1 KORINTUS 16
Penjelasan dan kisah Alkitab untuk remaja (13 tahun ke atas)
Penjelasan
Pasal terakhir surat Paulus kepada jemaat Korintus ini kelihatannya seperti daftar urusan praktis. Tentang uang yang harus dikumpulkan untuk orang-orang kudus di Yerusalem, tentang rencana perjalanan Paulus, tentang Timotius yang akan datang berkunjung, tentang Apolos yang belum mau datang, tentang salam-salam dari berbagai orang dan jemaat. Tidak ada mukjizat di sini, tidak ada ajaran besar tentang kebangkitan seperti di pasal sebelumnya. Hanya kehidupan sehari-hari jemaat yang nyata.
Paulus meminta jemaat Korintus menyisihkan uang setiap awal minggu, sedikit demi sedikit, sesuai dengan penghasilan mereka, supaya ketika ia datang semuanya sudah siap. Ini bukan pajak gereja, ini solidaritas nyata untuk saudara seiman yang sedang kesusahan di tempat lain. Lalu ia bercerita tentang rencana perjalanannya, bahwa ia ingin tinggal lebih lama di Korintus, bukan sekadar mampir sebentar, karena hubungan sejati butuh waktu. Ia tinggal dulu di Efesus karena di sana ada "pintu yang lebar" untuk pekerjaan penting, meskipun banyak perlawanan.
Lalu Paulus berpesan tentang Timotius, yang masih muda dan mungkin gugup menghadapi jemaat ini, ia meminta mereka tidak merendahkannya tapi mendukungnya. Tentang Apolos, yang menolak datang sekarang meski Paulus mendorongnya, dan Paulus tidak memaksakan itu. Ada rasa hormat pada kebebasan orang lain di sini.
Kemudian ada kalimat yang tajam, ayat 13 dan 14. Paulus berkata, berjaga-jagalah, berdirilah teguh dalam iman, jadilah kuat, dan biarlah semua yang kamu lakukan dilakukan dalam kasih. Ini bukan nasihat kosong. Setelah lima belas pasal berisi perselisihan, dosa seksual, salah paham soal karunia rohani, keraguan tentang kebangkitan, Paulus menutup dengan dua hal yang harus dipegang bersamaan: ketegasan dan kasih. Lalu ia menyebut nama-nama konkret, keluarga Stefanus yang sudah mengabdikan diri melayani, Fortunatus, Akhaikus yang menyegarkan rohnya. Surat ini ditutup dengan salam dari Priskila dan Akwila, dari jemaat-jemaat lain, dan tulisan tangan Paulus sendiri sebagai tanda keaslian suratnya.
Lalu, tiba-tiba, kalimat yang keras. "Jika ada orang yang tidak mengasihi Tuhan, terkutuklah dia." Dan langsung sesudahnya, seruan yang hampir seperti doa yang menangis, "Oh Tuhan, datanglah!" Dua kalimat yang bertolak belakang nadanya, berdampingan begitu saja.
Apa Artinya Ini?
Pasal ini mengajarkan sesuatu yang mungkin kurang menarik tapi sangat jujur, iman yang sejati tidak melayang di awang-awang. Iman diwujudkan dalam uang yang disisihkan, dalam perjalanan yang direncanakan, dalam nama orang yang disebut satu per satu, dalam keputusan untuk mendukung orang muda yang gugup, dalam menghormati pilihan orang yang tidak mau datang sekarang. Gereja bukan kumpulan ide rohani yang indah, gereja adalah orang-orang nyata yang harus mengatur hidup bersama, membagi uang, mengatur jadwal, saling menghargai.
Dan ketegasan ayat 22 itu bukan Paulus sedang marah tanpa alasan. Setelah seluruh surat yang membongkar begitu banyak keretakan dalam jemaat ini, ia ingin mereka sadar bahwa ada taruhan yang nyata. Mengasihi Tuhan bukan perkara sampingan dalam hidup, itu inti dari segalanya. Tapi kalimat itu langsung diikuti doa rindu akan kedatangan Tuhan, bukan ancaman yang menakut-nakuti. Ini kerinduan, bukan kutukan yang dingin.
Benang Merah
Seruan "Oh Tuhan, datanglah" dalam bahasa Aram aslinya adalah "Maranatha", doa tertua umat Kristen, lebih tua dari banyak bagian Perjanjian Baru yang kita punya sekarang. Doa ini menunjuk pada satu arah, Yesus Kristus yang akan datang kembali. Seluruh surat ini, dengan segala keributan tentang perpecahan, moralitas, karunia rohani, kebangkitan orang mati, berakhir di sini, pada pengharapan bahwa Tuhan sendiri yang akan menuntaskan semuanya.
Dan di tengah semua urusan praktis tentang uang dan perjalanan, ada anugerah yang disebut dua kali di penutup surat, "Anugerah Tuhan Yesus menyertai kamu" dan "Kasihku menyertai kamu semua dalam Yesus Kristus." Semua kesibukan jemaat ini, semua perintah untuk kuat dan teguh, berdiri di atas dasar yang bukan usaha mereka sendiri, melainkan anugerah yang sudah diberikan lebih dulu.
Untukmu
Mungkin kamu berpikir kehidupan rohani itu soal perasaan besar, momen dramatis, jawaban doa yang spektakuler. Pasal ini mengoreksi itu. Iman yang sejati terlihat dalam hal-hal kecil yang konsisten, menyisihkan uang untuk orang lain meski kamu sendiri tidak berlebihan, menghargai orang yang lebih muda atau kurang percaya diri darimu, tidak memaksa orang lain mengikuti jadwalmu, menyebut nama orang yang sudah berjerih lelah dan benar-benar menghargainya, bukan basa-basi.
Kamu hidup di dunia yang serba cepat, serba digital, di mana hubungan sering dangkal dan terburu-buru. Paulus justru ingin tinggal lama dengan jemaatnya, bukan sekadar mampir sebentar. Pertanyaan untukmu, apakah kamu juga berani membangun hubungan yang butuh waktu, yang tidak instan, dengan orang-orang di gerejamu, di keluargamu, di sekitarmu? Dan ketika kamu merasa iman terasa berat atau membosankan karena isinya cuma rutinitas, ingatlah bahwa justru di situlah kasih dan ketegasan dipraktikkan, bukan dalam perasaan yang meluap-luap saja.
Mari Bicarakan
Paulus menulis "jadilah kuat" dan "lakukan semua dalam kasih" di kalimat yang sama. Menurutmu, mengapa kedua hal itu sering terasa sulit dipegang bersamaan, dan di bagian mana kamu lebih sering gagal, menjadi terlalu keras atau terlalu lembek?
Doa "Oh Tuhan, datanglah" adalah kerinduan paling tua umat Kristen. Apakah kamu benar-benar merindukan kedatangan Tuhan, atau justru merasa takut atau acuh tak acuh soal itu? Jujur saja pada dirimu sendiri.
Berdoa Bersama
Tuhan, hidup kami penuh urusan kecil, jadwal, uang, hubungan yang kadang canggung. Ajar kami melihat bahwa Engkau hadir justru di situ, bukan hanya di momen-momen besar. Buat kami teguh dalam iman dan lembut dalam kasih, dua hal yang sering terasa bertentangan. Dan tumbuhkan dalam hati kami kerinduan sungguh akan kedatangan-Mu, bukan sekadar kata-kata yang kami ucapkan. Amin.
Pertanyaan tentang 1 KORINTUS 16
Jawaban singkat bagi siapa saja yang baru pertama kali membaca tentang ini.
Tentang apakah 1 KORINTUS 16?
Apa yang dikatakan 1 KORINTUS 16?
Apa yang 1 KORINTUS 16 ajarkan tentang Tuhan?
Apa yang dapat dipelajari remaja dari 1 KORINTUS 16?
Mengapa 1 KORINTUS 16 menjadi kisah Alkitab yang penting?
Yang ditemukan orang lain
Perhatikan letaknya. Baru saja Paulus menulis tentang kebangkitan, tentang maut yang ditelan dalam kemenangan. Lalu kalimat berikutnya: "Sekarang, mengenai pengumpulan dana bagi orang-orang kudus." Dari surga langsung ke dompet. Imanmu yang paling agung selalu turun ke hal yang paling sederhana: saudara seiman yang sedang lapar.
Paulus menulis, "sebab suatu pintu yang lebar dan efektif telah terbuka bagiku, dan ada banyak penentang." Perhatikan kata "dan", bukan "tetapi". Lawan yang banyak tidak membatalkan pintu yang terbuka. Mungkin selama ini kau menunggu jalan yang sepi dari perlawanan, lalu menyebut kesulitan sebagai tanda pintu tertutup. Bagaimana kalau justru itu tandanya kau sedang berdiri di ambangnya?
Akwila dan Priskila hidup berpindah-pindah. Diusir dari Roma, singgah di Korintus, lalu menetap di Efesus. Tapi di mana pun mereka berada, ada kalimat yang sama: "bersama jemaat yang ada di rumah mereka." Yang dibutuhkan bukan rumah yang besar, melainkan pintu yang mau dibuka. Bagaimana dengan rumahmu?
Paulus menolak singgah sebentar. "Sebab, aku tidak ingin melihat kamu hanya sekilas saja, tetapi aku berharap untuk tinggal bersamamu beberapa lama, jika Tuhan mengizinkan." Ada orang yang butuh kamu duduk, bukan sekadar lewat dan menyapa. Siapa yang selama ini hanya kamu temui sekilas? Dan beranikah kamu menaruh rencanamu di tangan Tuhan?
Mencari yang cocok untuk anak yang lebih kecil?
Kami juga memiliki versi khusus untuk balita (usia 3-5) dan usia sekolah dasar (6-12).
Buka di alat Alkitab Anak