1 KORINTUS 6:19
Teks
Paulus tidak menjelaskan; ia menegur dengan pertanyaan yang menusuk: "Apakah kamu tidak tahu bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus, yang ada di dalam kamu, yang kamu terima dari Allah, dan bahwa dirimu bukanlah milikmu sendiri?" Tiga hal ditumpuk dalam satu kalimat: tubuhmu adalah tempat kediaman Allah sendiri, Roh itu bukan hasil usahamu melainkan pemberian, dan karena itu kamu tidak memegang hak milik atas dirimu sendiri. Ayat berikutnya menutup argumen dengan alasan harga: kamu telah dibeli, jadi pakailah tubuh itu untuk memuliakan Allah. Ini bukan renungan hangat tentang menjaga kesehatan. Ini adalah penutup dari sebuah argumen keras tentang laki-laki Korintus yang tidur dengan pelacur dan merasa itu urusan pribadi mereka sendiri.
Inti
Yang dibongkar Paulus di sini adalah asumsi paling dalam manusia modern maupun kuno: bahwa tubuh saya adalah wilayah kedaulatan saya. Slogan jemaat Korintus terdengar sangat kontemporer, "Semua hal diperbolehkan bagiku" (ayat 12), dan Paulus tidak langsung membantahnya; ia mengungkap bahwa kebebasan tanpa kepemilikan akan berakhir sebagai perbudakan. Injil di sini bukan aturan tambahan, melainkan perpindahan hak milik. Allah tidak hanya mengampuni jiwa lalu menoleransi tubuh; Ia mendiami tubuh itu. Bait Allah di Yerusalem dulu kudus bukan karena batunya istimewa, tetapi karena Allah hadir di sana. Sekarang kehadiran itu berpindah ke daging dan darah orang-orang biasa. Maka pertanyaan etis Kristen tidak pernah "apa hakku", melainkan "milik siapa aku, dan apa yang Pemilikku kerjakan lewat tubuh ini hari ini".
Benang Merah
Kata "bait" bukan kiasan yang dipilih asal-asalan. Sepanjang Perjanjian Lama, seluruh cerita bergerak ke arah satu pertanyaan: di mana Allah tinggal di tengah umat-Nya? Kemah Suci di padang gurun, lalu bait di Yerusalem, dengan tirai, darah, dan imam yang gemetar. Lalu datang Yesus, yang menyebut tubuh-Nya sendiri sebagai bait yang akan dirobohkan dan dibangun kembali dalam tiga hari. Salib dan kebangkitan itulah yang membuat kalimat Paulus mungkin. Perhatikan ayat 14: "Allah membangkitkan Tuhan dan juga akan membangkitkan kita oleh kuasa-Nya." Tubuhmu bukan cangkang sementara yang akan dibuang; ia punya masa depan. Kekudusan yang dulu terkurung di balik tirai kini beredar di jalan, di kantor, di tempat tidur orang percaya.
Cermin
Kalimat ini menyakitkan justru di titik-titik yang kita anggap wilayah pribadi. Apa yang kaubuka di ponsel setelah rumah sepi. Bagaimana kau memakai tubuhmu untuk mengejar target kerja sampai tubuh itu rusak, lalu menyebutnya pengorbanan. Cara kau menghukum tubuhmu di depan cermin karena bentuknya tidak sesuai standar orang lain, seakan Allah yang mendiaminya punya selera yang sama. Uang yang kaupakai, waktu yang kaubakar, sentuhan yang kauberikan atau kautahan dari pasanganmu. Paulus tidak berkata "kendalikan dirimu lebih keras". Ia berkata: kau bukan pemiliknya. Itu melegakan sekaligus melucuti. Malam ini, sebelum tidur, letakkan ponselmu di ruangan lain, lalu ucapkan dengan suara keras di kamarmu: "Tubuh ini bukan milikku, Tuhan; Engkau yang membelinya." Selesai dalam dua menit, dan hening yang tertinggal akan mengajarmu sesuatu.
Intertekstualitas
Tiga pasal sebelumnya Paulus sudah memakai gambar yang sama, tetapi untuk jemaat sebagai satu tubuh: kalian bersama-sama adalah bait Allah. Di pasal 6 ia menyempitkannya sampai menyakitkan: bait itu adalah tubuhmu, satu orang, dengan kebiasaannya yang tersembunyi. Yang komunal dan yang pribadi tidak bisa dipisahkan. Lalu ada kutipan Kejadian di ayat 16, "Keduanya akan menjadi satu daging." Paulus memakai kalimat pernikahan itu untuk menerangkan seks dengan pelacur, dan justru di situ letak tamparannya: tidak ada persetubuhan yang "tidak berarti apa-apa". Tubuh selalu mengikat. Karena itu Roma 12 memanggil kita mempersembahkan tubuh sebagai ibadah; bukan jiwa saja, tubuh, dengan tangan dan jadwal dan seleranya.
Detail
Kata yang dipakai Paulus untuk "bait" adalah naos, bukan istilah untuk kompleks bait secara umum. Naos berarti ruang paling dalam, tempat kehadiran Allah sendiri, ruang yang hanya dimasuki imam besar setahun sekali dengan darah. Bukan pelataran, bukan halaman, bukan bangunan pinggiran. Itulah yang Paulus katakan tentang tubuh orang Korintus yang baru saja ia sebut pemabuk, pencuri, orang serakah di ayat 9 sampai 11. Kaki yang berjalan ke rumah pelacur adalah kaki yang sama yang membawa ruang mahakudus ke sana. Bukan heran kalau Paulus tidak menawarkan argumen moral yang halus, melainkan satu perintah pendek di ayat 18: "Hindarilah perzinaan!" Dari naos orang tidak berdebat; orang menjauh.
Profil
Di Korintus, kota pelabuhan dengan arus pelaut dan pedagang, memakai jasa pelacur dianggap sewajar mampir makan. Filsafat populer mendukungnya: perut untuk makanan, tubuh untuk kebutuhannya, jiwalah yang penting. Dan sebagian pembaca surat ini adalah budak, orang yang setiap hari tahu persis rasanya tubuh menjadi milik orang lain, dipakai sesuka tuan. Ketika mereka mendengar "dirimu bukanlah milikmu sendiri" dan "kamu telah ditebus dengan harga lunas", mereka mendengar bahasa pasar budak, bahasa uang tebusan yang membuat seseorang berpindah tuan. Untuk mereka ini bukan penindasan baru melainkan pembebasan: Tuan yang membeli mereka membayar dengan diri-Nya sendiri, dan tidak memakai tubuh mereka, melainkan mendiaminya.
Refleksi
Bagian tubuhmu yang mana yang paling kauperlakukan seolah masih milikmu sendiri, dan apa yang berubah kalau Roh Kudus tinggal di sana?
Kalau "harga lunas" itu benar, keputusan konkret apa minggu ini yang sebenarnya bukan hakmu untuk diambil sendiri?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang 1 Corinthians 6:19
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti 1 KORINTUS 6:19?
Tentang apakah 1 KORINTUS 6:19?
Apa konteks historis dari 1 KORINTUS 6:19?
Apa yang 1 KORINTUS 6:19 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana 1 KORINTUS 6:19 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang 1 Corinthians 6
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Bapa, aku tahu siapa aku dulu, dan Engkau tetap membasuh, menguduskan, dan membenarkan aku. Tolong aku hidup dari kenyataan itu hari ini, bukan dari rasa malu yang lama. Terima kasih untuk kasih yang tidak menyerah atasku.
Mengapa kamu menempatkan mereka yang tidak dianggap apa-apa oleh jemaat sebagai hakim?" Jemaat Korintus punya perselisihan, dan yang mereka cari justru panggung di luar. Kepada siapa kamu bawa lukamu lebih dulu? Kadang lebih mudah percaya orang asing menilai perkaramu daripada saudara yang sama-sama ditebus Kristus.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi