RATAPAN 1:1
Teks
Sebuah kota duduk sendirian di reruntuhannya, dan penyair menatapnya dari kejauhan dengan satu kata di bibirnya: betapa. "Betapa ia tinggal dalam keterasingan, yaitu kota yang dahulu penuh dengan orang-orang itu!" Jalan-jalan yang dulu sesak oleh pedagang, peziarah, anak-anak yang berlarian, kini bergema kosong. Tiga gambar ditumpuk dengan cepat, masing-masing menjatuhkan Yerusalem satu tingkat lebih dalam: ia yang dahulu besar di antara bangsa-bangsa kini seperti seorang janda, perempuan tanpa pelindung dan tanpa penghasilan; dan putri bangsawan di antara provinsi-provinsi itu kini menjadi seorang budak, yang tubuhnya bukan lagi miliknya sendiri. Satu ayat, dan sebuah kerajaan jatuh dari takhta ke pasar budak. Tidak ada penjelasan, belum. Hanya ratapan yang mematung di depan puing.
Inti
Yang paling mengguncang dari ayat ini bukan kehancurannya, melainkan siapa yang dipandang bertanggung jawab. Penyair tidak berkata "betapa Babel kejam", melainkan menatap kota itu sendiri dan, beberapa baris kemudian, menunjuk ke atas: "TUHAN membuatnya menderita karena banyaknya pelanggarannya" (ayat 5). Di sini iman Israel menolak dua jalan keluar yang mudah. Ia tidak berkata Allah kalah oleh dewa-dewa Babel, dan ia tidak berkata bencana ini kebetulan belaka. Allah tetap Allah justru di dalam reruntuhan, dan itulah yang membuat ratapan ini menyakitkan sekaligus menyelamatkan. Sebab kalau Tuhan yang menghukum, maka Tuhan juga yang bisa memulihkan. Iman yang sejati ternyata sanggup menangis keras-keras tanpa melepaskan Allah, dan sanggup mengakui dosa tanpa berhenti berseru, "Lihatlah, ya TUHAN."
Benang Merah
Gambar janda bukan dipilih sembarangan. Sepanjang kitab para nabi, Yerusalem digambarkan sebagai mempelai perempuan TUHAN, kota yang terikat pada Allahnya oleh perjanjian yang menyerupai pernikahan. Menyebutnya "seperti seorang janda" berarti menyentuh luka yang paling dalam: bukan sekadar kehilangan tembok dan tentara, melainkan kehilangan Dia yang seharusnya melindunginya. Perhatikan kata "seperti". Penyair tidak berani berkata Suaminya mati. Ia hanya berkata: rasanya begitu. Dan di situlah benang merah itu muncul. Berabad-abad kemudian seorang Yahudi berdiri di lereng bukit, memandang kota yang sama, dan menangis atasnya (Lukas 19:41). Yesus tidak menangis dari jauh seperti pengamat; Ia masuk ke dalam kota itu, dan di luar temboknya Ia sendiri mengalami ditinggalkan, supaya kota itu tidak selamanya menjadi janda.
Cermin
Ada kehilangan yang tidak ada upacaranya. Pernikahan yang secara hukum masih berdiri tetapi sudah lama sunyi. Rumah yang dulu ribut oleh anak-anak dan kini hanya berisi dua piring. Jabatan yang hilang, dan bersamanya hilang pula cara Anda memperkenalkan diri kepada orang asing. Tubuh yang dulu bisa diandalkan dan kini harus dinegosiasikan setiap pagi. Ayat ini memberi izin yang jarang kita berikan kepada diri sendiri: izin untuk berhenti di depan puing dan berkata betapa, tanpa langsung menambahkan "tetapi saya bersyukur kok". Iman Alkitabiah tidak terburu-buru menuju penghiburan. Ia duduk dulu. Hari ini, ambil secarik kertas dan tulis satu kalimat yang dimulai dengan kata "Betapa", tentang satu kehilangan yang belum pernah Anda namai di hadapan Tuhan. Lalu bacakan kalimat itu keras-keras kepada-Nya.
Pertanyaan
Kalau Tuhan yang melakukan ini, apakah setiap reruntuhan berarti hukuman? Pertanyaan itu berbahaya, dan kitab ini tahu. Perhatikan siapa yang berbicara: bukan tetangga yang menunjuk, bukan nabi yang berkhotbah dari luar, melainkan kota itu sendiri yang mengakui, "aku telah memberontak terhadap firman-Nya" (ayat 18). Pengakuan dosa adalah bahasa orang pertama. Begitu kita memakainya sebagai orang ketiga, untuk menjelaskan penderitaan orang lain, kita berhenti meratap dan mulai menghakimi, dan kita menjadi persis seperti musuh di ayat 7 yang "tertawa atas kehancurannya". Lalu apakah semua penderitaan punya sebab moral? Kitab ini tidak menjawabnya. Ia menolak memberi kita rumus. Yang ia berikan hanya satu hal: bahasa untuk tetap berbicara kepada Allah ketika penjelasan habis.
Detail
Kata pertama. Dalam bahasa Ibrani hanya dua suku kata, 'êkâ, "betapa", dan itulah nama kitab ini dalam Alkitab Ibrani. Kata itu bukan kata tanya biasa yang menuntut informasi; itu kata pembuka nyanyian kematian, yang diucapkan di pemakaman ketika para pelayat memandang jenazah dan tidak sanggup merangkai kalimat utuh. Iramanya pun timpang: baris panjang disusul baris pendek, seperti napas yang tersendat atau langkah yang pincang. Jadi sebelum Anda sempat memahami isinya, bunyinya sudah memberi tahu Anda apa yang sedang terjadi. Ini upacara pemakaman sebuah kota. Dan ironi pahitnya: yang diratapi masih berdiri, masih ada penduduknya, masih bernapas. Yerusalem meratapi dirinya sendiri sementara ia belum mati, dan itu kadang lebih berat daripada kematian.
Konteks
Tahun 587 sebelum Masehi. Pasukan Babel mengepung Yerusalem kira-kira delapan belas bulan sampai persediaan makanan habis sama sekali, lalu tembok dijebol, istana dan Bait Allah dibakar, dan sebagian besar kaum terpelajar, imam, dan pengrajin digiring berjalan kaki ke timur. Yang tertinggal adalah petani miskin di antara puing. Sebutan "putri di antara provinsi-provinsi" menggemakan masa Daud dan Salomo, ketika kerajaan-kerajaan kecil di sekitar membayar upeti kepada Yerusalem. Kini posisi itu terbalik sepenuhnya: kota yang dulu menerima kerja paksa dari orang lain sekarang menjalaninya sendiri. Dan penyair yang menulis ini menyusunnya sebagai akrostik, setiap bait dimulai dengan huruf Ibrani berurutan, dari awal sampai akhir alfabet. Kesedihan yang liar, dituangkan dalam bentuk yang sangat tertib. Ia menangis, tetapi ia menangis dengan disiplin.
Refleksi
Kehilangan mana dalam hidup Anda yang sudah lama Anda jelaskan, tetapi belum pernah Anda ratapi di hadapan Tuhan?
Di mana Anda tergoda memakai bahasa pengakuan dosa sebagai orang ketiga, untuk menafsirkan penderitaan orang lain alih-alih menangis bersama mereka?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Lamentations 1:1
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti RATAPAN 1:1?
Tentang apakah RATAPAN 1:1?
Apa konteks historis dari RATAPAN 1:1?
Apa yang RATAPAN 1:1 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana RATAPAN 1:1 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Lamentations 1
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Dia sendiri mengerang, dan berbalik membelakangi." Yerusalem tidak menyangkal apa pun. Dia hanya memalingkan muka, karena malu dilihat. Mungkin kamu juga begitu: masih berdoa, tapi dengan wajah yang dibuang ke samping. Perhatikan, erangan itu tetap tercatat. Allah mendengar suara yang bahkan tak berani menatap-Nya.
Tuhan, ada tempat-tempat dalam hidupku yang kini sunyi, jalan yang dulu ramai sekarang kosong. Aku merindukan apa yang hilang dan tidak tahu harus berbuat apa dengan kesedihan ini. Tolong duduk bersamaku di kesunyian ini, dan ingatkan aku bahwa Engkau tidak pergi.
Lihatlah, ya TUHAN, karena aku dalam kesesakan!" Yerusalem tidak memoles apa pun. Ia mengakui pemberontakannya sendiri, lalu tetap berseru. Di luar pedang, di dalam rumah maut, tidak ada tempat aman. Tapi ada satu arah yang masih terbuka: ke atas. Kamu boleh membawa kekacauan yang kamu sendiri ciptakan kepada Tuhan, apa adanya.
Pemimpin-pemimpinnya menjadi seperti rusa yang tidak menemukan padang rumput; mereka berjalan tanpa kekuatan di hadapan pemburu." Rusa diciptakan untuk berlari cepat. Tetapi rusa yang lapar tidak bisa lari. Kekuatan mereka habis bukan karena pemburu terlalu kuat, melainkan karena tidak ada lagi yang memberi makan. Mungkin kelelahanmu juga begitu. Bukan masalahnya yang terlalu besar, tetapi jiwamu sudah lama tidak digembalakan.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi