2 RAJA-RAJA 8
Nas
Elisa memperingatkan perempuan Sunem tentang kelaparan tujuh tahun; ia mengungsi ke tanah Filistin dan, ketika kembali, tanahnya dipulihkan oleh raja tepat saat Gehazi menceritakan mukjizat kebangkitan anaknya. Lalu Elisa pergi ke Damsyik, menangis di hadapan Hazael karena melihat kekejaman yang akan datang, dan Hazael membunuh tuannya sendiri untuk merebut takhta. Pasal ditutup dengan Yoram dan Ahazia, dua raja Yehuda yang berjalan di jalan keluarga Ahab, sementara TUHAN tetap memelihara "pelita" bagi Daud.
Inti
Pasal ini adalah tenunan aneh: mukjizat pemulihan bersanding dengan nubuat pembantaian, kesetiaan Allah kepada janji-Nya bersanding dengan kejahatan raja-raja Yehuda. Yang mengikat semuanya adalah satu kalimat pendek di ayat 19: "TUHAN tidak mau memusnahkan Yehuda karena Daud, hamba-Nya. TUHAN telah berjanji akan memberikan sebuah pelita kepada Daud dan kepada keturunannya sampai selama-lamanya." Di tengah dunia yang berputar liar, di mana nabi menangis dan raja dibunuh dengan selimut basah, ada satu titik terang yang tidak dipadamkan Allah. Bukan karena Yehuda pantas, sebab Yoram dan Ahazia jelas-jelas tidak pantas, melainkan karena Allah setia pada janji-Nya sendiri. Inilah anugerah dalam bentuknya yang paling telanjang: penopang keselamatan bukan ketaatan manusia, melainkan sumpah Allah.
Benang Merah
"Pelita bagi Daud" itu bukan metafora yang lewat begitu saja. Ia adalah janji yang bermula di 2 Samuel 7, ketika Allah bersumpah bahwa takhta Daud akan kekal. Sepanjang Kitab Raja-Raja, penulis terus mengingatkan bahwa pelita itu belum padam, meski angin kencang menerpanya berulang kali. Yoram menikahi anak perempuan Ahab, garis keturunan bercampur dengan garis paling gelap di Israel, dan pelita itu nyaris tertiup. Namun Allah menjaganya. Berabad-abad kemudian, Zakharia menyanyikan bahwa Allah "telah membangkitkan tanduk keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud, hamba-Nya" (Lukas 1). Pelita yang bertahan melewati Yoram, Ahazia, Atalya, dan akhirnya pembuangan Babel, itulah yang menyala penuh dalam Yesus. Kalau pasal ini tidak bertahan, Natal tidak pernah terjadi.
Cermin
Ada sesuatu yang menyayat dalam ayat 11 sampai 13. Elisa menatap Hazael sampai orang itu malu, lalu menangis. Ia melihat apa yang akan dilakukan orang di hadapannya: benteng dibakar, pemuda dibunuh, bayi diremukkan, perempuan mengandung dibelah. Dan Hazael menjawab dengan kalimat yang paling menipu diri dalam Perjanjian Lama: "Apakah hambamu ini selain daripada anjing, sehingga dapat melakukan hal yang hebat itu?" Ia menyebut kekejaman itu "hebat." Ia tidak percaya dirinya mampu, sampai kesempatan itu datang esok harinya dengan selimut basah di tangannya. Kita lebih mirip Hazael daripada yang kita akui. Kita tidak jatuh karena tiba-tiba menjadi orang lain, kita jatuh karena akhirnya menjadi seperti yang selama ini kita sangkal. Ambisi yang belum diuji selalu terlihat kecil. Kepada bidang apa dalam hidupmu, karier, keluarga, uang, kamu berkata "aku tidak akan pernah begitu"?
Profil
Pembaca pertama kitab ini kemungkinan besar adalah orang buangan di Babel, atau komunitas yang baru saja kembali. Mereka membaca daftar raja jahat dan bertanya-tanya: mengapa kami di sini? Mengapa Yerusalem jatuh? Penulis dengan sabar menunjukkan: kalian jatuh karena para raja seperti Yoram dan Ahazia, generasi demi generasi. Tetapi ia juga menunjukkan sesuatu yang lain: pelita Daud tidak padam. Bagi orang buangan yang meratapi runtuhnya bait Allah, kalimat ayat 19 itu adalah tali penyelamat. Allah masih memegang janji-Nya, bahkan ketika sejarah tampak seperti daftar kekalahan. Mereka mendengar dalam pasal ini bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan alasan untuk berharap pada masa depan.
Pertanyaan
Yang mengganggu adalah ayat 10. Elisa menyuruh Hazael mengatakan kepada Benhadad, "Engkau pasti akan sembuh," padahal ia tahu Benhadad akan mati. Apakah nabi menyuruh berbohong? Dan lebih dalam lagi: Allah memperlihatkan kepada Elisa bahwa Hazael akan menjadi raja, lalu Hazael pulang dan membunuh tuannya. Apakah pengetahuan ilahi membuat Allah terlibat dalam kejahatan itu? Teks tidak menyelesaikannya untuk kita. Yang jelas: Allah melihat lebih jauh daripada Hazael sendiri, dan Ia menangis melalui air mata Elisa sebelum kekejaman itu terjadi. Allah tidak dingin terhadap darah yang akan tumpah. Namun Ia juga tidak menghentikannya. Ada misteri di sini tentang bagaimana kedaulatan Allah dan kejahatan manusia berjalan berdampingan tanpa Allah menjadi sumber kejahatan itu. Kita tidak akan menyelesaikannya di sisi ini.
Konteks
Kita berada di abad kesembilan sebelum Masehi. Kerajaan sudah lama terpecah dua: Israel di utara dengan dinasti Ahab yang bejat, Yehuda di selatan dengan garis Daud yang tercemar melalui pernikahan politik. Atalya, putri Ahab dan Izebel, kini menjadi ibu suri di Yerusalem, dan pengaruhnya akan menghancurkan hampir seluruh garis Daud dalam pasal-pasal berikutnya. Aram di utara-timur adalah kekuatan militer yang mengancam terus-menerus. Hazael yang naik takhta di sini akan menjadi salah satu musuh paling kejam yang pernah dihadapi Israel. Elisa bergerak melintasi perbatasan-perbatasan ini dengan otoritas yang aneh: ia berbicara kepada perempuan Sunem, kepada raja Israel, kepada raja Aram. Firman TUHAN tidak terikat oleh peta politik.
Refleksi
*Di mana dalam hidupmu kamu, seperti Hazael, meremehkan apa yang mampu kamu lakukan bila kesempatan tiba? Apa yang perlu kam
Pertanyaan yang sering diajukan tentang 2 Kings 8
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti 2 RAJA-RAJA 8?
Tentang apakah 2 RAJA-RAJA 8?
Apa konteks historis dari 2 RAJA-RAJA 8?
Apa yang 2 RAJA-RAJA 8 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana 2 RAJA-RAJA 8 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang 2 Kings 8
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau memperlihatkan kepada Elisa apa yang tersembunyi di balik kata kata Hazael. Tidak ada yang luput dari pandangan-Mu. Aku bersyukur hidupku ada di tangan Pribadi yang tahu akhir dari segala sesuatu, dan tetap memelihara aku hari ini.
Bapa, terima kasih karena Engkau tidak pernah lupa pada apa yang telah hilang dari hidupku. Engkau memulihkan bukan hanya sebagian, tetapi juga hasil dari tahun-tahun yang terasa sia-sia. Ajar aku percaya bahwa waktu-waktu sulit itu pun ada dalam tangan-Mu.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
