KELUARAN 3:14
Teks
Musa sudah membayangkan pertanyaan yang akan dilontarkan para budak Ibrani itu: kalau benar Allah nenek moyang mengutusmu, siapa nama-Nya? Jawaban Allah tidak berupa gelar, bukan pula silsilah ilahi, melainkan sebuah kalimat yang seakan menutup diri sekaligus membuka segalanya: "AKU ADALAH AKU." Lalu Ia memberi Musa rumusan yang bisa dibawa pulang ke Mesir, sesuatu yang boleh diucapkan di depan para tua-tua yang punggungnya sudah bungkuk karena kerja paksa: "SANG AKU yang telah mengutusku kepadamu." Nama itu bukan mantra yang bisa dipegang manusia untuk mengendalikan Allah, seperti kebiasaan agama-agama di sekitar Mesir; nama itu adalah pernyataan tentang siapa Dia, dan tepat karena itu menjadi jaminan bahwa Ia sanggup melakukan apa yang baru saja Ia janjikan sejak ayat 7.
Inti
Kata Ibrani yang dipakai di sini, ehyeh, berarti "Aku ada" dan sekaligus "Aku akan ada, Aku akan hadir". Dan kata itu baru saja terdengar dua ayat sebelumnya, ketika Allah berkata kepada Musa yang gemetar, "Aku akan menyertaimu." Nama Allah dan janji Allah dibangun dari akar yang sama. Artinya: keberadaan Allah bukan konsep filosofis yang dingin, melainkan kehadiran yang bergerak ke arah umat yang tertindas. Ia ada dari diri-Nya sendiri, tidak ditopang, tidak dibentuk, tidak bergantung pada apa pun, tidak lahir dari sungai Nil atau matahari seperti dewa-dewa Mesir. Justru karena Ia tidak bergantung pada siapa pun, Ia bebas untuk terikat oleh perjanjian-Nya sendiri. Kemerdekaan mutlak dan kesetiaan perjanjian bertemu dalam satu nama, dan di sanalah anugerah dimulai: Allah yang tidak membutuhkan Israel tetap memilih untuk turun demi mereka.
Benang Merah
Nama ini tidak berhenti di semak yang menyala. Sepanjang Perjanjian Lama, "TUHAN" (empat huruf yang berakar pada ehyeh itu) menjadi nama perjanjian: nama yang diucapkan saat Israel diselamatkan dari laut, nama yang diteriakkan para nabi ketika umat itu berkhianat, nama yang tetap berdiri ketika Yerusalem runtuh. Dan ketika Yesus berkata di Yohanes 8:58, "Sebelum Abraham ada, Aku ada," Ia sedang berdiri di tanah yang sama dengan Musa, hanya kali ini semak itu adalah tubuh manusia. Yang dulu turun untuk melepaskan Israel dari tangan Mesir kini turun sampai ke dalam daging dan kubur. Anugerah di Horeb dan anugerah di Golgota bukan dua peristiwa terpisah; keduanya lahir dari Pribadi yang sama, yang keberadaan-Nya selalu bergerak menuju yang tertindas.
Cermin
Kita cenderung ingin nama Allah berfungsi seperti kode akses: sebutkan dengan benar, dan hasilnya keluar. Doa yang dirumuskan dengan tepat supaya hasil biopsi baik. Ayat yang diklaim supaya utang lunas bulan ini. Rumus rohani supaya anak yang menjauh kembali pulang. "AKU ADALAH AKU" menutup pintu itu dengan lembut namun tegas: Ia tidak bisa Anda kendalikan. Tetapi lihat apa yang dibuka: Ia sudah melihat, sudah mendengar, sudah tahu penderitaan itu, dan sudah turun. Anda tidak memegang Allah; Anda dipegang oleh Dia. Hari ini, tuliskan di secarik kertas satu situasi yang paling tidak bisa Anda kendalikan, lalu ucapkan dengan suara keras di atasnya: "Aku akan menyertaimu." Simpan kertas itu di saku sepanjang hari.
Tokoh Utama
Allah dalam ayat ini sedang menjawab seorang pria berusia delapan puluh tahun yang sudah kehilangan segalanya: statusnya di istana, keberaniannya, dan kemungkinan juga harapannya. Musa bertanya tentang nama; Allah menjawab dengan diri-Nya sendiri. Yang mencolok adalah gaya-Nya. Ia tidak marah pada keberatan Musa yang berkali-kali. Ia tidak memaksa dengan kilat dari langit. Ia menjelaskan. Allah yang tidak berutang penjelasan apa pun kepada siapa pun justru memilih untuk menjelaskan diri-Nya kepada seorang gembala di padang belantara. Kekudusan yang membuat Musa harus melepas kasutnya ternyata adalah kekudusan yang juga membungkuk untuk meyakinkan. Inilah wajah Allah yang konsisten dari Kejadian sampai Wahyu: berdaulat mutlak, dan justru karena itu sanggup merendah.
Detail
Perhatikan pergeseran kecil di dalam ayat ini. Kepada Musa, Allah menyebut diri-Nya "AKU ADALAH AKU", orang pertama. Tetapi yang harus dibawa Musa kepada Israel adalah "SANG AKU yang telah mengutusku". Umat itu tidak diberi nama untuk mereka klaim sebagai milik mereka; mereka diberi kesaksian tentang Dia. Ada jarak yang sengaja dipelihara, dan jarak itu adalah rahmat. Sebab Allah yang bisa sepenuhnya kita definisikan bukanlah Allah yang bisa menyelamatkan kita dari Firaun. Ayat 15 kemudian menutup jarak itu dari sisi Allah sendiri: Ia mengikat nama kekal-Nya pada tiga nama manusia biasa, Abraham, Ishak, Yakub. Yang tak terjangkau memberikan diri-Nya alamat dalam sejarah keluarga.
Intertekstual
Dua gema layak didengar. Yang pertama, Keluaran 34:6, ketika nama itu dijelaskan sendiri oleh Allah sebagai penyayang, pengasih, panjang sabar; ternyata "AKU ADALAH AKU" bukan misteri kosong, melainkan isi yang penuh belas kasihan. Yang kedua, Wahyu 1:8, di mana Kristus disebut "yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang". Rumusan itu adalah ehyeh yang direntangkan sepanjang waktu. Israel di Mesir mendengar nama ini sebagai janji pembebasan yang belum terjadi; gereja mendengarnya sebagai janji yang sudah digenapi dan masih akan digenapi penuh. Nama yang sama, umat yang sama, Allah yang sama, hanya dalam babak yang berbeda.
Refleksi
Di titik mana hidup Anda diam-diam berusaha mengendalikan Allah, bukan mempercayai Dia?
Jika nama Allah berarti "Aku hadir bagimu", apa yang berubah dalam cara Anda memasuki hari esok?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Exodus 3:14
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti KELUARAN 3:14?
Tentang apakah KELUARAN 3:14?
Apa konteks historis dari KELUARAN 3:14?
Apa yang KELUARAN 3:14 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana KELUARAN 3:14 masih relevan hari ini?
Apa yang menyentuh hati Anda dalam Exodus 3?
Belum ada wawasan yang dibagikan pada bagian ini. Jadilah yang pertama membagikan sesuatu: wawasan, doa, atau ucapan syukur.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi