ZAKHARIA 12
Teks
Firman ini dibuka dengan Allah yang membentangkan langit dan "menciptakan roh di dalam manusia" (ayat 1), lalu Ia mengumumkan sesuatu yang aneh: Yerusalem akan dijadikan cawan yang memabukkan bangsa-bangsa dan "batu pikulan" yang melukai parah siapa pun yang mencoba mengangkatnya. Allah mengacaukan kuda-kuda musuh, menjadikan kaum-kaum Yehuda seperti periuk api di tengah kayu bakar, dan melindungi Yerusalem sampai orang yang paling lemah pun menjadi seperti Daud. Kemudian, tepat setelah kemenangan itu, arah cerita berbalik ke dalam: Allah mencurahkan "roh kasih karunia dan roh permohonan", dan umat memandang kepada Dia yang telah mereka tikam, lalu meratap keluarga demi keluarga, seperti orang kehilangan anak tunggal.
Inti
Perhatikan urutannya, karena di situlah letak seluruh bobot pasal ini. Allah lebih dulu menyelesaikan perkara di luar: pengepungan, kuda, pedang, bangsa-bangsa. Tetapi kemenangan itu ternyata bukan akhir. Sesudah kota selamat, Allah mulai bekerja pada apa yang paling sulit ditembus, yaitu hati umat-Nya sendiri. Dan cara kerja-Nya bukan dengan ancaman melainkan dengan curahan: roh kasih karunia. Hasilnya bukan sorak-sorai, melainkan ratapan. Ini melawan hampir semua naluri agamawi kita. Kita cenderung berpikir tangis dulu, baru anugerah; Zakharia mengatakan sebaliknya. Kasih karunia itulah yang membuka mata, dan mata yang terbuka melihat bahwa musuh terbesar Yerusalem bukan bangsa-bangsa di luar gerbang, melainkan tangan mereka sendiri yang menikam Allah mereka.
Benang Merah
Yohanes mengutip ayat 10 ketika ia menggambarkan lambung Yesus ditusuk tombak di kayu salib, dan Kitab Wahyu memakainya lagi untuk hari Ia datang kembali. Bukan kebetulan penginjil melihat kaitan itu: teks Zakharia sendiri sudah menyimpan ketegangan yang hanya salib bisa tampung. Tuhan berbicara sebagai "Aku" dan sekaligus sebagai yang ditikam, dan ratapan itu ditujukan kepada "dia", anak tunggal. Sepanjang Perjanjian Lama, umat berulang kali diselamatkan dari luar; di sini dijanjikan penyelamatan yang menembus ke dalam, dan itu terjadi lewat luka Allah sendiri. Keturunan Daud yang dijanjikan menjadi "seperti Allah" (ayat 8) akhirnya berpuncak pada satu keturunan Daud yang benar-benar Allah, dan yang justru menang dengan cara ditikam.
Cermin
Ayat 7 adalah ayat yang paling tidak nyaman di pasal ini: Tuhan menyelamatkan kemah-kemah Yehuda, kampung-kampung kecil di pedalaman, lebih dulu, supaya kemuliaan Yerusalem "tidak terlalu memegahkan diri". Allah mengatur giliran pertolongan-Nya untuk mematahkan kesombongan pusat. Anda mungkin bukan Yerusalem, tetapi Anda tahu rasanya ingin menjadi orang yang paling dibutuhkan: di kantor, di rumah, di kelompok yang Anda pimpin. Ingin menjadi yang menyelamatkan, bukan yang diselamatkan. Dan Allah kadang menolong justru lewat orang yang Anda anggap kurang matang, kurang berbobot, kurang rohani, dan itu terasa seperti penghinaan halus. Lalu ayat 8: yang paling lemah akan menjadi seperti Daud. Kekuatan Anda tidak diperlukan-Nya; kelemahan orang lain tidak menghalangi-Nya.
Detail
Ratapan di ayat 12 sampai 14 digambarkan dengan cara yang hampir mengganggu: "setiap kaum keluarga tersendiri dan istri-istri mereka tersendiri". Keturunan Daud sendiri. Keturunan Lewi sendiri. Kaum Simei sendiri. Bangsawan, imam, dan orang biasa, masing-masing terpisah, bahkan suami dan istri tidak meratap bersama. Ini bukan ibadah massal dengan musik yang menghanyutkan. Zakharia menggambarkan pertobatan yang tidak bisa disembunyikan di balik kerumunan. Anda bisa menyanyi keras di kebaktian tanpa tersentuh sedikit pun; Anda tidak bisa meratap sendirian di kamar tanpa berhadapan dengan diri sendiri. Dan justru pemisahan itu yang menandakan ratapan ini sungguhan: bukan solidaritas sosial, bukan gelombang emosi bersama, melainkan setiap orang mengakui bahwa tangannya sendiri ikut menikam.
Pertanyaan
Siapa yang ditikam? Tuhan berkata "mereka akan memandang kepada-Ku, yang sudah mereka tikam", lalu langsung beralih: "akan meratapi dia". Aku dan dia dalam satu tarikan napas. Teks ini tidak menjelaskannya, dan kita sebaiknya tidak buru-buru menutup celah itu dengan rumus doktrinal yang rapi. Yang tersisa adalah pernyataan yang mengerikan: Allah yang membentangkan langit mengatakan bahwa umat-Nya menusuk Dia. Bukan mengecewakan, bukan mengabaikan, tetapi menikam. Dan yang menikam bukan bangsa-bangsa musuh dari ayat 3, melainkan keturunan Daud dan penduduk Yerusalem, orang-orang perjanjian, orang-orang gereja. Jika Anda mencari jarak yang aman dari kalimat ini, pasal ini tidak menyediakannya. Yang disediakannya hanya satu: roh kasih karunia yang lebih dulu dicurahkan sebelum mata terbuka.
Tokoh Utama
Allah dalam pasal ini bukan penonton yang jauh. Ia membentangkan langit dan Ia juga membentuk roh di dalam manusia, artinya Ia sama akrab dengan galaksi dan dengan isi kepala Anda pukul tiga pagi. Ia bertempur dengan keras: kuda dibingungkan, penunggang digilakan, bangsa-bangsa dimusnahkan. Tetapi Ia juga menahan diri terhadap umat-Nya sendiri dengan cara yang mengharukan, mengatur urutan pertolongan-Nya agar mereka tidak rusak oleh kebanggaan. Dan puncaknya: Ia rela dipandang sebagai yang tertikam. Allah yang bisa saja menuntut takut malah membuka jalan bagi tangis. Ia lebih ingin diratapi seperti anak tunggal daripada ditakuti seperti benteng. Itulah wajah yang kemudian tergantung di Golgota, dan yang masih memandang Anda hari ini.
Refleksi
Di bagian hidup mana Anda diam-diam ingin menjadi Yerusalem, pusat yang menyelamatkan orang lain, dan bagaimana Allah sedang mematahkan itu lewat pertolongan yang datang dari arah yang tidak Anda hormati?
Kapan terakhir kali Anda meratap "tersendiri", bukan bersama kerumunan, atas dosa yang Anda sendiri tahu namanya?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Zechariah 12
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti ZAKHARIA 12?
Tentang apakah ZAKHARIA 12?
Apa konteks historis dari ZAKHARIA 12?
Apa yang ZAKHARIA 12 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana ZAKHARIA 12 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Zechariah 12
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau memberi tempat bagi perkabungan yang sangat pribadi: kaum keluarga Lewi tersendiri, kaum keluarga Simei tersendiri, bahkan istri-istri mereka tersendiri. Engkau tidak menuntut air mata yang seragam. Engkau melihat setiap keluarga, setiap hati, satu per satu.
Yerusalem saat itu bukan kekuatan besar. Kota kecil, terkepung, nyaris habis. Namun Tuhan berkata, "Ketahuilah, Aku akan membuat Yerusalem menjadi cawan yang membuat pusing semua bangsa di sekelilingnya." Yang membuat musuh goyah bukan tebalnya tembok, melainkan siapa yang berdiri di dalam kota itu. Kamu merasa terkepung hari ini? Jangan lupa menghitung Dia juga.
Tuhan, kekuatan yang membuatku gentar tidak sebanding dengan Engkau. Saat aku merasa kecil dan terancam, ingatkan aku bahwa mata-Mu tetap terbuka atasku. Jagalah hatiku agar tidak ikut panik, tetapi tenang karena Engkau yang berjaga.
Sebelum berbicara tentang pengepungan dan pertolongan, TUHAN memperkenalkan diri-Nya: "yang membentangkan langit dan meletakkan dasar bumi, serta yang membentuk roh manusia di dalam dirinya." Tangan yang sama yang merentangkan langit juga membentuk bagian terdalam dirimu, yang tak seorang pun lihat. Ia tahu isinya. Dan Ia tetap berjanji menolong.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
