HABAKUK 3:19
Teks
Setelah menyusun daftar bencana yang paling ditakuti petani Yehuda, pohon ara tanpa bunga, kandang tanpa sapi, Habakuk menutup doanya bukan dengan permohonan melainkan dengan pengakuan: "TUHAN Allah adalah kekuatanku, dan Dia membuat kakiku seperti rusa, Dia membuatku berjalan pada tempat-tempat tinggi." Kekuatan itu bukan milik sang nabi; ia dipinjamkan. Dan hasilnya bukan tempat berlindung yang aman di lembah, melainkan kaki yang sanggup memijak tebing curam tanpa tergelincir. Lalu, mengejutkan sekali, catatan teknis menyusul: "Untuk pemimpin pujian. Dengan permainan kecapi." Ratapan pribadi seorang nabi yang tulangnya membusuk karena takut (ayat 16) diserahkan kepada paduan suara bait Allah, untuk dinyanyikan bersama, berulang kali, oleh umat yang sama-sama menunggu hari kesesakan itu.
Inti
Kalimat tentang kaki rusa dan tempat tinggi itu bukan ciptaan Habakuk. Daud menyanyikannya lebih dahulu dalam Mazmur 18, nyanyian kemenangan seorang raja yang baru saja luput dari pedang musuh. Di sana gambaran itu masuk akal: Allah melatih tangan untuk berperang, kaki untuk mengejar. Habakuk mengambil bahasa kemenangan itu dan memakainya justru ketika tidak ada kemenangan yang kelihatan. Ladang kosong, Babel di ambang pintu, dan ia tetap berkata: kakiku seperti rusa. Inilah inti imannya, yang sudah dirumuskan di pasal 2, bahwa orang benar hidup oleh percaya. Iman di sini bukan optimisme bahwa panen akan pulih, melainkan keyakinan bahwa Allah sendirilah kekuatan itu, bahkan ketika segala penopang yang biasa dicabut satu per satu.
Benang Merah
Kalimat penutup Habakuk berdiri di persimpangan dua arah. Ke belakang, ia meminjam suara Daud dan lebih jauh lagi suara Musa, yang dalam nyanyian perpisahannya menggambarkan Israel dibuat memijak bukit-bukit tinggi negeri itu, memakan hasilnya. Bahasa penguasaan tanah dipakai oleh seorang nabi yang tanahnya sedang gagal panen. Ke depan, kalimat ini menuju Ibrani 10, di mana pasal 2 dari kitab yang sama, "orang benar akan hidup oleh percaya", ditempatkan berdampingan dengan janji bahwa Dia yang akan datang tidak akan menunda. Itulah kunci seluruh doa ini. Habakuk tidak sedang berlatih berpikir positif; ia sedang menunggu Seorang. Dan di kayu salib, Yang Diurapi yang dijanjikan keselamatan-Nya dalam ayat 13 justru mengalami ayat 17 sampai habis: segala penopang dicabut, dan Ia tetap menyerahkan diri kepada Bapa.
Cermin
Ayat 17 bukan puisi umum tentang kesusahan; itu daftar rekening bank seorang petani. Pohon ara, anggur, zaitun, gandum, domba, sapi: seluruh portofolionya, dari yang tahan lama sampai yang cepat rusak. Habakuk menghitungnya satu per satu, dan baru sesudah semuanya nol ia berkata "namun". Kita cenderung melompati penghitungan itu, karena mengakui secara terbuka apa yang hilang terasa seperti kurang beriman. Padahal justru pengakuan yang jujur itulah yang membuat ayat 19 punya bobot. Kalau Anda tidak pernah menyebut nama kerugian Anda, kekuatan yang Anda akui hanyalah teori. Ambil selembar kertas hari ini dan tulis tiga hal konkret yang gagal atau hilang dari hidup Anda tahun ini, apa pun itu, lalu di bawahnya salin ayat 19 dengan tangan Anda sendiri dan bacalah dengan suara keras.
Detail
Kata yang diterjemahkan "kekuatanku" di sini adalah khayil, dan itu bukan kata netral. Dalam bahasa Ibrani kata itu dipakai untuk pasukan tentara, untuk kekayaan, untuk kemampuan seseorang menghasilkan sesuatu. Perempuan yang dipuji dalam Amsal 31 adalah perempuan khayil. Jadi tepat sesudah Habakuk menghabiskan satu ayat penuh untuk menyebut hilangnya seluruh kekayaan produktifnya, ia berkata: TUHAN Allah adalah khayil-ku. Bukan sekadar "yang menguatkan hatiku", melainkan: Dialah modalku, Dialah pasukanku, Dialah aset yang tercatat di neraca. Ladang boleh kosong; daftar kekayaan itu tidak ikut kosong. Terjemahan mana pun sulit menangkap sindiran halus ini, tetapi pendengar pertamanya, yang hidup dari hasil bumi, pasti mendengarnya.
Tokoh Utama
Habakuk memulai kitabnya dengan menuduh Allah tuli: berapa lama aku berteriak dan Engkau tidak mendengar. Ia mengakhirinya dengan menyerahkan lagu ratapannya kepada pemimpin pujian. Yang berubah bukan situasinya, sebab Babel tetap datang, melainkan tempatnya berdiri. Perhatikan bahwa ia tidak menyembunyikan ketakutannya: tulangnya membusuk, bibirnya bergetar, ia gemetar di tempatnya berdiri. Baru sesudah itu ia berbicara tentang kaki rusa. Inilah profil iman yang dewasa dalam Alkitab, bukan orang yang tidak gemetar, melainkan orang yang gemetar dan tetap menunggu dengan diam. Habakuk tidak menyelesaikan pertanyaannya; ia menyelesaikan pergumulannya dengan meletakkannya dalam bentuk nyanyian, supaya orang lain bisa memakainya ketika giliran mereka tiba.
Konteks
Kita berada di akhir abad ketujuh sebelum Masehi. Asyur baru saja runtuh, dan Babel di bawah Nebukadnezar mengisi kekosongan kekuasaan dengan kecepatan yang menakutkan. Yehuda adalah negara kecil yang terjepit, dengan raja yang bergantung pada kekuatan besar mana pun yang sedang menang. Ekonominya seluruhnya agraris: tidak ada panen berarti tidak ada pajak, tidak ada persembahan, tidak ada makanan musim dingin. Pasukan yang lewat biasanya menebang pohon buah dan menggiring ternak, persis seperti yang digambarkan ayat 17. Maka doa ini bukan renungan pribadi di ruang tertutup. Tanda "Sela" dan petunjuk permainan kecapi menunjukkan bahwa ratapan ini dibawa ke ibadah bersama, dinyanyikan di hadapan orang-orang yang tahu persis kandang siapa yang akan dikosongkan lebih dahulu.
Refleksi
Apa yang selama ini diam-diam menjadi khayil Anda, sumber rasa aman yang tidak pernah Anda sebut namanya, dan apa yang terjadi kalau itu dicabut?
Habakuk menyerahkan ratapannya kepada pemimpin pujian agar dinyanyikan bersama. Kepada siapa Anda berani menceritakan pergumulan Anda yang belum selesai, bukan sesudah jawabannya datang, melainkan sekarang?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Habakkuk 3:19
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti HABAKUK 3:19?
Tentang apakah HABAKUK 3:19?
Apa konteks historis dari HABAKUK 3:19?
Apa yang HABAKUK 3:19 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana HABAKUK 3:19 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Habakkuk 3
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Busur-Mu ditelanjangi seluruhnya, sumpah-sumpah untuk suku-suku adalah firman." Busur itu dikeluarkan dari sarungnya, siap dipakai. Bukan karena Allah sedang marah tanpa alasan, tetapi karena Dia pernah bersumpah kepada umat-Nya.
Habakuk sempat mengira Allah diam saja. Ternyata Allah sedang bersiap, dan yang menggerakkan-Nya adalah janji-Nya sendiri. Apa yang kaupikir sudah Dia lupakan?
TUHAN Allah adalah kekuatanku. Dia membuat kakiku seperti kaki rusa, dan membuat aku berjalan di tempat-tempat tinggi." Habakuk menulis ini sambil tahu panen akan gagal dan tentara musuh sedang datang. Allah tidak memindahkan dia dari tebing yang terjal, Allah memberi dia kaki untuk berpijak di sana. Mungkin doamu bukan minta jalan yang lebih mudah, tapi kaki yang lebih kuat.
Penyakit sampar berjalan di depan-Nya, dan wabah mengikuti di belakang-Nya." Gambaran yang menakutkan. Namun Habakuk justru menyanyikannya. Ia baru saja bertanya mengapa Tuhan diam terhadap kejahatan, dan yang ia terima bukan penjelasan, melainkan Allah yang bergerak. Mungkin kelegaanmu pun mulai seperti itu: bukan jawaban, tetapi keyakinan bahwa Dia tidak duduk diam.
Tuhan, ada saat aku merasa seperti sasaran, dikepung oleh hal hal yang datang seperti badai. Tapi Engkau melihat yang lemah dan tidak membiarkan mereka ditelan diam diam. Aku menaruh rasa takutku pada-Mu, sebab Engkau sanggup membalikkan yang mengancam aku.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi