MAZMUR 22:1
Teks
Sebuah lagu yang diserahkan kepada pemimpin pujian, dengan petunjuk nada "Rusa pada waktu fajar", lalu kalimat pembuka yang merobek segala harapan akan musik yang manis: "Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?" Daud memanggil Allah dua kali, dengan kata milik yang masih melekat, "Allahku", dan dalam tarikan napas yang sama menuduh Allah itu telah pergi. Lalu ia menjelaskan di mana ia berdiri: "Keselamatanku jauh dariku, adalah kata-kata raunganku." Pertolongan yang ia butuhkan ada di luar jangkauan, dan suaranya sendiri bukan lagi doa yang tertata melainkan raungan, bunyi binatang yang terluka. Satu ayat, dan kita sudah berada di dasar sumur, memandang ke atas, ke langit yang bisu.
Inti
Yang mengguncang di sini bukan keberadaan penderitaan, melainkan bahwa keluhan seperti ini diberi nomor, diberi nada, dan diserahkan kepada pemimpin pujian untuk dinyanyikan jemaat. Allah menaruh di dalam kitab pujian umat-Nya sebuah lagu yang menuduh Dia pergi. Itu berarti iman tidak runtuh ketika ia berteriak; justru teriakan itulah bentuk iman yang paling telanjang, sebab hanya orang yang masih percaya Allah ada di sana yang repot-repot bertanya "mengapa". Perhatikan bahwa Daud tidak berkata "Allah telah tiada", melainkan "Engkau meninggalkan aku". Keluhan ini masih berupa sapaan, masih kata ganti orang kedua. Di titik terendah, hubungan itu belum putus; yang putus adalah rasa dan bukti. Dan Allah, tampaknya, tidak tersinggung oleh pertanyaan semacam itu. Ia mengarsipkannya.
Benang Merah
Seribu tahun kemudian kalimat ini terdengar lagi, kali ini dari kayu salib, dalam bahasa Aram, dari mulut Seorang yang sedang sekarat. Yesus tidak mengarang keluhan baru; Ia meminjam lagu Daud, dan dengan meminjamnya Ia menyatakan bahwa seluruh mazmur ini adalah milik-Nya: tangan dan kaki yang ditusuk, pakaian yang diundi, cemooh yang berbunyi "biarlah Dia melepaskannya". Tetapi ada yang lebih dalam daripada kecocokan detail. Daud merasa ditinggalkan; Yesus benar-benar menanggung keterpisahan itu, supaya kita yang merasa ditinggalkan tidak pernah sungguh-sungguh ditinggalkan. Dan perhatikan ke mana mazmur ini berakhir: bukan di kegelapan, melainkan di "semua ujung bumi akan ingat, dan berbalik kepada TUHAN". Teriakan di ayat satu dan misi bangsa-bangsa di ayat dua puluh delapan adalah satu kalimat panjang yang sama. Salib dan kebangkitan, sudah tertulis dalam satu lagu.
Cermin
Kita punya kebiasaan buruk: menyensor doa kita sendiri. Ketika hasil biopsi tidak baik, ketika pernikahan yang kita pertahankan selama sepuluh tahun akhirnya diam di meja makan, ketika anak kita tidak lagi mau ikut ke gereja dan kita tidak tahu kapan tepatnya kita kehilangan dia, kita masih sanggup berkata "Tuhan tahu yang terbaik". Kalimat itu benar, tetapi sering kali ia dipakai sebagai penutup luka yang belum dibersihkan. Mazmur ini membongkar kepantasan rohani kita. Ada jenis kesalehan yang sebenarnya adalah ketakutan: takut bahwa Allah tidak cukup besar untuk menampung kemarahan kita, maka kita menyodorkan kepada-Nya versi diri yang sudah dirapikan. Daud tidak begitu. Ia meraung, dan raungan itu dicatat sebagai firman. Hari ini, ambil selembar kertas dan tuliskan satu kalimat jujur kepada Allah yang selama ini tidak berani Anda ucapkan, lengkap dengan kata "mengapa", lalu bacalah keras-keras sekali.
Detail
Kata "raungan" itu menahan seluruh ayat. Dalam bahasa Ibrani dipakai sheagah, kata yang di tempat lain menggambarkan auman singa. Daud memakainya untuk suaranya sendiri. Ia tidak berkata "doaku" atau "keluhanku", melainkan sesuatu yang lebih rendah daripada bahasa, bunyi yang keluar dari perut sebelum pikiran sempat menyusunnya. Dan ironi yang pahit: beberapa ayat kemudian singa-singa justru mengepung dia, "membuka lebar mulutnya kepadaku seperti singa yang mengaum-aum". Penderitaan telah membuatnya berbunyi seperti binatang yang memburunya. Namun justru bunyi inilah yang dinamai Daud "kata-kata". Raungan itu punya isi, punya alamat, punya tujuan. Allah mendengar tangisan yang bahkan tidak bisa mengeja dirinya sendiri sebagai doa. Itu kabar baik bagi siapa pun yang pernah hanya sanggup menangis.
Profil
Israel menyanyikan lagu ini bersama-sama, di bait suci, dengan iringan musik. Bayangkan itu. Bangsa yang dikelilingi kekaisaran-kekaisaran besar, yang berkali-kali kalah perang, dibuang, dipermalukan, dan masih harus menjelaskan kepada tetangga-tetangganya mengapa Allah mereka tidak kelihatan. Bagi mereka, pertanyaan "mengapa Engkau meninggalkan aku" bukan sekadar keluhan pribadi seorang raja; itu adalah pertanyaan nasional. Mazmur ini memberi mereka bahasa yang sah untuk berkata bahwa kenyataan tidak cocok dengan janji, tanpa harus berhenti menyembah. Dan karena lagu ini punya petunjuk nada, mereka tahu kapan harus menyanyikannya: bukan hanya ketika badai datang, tetapi juga di hari-hari biasa, supaya ketika badai datang, mulut mereka sudah hafal.
Tokoh Utama
Yang paling menarik dari Daud di sini adalah bahwa ia tidak melepaskan kata "Allahku". Dua kali. Seorang yang sungguh ditinggalkan tidak akan berbicara seperti itu; ia akan diam, atau berpaling. Daud melakukan sesuatu yang lebih sukar: ia tetap berdiri di hadapan Allah yang terasa tidak hadir, dan menuntut penjelasan dari Pribadi yang masih ia sebut milik. Inilah potret manusia beriman yang sesungguhnya, bukan orang yang tidak pernah goyah, melainkan orang yang goyah sambil tetap memegang. Dan di balik Daud, kita melihat Allah yang memilih untuk tidak membela diri. Ia tidak menyanggah tuduhan itu, tidak menjelaskan diri-Nya. Ia hanya, pada akhirnya, menjawab: "Engkau telah menjawab aku". Diam-Nya ternyata bukan ketidakhadiran, melainkan waktu yang belum genap.
Refleksi
Kalimat jujur apa tentang Allah yang selama ini Anda tahan, karena takut kalimat itu terdengar tidak saleh?
Jika mazmur ini berakhir pada bangsa-bangsa yang berbalik kepada Tuhan, apa artinya bagi cara Anda menafsirkan masa gelap yang sedang Anda jalani sekarang?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Psalms 22:1
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti MAZMUR 22:1?
Tentang apakah MAZMUR 22:1?
Apa konteks historis dari MAZMUR 22:1?
Apa yang MAZMUR 22:1 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana MAZMUR 22:1 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Psalms 22
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau tidak menutup telinga ketika hati kami berkata, "aku ini ulat dan bukan manusia." Yesus sendiri menjadi cercaan manusia dan yang dihina bangsa, supaya kami yang merasa tak berharga tahu bahwa kami dikenal dan dikasihi olehmu.
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau tidak memandang rendah penderitaan orang yang tertindas dan tidak menyembunyikan muka-Mu dariku. Saat aku berseru dengan suara serak dan mata basah, Engkau mendengar. Aku bersyukur untuk telinga-Mu yang selalu terbuka bagi tangisku.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi