1 KORINTUS 16
Teks
Pasal ini terdengar seperti akhir sebuah surat panjang yang ditulis tergesa di ruang sewaan Efesus: petunjuk soal uang yang harus disisihkan tiap hari pertama minggu itu untuk orang-orang kudus di Yerusalem, rencana perjalanan lewat Makedonia, kemungkinan tinggal selama musim dingin, pintu yang terbuka lebar di Efesus "sekalipun ada banyak yang berlawanan". Lalu nama-nama: Timotius yang tidak boleh dipandang rendah, Apolos yang menolak datang sekarang, Stefanus dan dua rekannya yang "menyegarkan rohku dan rohmu", Akwila dan Priskila dengan jemaat di rumah mereka. Dan penutupnya, ditulis Paulus dengan tangannya sendiri: kutuk bagi yang tidak mengasihi Tuhan, seruan "Oh Tuhan, datanglah!", lalu anugerah dan kasih.
Intinya
Yang mengejutkan bukan teologinya yang tinggi, melainkan betapa rendahnya ia mendarat. Lima belas pasal Paulus berdebat soal kebangkitan, tubuh, hikmat salib; lalu semuanya berujung pada koin-koin kecil yang disisihkan seorang tukang tenun setiap hari pertama minggu, pada kapal yang menunggu angin, pada surat pengantar supaya uang jemaat tidak hilang di jalan. Injil di sini berubah menjadi logistik. Dan justru itu ujiannya: jemaat Korintus yang terpecah oleh gengsi dan golongan diminta mengikat nasibnya pada orang-orang miskin di Yerusalem yang tidak pernah mereka temui, orang Yahudi pula. Uang menjadi bukti bahwa kebangkitan itu sungguh mengubah sesuatu. Di ujungnya berdiri seruan "Oh Tuhan, datanglah!", pengharapan akhir zaman yang tidak melayangkan orang ke awan, melainkan menyuruh mereka menabung, berdiri teguh, dan mengerjakan segalanya dalam kasih.
Benang Merah
Uang yang dikumpulkan itu bukan proyek amal biasa. Sepanjang Perjanjian Lama ada gambaran tentang bangsa-bangsa yang suatu hari datang ke Sion membawa persembahan, dan Paulus tampaknya melihat kantong-kantong koin dari Korintus, Galatia dan Makedonia sebagai awal penggenapannya: orang bukan Yahudi mengirim harta kepada orang Yahudi yang miskin, karena satu Mesias telah menyatukan mereka. Dan pola itu berasal dari Kristus sendiri, yang kaya tetapi menjadi miskin supaya orang lain menjadi kaya (2 Korintus 8:9); jemaat hanya meniru gerakan turun yang sudah dilakukan Tuhannya. Di ujung pasal, seruan "Oh Tuhan, datanglah!" adalah terjemahan dari doa Aram marana tha, doa yang sudah dipakai jemaat mula-mula sebelum bahasa Yunani mengambil alih. Pengharapan tertua gereja disisipkan ke dalam surat berbahasa Yunani: Ia sudah datang, Ia akan datang lagi, dan sementara itu kita menyisihkan koin.
Cermin
Perhatikan urutan yang dituntut Paulus: menyisihkan lebih dulu, bukan mengumpulkan belakangan. Ia tahu betul apa yang terjadi kalau pemberian menunggu kunjungan seorang rasul; akan ada rasa malu, tekanan sosial, dan orang kaya Korintus akan memakai kesempatan itu untuk pamer. Karena itu: hari pertama minggu, di rumah, sendirian, sesuai dengan yang kamu peroleh. Tidak dramatis, tidak diumumkan. Kita hidup dengan aplikasi bank yang mencatat setiap rupiah, dan justru di sanalah terlihat apa yang sungguh kita percayai tentang kebangkitan. Sisa akhir bulan hampir selalu nol; yang tersisih di awal hampir selalu ada. Pertanyaannya bukan apakah Anda murah hati saat tersentuh, melainkan apakah kemurahan hati Anda punya jadwal. Hari ini juga, buka aplikasi bank Anda dan buat satu transfer terjadwal, jumlah tetap, setiap awal minggu, untuk satu orang atau pelayanan yang benar-benar membutuhkan.
Pertanyaan
Surat yang memuat pasal tentang kasih ditutup dengan kalimat keras: "Jika ada orang yang tidak mengasihi Tuhan, terkutuklah dia." Kita ingin melunakkannya, tetapi tangan Paulus sendiri yang menulis kalimat itu. Perhatikan apa yang tidak ia tulis: bukan "jika ada orang yang salah doktrin", bukan "jika ada orang yang lemah imannya". Ukurannya kasih kepada Tuhan, hal yang tidak bisa diukur siapa pun kecuali Allah. Jadi kalimat ini bukan senjata untuk saling menuding di jemaat yang memang gemar berpihak; kalimat ini menutup pintu darurat bagi diri sendiri. Tetap tidak nyaman. Ada kemungkinan nyata bahwa seseorang duduk di antara jemaat, ikut mencium kudus, ikut menyisihkan uang, dan tetap tidak mengasihi. Paulus membiarkan kemungkinan itu berdiri tanpa penghiburan. Yang ia berikan sesudahnya hanya anugerah, dan itu memang satu-satunya jalan keluar.
Konteks
Kita berada di Efesus, musim semi, menjelang Pentakosta. Pelayaran baru saja dibuka kembali setelah laut tertutup berbulan-bulan, dan itu menjelaskan seluruh rencana perjalanan Paulus: ia tidak bebas memilih tanggal, ia terikat angin. Efesus adalah kota kuil Artemis, kota tukang perak, kota mantra dan jimat; "banyak yang berlawanan" bukan kiasan rohani, melainkan orang-orang dengan kepentingan ekonomi yang terancam. Korintus di seberang laut adalah kota pelabuhan yang baru kaya, penuh orang yang naik kelas dan tahu betul cara memamerkannya. Jemaat berkumpul di rumah pribadi seperti rumah Akwila dan Priskila, dua puluh sampai empat puluh orang di ruang makan, budak dan tuan duduk berdekatan. Cium kudus adalah kode sosial keluarga; memberikannya kepada seorang budak berarti mengakuinya sebagai saudara. Surat ini dibawa dengan kapal, dibacakan keras-keras, dan tanda tangan tangan Paulus sendiri adalah jaminan keasliannya.
Tokoh Utama
Paulus di pasal ini tidak terdengar seperti rasul di atas mimbar, melainkan seperti orang yang lelah dan penuh perhitungan. Ia membuat rencana lalu langsung membatasinya: "jika Tuhan mengizinkannya". Ia tidak bisa memaksa Apolos datang, dan ia mengakuinya terang-terangan; seorang pemimpin yang tidak menyembunyikan bahwa rekannya menolak permintaannya. Ia khawatir Timotius, yang jelas masih muda dan gugup, akan diinjak oleh jemaat yang tajam lidahnya, maka ia menulis semacam surat perlindungan. Ia mengaku disegarkan oleh tiga orang tamu, artinya rohnya memang sempat kering. Dan kepada jemaat yang mempertanyakan kerasulannya, yang membandingkannya dengan pembicara yang lebih fasih, ia menutup dengan kalimat tanpa syarat: "Kasihku menyertai kamu semua dalam Yesus Kristus." Itu bukan basa-basi surat. Itu keputusan seorang yang memilih tetap mengasihi jemaat yang menyakitinya.
Refleksi
Kalau seseorang memeriksa catatan keuangan Anda tiga bulan terakhir, pola apa yang akan ia temukan tentang siapa yang Anda anggap saudara?
Siapa "Timotius" di lingkungan Anda, orang muda atau baru yang mudah dipandang rendah, dan apa satu hal yang bisa Anda lakukan minggu ini supaya ia tidak merasa takut?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang 1 Corinthians 16
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti 1 KORINTUS 16?
Tentang apakah 1 KORINTUS 16?
Apa konteks historis dari 1 KORINTUS 16?
Apa yang 1 KORINTUS 16 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana 1 KORINTUS 16 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang 1 Corinthians 16
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Akwila dan Priskila hidup berpindah-pindah. Diusir dari Roma, singgah di Korintus, lalu menetap di Efesus. Tapi di mana pun mereka berada, ada kalimat yang sama: "bersama jemaat yang ada di rumah mereka." Yang dibutuhkan bukan rumah yang besar, melainkan pintu yang mau dibuka. Bagaimana dengan rumahmu?
Paulus menolak singgah sebentar. "Sebab, aku tidak ingin melihat kamu hanya sekilas saja, tetapi aku berharap untuk tinggal bersamamu beberapa lama, jika Tuhan mengizinkan." Ada orang yang butuh kamu duduk, bukan sekadar lewat dan menyapa. Siapa yang selama ini hanya kamu temui sekilas? Dan beranikah kamu menaruh rencanamu di tangan Tuhan?
Pada hari pertama setiap minggu, hendaklah kamu masing-masing menyisihkan sesuatu sesuai dengan penghasilannya dan menyimpannya." Perhatikan: masing-masing. Tidak ada yang dianggap terlalu miskin untuk ikut memberi. Dan bukan spontan saat hati tersentuh, tapi disisihkan lebih dulu, teratur, sebelum uang itu habis dipakai sendiri. Kasih yang direncanakan sering lebih setia daripada kasih yang mendadak.
Bapa, sering aku sibuk mengerjakan banyak hal, tapi lupa alasan di baliknya. Ajar aku menaruh kasih di setiap yang kulakukan hari ini: cara aku bicara, bekerja, dan menanggapi orang yang sulit. Biar kasih itu nyata, bukan sekadar niat baik.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
