KEJADIAN 45
Teks
Yusuf tidak tahan lagi. Ia mengusir semua pegawai Mesir dari ruangan itu, lalu menangis begitu keras sampai terdengar sampai ke istana Firaun, dan berkata kepada sepuluh orang yang dulu menjualnya: "Akulah Yusuf! Apakah ayahku masih hidup?" Mereka terpaku, tak sanggup menjawab, ngeri melihat siapa yang berdiri di hadapan mereka. Yusuf menyuruh mereka mendekat, menyebut dosa mereka terang-terangan ("yang telah kalian jual ke Mesir"), dan dalam napas yang sama menafsirkan ulang seluruh peristiwa itu: Allah yang mengutusnya mendahului mereka untuk memelihara kehidupan. Firaun ikut bersukacita, menyediakan kereta dan tanah terbaik. Dan di Kanaan, hati tua Yakub yang sudah dingin bangkit kembali ketika ia melihat kereta-kereta itu: "Sudah cukup! Anakku, Yusuf, masih hidup!"
Inti
Perhatikan apa yang tidak dilakukan Yusuf. Ia tidak berkata bahwa penjualan itu tidak terlalu buruk, tidak berkata bahwa saudara-saudaranya sebenarnya bermaksud baik, tidak memperhalus apa pun. Kalimatnya justru menyebut kejahatan itu dengan nama aslinya. Baru sesudah itu ia berkata: "bukan kalian yang telah mengutus aku ke sini, melainkan Allah." Dua kebenaran berdiri berdampingan tanpa saling membatalkan: manusia benar-benar bersalah, dan Allah benar-benar memerintah. Inilah jantung teologis pasal ini, dan ini bukan permainan logika, melainkan satu-satunya cara untuk tetap waras di dunia yang retak.
Kata yang dipakai Yusuf untuk tujuan Allah terasa jauh lebih besar daripada persediaan gandum: "untuk memelihara kehidupan," "untuk kelanjutanmu di bumi ini," "melalui pembebasan besar." Dalam bahasa Ibrani, kata di balik "pembebasan besar" (peleitah) berarti sisa yang luput, kelompok kecil yang selamat ketika yang lain binasa. Itu kosakata keselamatan, bukan kosakata ekonomi. Yang dipertaruhkan bukan perut dua belas keluarga, melainkan kelangsungan perjanjian yang pernah diucapkan kepada Abraham. Kelaparan tujuh tahun itu nyaris memadamkan benih yang kepadanya seluruh bangsa akan diberkati. Jadi anugerah di sini bukan sekadar Yusuf yang baik hati kepada orang yang jahat kepadanya; anugerah di sini adalah Allah yang menolak membiarkan janji-Nya mati kelaparan, bahkan ketika para pewaris janji itu sendiri yang hampir membunuhnya.
Benang Merah
Yusuf dijual oleh saudara-saudaranya, diturunkan ke tempat yang mirip kubur, lalu diangkat menjadi penguasa yang memegang hidup dan mati mereka. Ketika akhirnya ia berdiri di hadapan mereka, yang keluar bukan hukuman melainkan undangan: "Ayo, mendekatlah kepadaku." Pola itu terlalu dalam untuk disebut kebetulan. Yang ditolak menjadi yang menyelamatkan; yang disingkirkan menjadi satu-satunya pintu kehidupan. Perjanjian Baru memakai bahasa yang sama ketika Petrus berkata tentang Yesus bahwa batu yang dibuang tukang bangunan justru menjadi batu penjuru. Bedanya tajam dan perlu dijaga: Yusuf memelihara tubuh yang lapar, Kristus menanggung dosa itu sendiri. Tetapi arah geraknya satu, dan arah itu berasal dari Allah yang sama.
Cermin
Ada orang yang namanya membuat perut Anda mengencang: rekan kerja yang menjatuhkan Anda di rapat, saudara yang merebut warisan, orang tua yang pergi. Teks ini tidak meminta Anda berkata bahwa itu tidak apa-apa. Yusuf tidak pernah mengatakan itu. Ia menyebut penjualan itu penjualan. Yang ia lakukan adalah menolak memberi luka itu kata terakhir, karena ada Tangan lain yang bekerja di atas tangan-tangan kotor itu. Dan perhatikan ketakutan di sisi lain: saudara-saudara itu "ngeri", lumpuh oleh rasa bersalah yang dua puluh tahun mereka pendam. Mungkin Anda berdiri di sana, bukan sebagai korban melainkan pelaku. Hari ini, tulislah di secarik kertas satu kalimat jujur tentang hal yang pernah Anda lakukan dan belum pernah Anda sebut dengan nama aslinya, lalu ucapkan kalimat itu kepada Allah dengan suara keras.
Tokoh Utama
Yusuf bukan orang yang dingin dan terkendali. Pasal ini justru dibuka dengan hilangnya kendali: ia tidak sanggup lagi menguasai diri, dan tangisnya terdengar sampai ke istana. Seorang perdana menteri menangis sekeras itu bukan pemandangan yang pantas di Mesir. Namun di balik air mata itu ada iman yang sudah lama diasah di penjara, iman yang sanggup menafsirkan dua puluh tahun pahit tanpa kebohongan dan tanpa kepahitan. Ia juga realistis sampai lucu: "Jangan bertengkar dalam perjalanan." Ia tahu persis siapa saudara-saudaranya. Pengampunan di sini bukan kepercayaan naif terhadap manusia, melainkan kepercayaan tegar terhadap Allah yang memakai manusia seperti ini.
Detail
Yakub mendengar kabar bahwa Yusuf hidup, dan hatinya "tetap dingin". Kata-kata tidak menembusnya; terlalu banyak harapan yang sudah mati di dalam dirinya. Yang membangkitkan semangatnya bukan argumen, melainkan kereta-kereta itu, barang Mesir yang berderit di halaman, bukti yang bisa disentuh. Allah tahu bahwa hati yang sudah lama berkabung tidak dipulihkan oleh informasi. Karena itu Ia memberi tanda yang kelihatan. Di sinilah letak logika sakramen: roti dan anggur yang diberikan kepada orang percaya yang hatinya terlalu lelah untuk sekadar diyakinkan oleh kata-kata. Allah merendahkan diri sampai ke tingkat gerobak kayu, supaya seorang tua yang patah bisa berkata, "Sudah cukup!"
Pertanyaan
Kalau Allah yang mengutus Yusuf, apakah dosa saudara-saudaranya menjadi bagian dari rencana-Nya, dan apakah itu tidak membuat Allah terlibat dalam kejahatan? Teks tidak menyelesaikan ketegangan itu untuk kita; teks justru menahannya dengan sengaja, dalam satu napas. Yusuf tidak berkata Allah menyuruh mereka berbuat jahat. Ia berkata Allah mengutus dirinya. Kedaulatan Allah bekerja melalui kejahatan tanpa pernah menjadi kejahatan, dan Alkitab tidak pernah memberi kita diagram tentang caranya. Yang berbahaya adalah memakai kebenaran ini terlalu cepat terhadap luka orang lain. Yusuf boleh mengatakannya tentang penderitaannya sendiri, sesudah dua puluh tahun. Itu pengakuan iman dari dalam, bukan penjelasan yang dilemparkan dari luar.
Refleksi
Peristiwa pahit mana dalam hidup Anda yang masih Anda ceritakan hanya dengan satu pelaku, yaitu manusia yang melukai Anda, dan belum pernah Anda ceritakan dengan Allah di dalamnya?
Jika seseorang hari ini berkata "mendekatlah" kepada Anda, seperti Yusuf kepada saudara-saudaranya, apa yang membuat Anda ngeri untuk melangkah maju?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Genesis 45
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti KEJADIAN 45?
Tentang apakah KEJADIAN 45?
Apa konteks historis dari KEJADIAN 45?
Apa yang KEJADIAN 45 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana KEJADIAN 45 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Genesis 45
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Hal itu menyenangkan hati Firaun dan para pegawainya." Yusuf tidak menyembunyikan saudara-saudaranya. Orang-orang yang pernah menjualnya kini ia sebut keluarga di depan seluruh istana. Dan anehnya, berita itu membuat orang Mesir ikut bersukacita. Pengampunan yang kautunjukkan diam-diam ternyata terdengar jauh. Siapa yang masih kausembunyikan karena malu?
Terima kasih, Tuhan, untuk Yusuf yang berkata, "Mendekatlah kepadaku," kepada saudara-saudara yang pernah menjualnya. Engkau mengajar kami memanggil mendekat orang yang melukai kami, menyebut luka itu dengan jujur, namun tetap membuka tangan untuk memeluk.
Bapa, Engkau sanggup mengubah luka yang paling dalam menjadi jalan penyelamatan. Ajar aku percaya bahwa Engkau sedang bekerja, bahkan saat aku tidak mengerti. Dan berilah aku keberanian untuk mengundang pulang orang yang sudah lama terpisah dariku.
Yusuf dulu dijual saudara-saudaranya seharga dua puluh keping perak. Kini ia mengirim dua puluh keledai bermuatan penuh untuk ayahnya, lengkap dengan "gandum, roti, dan bekal makanan bagi ayahnya dalam perjalanan." Ia tidak hanya memikirkan tujuan, tetapi juga jalan yang harus ditempuh. Siapa di dekatmu yang sedang menempuh jalan berat, dan bekal apa yang bisa kauberikan?
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
