Untuk remaja usia 13 tahun ke atas

YESAYA 36

Penjelasan dan kisah Alkitab untuk remaja (13 tahun ke atas)

Alkitab

Penjelasan

Bayangkan situasinya. Kota Yerusalem terkepung. Semua kota berbenteng lain di Yehuda sudah jatuh ke tangan Asyur, kekuatan militer terbesar pada masanya. Sekarang tinggal Yerusalem sendirian, dan di depan temboknya berdiri seorang pejabat Asyur, kepala juru minuman, didampingi pasukan besar. Dia tidak datang untuk berunding. Dia datang untuk menghancurkan mental orang-orang di dalam kota sebelum satu pedang pun diayunkan.

Perhatikan betapa pintar dan jahatnya pidatonya. Dia tidak langsung menyerang dengan ejekan kasar. Dia mulai dengan pertanyaan yang menusuk, "Keyakinan seperti apakah yang kamu miliki?" Lalu dia membongkar satu per satu sandaran Hizkia. Mesir? Itu seperti tongkat buluh yang patah dan menusuk tanganmu sendiri saat kamu bersandar padanya. TUHAN? Dia bahkan berani mengklaim bahwa justru TUHAN sendiri yang menyuruhnya menghancurkan Yerusalem, memutarbalikkan reformasi ibadah Hizkia seolah itu penghinaan terhadap Allah, bukan ketaatan.

Lalu dia melakukan sesuatu yang lebih licik lagi. Ketika para pejabat Yehuda memintanya berbicara dalam bahasa Aram, bahasa diplomasi, supaya rakyat biasa di atas tembok tidak mengerti dan menjadi takut, dia justru sengaja berteriak dalam bahasa Ibrani. Dia ingin setiap orang biasa, setiap prajurit yang berjaga di tembok, mendengar langsung bahwa perlawanan mereka sia-sia, bahwa kelaparan akan memaksa mereka memakan kotoran sendiri, dan bahwa tidak ada ilah bangsa mana pun yang pernah berhasil menyelamatkan negerinya dari Asyur. Logikanya sederhana dan kejam, jika semua ilah bangsa lain kalah, mengapa Allah Israel akan berbeda.

Pasal ini ditutup dengan keheningan. Rakyat diam karena perintah raja. Tiga pejabat itu pulang menghadap Hizkia dengan pakaian terkoyak, tanda dukacita dan keputusasaan yang dalam.

Apa Artinya Ini?

Yang membuat pasal ini begitu tajam adalah bahwa argumen sang juru minuman itu masuk akal. Secara militer dia benar. Secara statistik dia benar. Semua kerajaan lain memang sudah jatuh. Dia tidak berbohong tentang fakta, dia hanya salah total tentang siapa Allah Israel sebenarnya. Dia memperlakukan TUHAN seperti salah satu dewa suku yang bisa dihitung dan dikalahkan seperti dewa-dewa Hamat atau Arpad.

Di sinilah letak pelajaran yang dalam untukmu. Tekanan terbesar terhadap iman jarang datang dalam bentuk serangan yang bodoh atau mudah dipatahkan. Tekanan yang paling berbahaya adalah yang logis, yang disampaikan dengan nada percaya diri, yang membuatmu merasa naif kalau masih percaya. Kamu mungkin pernah mendengar versi modern dari pidato ini, entah dari seseorang yang menertawakan imanmu dengan argumen ilmiah yang tampak kokoh, entah dari suara dalam dirimu sendiri yang berkata bahwa percaya itu kekanak-kanakan dibanding "realitas" yang kamu lihat sehari-hari.

Yang menarik, pasal ini tidak memberi jawaban. Hizkia belum bicara. Allah belum bicara. Yang ada hanya keheningan dan pakaian yang terkoyak. Alkitab jujur menunjukkan momen ketika iman benar-benar diuji sampai ke titik paling gelap, sebelum ada jawaban apa pun.

Benang Merah

Israel diajarkan sejak Keluaran bahwa TUHAN bukan salah satu ilah di antara ilah-ilah bangsa lain yang bisa dikalahkan dalam pertarungan kekuatan. Dia adalah Pencipta yang berdaulat atas segala bangsa, termasuk atas Asyur sendiri, yang hanya menjadi alat di tangan-Nya, meski Asyur tidak menyadarinya. Pidato sang juru minuman sebenarnya adalah penghujatan, sebab dia menyamakan TUHAN dengan patung-patung sembahan yang mati.

Jauh di kemudian hari, Yesus Kristus berdiri di hadapan pengadilan yang juga tampak berkuasa penuh, Pilatus dengan otoritas Roma di belakangnya. Secara logika dunia, Yesus kalah total, disalibkan, mati, dikubur, selesai. Namun kebangkitan-Nya membuktikan bahwa kekuasaan yang tampak tak terkalahkan di mata manusia bukanlah kata terakhir. Allah yang didiamkan di tembok Yerusalem adalah Allah yang sama yang membangkitkan Yesus Kristus dari kubur. Keheningan di akhir pasal 36 bukan akhir cerita, itu baru jeda sebelum Allah bertindak, sebagaimana kesunyian Sabtu Sunyi sebelum Minggu Paskah.

Untukmu

Kamu akan menghadapi versi modern dari juru minuman ini, entah dalam bentuk argumen filosofis di kelas, komentar sinis di media sosial, atau keraguan yang muncul sendiri saat hidup terasa berat dan doa tampak tidak dijawab. Jangan kaget kalau argumen itu terdengar meyakinkan. Yang penting bukan apakah kamu bisa langsung membantahnya dengan kata-kata pintar, melainkan kepada siapa kamu akhirnya bersandar ketika semua argumen manusia sudah kamu dengar. Hizkia dalam pasal ini belum menjawab apa pun, dia hanya membawa persoalan itu kepada Allah. Itu bukan kelemahan, itu langkah paling waras yang bisa diambil orang yang sungguh percaya.

Mari Bicarakan

Pernahkah kamu mendengar argumen melawan iman yang terasa begitu logis sehingga kamu sendiri sulit menjawabnya? Bagaimana kamu menghadapinya?

Mengapa menurutmu penting bahwa pasal ini berakhir dengan keheningan, bukan dengan jawaban yang langsung memuaskan?

Berdoa Bersama

Tuhan, ada kalanya argumen dunia ini terasa begitu kuat sehingga kami tidak tahu harus menjawab apa. Ajar kami untuk tidak malu diam sejenak dan membawa keraguan kami kepada-Mu, seperti Hizkia yang belum punya jawaban tapi tahu ke mana harus pergi. Ingatkan kami bahwa Engkau bukan sekadar satu pilihan di antara banyak kepercayaan, melainkan Allah yang hidup, yang telah membuktikan diri-Mu dalam kebangkitan Yesus Kristus. Amin.

Bagikan kisah Alkitab ini

Untuk orang tua atau guru lain yang mungkin merasa ini bermanfaat.

WhatsApp Email Facebook X / Twitter

Pertanyaan tentang YESAYA 36

Jawaban singkat bagi siapa saja yang baru pertama kali membaca tentang ini.

Tentang apakah YESAYA 36?
Bayangkan situasinya. Kota Yerusalem terkepung. Semua kota berbenteng lain di Yehuda sudah jatuh ke tangan Asyur, kekuatan militer terbesar pada masanya. Sekarang tinggal Yerusalem sendirian, dan di depan temboknya berdiri seorang pejabat Asyur, kepala juru minuman, didampingi pasukan besar.
Apa yang dikatakan YESAYA 36?
Lalu dia melakukan sesuatu yang lebih licik lagi. Ketika para pejabat Yehuda memintanya berbicara dalam bahasa Aram, bahasa diplomasi, supaya rakyat biasa di atas tembok tidak mengerti dan menjadi takut, dia justru sengaja berteriak dalam bahasa Ibrani.
Apa yang YESAYA 36 ajarkan tentang Tuhan?
Yang membuat pasal ini begitu tajam adalah bahwa argumen sang juru minuman itu masuk akal. Secara militer dia benar. Secara statistik dia benar. Semua kerajaan lain memang sudah jatuh. Dia tidak berbohong tentang fakta, dia hanya salah total tentang siapa Allah Israel sebenarnya. Dia memperlakukan TUHAN seperti salah satu dewa suku yang bisa dihitung dan dikalahkan seperti dewa-dewa Hamat atau Arpad.
Apa yang dapat dipelajari remaja dari YESAYA 36?
Yang menarik, pasal ini tidak memberi jawaban. Hizkia belum bicara. Allah belum bicara. Yang ada hanya keheningan dan pakaian yang terkoyak. Alkitab jujur menunjukkan momen ketika iman benar-benar diuji sampai ke titik paling gelap, sebelum ada jawaban apa pun.
Mengapa YESAYA 36 menjadi kisah Alkitab yang penting?
Jauh di kemudian hari, Yesus Kristus berdiri di hadapan pengadilan yang juga tampak berkuasa penuh, Pilatus dengan otoritas Roma di belakangnya. Secara logika dunia, Yesus kalah total, disalibkan, mati, dikubur, selesai. Namun kebangkitan-Nya membuktikan bahwa kekuasaan yang tampak tak terkalahkan di mata manusia bukanlah kata terakhir.

Yang ditemukan orang lain

Wawasan Editorial pada ayat 5

Rabsakeh berdiri di bawah tembok Yerusalem dan melempar pertanyaan, "Sekarang, kepada siapa engkau bersandar sehingga engkau memberontak melawan aku?" Nada suaranya mengejek, tetapi pertanyaannya justru yang paling penting. Musuh sering tahu titik lemah kita: mulut kita berbicara tentang iman, tetapi hati diam-diam bersandar pada yang lain. Hari ini, kamu sedang bersandar pada siapa?

Mencari yang cocok untuk anak yang lebih kecil?

Kami juga memiliki versi khusus untuk balita (usia 3-5) dan usia sekolah dasar (6-12).

Buka di alat Alkitab Anak