1 KORINTUS 16:15
Teks Itu
Paulus mengangkat sebuah nama dari jemaat Korintus sendiri: Stefanus. Seisi rumahnya, katanya, adalah "buah-buah pertama di Akhaya", orang-orang pertama di provinsi itu yang datang kepada Kristus. Dan mereka, tanpa diminta siapa pun, "telah mengabdikan diri mereka untuk pelayanan orang-orang kudus". Atas dasar itulah Paulus mendesak jemaat, dan kalimatnya baru selesai di ayat berikutnya: tunduklah kepada orang-orang seperti ini.
Inti
Kata "buah-buah pertama" bukan pujian sopan. Dalam bahasa Yunani kata itu adalah aparchē, istilah dari meja persembahan: hasil panen paling awal yang dibawa ke hadapan Allah karena seluruh panen adalah milik-Nya. Israel membawa keranjang pertama ke tempat kudus bukan sebagai suap, melainkan sebagai pengakuan bahwa yang tersisa di ladang pun bukan hak mereka. Ketika Paulus menyebut keluarga Stefanus demikian, ia sedang mengatakan sesuatu tentang Allah, bukan tentang Stefanus: pertobatan pertama di Akhaya adalah tanda bahwa Allah sudah mengklaim seluruh provinsi itu. Orang-orang percaya pertama adalah janji panen, bukan kebetulan statistik.
Benang Merah
Paulus baru saja memakai kata yang sama satu pasal sebelumnya, tentang Kristus yang bangkit: Dia adalah buah sulung dari mereka yang telah meninggal. Di situlah seluruh gambaran ini berpusat. Kebangkitan Yesus bukan peristiwa tunggal yang berdiri sendiri, melainkan keranjang pertama yang diangkat ke hadapan Bapa, jaminan bahwa ladang kuburan akan dipanen seluruhnya. Dan pola itu turun ke bawah, ke Korintus, ke rumah seorang bernama Stefanus. Karena Kristus adalah buah sulung, maka ada buah sulung di Akhaya. Yang di Perjanjian Lama adalah gandum dan anggur, di Perjanjian Baru adalah manusia. Panen Allah selalu dimulai kecil, dengan satu keluarga yang tidak dikenal siapa-siapa di luar kotanya.
Cermin
Perhatikan siapa yang disebut Paulus di akhir surat yang penuh pertengkaran ini. Bukan orang paling fasih, bukan yang paling berkarunia, bukan pihak yang menang dalam perdebatan tentang daging berhala. Yang disebut adalah keluarga yang mengurus orang-orang kudus. Menyediakan rumah, makanan, tumpangan bagi para pengunjung, uang untuk yang miskin. Pekerjaan yang tidak masuk daftar prestasi dan tidak diumumkan dari mimbar. Kalau Anda diam-diam menghitung apakah pelayanan Anda cukup terlihat, ayat ini menekan tepat di titik itu. Dan kalau Anda termasuk yang menerima pelayanan seperti itu bertahun-tahun tanpa pernah benar-benar menghargainya, Paulus sedang berbicara kepada Anda dengan nada mendesak, bukan menyarankan.
Tokoh Utama
Kita nyaris tidak tahu apa-apa tentang Stefanus. Paulus menyebut ia dan seisi rumahnya dibaptis olehnya, hampir seperti catatan yang baru teringat. Lalu di ayat 17 kita tahu ia melakukan perjalanan jauh ke Efesus, ikut membawa kabar dan mungkin surat dari Korintus, dan pulang membawa surat ini. Gambaran yang muncul: seorang kepala keluarga yang seluruh rumah tangganya berubah menjadi pos pelayanan. Bukan tokoh karismatik, melainkan orang yang bisa diandalkan. Yang menarik, ia melayani sebuah jemaat yang kacau, penuh kubu dan kesombongan rohani. Ia tidak menarik diri ke lingkaran yang lebih murni. Ia tetap tinggal, tetap membuka pintu, tetap menyegarkan roh orang lain, termasuk roh mereka yang menyusahkan.
Pertanyaan
Yang mengganjal: tidak ada seorang pun yang mengangkat keluarga ini. Mereka mengangkat diri sendiri. Lalu Paulus meminta jemaat tunduk kepada mereka. Bukankah itu resep untuk kekacauan? Setiap gereja mengenal orang yang mengangkat dirinya sendiri dan kemudian menuntut dihormati. Paulus tidak memberi kita sistem pengaman yang rapi di sini. Yang ia berikan hanyalah bukti: mereka sudah lebih dulu bekerja, sudah berjerih lelah, sudah menyegarkan orang lain. Wibawa mereka tumbuh dari pelayanan yang sudah terbukti, bukan dari klaim atas pelayanan. Tetap saja ini rapuh dan bisa disalahgunakan, dan Paulus tampaknya bersedia menanggung risiko itu daripada membangun jemaat di atas jabatan tanpa jerih lelah.
Detail
Kata yang diterjemahkan "mengabdikan diri" punya nuansa yang hilang dalam bahasa Indonesia. Itu istilah yang dipakai untuk menempatkan seseorang pada posisi tertentu dalam barisan, seperti perwira yang menugaskan prajurit ke posnya. Bedanya, di sini subjek dan objeknya sama: mereka menempatkan diri mereka sendiri. Tidak ada surat pengangkatan, tidak ada pemungutan suara jemaat. Mereka melihat kebutuhan orang-orang kudus, lalu berdiri di sana dan tidak pergi. Menariknya, kata yang sama berakar pada gagasan keteraturan, dan ini ditulis kepada jemaat yang ibadahnya berantakan. Keteraturan yang Paulus inginkan ternyata tidak dimulai dari peraturan, melainkan dari orang yang bersedia mengambil posnya sendiri dan bertahan di situ.
Refleksi
Di mana Anda melihat kebutuhan yang nyata dalam jemaat Anda, dan apa yang sebenarnya menahan Anda untuk berdiri di sana tanpa menunggu diminta?
Siapa "keluarga Stefanus" di gereja Anda, orang yang bertahun-tahun melayani tanpa disebut namanya, dan kapan terakhir kali Anda benar-benar menghargai mereka?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang 1 Corinthians 16:15
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti 1 KORINTUS 16:15?
Tentang apakah 1 KORINTUS 16:15?
Apa konteks historis dari 1 KORINTUS 16:15?
Apa yang 1 KORINTUS 16:15 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana 1 KORINTUS 16:15 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang 1 Corinthians 16
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Paulus menolak singgah sebentar. "Sebab, aku tidak ingin melihat kamu hanya sekilas saja, tetapi aku berharap untuk tinggal bersamamu beberapa lama, jika Tuhan mengizinkan." Ada orang yang butuh kamu duduk, bukan sekadar lewat dan menyapa. Siapa yang selama ini hanya kamu temui sekilas? Dan beranikah kamu menaruh rencanamu di tangan Tuhan?
Pada hari pertama setiap minggu, hendaklah kamu masing-masing menyisihkan sesuatu sesuai dengan penghasilannya dan menyimpannya." Perhatikan: masing-masing. Tidak ada yang dianggap terlalu miskin untuk ikut memberi. Dan bukan spontan saat hati tersentuh, tapi disisihkan lebih dulu, teratur, sebelum uang itu habis dipakai sendiri. Kasih yang direncanakan sering lebih setia daripada kasih yang mendadak.
Bapa, sering aku sibuk mengerjakan banyak hal, tapi lupa alasan di baliknya. Ajar aku menaruh kasih di setiap yang kulakukan hari ini: cara aku bicara, bekerja, dan menanggapi orang yang sulit. Biar kasih itu nyata, bukan sekadar niat baik.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi