1 SAMUEL 2
Teks Itu Sendiri
Hana, perempuan yang dulu mandul dan diejek, berdiri di Silo dan menyanyikan pujian tentang Allah yang membalikkan segala sesuatu: busur pahlawan patah, orang mandul melahirkan tujuh anak, orang miskin didudukkan bersama bangsawan. Sesudah itu ia pulang, meninggalkan Samuel kecil melayani di bawah Imam Eli. Pasal ini lalu memperlihatkan kontras yang tajam: anak-anak Eli merampas daging kurban dan mencemarkan tempat kudus, sementara Samuel bertumbuh, dan seorang abdi Allah datang mengumumkan bahwa keluarga imam itu akan dipatahkan.
Inti
Bayangkan bau Silo: asap lemak yang terbakar, darah di batu mazbah, kerumunan orang yang datang sekali setahun dengan kurban terbaik mereka. Ke dalam bau itu masuklah garpu bergigi tiga, dicucukkan ke dalam kuali milik keluarga-keluarga miskin, sebelum lemaknya dibakar bagi Allah. Itu bukan sekadar pencurian daging. Itu pernyataan bahwa imam lebih dulu daripada Allah. Dan justru di situlah nyanyian Hana menjadi lebih dari puisi indah: "TUHAN membuat miskin dan menjadikan kaya. Dia merendahkan, juga meninggikan." Pasal ini menegaskan bahwa Allah bukan penonton dalam sistem kekuasaan manusia. Dia menimbang. Dia membalikkan. Jabatan suci tidak memberi kekebalan; justru sebaliknya, semakin dekat seseorang pada mazbah, semakin serius pertanggungjawabannya.
Benang Merah
Ayat 10 mengejutkan bila kita ingat kapan ini diucapkan: belum ada raja di Israel, belum ada Saul, apalagi Daud. Namun Hana bernyanyi bahwa TUHAN "akan memberi kekuatan kepada raja dan meninggikan tanduk orang yang diurapi-Nya." Kata "yang diurapi" dalam bahasa Ibrani adalah masyiakh, mesias. Seorang ibu dari desa kecil membuka kitab yang akan berakhir pada takhta Daud, dan pada akhirnya menunjuk jauh melampauinya. Janji tentang "imam yang setia, yang akan melakukan apa yang dikehendaki hati-Ku" mula-mula digenapi lewat garis Zadok, tetapi pola itu tidak pernah benar-benar tuntas dalam sejarah Israel; setiap imam mati, setiap dinasti membusuk. Perjanjian Baru mengambil benang yang sama dan menariknya sampai ke Kristus: Imam yang tidak pernah menggemukkan diri dengan bagian umat-Nya, melainkan memberikan diri-Nya sendiri sebagai kurban.
Cermin
Pertanyaan Eli kepada anak-anaknya menusuk lebih dalam daripada yang biasa kita rasakan: "Jika seseorang berdosa terhadap orang lain, Allah akan mengadilinya. Jika seseorang berbuat dosa kepada TUHAN, siapakah yang akan menjadi perantaranya?" Eli tahu teologinya. Ia hanya tidak pernah bertindak. Teguran lisan tanpa konsekuensi, dan Allah menyebutnya dengan nama yang telanjang: "Mengapa kamu menghormati anak-anakmu melebihi Aku." Itu bukan dosa orang kasar. Itu dosa orang baik yang tidak tega. Mungkin Anda mengenalnya: karyawan yang tidak pernah Anda tegur karena hubungannya penting bagi Anda, anak yang perilakunya Anda bela di depan orang lain padahal Anda tahu kebenarannya, uang gereja atau kantor yang batas-batasnya perlahan mengabur karena Anda merasa berhak. Kelembutan yang tidak berani mengoreksi bukanlah kasih; ia hanya kenyamanan yang menyamar.
Profil
Pendengar pertama kisah ini hidup jauh setelah Silo hancur, mungkin di masa kerajaan atau sesudahnya, dan mereka tahu bagaimana ceritanya berakhir. Mereka mendengar nama Hofni dan Pinehas dan sudah tahu bahwa Tabut akan direbut orang Filistin. Bagi mereka, pasal ini menjelaskan sesuatu yang menyakitkan: mengapa pusat ibadah bangsa mereka runtuh. Jawabannya bukan bahwa Allah lemah di hadapan dewa-dewa Filistin, melainkan bahwa Allah sendiri membersihkan rumah-Nya. Mereka juga mendengar sesuatu yang lebih halus. Jubah kecil yang setiap tahun dijahit Hana untuk anaknya adalah detail yang tidak perlu secara teologis, tetapi menyentuh siapa pun yang pernah menyerahkan seseorang yang dikasihi. Bangsa yang kehilangan Bait Allah tahu rasanya kasih yang tetap menjahit walau tangan sudah kosong.
Pertanyaan
Ayat 25 mengganjal dan seharusnya memang mengganjal: mereka tidak mendengarkan ayah mereka, "sebab TUHAN ingin membunuh mereka." Apakah Allah menutup pintu pertobatan lalu menghukum karena pintu itu tertutup? Teks tidak memberi kita jalan keluar yang rapi. Yang bisa dikatakan dengan jujur: bahasa Ibrani di sini menggambarkan titik ketika pengerasan hati yang berlangsung lama menjadi penghakiman itu sendiri, seperti pada Firaun. Ada saat ketika penolakan yang diulang-ulang berubah menjadi ketidakmampuan. Kapan garis itu terlewati, kita tidak tahu, dan justru ketidaktahuan itulah yang seharusnya membuat kita tidak menunda. Teks ini bukan undangan untuk menghitung siapa yang sudah melewati batas; ia peringatan agar kita tidak bermain-main di dekatnya.
Kaitan dengan Bagian Lain
Nyanyian Maria di Lukas 1 hampir merupakan gema langsung dari nyanyian Hana: penguasa diturunkan dari takhta, orang lapar dikenyangkan. Maria jelas mengenal kata-kata Hana, dan dengan mengulangnya ia mengatakan bahwa apa yang terjadi pada rahim seorang perempuan dari desa kecil adalah tanda dari pembalikan besar yang sedang Allah kerjakan atas dunia. Bandingkan pula dengan Ibrani 7, yang berbicara tentang imam yang tidak perlu mempersembahkan kurban bagi dosanya sendiri. Hofni dan Pinehas adalah kebalikannya yang gelap: imam yang justru memakan kurban umat. Di antara keduanya terbentang seluruh kerinduan Perjanjian Lama akan perantara yang bersih.
Renungan
Di bagian hidup mana Anda, seperti Eli, sudah tahu apa yang benar tetapi memilih menegur dengan suara yang terlalu pelan untuk mengubah apa pun?
Nyanyian Hana memuji Allah yang membalikkan keadaan. Apakah Anda memuji-Nya karena Dia sudah membalikkan keadaan Anda, atau juga ketika Anda masih berada di sisi yang direndahkan?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang 1 Samuel 2
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti 1 SAMUEL 2?
Tentang apakah 1 SAMUEL 2?
Apa konteks historis dari 1 SAMUEL 2?
Apa yang 1 SAMUEL 2 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana 1 SAMUEL 2 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang 1 Samuel 2
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Dulu anak-anak Eli merampas daging terbaik dengan garpu, tidak sabar menunggu bagian Tuhan. Kini keturunan mereka memohon: "Tempatkanlah aku dalam salah satu jabatan imam supaya aku dapat makan sepotong roti." Yang direbut dengan paksa berakhir jadi kepingan yang diminta. Tanyakan pada dirimu hari ini: pelayananmu, kamu pakai untuk mengasihi Tuhan, atau sekadar mengisi perut?
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
