Sukacita dan percaya di setiap musim
Sukacita dan kepercayaan
Renungan singkat untuk direnungkan dengan tenang, diambil dari bagian Alkitab dalam Filipi 4:4, Pengkhotbah 2:24, Yesaya 5:20 and Mazmur 62:8.
☀ Momen pagi
Bersukacitalah selalu dalam Tuhan. Sekali lagi kukatakan, bersukacitalah!
Filipi 4:4
Bagaimana mungkin aku bersukacita kalau pagi ini terasa berat sebelum apa-apa dimulai? Pertanyaan itu jujur, bukan sesuatu yang bisa dijawab dengan nasihat cepat.
Paulus menulis kalimat ini bukan dari ruang yang nyaman. Ia menuliskannya dari penjara, tanpa tahu apakah ia akan hidup atau mati. Sukacita yang ia maksud bukan perasaan ringan yang datang begitu saja, tapi sikap hati yang berpegang pada Tuhan, bukan pada keadaan.
Itu sebabnya ia menulis dua kali, "Bersukacitalah," lalu mengulanginya lagi. Seolah tahu bahwa sekali saja tidak cukup untuk hati yang sedang berat. Sukacita dalam Tuhan tidak menunggu semua masalah selesai dulu. Ia dimulai dengan mengingat bahwa Tuhan masih memegang hari ini, sebelum satu tugas pun terselesaikan.
Pagi ini mungkin sudah membawa daftar kekhawatiran sendiri, tentang pekerjaan, tentang orang yang kau kasihi, tentang hal-hal yang belum jelas ujungnya. Tapi ayat ini tidak meminta kau berpura-pura baik-baik saja. Ia mengundangmu untuk berpaling sejenak, mengingat bahwa Tuhan hadir di dalam hari yang belum kau jalani ini, dan itu cukup untuk memulai dengan sukacita yang tenang, bukan yang dipaksakan.
Hari ini
Sebelum kau memeriksa ponsel atau memulai rutinitas pagi, sebutkan satu hal secara lisan, dengan suara yang bisa kau dengar sendiri, yang membuatmu bisa bersyukur hari ini, sekecil apa pun itu. Ucapkan langsung setelah bangun, sebelum pikiran lain masuk.
✦ Momen siang
Tidak ada yang lebih baik bagi manusia daripada makan, minum, dan jiwanya memandang kebaikan dari kerja kerasnya. Aku pun melihat bahwa ini berasal dari tangan Allah.
Pengkhotbah 2:24
Makan siang dianggap cuma jeda teknis, bahan bakar supaya tubuh kuat sampai jam pulang. Selesai makan, kembali ke layar, kembali ke antrean tugas yang tidak pernah habis. Tapi Pengkhotbah menaruh retak kecil di anggapan itu: makan, minum, dan menikmati hasil kerja bukan sekadar kebutuhan biologis, melainkan pemberian dari tangan Allah sendiri.
Itu berarti nasi yang mengepul di kotak makan siangmu, obrolan ringan dengan rekan kerja, bahkan rasa lega karena bisa duduk sejenak, semuanya bisa jadi tempat kau bertemu Tuhan, bukan cuma jeda di antara dua rapat.
Si Pengkhotbah sudah mencoba segalanya, kekayaan, proyek besar, pencapaian, dan menemukan itu semua kosong kalau dikejar sendirian. Tapi ketika ia berhenti mengejar dan mulai menerima, makan dan bekerja jadi berarti lagi. Bukan karena pekerjaannya berubah, tapi karena caranya melihat berubah.
Hari ini pekerjaanmu mungkin belum selesai, targetmu mungkin belum tercapai. Tapi makan siangmu tetap bisa jadi momen menerima, bukan sekadar mengisi ulang tenaga.
Hari ini
Sebelum menyuap gigitan pertama makan siangmu hari ini, berhenti tiga detik dan ucapkan pelan, cukup untuk didengar dirimu sendiri: 'Terima kasih, Tuhan, untuk makanan dan pekerjaan ini.'
◐ Momen sore
Celakalah mereka yang menyebut kejahatan itu kebaikan, dan kebaikan itu kejahatan; yang menggantikan terang dengan kegelapan, dan kegelapan dengan terang; yang mengubah yang pahit menjadi manis, dan yang manis menjadi pahit.
Yesaya 5:20
Jam dua siang, di ruang rapat kantor, seseorang menyebut keputusan menyingkirkan rekan kerja secara diam-diam sebagai 'demi kebaikannya sendiri'. Semua orang mengangguk. Anda ikut mengangguk, meski ada sesuatu yang terasa janggal di dada, sesuatu yang tidak sempat Anda ucapkan.
Begitulah cara kita bertahan hidup sehari-hari, dengan mengganti nama pada hal-hal yang sebenarnya kita tahu salah. Gosip disebut kepedulian. Ketamakan disebut kepintaran mengatur uang. Diam saat melihat ketidakadilan disebut menjaga kedamaian. Yesaya tidak sedang bicara tentang orang jahat yang terang-terangan. Ia bicara tentang orang yang pandai menukar label, sampai gelap kelihatan seperti terang.
Coba pikir, apa yang sudah Anda beri nama baru hari ini? Dendam lama yang Anda sebut kehati-hatian? Ambisi yang Anda sebut panggilan? Teks ini tidak menawarkan pelukan hangat. Ini adalah seruan celaka, bukan penghiburan instan.
Tapi justru di situ ada kasih karunia yang jujur. Tuhan tidak membiarkan kita nyaman dalam penamaan yang salah selamanya. Menyebut sesuatu dengan nama aslinya bukan penghukuman, melainkan langkah pertama menuju penglihatan yang jernih kembali, dan dari sana, pertobatan bisa mulai.
Hari ini
Ambil kertas kecil sekarang. Tuliskan satu hal yang sudah Anda beri nama halus hari ini, lalu tuliskan nama aslinya yang jujur, dan ucapkan itu dalam doa singkat kepada Tuhan.
☾ Momen sore
(62-9) Percayalah kepada-Nya setiap saat, hai umat, curahkan isi hatimu di hadapan-Nya, Allah adalah tempat perlindungan bagi kita. Sela
Mazmur 62:8
Daud menulis mazmur ini di tengah tekanan, dikelilingi orang-orang yang menjatuhkannya seperti tembok yang miring, seperti pagar yang mau roboh. Ia tidak menyembunyikan bebannya, ia justru mencari tempat untuk menumpahkannya.
Malam ini, setelah rapat yang melelahkan, pesan yang belum terjawab, atau pikiran yang masih berputar tentang besok, ada undangan yang sama: jangan simpan semuanya sendirian. Ada Pribadi yang cukup kuat untuk menampung apa yang hari ini tinggalkan di dadamu.
Menumpahkan hati bukan tanda lemah. Justru itu tanda percaya, bahwa Tuhan cukup dekat untuk didengar, dan cukup besar untuk tidak goyah oleh kekacauan isi hatimu. Ia tidak butuh kata-kata rapi, Ia hanya menunggu kejujuran.
Mazmur ini berkata Ia adalah tempat perlindungan bagi kita, bukan hanya bagimu sendirian. Ada kelegaan dalam kata itu, kamu tidak sedang membawa hari ini sendirian di hadapan-Nya, seluruh umat-Nya juga datang dengan cara yang sama.
Hari ini
Malam ini, sebelum tidur, duduklah sejenak di tepi ranjang dan ucapkan dengan suara pelan semua yang membebani hatimu hari ini, satu per satu, kepada Tuhan. Setelah selesai, tarik napas panjang dan katakan, 'Kutinggalkan ini pada-Mu malam ini.'
Baca perikop ini dalam Alkitab Yang Terbuka (AYT)
Ketuk sebuah bagian untuk membaca teks lengkapnya di sini.
4Bersukacitalah selalu dalam Tuhan. Sekali lagi kukatakan, bersukacitalah!
24Tidak ada yang lebih baik bagi manusia daripada makan, minum, dan jiwanya memandang kebaikan dari kerja kerasnya. Aku pun melihat bahwa ini berasal dari tangan Allah.
20Celakalah mereka yang menyebut kejahatan itu kebaikan, dan kebaikan itu kejahatan; yang menggantikan terang dengan kegelapan, dan kegelapan dengan terang; yang mengubah yang pahit menjadi manis, dan yang manis menjadi pahit.
8(62-9) Percayalah kepada-Nya setiap saat, hai umat, curahkan isi hatimu di hadapan-Nya, Allah adalah tempat perlindungan bagi kita. Sela
Ingin menggali lebih dalam?
Untuk setiap ayat dalam renungan ini, Anda bisa memperoleh penjelasan Alkitab yang mendalam beserta konteks, latar belakang, dan penerapannya.
Mulai penelusuran mendalam