MAZMUR 103
Teks
Mazmur ini tidak dibuka dengan doa kepada Allah, melainkan dengan perintah kepada diri sendiri: "Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Segenap batinku, pujilah nama-Nya yang kudus!" Seakan Daud tahu bahwa jiwanya bisa lupa, dan karena itu harus ditegur. Lalu ia menyebut satu per satu apa yang mudah terlupa: pengampunan, kesembuhan, penebusan dari liang kubur, mahkota kasih setia. Dari sana mazmur melebar, dari pengalaman pribadi ke jalan-jalan Tuhan yang dinyatakan kepada Musa, ke jarak timur dan barat, ke kerapuhan manusia yang seperti rumput di padang, sampai ke takhta di surga dan seluruh bala tentara-Nya. Dan setelah menyapu langit dan bumi, mazmur ini pulang ke tempat ia berangkat: "Pujilah TUHAN, hai jiwaku!"
Inti
Jantung mazmur ini berdetak di ayat 10: "Dia tidak memperlakukan kita berdasarkan dosa-dosa kita, atau membalas kita berdasarkan kesalahan-kesalahan kita." Perhatikan, itu bukan berarti dosa tidak nyata atau tidak serius. Dosa disebut, diakui, dihitung; hanya saja tidak dibayarkan kembali kepada kita. Kata yang terus berulang di sini adalah hesed, kasih setia perjanjian, kesetiaan yang mengikat diri secara sukarela. Dan alasannya mengejutkan: "Dia tahu penciptaan kita; Dia ingat bahwa kita adalah debu." Belas kasihan Allah tidak lahir dari ketidaktahuan, melainkan justru dari pengetahuan yang lengkap tentang siapa kita. Pertanyaan yang tertinggal, dan mazmur ini tidak menjawabnya, adalah: bagaimana mungkin keadilan (ayat 6) dan penjauhan dosa sejauh timur dari barat berdiri di dalam satu Pribadi yang sama tanpa saling meniadakan?
Benang Merah
Ayat 7 menyebut Musa, dan itu bukan hiasan. Kalimat "TUHAN itu berbelas kasih dan murah hati, lambat untuk marah, dan berlimpah kasih setia" adalah kutipan hampir harfiah dari apa yang Tuhan serukan tentang diri-Nya sendiri di Sinai, tepat setelah Israel menyembah anak lembu emas. Jadi mazmur ini sebenarnya sedang mengulang kembali pengakuan yang lahir di reruntuhan pengkhianatan. Daud tidak menemukan sesuatu yang baru; ia sedang mengingat.
Dan di sinilah pertanyaan ayat 10 menemukan jawabannya, meski bukan di dalam mazmur ini. Jika Allah tidak membalas kita menurut kesalahan kita, ke mana balasan itu pergi? Perjanjian Baru menjawab dengan satu tubuh di kayu salib. Timur dan barat dipisahkan di sana, oleh kedua tangan yang terentang.
Cermin
Kita lebih sering hidup seperti orang yang dibayar menurut catatan kesalahannya. Karena itu kita membaca ayat 10 dengan sudut mata, sambil menunggu tagihan yang tertunda. Ada kegagalan di masa lalu yang Anda ulang di kepala saat lampu dimatikan. Ada percakapan dengan anak yang berakhir buruk minggu lalu. Ada tubuh yang mulai mengingatkan Anda bahwa "manusia itu hari-harinya seperti rumput". Mazmur ini tidak menyangkal satu pun dari itu; ia hanya menempatkannya di bawah takhta yang "memerintah atas segalanya".
Perhatikan juga: Daud memerintah jiwanya sendiri. Pujian di sini bukan suasana hati, melainkan keputusan melawan lupa.
Hari ini, tulislah di selembar kertas satu kesalahan yang masih Anda simpan, lalu bacalah ayat 12 dengan suara keras sambil merobek kertas itu.
Profil
Pendengar pertama mazmur ini adalah orang-orang yang hidup dalam sistem yang serba menghitung: hutang dicatat, kesalahan dibalas, darah dibayar darah. Di dunia seperti itu, kalimat "Dia tidak senantiasa menuntut, atau menyimpan amarah selamanya" terdengar hampir tidak masuk akal. Mereka juga tahu apa artinya "tertindas" (ayat 6) bukan sebagai konsep, melainkan sebagai tetangga yang tanahnya diambil dan janda yang tidak punya pembela.
Dan mereka mendengar sesuatu yang sering luput dari kita: bahwa pengampunan itu bukan urusan pribadi semata. Ia mengalir "bagi anak cucu mereka", terjalin dengan perjanjian dan hukum-hukum-Nya. Kasih setia Allah di telinga mereka punya bentuk komunal, berumur generasi, bukan perasaan sesaat.
Tokoh Utama
Tokoh utama di sini jelas Allah sendiri, tetapi gambaran yang dipilih Daud mengejutkan: seorang ayah yang menyayangi anak-anaknya. Kata itu, dalam bahasa Ibrani, berakar pada rahim; belas kasihan yang bersifat jasmani, yang terasa di perut ketika melihat anak sendiri terluka. Allah yang takhta-Nya tegak di surga digambarkan dengan isi perut yang bergolak.
Dan Dia "ingat bahwa kita adalah debu". Bukan mencela debu, bukan menuntut debu menjadi batu. Ada semacam kelembutan dalam pengetahuan itu, seperti orang tua yang tahu persis berapa banyak yang bisa dipikul anaknya. Apakah Anda pernah membayangkan bahwa kelemahan Anda justru membangkitkan, bukan memadamkan, kasih sayang Allah?
Konteks
Mazmur ini berasal dari lingkungan istana Daud, dari seorang raja yang tahu rasanya diampuni dari dosa yang tidak layak diampuni. "Memahkotaimu dengan kasih setia" bukan kiasan kosong di mulut orang yang memakai mahkota sungguhan; ia tahu bahwa mahkota yang sesungguhnya bukan logam di kepalanya.
Perhatikan pula gerak mazmur ini: dari satu jiwa, ke umat, ke seluruh ciptaan, ke para malaikat dan bala tentara surgawi, lalu kembali ke satu jiwa lagi. Di dunia kuno, raja-raja menuntut pujian dari bawah ke atas. Di sini justru sebaliknya: yang di atas turun lebih dulu, dan pujian hanyalah gema.
Refleksi
Jika Allah benar-benar tidak memperlakukan Anda menurut dosa-dosa Anda, hal apa dalam cara Anda hidup minggu ini yang sebenarnya masih berjalan seolah-olah Dia melakukannya?
Daud harus memerintah jiwanya untuk memuji. Apa yang paling membuat jiwa Anda lupa: kesibukan, kekecewaan, atau justru kenyamanan?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Psalms 103
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti MAZMUR 103?
Tentang apakah MAZMUR 103?
Apa konteks historis dari MAZMUR 103?
Apa yang MAZMUR 103 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana MAZMUR 103 masih relevan hari ini?
Apa yang menyentuh hati Anda dalam Psalms 103?
Belum ada wawasan yang dibagikan pada bagian ini. Jadilah yang pertama membagikan sesuatu: wawasan, doa, atau ucapan syukur.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
