MAZMUR 23:1
Nas
Sebaris kalimat, dan seluruh dunia berubah bentuk. Daud tidak berkata "TUHAN itu seperti gembala", tetapi "TUHAN adalah gembalaku". Kata sandang kepemilikan itu, akhiran "-ku" yang kecil dan hampir tak terdengar, memindahkan Allah semesta ke dalam lingkaran hidup satu orang. Lalu menyusul kesimpulannya, yang sebenarnya lebih mirip helaan napas daripada pernyataan doktrin: "Aku tidak kekurangan apa pun." Bukan "aku memiliki segalanya", melainkan sesuatu yang lebih tenang dan lebih berani sekaligus: tidak ada yang kurang. Perhatikan bahwa ayat ini tidak menjelaskan apa pun. Tidak ada daftar pemberian, tidak ada janji panen. Hanya sebuah relasi disebutkan, dan dari relasi itu lahir kecukupan. Sisa mazmur, padang rumput hijau, air yang tenang, lembah bayang-bayang kematian, hanyalah uraian dari kalimat pembuka ini.
Inti
Yang mengganggu sekaligus memikat dari ayat ini adalah urutannya. Kecukupan tidak dibuktikan lebih dulu lalu disimpulkan; kecukupan disimpulkan karena Sang Gembala ada. Itu berarti kalimat ini bisa diucapkan di padang rumput hijau, tetapi juga, dan justru di sanalah beratnya, di lembah bayang-bayang kematian. Kata Ibrani yang dipakai untuk "kekurangan", chasar, adalah kata yang dipakai untuk Israel di padang gurun: mereka tidak berkekurangan sesuatu pun, meski mereka tidak punya apa-apa selain manna harian dan Allah yang berjalan di depan. Jadi ini bukan pernyataan tentang kelimpahan materi. Ini pernyataan tentang siapa yang memegang tali kekang hidupku. Dan di situ ayat ini membuka pertanyaan yang tidak segera ia jawab: apakah aku sungguh percaya bahwa Allah sendiri, tanpa tambahan apa-apa, sudah cukup? Diamlah sejenak di situ sebelum menjawab terlalu cepat.
Benang Merah
Gambaran gembala di Perjanjian Lama bukan gambaran manis. Itu bahasa politik. Raja-raja Timur Dekat menyebut diri gembala rakyat, dan Israel tahu betul bahwa gembala bisa gagal, bisa memakan dombanya sendiri. Daud, yang pernah menjaga kawanan sebelum menjaga bangsa, justru menolak menempatkan dirinya di kursi itu. Ia meletakkan diri di antara domba. Dan ketika Yesus kemudian berkata bahwa Ia adalah gembala yang baik, yang memberikan nyawa-Nya bagi domba-domba, kalimat Daud mendapat isi yang tidak pernah ia bayangkan: Sang Gembala turun ke lembah itu sendiri, tidak sebagai penjaga dari kejauhan melainkan sebagai yang berjalan mendahului sampai ke kematian. "Aku tidak kekurangan apa pun" ternyata dibayar mahal, bukan oleh domba, tetapi oleh Gembalanya.
Cermin
Ayat ini menelanjangi hitung-hitungan diam-diam yang kita jalankan setiap pagi. Berapa sisa saldo, apakah kontrak diperpanjang, apakah hasil pemeriksaan itu baik, apakah anak yang menjauh akan kembali. Kita jarang berkata "aku kekurangan Allah"; kita berkata aku kekurangan waktu, tenaga, kepastian, pengakuan. Daud tidak menyangkal bahwa hal-hal itu nyata. Ia hanya menaruhnya di urutan kedua. Pertanyaannya bukan apakah Anda punya cukup, melainkan siapa yang Anda anggap sebagai sumber cukup itu. Dan jujurlah: sebagian besar dari kita mengucapkan ayat ini dengan mulut sambil menghitung dengan tangan. Barangkali kejujuran itulah tempat doa harus mulai, bukan di ujung sesudah semuanya beres.
Gema Kitab Suci
Ulangan 2:7 mengatakan tentang perjalanan empat puluh tahun bahwa Israel tidak kekurangan apa-apa, di padang gurun, tanpa rumah, tanpa panen. Latar itu penting: kecukupan yang dibicarakan Daud adalah kecukupan gurun, bukan kecukupan gudang penuh. Di sisi lain berdiri Yehezkiel 34, di mana Allah marah kepada para gembala Israel yang menggemukkan diri sendiri dan membiarkan kawanan tercerai-berai, lalu berkata bahwa Ia sendiri akan menggembalakan domba-domba-Nya. Mazmur 23:1 berdiri di antara kedua teks itu: keluhan atas pemimpin yang gagal, dan kepercayaan bahwa Allah tidak menyerahkan kawanan-Nya kepada tangan siapa pun.
Profil
Pendengar pertama mazmur ini tahu bau kawanan. Mereka tahu bahwa domba tidak menemukan jalan sendiri, tidak bisa membela diri, dan mati jika ditinggal semalam. Menyebut diri domba bukan kesantunan rohani, melainkan pengakuan tentang ketidakberdayaan yang memalukan. Bagi orang yang hidupnya bergantung pada hujan yang tidak pasti dan raja yang bisa berubah pikiran, kalimat "Aku tidak kekurangan apa pun" terdengar hampir nekat. Mereka mendengarnya bukan sebagai jaminan bahwa hidup akan aman, tetapi sebagai keputusan untuk mempercayakan diri kepada Satu-satunya yang tidak akan meninggalkan kawanan-Nya di lereng bukit saat malam turun.
Konteks
Mazmur ini dinyanyikan, bukan dibaca dalam hati. Judulnya, "Nyanyian Daud", menempatkannya dalam ibadah bersama: sekelompok orang menyanyikan "gembalaku" dalam bentuk tunggal, masing-masing untuk dirinya, bersama-sama. Dunia Daud adalah dunia tanpa jaring pengaman: tanpa polisi, tanpa asuransi, tanpa lembaga yang melindungi orang kecil. Perlindungan datang dari pelindung, dari orang kuat yang mengikat diri kepada Anda. Menyebut TUHAN sebagai gembala berarti menyatakan di depan umum siapa pelindung Anda, dan sekaligus menyatakan siapa yang bukan. Itu tindakan setia, dan sedikit banyak juga tindakan berani, karena semua orang akan melihat apakah Pelindung itu terbukti.
Refleksi
Kalimat "Aku tidak kekurangan apa pun" akan terdengar bagaimana jika saya ucapkan hari ini, dengan jujur, dalam keadaan saya yang sebenarnya, dan apa yang langsung membantah di dalam hati saya?
Di bagian hidup mana saya masih ingin menjadi gembala bagi diri sendiri, dan apa yang membuat saya sulit melepaskan tongkat itu?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Psalms 23:1
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti MAZMUR 23:1?
Tentang apakah MAZMUR 23:1?
Apa konteks historis dari MAZMUR 23:1?
Apa yang MAZMUR 23:1 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana MAZMUR 23:1 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Psalms 23
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
When I read Psalm 23 with the loss of my father still fresh in my memory, verse 4 struck me most of all: even though I walk through the valley of the shadow of death, I will fear no evil, for You are with me. It was not a band-aid but a hand on my shoulder.
Ia membaringkan aku di padang rumput yang hijau; Ia membimbing aku ke air yang tenang." Domba tidak akan berbaring kalau masih lapar atau takut. Jadi istirahatmu itu bukti bahwa Gembalamu sudah mengurus semuanya. Pertanyaannya: kamu percaya itu, atau kamu masih berdiri terus karena takut kalau berhenti semua ambruk?
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi