YESAYA 25
Teks
Sebuah nyanyian syukur yang ganjil: pujian atas kota yang telah menjadi timbunan puing. Yesaya mengangkat suara karena rancangan Tuhan "sejak dahulu kala adalah benar dan teguh", karena benteng para penindas runtuh sementara orang miskin menemukan "tempat berteduh dari badai". Lalu nadanya berubah menjadi lebih luas dan lebih lembut: di gunung itu Tuhan menyiapkan perjamuan bagi semua bangsa, menyingkirkan cadar yang menutupi segala suku, menelan kematian, menghapus air mata dari setiap wajah. Dan pasal ini ditutup dengan gambar yang kasar: Moab terinjak-injak seperti jerami di lubang kotoran, kubu-kubunya diratakan sampai menjadi debu.
Inti
Perhatikan kata kerja di ayat 8. Dalam bahasa Ibrani dipakai bala', "menelan", kata yang biasanya dipakai untuk maut sendiri: kubur yang melahap, bumi yang membuka mulut. Di sini urutannya dibalik. Yang selama ini menelan, ditelan. Tuhan tidak menjelaskan kematian, tidak memperhalusnya, tidak memberi penghiburan bahwa ia "bagian dari hidup". Ia melahapnya. Dan di sekitar kalimat itu ada perjamuan: makanan berlemak, anggur tua yang disaring, hal-hal yang orang simpan untuk hari paling penting. Keselamatan di sini bukan konsep melainkan meja. Bukan pelarian dari tubuh melainkan tubuh yang akhirnya boleh makan tanpa takut. Siapa Allah menurut pasal ini? Tuan rumah yang meruntuhkan tembok supaya ada tempat bagi meja.
Benang Merah
Ada cadar di ayat 7, penutup yang terbentang di atas semua bangsa. Kain itu bisa berarti kabung, bisa berarti kebutaan, mungkin keduanya: manusia tidak bisa melihat Allah dan tidak bisa berhenti berkabung. Yesaya tidak menjelaskan bagaimana cadar itu disingkirkan, hanya bahwa Tuhan sendiri yang melakukannya, di gunung itu. Berabad-abad kemudian ada seorang Yahudi yang makan bersama orang-orang yang tidak layak diundang, lalu mati di sebuah bukit dekat Yerusalem, dan tirai bait Allah robek. Saya tidak ingin merapikan sambungan itu terlalu cepat. Tetapi sulit membaca "Dia akan menelan kematian untuk selamanya" tanpa teringat kubur yang kosong, dan sulit membaca tentang anggur tua tanpa teringat cawan yang diedarkan pada malam terakhir.
Cermin
Ayat 4 menyebut "panas terik" dan "badai", dua cara dunia menghabisi orang: perlahan atau sekaligus. Mungkin Anda mengenali yang pertama lebih baik. Bukan bencana, melainkan tagihan yang terus datang, atasan yang tidak pernah puas, tubuh yang mulai mengkhianati, percakapan yang sama dengan pasangan untuk kesekian kali. Dan suara orang-orang kuat, ayat 5 menyebutnya "nyanyian orang-orang kejam", yang terdengar seperti kebenaran karena diucapkan dengan percaya diri. Teks ini tidak menyuruh Anda menjadi kuat. Ia menyebut Anda lemah dan miskin, lalu menyebut Tuhan sebagai naungan. Kebanggaan kita justru sering tidak mau masuk ke bawah naungan itu. Hari ini: tulis di secarik kertas nama satu orang yang kematiannya pernah Anda tangisi, lalu ucapkan dengan suara keras, "Dia akan menelan kematian untuk selamanya."
Antarteks
Paulus mengutip ayat 8 ketika ia berbicara tentang kebangkitan tubuh dalam 1 Korintus 15, dan ia membalik gambarnya: maut ditelan dalam kemenangan. Yang menarik, Paulus tidak memakai ayat ini untuk menghibur orang berkabung, melainkan untuk berdebat tentang tubuh yang akan bangkit. Yesaya memang tidak berbicara tentang jiwa yang pergi ke tempat lain; ia berbicara tentang wajah yang diusap kering. Yohanes mengambilnya lagi di Wahyu 21, di kalimat tentang Allah yang menghapus segala air mata, dan menempatkannya bukan di surga yang jauh melainkan di kota yang turun ke bumi. Tiga teks, satu arah: pemulihan terjadi di sini, pada meja, pada tubuh, pada wajah.
Pertanyaan
Lalu bagaimana dengan Moab? Pasal yang menjanjikan perjamuan bagi "semua orang" berakhir dengan tetangga yang diinjak dalam lubang kotoran, tangannya terentang seperti perenang yang tenggelam. Gambar itu memuakkan, dan memang dimaksudkan demikian. Saya tidak bisa mengatakan bahwa ini hanya bahasa puitis dan tidak perlu diambil serius. Teks ini menolak gagasan bahwa semua jalan bermuara di meja yang sama tanpa ada yang berubah. Yang direndahkan adalah "keangkuhannya bersama dengan tipu daya tangannya": bukan bangsanya, melainkan kesombongan yang bertahan sampai akhir. Apakah ada tangan terentang yang pada akhirnya ditarik keluar, bukan ditenggelamkan? Teks ini diam. Saya memilih diam bersamanya, tanpa berpura-pura tenang.
Konteks
Pasal 24 sampai 27 sering disebut "kiamat kecil" dalam kitab Yesaya: nubuat yang melampaui politik sesaat dan memandang seluruh bumi. Latarnya tetap abad kedelapan sebelum Masehi, ketika Asyur menelan kerajaan-kerajaan kecil satu per satu dan Yerusalem bertahan dengan napas tertahan. Kota tak bernama di ayat 2 mungkin sengaja dibiarkan kabur: setiap imperium dengan benteng dan istana. "Gunung ini" adalah Sion, bukit kecil yang tidak mengesankan dibandingkan gunung-gunung para dewa bangsa lain. Perjamuan dengan makanan berlemak adalah jamuan perjanjian, hak istimewa para raja dan imam, kini dibuka untuk semua bangsa. Moab, tetangga di seberang Laut Mati, adalah kerabat lama yang selalu bersaing dan terkenal sombong. Bagi pendengar pertama, menyebut namanya berarti menyebut kesombongan yang mereka kenal dari dekat.
Refleksi
Cadar apa yang masih menutupi wajah Anda, dan apakah Anda benar-benar ingin disingkirkan?
Ayat 9 berkata "kita telah menanti-nantikan Dia". Apa yang sedang Anda nantikan dari Tuhan, dan sudah berapa lama?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Isaiah 25
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti YESAYA 25?
Tentang apakah YESAYA 25?
Apa konteks historis dari YESAYA 25?
Apa yang YESAYA 25 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana YESAYA 25 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Isaiah 25
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Terima kasih, Tuhan, karena kuasa-Mu begitu nyata sehingga bangsa yang kuat pun memuliakan Engkau dan kota bangsa-bangsa yang kejam takut kepada-Mu. Tidak ada kekuatan di dunia ini yang berada di luar jangkauan-Mu, dan itu menenangkan hatiku hari ini.
Benteng pertahananmu yang tinggi, Dia akan meruntuhkannya, merendahkannya, dan menjatuhkannya ke tanah, ke dalam debu." Perhatikan: yang diruntuhkan adalah tembok yang kamu bangun sendiri. Beberapa ayat sebelumnya Tuhan disebut tempat perlindungan bagi orang miskin. Mungkin tembokmu harus jatuh dulu, supaya kamu tahu Dia yang memelukmu.
Dia akan mengulurkan tangannya di tengah-tengahnya, seperti perenang mengulurkan tangannya untuk berenang," tetapi TUHAN tetap merendahkan kesombongannya. Ada gambaran orang megap-megap, mengayuh sekuat tenaga di tempat yang tak bisa diselamatkan gaya berenang mana pun. Kesombongan selalu merasa masih ada satu tarikan lagi. Kapan terakhir kali kamu berhenti mengayuh dan membiarkan tangan Tuhan yang menarikmu?
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
