YESAYA 21
Teks
Sebuah penglihatan menghantam nabi seperti badai gurun: "padang belantara di tepi laut" akan ditelan, Elam dan Madai dipanggil maju, dan seorang pengawas ditempatkan untuk mengabarkan apa yang datang di kejauhan. Sementara para bangsawan masih menghampar permadani dan menyantap hidangan, perintah mendadak terdengar: "Bangkitlah, hai perwira-perwira! Minyaki perisaimu!" Lalu jatuh kalimat yang mengubah peta dunia: "Sudah jatuh! Sudah jatuh Babel!" Setelah itu dua pesan pendek menyusul. Dari Seir seseorang berteriak dalam gelap, "Hai, pengawal, sudah selarut apakah malam ini?" dan jawabannya justru tidak menghibur. Dan di jalur kafilah Arab, para pelarian yang lolos dari pedang harus disambut dengan air dan roti, sebab dalam setahun kemuliaan Kedar akan berakhir. Tiga potret bangsa, satu suasana: dunia yang retak.
Inti
Bayangkan diri Anda pedagang Yehuda di abad kedelapan sebelum Masehi. Babel adalah nama yang bersinar, kota dengan patung-patung dewa berlapis emas, arsip, astronomi, kekuatan. Ke sanalah orang melirik ketika mencari sekutu melawan Asyur. Nas ini mencabut lirikan itu. Yang runtuh bukan hanya tembok, melainkan "semua patung dewa ukirannya telah hancur berserakan di tanah": klaim ilahi sebuah imperium dipatahkan di depan umum. Inilah jantung pasal ini. Allah Israel bukan dewa lokal yang mengurus satu bukit di Yerusalem; Ia yang memanggil Elam dan Madai maju, dan yang menetapkan tanggal berakhirnya kemuliaan Kedar "menurut tahun-tahun orang upahan", setepat kontrak buruh harian. Dan yang mengguncangkan: mendengar kejatuhan musuh tidak membuat nabi bersorak. Pinggangnya sakit, ia gemetar, malam yang dirindukannya berubah menjadi ketakutan. Kedaulatan Allah atas sejarah itu nyata, tetapi tidak pernah murah.
Benang Merah
Seruan si pengawas, "Sudah jatuh! Sudah jatuh Babel!", tidak berhenti di Yesaya. Berabad-abad kemudian Yohanes di Patmos memakai kalimat yang sama untuk kota lain, kekuasaan lain, yang juga menjual kemuliaan dan menelan bangsa-bangsa. Babel menjadi nama untuk setiap sistem yang menjanjikan keamanan tanpa Allah, dan nasibnya selalu sama: patung-patungnya akhirnya tergeletak di tanah. Di sini Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru berbicara dengan satu suara, dan Kristus berdiri di tengahnya, bukan sebagai penakluk yang berteriak menang di atas puing, melainkan sebagai Dia yang menangisi kota yang akan runtuh. Reaksi tubuh Yesaya, pinggang yang sakit dan lutut yang terbungkuk, adalah bayangan awal dari hati seperti itu: mengetahui penghakiman itu benar, dan tetap menangis karenanya.
Cermin
Ayat 5 mungkin bagian paling tidak nyaman di pasal ini. Orang sedang menghampar permadani, menuang minuman, menikmati malam yang aman, lalu suara itu memotong: "Bangkitlah, hai perwira-perwira!" Kita mengenal malam-malam seperti itu. Gaji masuk, kredit rumah terkendali, anak-anak sehat, dan diam-diam kita menyimpulkan bahwa hidup memang begini seterusnya. Lalu telepon berbunyi pukul dua pagi, atau hasil laboratorium keluar, atau perusahaan mengumumkan restrukturisasi. Yesaya tidak menyuruh kita berhenti makan dan minum; ia menyuruh kita berhenti menganggap meja itu jaminan. Dan perhatikan ke mana nas ini mengarahkan tangan kita: bukan ke bunker pribadi, tetapi ke penduduk Tema yang diperintahkan "bawalah air untuk yang haus". Hari ini, kirimlah satu pesan kepada satu orang yang sedang lari dari sesuatu, kehilangan pekerjaan, perceraian, sakit, dan tawarkan hal yang paling sederhana: makanan yang Anda antar minggu ini, dengan hari dan jamnya sudah Anda sebut.
Intertext
Dua nabi lain berdiri di tempat yang sama. Habakuk juga menempatkan dirinya di menara pengawas, menunggu jawaban Allah atas kekerasan yang ia lihat, dan jawabannya juga soal waktu: penglihatan itu punya saatnya dan tidak akan terlambat. Yehezkiel menerima gambaran yang lebih tajam lagi: pengawas yang melihat pedang datang dan tidak meniup sangkakala akan menanggung darah orang yang mati. Ketiganya memperlihatkan bahwa melihat itu tugas, bukan hobi. Nabi bukan pengamat politik yang cerdas; ia orang yang ditempatkan, dan yang harus membuka mulut. Karena itu Yesaya menutup penglihatan Babel dengan kalimat yang nyaris seperti laporan dinas: "apa yang kudengar dari TUHAN semesta alam, Allah Israel, telah kuberitahukan kepadamu." Ia sudah menyampaikan. Sisanya bukan lagi urusannya.
Tokoh Utama
Sang pengawas adalah figur yang mudah dilewati. Ia bukan raja, bukan jenderal; ia orang yang berdiri. Dengarkan sendiri gambarannya: "Di menara pengawas, ya Tuanku, aku senantiasa berdiri pada siang hari, dan di pos penjagaan, aku ditempatkan sepanjang malam." Panas batu di siang hari, angin dingin di malam hari, mata yang perih menatap horizon yang kosong berjam-jam. Pekerjaannya sembilan puluh persen menunggu dan sepuluh persen ketakutan. Ia tidak menentukan apa yang datang, tidak bisa menghentikannya, dan tidak boleh tidur. Di baliknya berdiri Yesaya sendiri, yang tubuhnya remuk oleh apa yang dilihatnya. Inilah bentuk kesetiaan yang jarang dipuji: bertahan di pos yang Allah tentukan, melaporkan dengan jujur, dan menyerahkan hasilnya kepada Dia yang memberi penglihatan itu.
Detail
Pesan tentang Duma hanya dua ayat, tetapi terasa seperti adegan yang dicuplik dari kehidupan nyata. Seseorang dari Seir, wilayah Edom, berseru ke atas menara dalam kegelapan: "Hai, pengawal, sudah selarut apakah malam ini?" Ia mengulanginya, seperti orang yang sudah terlalu lama tidak tidur. Pertanyaan itu bukan soal jam; itu pertanyaan orang yang ingin tahu kapan penderitaan ini berakhir. Dan jawaban pengawal itu nyaris kejam dalam kejujurannya: "Pagi datang, dan demikian juga malam. Kalau kamu ingin bertanya, bertanyalah, datanglah lagi!" Pagi akan tiba, ya, tetapi malam berikutnya juga. Tidak ada tanggal pembebasan. Yang ada hanya izin untuk kembali bertanya. Ada masa dalam hidup ketika itulah seluruh penghiburan yang kita terima, dan ternyata itu cukup untuk melewati satu malam lagi.
Refleksi
Meja mana dalam hidup Anda yang diam-diam Anda anggap sebagai jaminan, dan apa yang akan berubah kalau Anda melepaskan anggapan itu?
Kalau Allah menempatkan Anda sebagai pengawas atas sekelompok kecil orang, keluarga, kelas, kelompok PA, apa yang sebenarnya Anda lihat datang di kejauhan yang belum Anda katakan kepada mereka?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Isaiah 21
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti YESAYA 21?
Tentang apakah YESAYA 21?
Apa konteks historis dari YESAYA 21?
Apa yang YESAYA 21 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana YESAYA 21 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Isaiah 21
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Kedar dikenal karena panahnya. Busur mereka ditakuti di padang gurun. Namun firman ini terdengar begitu singkat: "sisa jumlah para pemanah, yaitu para pahlawan keturunan Kedar, akan berkurang." Kekuatan yang kaubanggakan bisa menipis tanpa suara. Kalau busurmu patah hari ini, siapa yang masih kaupegang?
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
