YEREMIA 20:9
Teks
Yeremia sedang menimbang sebuah pilihan yang masuk akal: berhenti. Diam saja. Setelah dipukul dan dipasung oleh Pasyhur, setelah menjadi bahan tertawaan sepanjang hari, ia berkata pada dirinya sendiri, "Aku tidak akan mengingat Dia atau berbicara lagi atas nama-Nya." Kalimat itu bukan kemarahan sesaat, melainkan keputusan yang sudah matang dipikirkan. Tetapi keputusan itu tidak bertahan. Sebab begitu ia menutup mulutnya, sesuatu mulai bekerja di dalam: "maka di dalam hatiku ada sesuatu seperti api yang menyala, terkurung di dalam tulang-tulangku." Ia mencoba menahannya, seperti orang menahan napas terlalu lama, dan akhirnya menyerah dengan satu pengakuan yang jujur dan letih: "Aku lelah menahannya dan aku tidak sanggup." Ayat ini bukan kemenangan iman. Ini kekalahan seorang manusia terhadap Allah yang tidak melepaskannya.
Inti
Perhatikan siapa yang bertindak di ayat ini. Yeremia memutuskan, Yeremia menahan, Yeremia lelah, tetapi yang menyala bukan dia. Api itu ada di sana tanpa dimintanya, bahkan justru ketika ia ingin memadamkannya. Inilah yang membedakan firman Allah dari sekadar keyakinan pribadi: keyakinan bisa kita letakkan, firman tidak. Ia punya bobotnya sendiri, hidupnya sendiri, dan tidak menjadi milik orang yang membawanya. Kata Ibrani untuk "firman", dabar, sekaligus berarti "peristiwa", sesuatu yang terjadi, bukan hanya sesuatu yang dikatakan. Maka pertanyaan yang tersisa di sini bukan "apakah Yeremia cukup setia", melainkan sesuatu yang lebih mengganggu: mungkinkah panggilan Allah terasa lebih seperti belenggu daripada berkat, dan apakah itu tetap anugerah? Teks ini tidak menjawabnya. Ia hanya membiarkan api itu tetap menyala.
Benang Merah
Yeremia bukan satu-satunya yang mengalami firman sebagai beban yang tidak bisa diletakkan. Musa menawar agar dibebaskan, Yunus lari ke arah berlawanan, Paulus kelak menulis bahwa celakalah dirinya jika ia tidak memberitakan Injil, bukan karena ia bersemangat melainkan karena ia tidak punya pilihan lain. Ada satu garis lurus yang berjalan dari api di tulang-tulang Yeremia sampai ke Getsemani, di mana Yesus juga menimbang untuk berhenti dan meminta agar cawan itu lalu, lalu tetap berjalan. Perbedaannya penting: Yeremia dikalahkan oleh Allah, Yesus menyerahkan diri kepada Bapa-Nya. Namun keduanya berdiri di tempat yang sama, yaitu tempat di mana kesetiaan tidak terasa mulia sama sekali, hanya berat. Injil tidak menghapus tempat itu. Injil menempatkan Kristus di dalamnya lebih dahulu daripada kita.
Cermin
Ada hal-hal yang kita putuskan untuk tidak katakan lagi. Kebenaran yang pernah kita ucapkan di rapat kerja dan hanya menghasilkan dingin di ruangan itu. Nama Tuhan yang dulu bebas kita sebut di meja makan keluarga, sampai anak remaja kita memutar bola mata dan kita belajar diam demi damai. Doa yang berhenti kita naikkan karena capek berharap. Diam itu masuk akal; Yeremia juga berpikir begitu. Pertanyaan yang teks ini ajukan kepadamu bukan "mengapa kamu tidak lebih berani", melainkan "apa yang tetap menyala di dalam dirimu ketika kamu sudah memutuskan untuk berhenti?" Barangkali rasa gelisah yang tidak hilang itu bukan sisa idealisme, melainkan Allah yang belum melepaskanmu. Hari ini, tulis di secarik kertas satu kalimat benar yang selama ini kamu tahan, lalu ucapkan kalimat itu keras-keras kepada Tuhan sendirian, sebelum kamu memutuskan apa pun tentang siapa yang perlu mendengarnya.
Intertekstualitas
Dua gema patut didengar. Yang pertama dari Amos, yang bertanya siapa yang tidak akan bernubuat kalau Tuhan Allah sudah berfirman, sama seperti orang tidak bisa tidak gemetar ketika singa mengaum. Nabi bukan orang yang memilih pesan, melainkan orang yang tidak sanggup menahan reaksi tubuhnya sendiri terhadap suara Allah. Yang kedua dari dua murid di jalan ke Emaus, yang menyadari bahwa hati mereka berkobar-kobar ketika Kristus menjelaskan Kitab Suci. Bahasanya sama, apinya sama, tetapi rasanya berlawanan: yang satu membakar dari dalam sampai orangnya lelah, yang lain menghangatkan sampai orangnya mengenali Tuhan. Mungkin itu memang api yang sama, hanya dialami pada dua titik berbeda dalam perjalanan yang panjang. Teks ini membiarkan kita berdiri di titik yang pertama, tanpa buru-buru menjanjikan yang kedua.
Profil
Pendengar pertama Yeremia adalah orang Yehuda menjelang keruntuhan Yerusalem, orang-orang yang punya Bait Allah, imam-imam resmi, dan nabi-nabi yang berkata semuanya akan baik-baik saja. Pasyhur bukan orang jahat menurut ukuran zamannya; ia pejabat keamanan Bait Allah yang menertibkan seorang pengacau. Bagi mereka, wibawa keagamaan berada di pihak yang memukul, bukan di pihak yang dipasung. Karena itu ayat ini terdengar skandal: firman Tuhan yang sesungguhnya justru ada pada orang yang kalah, dipermalukan di gerbang kota, dan yang bahkan ingin berhenti. Bagi mereka yang kemudian dibuang ke Babel, catatan kejujuran ini menjadi berharga. Ternyata Allah tidak menuntut nabi yang tegar; Ia memakai orang yang letih dan tetap tidak sanggup diam.
Tokoh Utama
Yeremia di ayat ini bukan pahlawan iman, dan ia tidak berpura-pura. Ia sudah mengatakan kepada Tuhan bahwa ia dibujuk dan terbujuk, bahwa Allah lebih kuat dan ia kalah. Sekarang ia mengaku sesuatu yang lebih telanjang lagi: bahkan kalah pun tidak membuatnya bebas. Ia terjepit antara ejekan di luar dan api di dalam, dan tidak ada satu pun dari keduanya yang bisa ia kendalikan. Yang mengesankan bukan ketabahannya, melainkan kejujurannya di hadapan Allah; ia berbicara kepada Tuhan justru tentang keinginannya berhenti berbicara tentang Tuhan. Di situlah imannya terlihat, bukan pada keberanian, melainkan pada kenyataan bahwa ia tetap mengarahkan keluhannya kepada Pribadi yang menyebabkan semuanya.
Refleksi
Apa yang selama ini kamu putuskan untuk tidak katakan lagi, dan apakah keputusan itu benar-benar tenang, atau masih ada sesuatu yang menyala?
Jika panggilan Allah pernah terasa lebih seperti beban daripada berkat, bagaimana kamu berbicara kepada-Nya tentang hal itu, atau justru berhenti berbicara?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Jeremiah 20:9
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti YEREMIA 20:9?
Tentang apakah YEREMIA 20:9?
Apa konteks historis dari YEREMIA 20:9?
Apa yang YEREMIA 20:9 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana YEREMIA 20:9 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Jeremiah 20
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Terkutuklah hari ketika aku dilahirkan!" Baru satu ayat sebelumnya Yeremia menyanyi memuji TUHAN. Lalu jatuh sedalam ini. Dan Allah tidak menyensornya, doa itu tetap tertulis dalam Kitab Suci. Jadi kegelapanmu tidak perlu disembunyikan dulu supaya layak dibawa kepada-Nya. Bawa saja apa adanya.
Yeremia baru dipukuli dan dipasung semalaman. Yang keluar dari mulutnya bukan rencana balas dendam, tetapi: "yang menguji orang benar, yang melihat batin dan hati." Ia justru lega bahwa Tuhan membaca isi hatinya. Lalu ia berkata, "kepada-Mulah aku telah menyerahkan perkaraku." Perkara yang kamu genggam erat hari ini, sudahkah kamu lepaskan ke tangan yang lebih adil dari tanganmu?
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi