LUKAS 11:3
Teks
Di tengah doa yang dibuka dengan nama Allah dan kerajaan-Nya, Yesus tiba-tiba menurunkan pandangan ke meja makan: "Berikanlah kepada kami makanan yang secukupnya setiap hari." Permintaannya kecil sekali jika diukur dengan kalimat sebelumnya. Bukan lumbung, bukan panen setahun, bukan jaminan masa depan, melainkan jatah hari ini, yang besok harus diminta lagi dari awal. Dan perhatikan kata gantinya: bukan "aku", tetapi "kami". Murid yang tadi bertanya bagaimana caranya berdoa kini diajar mengucapkan sebuah kalimat yang tidak bisa diucapkan seorang diri. Seluruh isi doa ini memang hanya satu tarikan napas panjangnya, tetapi di dalamnya seorang manusia mengakui bahwa perutnya sendiri berada di tangan Allah.
Inti
Yang mengejutkan bukan isinya, melainkan urutannya. Allah yang nama-Nya dikuduskan dan kerajaan-Nya didoakan datang, adalah Allah yang sama yang diminta mengisi bakul roti sore ini. Iman alkitabiah tidak pernah memisahkan yang rohani dari yang jasmani; Bapa yang memerintah semesta tidak menganggap lapar anak-Nya sebagai urusan kelas dua. Tetapi ada sisi yang menggores juga. Meminta secukupnya untuk hari ini berarti menolak posisi pemilik dan menerima posisi penerima. Manusia yang berdoa begini melepaskan ilusi bahwa hidupnya aman karena cadangannya cukup. Ia hidup dari tangan yang terbuka, bukan dari lumbung yang terkunci. Dan karena ia berkata "kami", ia tidak bisa merasa kenyang sambil tenang membiarkan tetangganya kosong: doa ini mengikat rezekinya pada meja orang lain.
Benang Merah
Doa ini berdiri di atas padang gurun. Ketika Israel keluar dari Mesir, Allah tidak memberi mereka gudang, melainkan roti yang turun setiap pagi dan membusuk kalau disimpan untuk besok. Satu-satunya cara hidup di sana adalah bangun pagi, memungut, dan percaya bahwa besok akan ada lagi. Empat puluh tahun lamanya umat itu dilatih untuk tidak menjadi pemilik. Yesus meletakkan latihan itu ke dalam mulut murid-murid-Nya, kini bukan di padang pasir melainkan di desa-desa Galilea yang punya pasar dan lumbung dan tukang roti. Dan Dia sendirilah yang kemudian mengambil roti, memecahkannya, dan berkata bahwa itu tubuh-Nya. Bapa yang memberi makanan secukupnya setiap hari pada akhirnya memberi diri-Nya sendiri sebagai yang dipecah-pecahkan. Permintaan yang paling sederhana dalam doa ini ternyata bermuara di Golgota.
Cermin
Kita jarang berdoa untuk roti karena kulkas kita penuh. Yang kita doakan adalah lapisan-lapisan di atas roti: cicilan yang aman, pekerjaan yang tidak goyah, tabungan pendidikan anak, kesehatan yang bertahan sampai pensiun. Tidak ada yang salah dengan semua itu, tetapi perhatikan apa yang terjadi pada hati: semakin panjang cadangan kita, semakin pendek doa kita. Kita berdoa untuk hal-hal yang kita takutkan, bukan untuk hal-hal yang kita anggap sudah beres. Dan justru di situ doa ini menggores. Ia memaksa kita mengakui bahwa jantung yang berdetak pagi ini bukan milik kita, bahwa gaji bulan depan bukan hak yang kita genggam, bahwa setiap suap makanan adalah pemberian. Lalu kata "kami" itu menampar sekali lagi: Anda tidak boleh mengucapkan doa ini sambil melupakan nama orang yang kesulitan makan bulan ini.
Hari ini juga, sebelum makan malam, ucapkan kalimat ini keras-keras di meja Anda: "Berikanlah kepada kami makanan yang secukupnya setiap hari," lalu sebut satu nama orang yang Anda tahu sedang kekurangan, dan doakan dia dengan namanya.
Konteks
Bayangkan sebuah desa Galilea sekitar tahun tiga puluhan. Sebagian besar orang yang mendengar Yesus adalah petani penggarap, nelayan, tukang batu, buruh harian. Roti bukan pelengkap; roti adalah makanan itu sendiri, mungkin dua pertiga dari seluruh kalori yang masuk ke tubuh seseorang. Perempuan menggiling gandum atau jelai setiap pagi karena tepung tidak tahan lama, lalu memanggangnya di tungku tanah liat di halaman. Pajak Romawi, pungutan Herodes, dan persembahan Bait Allah bertumpuk di atas hasil panen yang sama. Buruh harian berdiri di pasar sejak subuh menunggu dipekerjakan, dan upah sehari memang dibayar sore hari karena besok pagi keluarga itu sudah tidak punya apa-apa. Dalam dunia seperti itu, "makanan yang secukupnya setiap hari" bukan metafora rohani. Itu bunyi perut.
Detail
Kata Yunani yang diterjemahkan "secukupnya setiap hari" di sini adalah epiousios, sebuah kata yang nyaris tidak ditemukan di mana pun dalam bahasa Yunani sehari-hari pada zaman itu. Seolah-olah tidak ada kata yang pas, sehingga harus dibentuk kata baru. Artinya kira-kira "untuk hari yang sedang datang": roti untuk hari ini, atau roti untuk besok pagi yang harus sudah ada malam ini. Ini persis ritme seorang buruh harian yang pulang sore membawa upah supaya di rumah ada yang bisa dipanggang. Yang menarik, Yesus tidak mengambil kata megah untuk doa yang dimulai dengan "Bapa, dikuduskanlah nama-Mu". Dia justru memilih kata yang begitu membumi sampai bahasa pun harus dilenturkan untuk menampungnya. Kekudusan Allah dan sepotong roti besok pagi diletakkan dalam satu tarikan napas.
Tokoh Utama
Yang sesungguhnya digambarkan di sini adalah Allah, dan Yesus menyebut-Nya dengan satu kata telanjang: "Bapa". Tanpa gelar, tanpa rangkaian pujian yang biasa dipakai di sinagoge. Lalu beberapa ayat kemudian Dia menjelaskan Bapa macam apa itu: "Adakah seorang ayah di antaramu yang akan memberikan ular kepada anaknya jika ia meminta ikan?" Inilah potret Allah yang ditawarkan Yesus kepada orang-orang yang hidup di bawah kaisar, tuan tanah, dan penagih pajak, yaitu tiga sosok yang semuanya mengambil. Bapa ini memberi, dan memberi hal yang benar, dan tidak mempermainkan anak-Nya. Tetapi Dia memberi secukupnya, bukan berlimpah-limpah, karena Dia tidak sedang membangun anak yang manja melainkan anak yang kembali setiap pagi. Kemurahan-Nya nyata, tetapi tidak membuat kita mandiri dari-Nya.
Intertekstualitas
Dua teks berdiri di belakang ayat ini. Yang pertama adalah manna di Keluaran 16: makanan yang hanya cukup untuk sehari, yang menolak ditimbun, yang melatih umat hidup dari tangan Allah dan bukan dari persediaan sendiri. Yesus tidak mengutip teks itu, tetapi Dia mengajarkan ritmenya. Yang kedua adalah doa Agur di Amsal 30, yang meminta agar ia jangan diberi kemiskinan supaya tidak mencuri, dan jangan diberi kekayaan supaya tidak berkata "siapa TUHAN itu?". Agur tahu bahwa terlalu banyak sama berbahayanya dengan terlalu sedikit, karena kelimpahan membuat orang lupa bertanya. Kedua teks itu bertemu di kata "secukupnya". Itu bukan doa orang yang tidak punya ambisi; itu doa orang yang tahu apa yang dilakukan lumbung penuh terhadap hati manusia.
Profil
Lukas menulis untuk pembaca yang bercampur: sebagian pedagang kota dengan rumah yang cukup luas untuk pertemuan jemaat, sebagian budak dan buruh yang tidak tahu apakah besok ada pekerjaan. Mereka hidup di dunia yang masih mengingat bencana kelaparan di masa Kaisar Klaudius, ketika harga gandum melonjak dan kota-kota bergantung pada kapal-kapal gandum dari Mesir. Bagi pendengar yang miskin, ayat ini adalah izin untuk membawa kebutuhan perut ke hadapan Allah tanpa merasa rohani mereka terlalu rendah. Bagi pendengar yang berkecukupan, ayat ini adalah teguran halus yang berbunyi "kami", bukan "aku". Di meja perjamuan jemaat mula-mula, kedua kelompok itu duduk berdampingan dan mengucapkan kalimat yang sama. Doa ini tidak bisa diucapkan bersama tanpa mengubah cara roti dibagi setelahnya.
Pertanyaan
Lalu bagaimana dengan mereka yang berdoa persis kalimat ini dan tetap lapar? Ibu di kamp pengungsi, jemaat di daerah kering, keluarga yang berdoa sebelum tidur dengan perut kosong. Teks ini tidak memberi kita jaminan yang rapi, dan kita tidak boleh menambahkannya. Yesus sendiri, yang mengajarkan doa ini, mati tanpa apa-apa di tangan-Nya. Yang bisa saya katakan hanya ini: kata "kami" membuat pertanyaan itu berbalik arah. Allah sudah menyediakan cukup roti di bumi ini; yang belum terjadi adalah pembagiannya. Sebagian besar jawaban atas doa ini melewati tangan manusia, dan ketika tangan itu terkatup, doa itu tergantung di udara. Itu tidak menjelaskan semua penderitaan, dan saya tidak akan berpura-pura demikian. Tetapi ia mencegah kita menuduh Allah untuk kelaparan yang sebenarnya kita biarkan.
Refleksi
Jika Anda menghitung jujur, berapa lama Anda bisa bertahan tanpa pemasukan baru, dan apa yang angka itu lakukan terhadap kesungguhan doa Anda?
Kata "kami" dalam ayat ini mengikat meja Anda pada meja orang lain. Siapa yang sebenarnya termasuk dalam "kami" ketika Anda berdoa, dan siapa yang diam-diam Anda keluarkan?
Apa yang Anda sebut "secukupnya" hari ini, dan seberapa jauh ukuran itu dibentuk oleh tetangga, iklan, atau rasa takut, bukan oleh kebutuhan nyata?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Luke 11:3
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti LUKAS 11:3?
Tentang apakah LUKAS 11:3?
Apa konteks historis dari LUKAS 11:3?
Apa yang LUKAS 11:3 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana LUKAS 11:3 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Luke 11
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Perhatikan betapa beraninya Yesus menyebut kita: "jika kamu yang jahat tahu bagaimana memberikan pemberian yang baik kepada anak-anakmu." Bahkan hati kita yang rusak pun masih bisa mengasihi anak. Lalu bayangkan hati Bapa. Dan lihat apa yang Dia janjikan: bukan sekadar barang yang kauminta, melainkan Roh Kudus, diri-Nya sendiri. Sudahkah kau meminta yang itu?
Seorang perempuan berseru memuji rahim yang mengandung Yesus. Pujian yang tulus, tetapi Yesus mengalihkannya: "Lebih berbahagia lagi orang yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya!" Kedekatan dengan Yesus tidak diukur dari darah atau kekaguman, melainkan dari telinga yang mau mendengar dan tangan yang mau taat. Firman apa yang sudah kamu dengar minggu ini, tapi belum kamu lakukan?
Orang Niniwe tidak menyaksikan mukjizat apa pun. Mereka hanya mendengar khotbah singkat dari nabi yang sebenarnya enggan datang, dan mereka bertobat. Yesus berkata, "lihatlah, yang lebih besar daripada Yunus ada di sini." Kita punya Injil lengkap, banyak khotbah, banyak lagu. Namun kadang kita masih menunggu satu tanda lagi sebelum benar-benar berubah. Apa sebenarnya yang sedang kita tunggu?
Perhatikan siapa yang lapar dalam cerita ini. Roti itu bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk tamu yang datang tengah malam. Ia berani mengetuk terus karena ada orang lain yang membutuhkannya. "Karena kegigihannya, ia akan bangun dan memberikan kepadanya sebanyak yang ia perlukan." Doa yang paling gigih sering lahir saat kita menanggung beban orang lain. Untuk siapa kamu sedang mengetuk malam ini?
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi