MATIUS 19:6
Teks
Yesus baru saja mengutip dua ayat dari Kejadian, lalu menarik kesimpulan yang tidak diminta siapa pun: karena laki-laki dan perempuan dalam pernikahan "bukan lagi dua, melainkan satu tubuh," maka pernikahan bukan urusan dua pihak yang bisa membatalkan kesepakatan, melainkan karya Allah sendiri. Dari situ jatuhlah kalimat penutup yang membungkam, "apa yang sudah dipersatukan Allah, manusia tidak boleh memisahkannya." Pertanyaan orang Farisi tadi menyangkut alasan-alasan yang sah untuk menceraikan istri; jawaban Yesus justru menggeser seluruh percakapan ke tempat lain, ke hari penciptaan, ke tangan Allah yang mengikat, bukan ke tangan manusia yang melepaskan. Bayangkan suasananya: mereka berdiri di seberang Yordan, di wilayah Herodes, tanah di mana seorang nabi baru saja kehilangan kepalanya karena bicara soal pernikahan.
Inti
Pada zaman itu perceraian adalah hak laki-laki, hampir selalu. Seorang suami menulis surat cerai, menyerahkannya, dan istrinya pulang ke rumah ayahnya kalau ayahnya masih hidup, atau ke jalanan kalau tidak. Dua aliran rabi berdebat seru: boleh bercerai hanya karena perzinaan, atau boleh juga karena hal sepele seperti masakan yang gosong. Perhatikan betapa cerdiknya Yesus tidak masuk ke dalam perdebatan itu sama sekali. Ia tidak memperketat daftar alasan; Ia mencabut hak untuk menyusun daftar itu. Sebab subjek kalimat-Nya bukan manusia, melainkan Allah: Dialah yang mempersatukan. Pernikahan, kata Yesus, bukan kontrak yang disahkan manusia dan karena itu bisa dibatalkan manusia, melainkan ikatan yang dikerjakan Allah di dalam dan di balik janji dua orang. Di situlah seluruh bobot ayat ini berdiri, dan di situ pula perlindungan bagi pihak yang lemah mulai bekerja.
Benang Merah
Yesus tidak membangun argumennya dari hukum Musa, melainkan dari halaman pertama Alkitab. "Sejak semula," kata-Nya, dan dengan itu Ia melompati seluruh sejarah kompromi yang menumpuk di antara Kejadian dan Yudea abad pertama. Itu gerakan khas Mesias: memulihkan apa yang rusak dengan mengembalikannya kepada maksud Sang Pencipta. Yang Ia lakukan pada pernikahan di sini, Ia lakukan pada seluruh ciptaan di salib. Dan ada ironi yang pahit: Pribadi yang berkata manusia tidak boleh memisahkan apa yang Allah persatukan, sebentar lagi akan berjalan ke Yerusalem untuk mengalami perpisahan paling dalam yang pernah ada, ditinggalkan oleh Bapa-Nya. Perjanjian Baru kemudian berani menyebut pernikahan sebagai gambar hubungan Kristus dengan jemaat-Nya. Bukan karena pernikahan itu suci dengan sendirinya, tetapi karena Allah memakainya untuk menggambarkan kesetiaan-Nya yang tidak pernah menulis surat cerai.
Cermin
Pertanyaan orang Farisi itu masih hidup, hanya bahasanya berubah. Kita tidak bertanya "alasan apa yang sah," kita bertanya "sampai kapan aku harus bertahan," atau diam-diam menghitung: kalau nanti anak-anak sudah besar, kalau nanti keuangan aman. Yesus menjawab pada level yang lebih dalam daripada niat kita: bukan "apakah kamu boleh pergi," melainkan "siapa yang sebenarnya mengikat simpul ini." Jika Allah yang mengerjakannya, maka setiap kali engkau membanting pintu, mendiamkan pasanganmu tiga hari, atau membangun hidup paralel di ponselmu, engkau sedang mengerjakan pekerjaan pemisahan dengan cicilan kecil. Jarang ada pernikahan yang pecah dalam satu malam; kebanyakan dipisahkan pelan-pelan, seperti jahitan yang dilepas satu per satu. Hari ini, sebutkan dengan suara keras nama satu pernikahan yang sedang retak, entah milikmu sendiri entah milik temanmu, lalu doakan dengan kalimat ini: "Allah, Engkau yang mempersatukan mereka; satukan lagi."
Pertanyaan
Lalu bagaimana dengan perempuan yang dipukuli suaminya? Dengan pria yang ditinggalkan tanpa kabar? Ayat ini terasa seperti pintu yang terkunci dari luar. Jujur saja: Yesus sendiri tidak menutupnya rapat, sebab tiga ayat kemudian Ia menyebut perzinaan sebagai pengecualian, dan Ia mengakui bahwa Musa mengizinkan surat cerai "karena kekerasan hatimu." Jadi Ia tahu dunia ini bukan Eden lagi. Tetapi perhatikan ke arah siapa ayat ini ditujukan. Yang memegang pena surat cerai adalah pihak yang kuat; kepada merekalah Yesus berkata jangan. Ayat ini bukan palu bagi korban yang ditinggalkan, melainkan rem bagi tangan yang melepaskan. Itu tidak menghapus luka orang yang pernikahannya hancur. Kadang yang tersisa hanyalah pengakuan bahwa sesuatu yang kudus telah robek, dan bahwa Allah tidak pura-pura itu tidak terjadi.
Intertekstual
Dua ayat berdiri di belakang kalimat ini. Yang pertama Kejadian 2:24, yang sudah Yesus kutip di ayat sebelumnya: seorang laki-laki meninggalkan ayah dan ibunya dan menjadi satu tubuh dengan istrinya. Dalam masyarakat di mana justru perempuan yang meninggalkan rumahnya dan masuk ke dalam klan suaminya, kalimat itu terdengar terbalik; loyalitas sang suami tidak lagi pertama-tama kepada keluarga besarnya, tetapi kepada istrinya. Yang kedua, Maleakhi 2, di mana Allah menolak persembahan para suami yang berkhianat terhadap istri masa muda mereka dan menyebut diri-Nya sebagai saksi perjanjian pernikahan itu. Keduanya bergerak ke arah yang sama dengan Yesus: Allah bukan penonton di pesta pernikahan. Dia pihak ketiga yang hadir, yang mengikat, dan yang mencatat.
Detail
Kata "dipersatukan" dalam bahasa Yunaninya adalah synezeuxen, dan di dalamnya tersembunyi kata zygos, kuk. Gambarnya datang dari ladang, bukan dari ruang pengadilan: dua ekor lembu yang ditaruh di bawah satu palang kayu, sehingga langkah yang satu menentukan langkah yang lain. Mereka tidak bisa membajak ke arah berlawanan; kalau yang satu berhenti, yang lain tertahan. Para pendengar Yesus mencium bau debu dan keringat hewan ketika mendengar kata itu. Dan yang memasang kuk bukanlah lembu-lembu itu sendiri, melainkan petani yang berdiri di belakang mereka. Itulah tepatnya maksud Yesus: pernikahan bukan dua orang yang memutuskan berjalan seiring, melainkan dua orang yang ditempatkan Allah di bawah satu beban yang sama. Melepaskan kuk itu bukan hak lembu.
Refleksi
Kalau Allah benar-benar hadir sebagai pihak ketiga dalam pernikahanmu atau pernikahan orang-orang di sekitarmu, apa yang berubah dari cara engkau berbicara tentangnya ketika sedang kesal?
Di mana dalam hidupmu engkau sedang mencari daftar "alasan yang sah," padahal yang sebenarnya engkau butuhkan adalah kekuatan untuk tetap tinggal?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Matthew 19:6
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti MATIUS 19:6?
Tentang apakah MATIUS 19:6?
Apa konteks historis dari MATIUS 19:6?
Apa yang MATIUS 19:6 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana MATIUS 19:6 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Matthew 19
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Guru, perbuatan baik apa yang harus aku lakukan supaya aku memperoleh hidup yang kekal?" Perhatikan kata "lakukan". Orang ini berpikir hidup kekal adalah satu item terakhir yang perlu dicentang. Tapi Yesus justru menyuruhnya melepaskan, bukan menambah. Bagaimana denganmu? Apa yang masih kaugenggam sambil berkata, "Aku sudah melakukan semuanya"?
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi