YESAYA 18
Teks
Sebuah negeri jauh di selatan, di seberang sungai-sungai Kush, negeri yang berdengung oleh sayap, mengirim utusan-utusan cepat menyusuri Nil dengan perahu papirus. Rupanya ada tawaran, mungkin persekutuan militer, mungkin ajakan bersama melawan Asyur. Yesaya justru membalikkan arah pesan itu: pulanglah kepada bangsamu sendiri, bangsa yang tinggi, berkulit halus, ditakuti di mana-mana. Lalu datang firman yang mengejutkan: "Aku akan melihat dengan diam dari tempat kediaman-Ku." Tuhan tidak bergegas. Ia menunggu sampai kuncup mekar dan bunga menjadi buah yang hampir matang, lalu Ia memangkas semuanya, dan hasil pangkasan itu ditinggalkan bagi burung pemangsa dan binatang liar. Namun pasal ini tidak berhenti di reruntuhan. Bangsa yang sama, yang tinggi dan kuat dan menindas itu, pada akhirnya justru datang membawa persembahan ke Gunung Sion.
Inti
Yang mengguncang dari pasal ini bukan penghakimannya, melainkan diamnya Allah. "Aku akan melihat dengan diam" bukan berarti Ia lalai atau tidak peduli; gambarannya justru panas menyilaukan dan awan berembun, dua hal yang diam-diam mematangkan buah di kebun anggur. Diamnya Tuhan adalah diam seorang petani yang menunggu waktu, bukan diam seorang hakim yang tertidur. Di sinilah letak persoalan kita: kita membaca diamnya Allah sebagai ketiadaan-Nya. Padahal dalam teks ini diam itu penuh perhitungan, penuh kehadiran, dan berakhir dengan pisau pemangkas yang jatuh tepat ketika kekuatan manusia tampak paling menjanjikan, "sebelum panen." Allah tidak mencegah kesombongan bangsa-bangsa bertumbuh; Ia membiarkannya mekar sampai batasnya, lalu memangkasnya. Dan pemangkasan itu, anehnya, bukan akhir. Ayat terakhir memperlihatkan bangsa yang dipangkas itu berjalan menuju Sion dengan tangan yang membawa persembahan.
Benang Merah
Ayat 7 adalah kejutan yang menentukan arah seluruh pasal. Bangsa yang dipangkas itu tidak lenyap dari peta; ia muncul kembali di Sion, membawa persembahan kepada TUHAN semesta alam. Inilah pola yang terus berulang dalam Kitab Suci: penghakiman Allah atas bangsa-bangsa tidak pernah menjadi kata terakhir-Nya, melainkan jalan memutar menuju penyembahan. Yang tadinya "ditakuti di mana-mana" akhirnya berlutut. Kita melihat benang itu terikat simpul di Kisah Para Rasul 8, ketika seorang pejabat tinggi dari Etiopia, dari daerah Kush itu juga, pulang dari Yerusalem sambil membaca Yesaya dan dibaptis di pinggir jalan. Persembahan yang dinubuatkan di sini akhirnya bukan emas, melainkan manusia itu sendiri, dibawa kepada Kristus. Pisau pemangkas dan Sion ternyata berada di tangan yang sama.
Cermin
Perhatikan siapa yang bergerak cepat di pasal ini. Bukan Allah, melainkan para utusan: tangkas, berperahu ringan, menyusuri sungai demi mengamankan masa depan. Itu potret yang tidak nyaman, sebab kita mengenalinya. Ketika pekerjaan goyah, ketika anak menjauh, ketika hasil pemeriksaan dokter belum keluar, kita mengirim utusan. Kita menelepon orang yang tepat, menyusun kalimat yang tepat, membangun aliansi kecil supaya tidak jatuh. Dan diamnya Allah kita baca sebagai izin untuk bertindak sendiri. Teks ini tidak mengejek usahamu; ia hanya menaruhnya di sebelah Allah yang memandang dari tempat kediaman-Nya dan tahu persis kapan tangkai harus dipotong. Pertanyaannya bukan apakah kamu rajin, melainkan siapa yang sebenarnya kamu percayai saat kamu rajin.
Hari ini, buka ponselmu, cari satu pesan yang sudah kamu susun untuk mengamankan sesuatu dengan strategimu sendiri, hapus pesan itu, lalu ucapkan dengan suara terdengar: "Engkau melihat, dan Engkau tidak terlambat."
Detail
Perahu papirus. Dalam dunia kuno itu teknologi tercepat di Nil: ringan, lincah, bisa diangkat melewati jeram. Tetapi papirus adalah batang rumput. Ia menyerap air, melunak, dan tidak bertahan lama. Yesaya memilih detail ini dengan sengaja. Diplomasi besar antarbangsa, tawaran persekutuan yang bisa mengubah nasib kerajaan, diangkut di atas rumput yang mengapung. Semua kecepatan manusia berlayar di atas bahan yang rapuh. Bandingkan dengan gambaran Allah di ayat 4: panas matahari dan awan berembun, dua kekuatan yang tidak bergerak ke mana-mana dan justru karena itu mematangkan seluruh kebun. Yang cepat belum tentu yang menentukan. Kadang yang menentukan adalah yang diam dan sabar.
Pertanyaan
Ayat 6 sulit ditelan. Hasil pangkasan ditinggalkan bagi burung pemangsa dan binatang liar, musim panas dan musim dingin. Itu bahasa medan perang: mayat yang tidak dikubur, aib terbesar di dunia kuno. Dan pasal ini tidak menawarkan penghiburan bagi mereka yang menjadi korban di sana. Persembahan di Sion dibawa oleh yang tersisa, bukan oleh yang gugur. Kita ingin teks ini menjelaskan mengapa sejarah harus berjalan melalui kehancuran semacam itu, dan teks ini menolak menjelaskannya. Yang diberikan hanyalah ini: tangan yang memotong adalah tangan yang kemudian menerima persembahan. Itu tidak menutup luka pertanyaan, tetapi menahan kita agar tidak menyimpulkan bahwa penghakiman Allah lahir dari kebencian. Sisanya tetap gelap, dan jujur saja, memang gelap.
Tokoh Utama
Allah dalam pasal ini digambarkan sebagai pemilik kebun anggur yang tenang. Ia tidak berteriak dari Sion, tidak mengirim utusan tandingan, tidak ikut dalam perlombaan diplomasi. Ia memandang. Dan pandangan-Nya bukan pandangan penonton, melainkan pandangan seseorang yang tahu persis tahap pertumbuhan setiap tangkai. Ada kewibawaan yang nyaris menakutkan dalam ketenangan itu: tidak ada satu pun kekuatan dunia yang membuat-Nya panik. Namun di ayat terakhir wibawa itu berubah wajah. Ia menerima tamu. Bangsa yang kuat dan menindas itu diizinkan mendekat ke gunung tempat nama-Nya bersemayam. Allah yang memangkas ternyata juga Allah yang membuka pintu, dan justru bagi mereka yang dahulu ditakuti semua orang.
Refleksi
Di bagian hidupmu yang mana kamu sedang "mengirim utusan" karena diamnya Allah terasa terlalu lama, dan apa yang sebenarnya kamu takutkan di balik kesibukan itu?
Jika Allah memangkas justru ketika buah hampir matang, apa yang mungkin sedang Ia lakukan dalam rencanamu yang tampak paling menjanjikan sekarang?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Isaiah 18
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti YESAYA 18?
Tentang apakah YESAYA 18?
Apa konteks historis dari YESAYA 18?
Apa yang YESAYA 18 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana YESAYA 18 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Isaiah 18
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Ah, negeri dengung sayap-sayap, yang di seberang sungai-sungai Etiopia." Sebuah negeri jauh, di ujung peta dunia yang dikenal saat itu, dan Allah tahu bunyinya. Bahkan dengung sayap serangga di sana tidak luput dari telinga-Nya. Kalau Dia menyebut tempat sejauh itu, bagaimana mungkin Dia tidak tahu di mana kamu berada hari ini, dan suara apa yang memenuhi hidupmu?
Sebab, sebelum panen, ketika bunga sudah mekar sempurna dan bunga menjadi buah anggur yang matang," saat itulah pisau pemangkas datang. Bukan ketika ranting kering, justru ketika semuanya tampak paling menjanjikan. Rencana yang kaurawat bertahun-tahun bisa dipangkas tepat sebelum kaupetik. Allah tidak terlambat, Dia hanya tidak tunduk pada jadwalmu. Dan diam-Nya selama ini bukan tanda restu.
Tuhan, Engkau mengenal bangsa-bangsa yang jauh, yang namanya bahkan tak pernah kami sebut. Utusan-utusan berlayar membawa kabar, tetapi Engkau sudah lebih dulu ada di sana. Ajar aku memandang dunia seluas pandangan-Mu, dan percaya bahwa tak ada satu pun tempat di luar jangkauan-Mu.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
