MAZMUR 6:3
Teks Itu Sendiri
Satu baris pendek, hampir tanpa napas: "Jiwaku begitu gentar. TUHAN, sampai kapan?" Daud sudah mengeluhkan tulang-tulang yang gemetar; sekarang keluhan itu masuk lebih dalam, ke pusat dirinya. Dan lalu doanya pecah menjadi pertanyaan yang tidak dijawab, sebuah kalimat yang menggantung di udara tanpa titik yang menenangkan.
Perhatikan bahwa Daud tidak menyelesaikan pertanyaannya. Tidak ada "sampai kapan Engkau menyembunyikan wajah-Mu" atau "sampai kapan musuhku menang". Hanya: sampai kapan. Seperti orang yang terlalu lelah untuk merumuskan kalimat lengkap. Kata Ibrani untuk "jiwa" di sini, nefesh, tidak berarti bagian rohani yang terpisah dari tubuh; itu berarti seluruh diri yang bernapas, tenggorokan yang menarik udara. Yang gentar bukan sebagian dari Daud. Yang gentar adalah Daud.
Inti
Ayat ini mengajarkan sesuatu yang mengganggu tentang doa: Allah menerima doa yang belum selesai berpikir. Tidak ada pengakuan dosa yang rapi di sini, tidak ada penyerahan yang manis, tidak ada "namun kehendak-Mulah yang jadi". Ada seorang manusia yang hancur dan sebuah pertanyaan yang tajam, dan justru itu yang dimasukkan ke dalam kitab nyanyian umat Allah, untuk dinyanyikan dengan kecapi di hadapan publik.
Artinya: kesabaran Allah lebih besar daripada kesopanan kita. Ia tidak menuntut agar kita dulu menata perasaan sebelum menghadap. "Sampai kapan" adalah bahasa iman, bukan pengkhianatan iman, karena hanya orang yang masih percaya bahwa Allah bisa mengakhiri penderitaannya yang bertanya kapan Ia akan melakukannya. Ateis tidak bertanya "sampai kapan". Ia hanya berhenti bertanya.
Benang Merah
Pertanyaan ini bergema sepanjang Alkitab, dan akhirnya keluar dari mulut Anak Daud sendiri. Di Getsemani, Yesus berkata bahwa jiwa-Nya sangat sedih, hampir mati; di salib Ia berseru dengan kata-kata Mazmur lain, "Mengapa Engkau meninggalkan Aku?" Ia tidak mengutip mazmur-mazmur keluhan sebagai contoh sopan santun rohani. Ia benar-benar menempati posisi Daud: gentar, tanpa jawaban, di dalam kegelapan.
Di situlah letak penghiburan yang tidak murahan. Ketika Anda berdoa "sampai kapan", Anda tidak berbicara kepada Allah yang belum pernah merasakan malam semacam itu. Salib berarti bahwa pertanyaan tanpa jawaban itu sudah pernah diucapkan dari dalam hati Allah sendiri. Dan kebangkitan berarti pertanyaan itu punya batas waktu, meskipun batasnya belum kelihatan dari tempat kita berbaring.
Cermin
Ada bentuk penderitaan yang lebih berat daripada rasa sakitnya sendiri: tidak tahu berapa lama lagi. Hasil biopsi yang baru keluar tiga minggu lagi. Anak yang sudah setahun tidak menjawab pesan Anda. Pekerjaan yang setiap pagi mengikis sedikit lagi rasa hormat Anda pada diri sendiri, dan tidak ada tanda kapan berakhir. Kita bisa menanggung banyak hal jika kita tahu tanggalnya.
Dan justru di situ kita sering merasa harus berpura-pura. Kita berdoa dengan sopan, "Tuhan, ajar aku bersabar," padahal yang sesungguhnya ada di dalam hati adalah: cukup, sudah terlalu lama, di mana Engkau. Mazmur 6 memberi Anda izin, bukan untuk mengasihani diri tanpa batas, tetapi untuk jujur. Doa yang disaring sampai bersih sering kali bukan doa yang lebih rohani, hanya doa yang lebih tidak berani.
Konteks
Bayangkan malam di rumah orang Israel: satu ruang, lampu minyak yang berasap, tikar tidur di lantai, keluarga dan mungkin hewan di dekatnya. Daud berkata ia "menggenangi alas tidurku" dengan air mata. Ini bukan kesedihan pribadi yang tersembunyi; semua orang di rumah itu mendengarnya sepanjang malam.
Lebih dari itu, sakit di dunia itu berarti kehilangan tempat. Orang sakit dianggap sedang dipukul oleh Allah, dan ayat 8 menunjukkan ada orang yang menikmatinya, "kamu semua yang berbuat fasik", musuh yang menunggu keruntuhannya. Sakit membuka pintu bagi para pesaing politik. Dan ayat 5 menambah kengerian yang khas Perjanjian Lama: di dunia orang mati tidak ada lagi puji-pujian. Kematian bukan pintu ke tempat yang lebih baik, melainkan tempat di mana mulut yang memuji Allah dibungkam. Karena itu "sampai kapan" terdengar begitu mendesak.
Pertanyaan yang Tersisa
Mazmur ini tidak pernah menjawab "sampai kapan". Ayat 9 mengatakan TUHAN telah mendengar, tetapi tidak dikatakan Daud sembuh, tidak dikatakan musuhnya sudah pergi, tidak ada penjelasan mengapa ini terjadi. Yang berubah bukan situasinya, melainkan keyakinan bahwa ia tidak berbicara ke ruang kosong.
Jujur saja: itu terasa kurang. Kalau saya berbaring dengan tulang yang gemetar, saya ingin jadwal, bukan jaminan bahwa keluhan saya terdaftar. Dan Alkitab tidak menutup celah itu. Allah lebih sering memberikan diri-Nya daripada memberikan penjelasan. Kadang itu terasa seperti pengalihan; kadang, biasanya belakangan, ternyata itulah satu-satunya hal yang cukup. Mazmur ini tidak memaksa kita memilih di antaranya. Ia hanya menunjukkan seseorang yang tetap berbicara.
Sang Tokoh
Daud di sini bukan raja pemenang, bukan penakluk Goliat. Ia seorang laki-laki dengan mata sembab, "rabun karena semua musuhku", terbaring dan tidak berdaya. Yang mengejutkan bukan kelemahannya, tetapi bahwa ia menuliskannya dan menyerahkannya kepada "pemimpin pujian" untuk dinyanyikan umat.
Itu keberanian jenis lain. Ia mengizinkan seluruh Israel mengetahui bahwa rajanya pernah membasahi tempat tidurnya dengan air mata dan bertanya kepada Allah dengan nada tidak sabar. Lanskap batinnya adalah campuran ketakutan, kelelahan, dan kepercayaan yang keras kepala. Ia tidak berpura-pura kuat di hadapan Allah, dan ia tidak berpura-pura Allah tidak ada ketika ia lemah. Dua-duanya sekaligus. Itulah iman orang dewasa.
Refleksi
Doa mana yang selama ini Anda saring sebelum mengucapkannya, dan apa yang sebenarnya ingin Anda katakan kepada Allah?
Jika situasi Anda tidak berubah bulan ini, apakah kepastian bahwa Allah mendengar cukup bagi Anda? Mengapa ya, atau mengapa tidak?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Psalms 6:3
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti MAZMUR 6:3?
Tentang apakah MAZMUR 6:3?
Apa konteks historis dari MAZMUR 6:3?
Apa yang MAZMUR 6:3 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana MAZMUR 6:3 masih relevan hari ini?
Apa yang menyentuh hati Anda dalam Psalms 6?
Belum ada wawasan yang dibagikan pada bagian ini. Jadilah yang pertama membagikan sesuatu: wawasan, doa, atau ucapan syukur.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi