1 YOHANES 2:7
Teks
Yohanes berhenti sebentar dari nada tegasnya dan menyapa mereka dengan lembut: "Saudara-saudara yang kukasihi." Lalu ia mengatakan sesuatu yang hampir terdengar seperti pembelaan diri, seolah ia tahu ada yang akan menuduhnya membawa ajaran baru. Aku tidak sedang menuliskan perintah baru bagimu, katanya, melainkan perintah lama yang sudah kamu miliki sejak semula. Dan perintah lama itu bukan daftar aturan yang berdebu di lemari, melainkan "Firman yang sudah kamu dengar sejak semula." Satu ayat, dua kali kata "sejak semula," dan sebuah tekanan yang aneh pada kata "lama" di tengah surat yang begitu mendesak. Ayat berikutnya justru membalik semuanya: perintah itu ternyata baru juga. Tetapi sebelum ke sana, Yohanes ingin kita berdiam dulu di kata "lama."
Inti
Kita hidup di zaman yang menganggap "lama" hampir sinonim dengan "usang." Yohanes berpikir sebaliknya: yang lama itulah yang dapat dipercaya, justru karena ia tidak berubah. Di sini ada klaim teologis yang tajam. Kebenaran tentang Allah bukan sesuatu yang kita temukan sendiri, kembangkan sendiri, atau perbarui setiap generasi supaya tetap relevan. Ia diterima. Ia diberikan. Ia "sudah kamu miliki sejak semula," artinya kasih itu bukan penemuan kita melainkan warisan yang dititipkan.
Dan perhatikan: perintah itu disamakan dengan Firman. Bukan perintah yang berdiri terpisah dari Kristus, lalu dituntut dari kita. Perintah dan Firman menyatu, sehingga menaati berarti tinggal di dalam Dia. Pertanyaan yang layak kita simpan lama-lama: bila kasih itu memang sudah lama kita miliki, mengapa ia terasa selalu perlu diajarkan ulang kepada kita?
Benang Merah
"Sejak semula" adalah frasa yang di tangan Yohanes selalu bergema lebih jauh daripada yang kita duga. Di pembukaan suratnya ia memakainya untuk yang sudah ada sejak awal, yang didengar, dilihat, disentuh dengan tangan. Jadi ketika ia berkata perintah ini kamu miliki "sejak semula," ia mungkin berpikir tentang saat mereka pertama kali mendengar Injil, tetapi juga tentang sesuatu yang jauh lebih tua: kehendak Allah yang sudah terdengar di Sinai, ketika umat diperintahkan mengasihi sesamanya seperti diri sendiri. Perintah kasih bukan penemuan Kristen. Yang baru adalah bahwa perintah itu kini punya wajah, punya nama, punya darah. Yesus tidak menambahkan aturan; Ia menghidupi perintah lama itu sampai habis, sampai ke salib, dan dengan demikian menunjukkan apa arti sebenarnya kata-kata yang sudah berabad-abad dihafal umat.
Cermin
Ada godaan yang halus dalam hidup rohani yang panjang: kita mulai mencari yang baru. Wawasan yang belum pernah kita dengar, pengajaran yang lebih dalam, pengalaman yang lebih intens. Dan sementara itu perintah lama tergeletak, dikenal luar kepala, tidak dilakukan. Kita tahu persis harus mengasihi rekan kerja yang menyebalkan itu; kita tidak memerlukan penjelasan tambahan. Kita tahu apa yang seharusnya kita ucapkan kepada saudara yang sudah dua tahun tidak kita hubungi. Yang kita cari bukan pengetahuan baru, tetapi alasan baru untuk menunda. Yohanes menutup pintu itu dengan lembut namun rapat: kamu sudah memilikinya sejak semula.
Hari ini, sebelum malam: tuliskan di selembar kertas satu perintah yang paling lama kamu kenal dan paling lama kamu abaikan, lalu di bawahnya tuliskan satu nama orang yang terkena dampaknya. Simpan kertas itu di tempat yang besok pagi kamu lihat.
Konteks
Surat ini ditulis kepada jemaat yang baru saja terkoyak. Beberapa orang pergi, dan mereka pergi sambil membawa klaim bahwa mereka memiliki pengetahuan yang lebih maju tentang Allah, wawasan yang melampaui apa yang dulu diajarkan para rasul. Yohanes menyinggung mereka dengan tajam beberapa ayat kemudian: mereka datang dari antara kita, tetapi mereka bukan bagian dari kita. Dalam suasana seperti itu, kata "lama" menjadi senjata pastoral. Jemaat yang tertinggal mungkin merasa bodoh, terbelakang, tidak cukup rohani. Yohanes berkata: yang kamu pegang bukanlah versi pemula dari kekristenan, melainkan Firman itu sendiri, sejak semula. Ia menyapa mereka "Saudara-saudara yang kukasihi," bukan sebagai formalitas, tetapi sebagai pelukan bagi orang-orang yang baru saja ditinggalkan.
Intertekstualitas
Di Perjanjian Lama, perintah mengasihi sesama seperti diri sendiri berdiri di tengah-tengah Imamat, di antara hukum-hukum tentang panen, upah buruh, dan cara berbicara tentang orang lain. Kasih di sana sangat tidak romantis; ia soal timbangan yang jujur dan upah yang dibayar tepat waktu. Itulah "perintah lama." Lalu pada malam terakhir sebelum penderitaan-Nya, Yesus menyebut perintah kasih sebagai perintah baru, dengan satu tambahan yang mengubah segalanya: seperti Aku telah mengasihi kamu. Yohanes, yang duduk di meja itu, kini menulis surat ini dan seperti tidak bisa memutuskan: lama atau baru? Jawabannya: keduanya. Lama karena Allah tidak pernah berubah pikiran. Baru karena kita baru saja melihat sampai di mana kasih itu bersedia pergi.
Tokoh Utama
Yang paling mencolok dalam ayat ini bukan isi perintahnya, melainkan nada penulisnya. Yohanes sudah tua. Ia telah melihat jemaat lahir dan jemaat pecah, dan ia tidak punya ambisi lagi untuk berkata sesuatu yang orisinal. Seorang guru muda ingin membawa hal baru; seorang guru tua rela mengulang satu hal yang sama sampai akhir hayatnya. Ada kerendahan hati di situ, dan juga keberanian, sebab tidak ada yang lebih mudah diremehkan daripada orang yang selalu mengatakan hal yang sama. Ia menyebut pembacanya anak-anak, saudara yang dikasihi, dan ia tidak berargumentasi untuk menang; ia berargumentasi supaya mereka tetap tinggal. Di balik nada itu terdengar Allah sendiri, yang tidak pernah bosan mengulang kepada kita apa yang sudah kita ketahui sejak semula.
Refleksi
Apa yang sebenarnya aku cari ketika aku merasa haus akan pengajaran yang "lebih dalam": Allah, atau rasa maju?
Perintah mana yang sudah begitu lama kukenal sehingga aku berhenti mendengarnya sebagai suara Allah kepadaku?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang 1 John 2:7
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti 1 YOHANES 2:7?
Tentang apakah 1 YOHANES 2:7?
Apa konteks historis dari 1 YOHANES 2:7?
Apa yang 1 YOHANES 2:7 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana 1 YOHANES 2:7 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang 1 John 2
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau tidak hanya menyuruhku hidup benar, tetapi lebih dahulu menunjukkannya dalam Yesus. Aku bersyukur punya teladan nyata untuk kuikuti: cara Dia bersabar, melayani, dan mengampuni. Terima kasih karena aku boleh tinggal di dalam Dia dan belajar berjalan seperti Dia berjalan.
Jangan mengasihi dunia ataupun apa yang ada di dalam dunia," tulis Yohanes. Ia tidak melarangmu menikmati hidup. Ia menjaga hatimu, sebab hati hanya punya satu arah. Perhatikan apa yang pertama kali kaucari saat bangun pagi, apa yang membuatmu gelisah saat kehilangan. Di situ kasihmu sedang tinggal.
Ada nama yang dulu duduk di sebelahmu, dan sekarang kursinya kosong. Yohanes tidak memaniskannya: "Mereka keluar dari antara kita, tetapi mereka bukan dari golongan kita." Kepergian itu tidak membatalkan imanmu, hanya menyingkapkan hati mereka. Jadi berhentilah menghitung siapa yang pergi. Tanyakan yang lebih jujur: apa sebenarnya yang membuatku tinggal?
Yohanes baru saja berkata: biarlah yang kamu dengar sejak awal tetap tinggal di dalam kamu. Lalu ia menambahkan, "Dan, inilah janji yang Ia janjikan kepada kita, yaitu hidup yang kekal." Jadi hidup kekal bukan hadiah untuk orang yang menemukan ajaran baru, melainkan untuk yang bertahan pada yang lama. Apa yang paling awal kamu dengar tentang Yesus, masih tinggal di situ?
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi