu tinggi sering kemudian menilai dirinya terlalu rendah, dan menyebutnya kerendahan hati. "Baik dahulu maupun sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mu ini," katanya, dengan nada yang hampir menuduh: Engkau berbicara, dan tidak ada yang berubah pada diriku. Itulah lanskap batinnya: rasa malu yang mengeras menjadi identitas. Yang menakjubkan bukanlah Musa, melainkan Allah yang berdebat dengan orang seperti ini, marah kepadanya, lalu tetap mengutusnya dengan tongkat gembala di tangan.
Refleksi
Alasan apa tentang diri Anda yang sudah bertahun-tahun Anda ucapkan, yang sebenarnya benar, tetapi Anda pakai untuk menghindari sesuatu yang Allah taruh di depan Anda?
Jika Allah tidak menghapus keterbatasan Anda tetapi berjanji menyertainya, apa yang berubah dalam cara Anda memandang kelemahan itu besok pagi?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Exodus 4:10
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti KELUARAN 4:10?
Tentang apakah KELUARAN 4:10?
Apa konteks historis dari KELUARAN 4:10?
Apa yang KELUARAN 4:10 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana KELUARAN 4:10 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Exodus 4
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Tuhan, ajari aku pergi dengan baik. Saat Engkau memanggilku melangkah ke tempat baru, tolong aku tetap menghormati orang orang yang pernah menampungku. Beri aku keberanian untuk pamit, dan hati yang tenang untuk percaya bahwa Engkau sudah menunggu di depan.
Musa beralasan, "Aku ini berat mulut dan berat lidah." Tuhan tidak menyembuhkan lidahnya. Dia berkata, "Sekarang, pergilah! Aku akan menyertai mulutmu dan mengajarimu apa yang harus kamu katakan." Kelemahanmu tidak dihapus, tapi ditemani. Mungkin kamu menunggu merasa mampu dulu baru melangkah. Tuhan justru menunggumu melangkah.
Dan, ketika dia mengeluarkannya, tangannya menjadi kusta, putih seperti salju." Tangan itu masuk ke dada, dekat jantung, dan keluar dalam keadaan sakit. Allah tidak takut menunjukkan kepada Musa apa yang tersembunyi di tempat paling dalam. Mungkin itu juga yang sedang Dia lakukan padamu. Bukan untuk mempermalukan, tetapi karena yang disembunyikan tidak pernah sembuh.
Bapa, ampuni aku ketika keengganan hatiku membangkitkan murka-Mu. Aku sering berdalih, ragu, dan takut, padahal Engkau sudah menyiapkan semua yang kubutuhkan. Ajar aku untuk taat dengan tulus, tanpa terus menuntut Engkau membujukku.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi