LUKAS 10:25
Teks
Seorang ahli Hukum Taurat bangkit berdiri di tengah kerumunan, dan Lukas menandai momen itu dengan satu kata yang seperti tarikan lengan baju: "lihat". Orang ini tidak datang untuk belajar; ia datang untuk menguji. Pertanyaannya terdengar saleh dan sopan, bahkan hangat: "Guru, apa yang harus kulakukan untuk mendapatkan hidup yang kekal?" Tetapi di balik sapaan hormat itu ada mata yang menimbang, telinga yang menunggu Yesus tergelincir. Ia berdiri persis setelah Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, "Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat," dan justru orang yang paling terlatih membaca Kitab Suci inilah yang tidak melihatnya. Satu ayat, satu pertanyaan, dan sebuah percakapan yang akan berakhir dengan seorang Samaria di jalan berdebu menuju Yerikho.
Inti
Perhatikan kata kerja di jantung pertanyaan itu: kulakukan. Ahli Taurat ini tidak bertanya siapa Allah itu, atau apa yang Allah kerjakan; ia bertanya tugas apa yang belum dicoretnya dari daftar. Hidup yang kekal, dalam benaknya, adalah hasil akhir sebuah perhitungan: sekian kewajiban dipenuhi, sekian pahala diterima. Dan di sinilah letak keanehan yang sering luput: Yesus tidak langsung membongkar asumsi itu. Ia justru mengembalikan pertanyaan itu kepada Taurat sendiri, dan membiarkan hukum melakukan pekerjaannya. Sebab kasih yang diminta Taurat, segenap hati, jiwa, kekuatan, akal budi, bukanlah tugas yang bisa dicentang selesai. Itu bukan daftar; itu penyerahan total. Pertanyaan "apa yang harus kulakukan" pada akhirnya runtuh oleh jawabannya sendiri, dan yang tersisa hanyalah anugerah, atau keputusasaan.
Benang Merah
Pertanyaan ahli Taurat itu bukan pertanyaan baru. Sejak Sinai, umat Allah hidup dengan ketegangan yang sama: Tuhan memberi hukum kepada orang yang sudah lebih dulu Ia bebaskan dari Mesir. Perintah datang sesudah penyelamatan, bukan sebagai syaratnya. Tetapi manusia punya bakat luar biasa untuk membalik urutan itu, dan menjadikan hukum sebagai tangga menuju Allah alih-alih jalan hidup bersama Allah yang sudah mendekat. Ahli Taurat ini berdiri di ujung sejarah pembalikan itu. Yang tidak ia sadari: yang berdiri di hadapannya adalah Dia yang baru saja berkata, "Bapa-Ku telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Ku." Hidup kekal tidak sedang dinegosiasikan di ruang itu; hidup kekal sedang berdiri di depan matanya, mengenakan sandal berdebu, menunggu ditanyai dengan jujur.
Cermin
Kita jarang datang kepada Allah dengan tangan kosong. Biasanya kita datang dengan proposal. Saya sudah setia hadir di gereja selama dua puluh tahun; saya membesarkan anak-anak dengan susah payah; saya tidak selingkuh, tidak menipu pajak, tidak meninggalkan orang tua saya. Lalu, dengan sopan, kita bertanya: apa lagi? Pertanyaan itu terdengar rohani, padahal sering kali ia adalah cara halus untuk memastikan bahwa transaksi sudah beres dan kita boleh pulang. Dan ada versi yang lebih gelap: kita bertanya kepada Allah bukan untuk mendengar, melainkan untuk menguji apakah Ia masih layak dipercaya setelah diagnosis itu, setelah pemutusan kerja itu, setelah doa yang tidak dijawab. Hari ini, ambil selembar kertas. Tulis satu pertanyaan yang paling sering kamu ajukan kepada Allah. Lalu, di bawahnya, tulis jawaban apa yang sebenarnya kamu harapkan. Bacalah keduanya keras-keras, dan katakan kepada-Nya mana yang kamu bersedia lepaskan.
Konteks
Bayangkan ruangan atau halaman terbuka, orang duduk melingkar di tanah, seorang guru bicara sambil bersandar. Di dunia itu, murid duduk dan guru duduk. Maka ketika seseorang bangkit berdiri, semua kepala menoleh. Berdiri adalah gerakan hukum, gerakan pengadilan, gerakan orang yang mau bicara sebagai setara atau lebih tinggi. Ahli Hukum Taurat adalah spesialis: ia menghabiskan hidupnya menghafal, menafsir, dan memperdebatkan lima kitab Musa serta tradisi lisan di sekitarnya. Ia orang terhormat, dan kehormatan pada masa itu adalah komoditas publik yang direbut dan dipertahankan di depan saksi. Yesus, tukang kayu dari Nazaret tanpa sekolah rabinik, baru saja mengirim tujuh puluh utusan dan berbicara tentang Sodom, Tirus, Kapernaum. Seseorang harus menguji apakah tukang kayu ini tahu apa yang ia bicarakan.
Detail
Lukas memakai kata Yunani ekpeirazō untuk "mencobai". Bukan sekadar bertanya menyelidik, tetapi menguji sampai batas, mendesak untuk melihat apakah sesuatu akan patah. Kata itu sudah muncul sebelumnya dalam Injil Lukas, di padang gurun, ketika Yesus menolak Iblis dengan mengutip perintah Musa agar manusia tidak mencobai Tuhan Allahnya. Artinya: apa yang di padang gurun dilakukan oleh si penggoda, kini dilakukan oleh seorang ahli Kitab Suci di tengah terang siang. Ironinya tajam dan tidak sopan. Orang yang paling tahu isi Taurat sedang melanggar salah satu larangannya yang paling mendasar, sambil mengutip Taurat dengan sempurna beberapa detik kemudian. Pengetahuan Alkitab, ternyata, sama sekali tidak menjamin bahwa hati kita sedang tunduk.
Tokoh Utama
Siapa orang ini? Bukan monster. Ia kemungkinan besar tulus percaya pada kebangkitan orang benar, berpuasa dua kali seminggu, memberi persepuluhan sampai ke daun rempah. Ia mewakili yang terbaik dari agamanya, dan itulah yang membuatnya berbahaya bagi dirinya sendiri. Lanskap batinnya bisa kita raba dari ayat 29: ia "ingin membenarkan dirinya". Di situ terbuka seluruh isi jiwanya. Ia hidup dengan kebutuhan terus-menerus untuk tampil benar, di mata orang banyak dan mungkin di matanya sendiri. Pertanyaan tentang hidup kekal bukan sekadar jebakan teologis; ia juga rintihan seseorang yang tidak pernah tahu kapan cukup. Dan Yesus, yang tahu persis bahwa ia sedang diuji, tidak mempermalukannya. Ia mengembalikan pertanyaan, memberinya ruang, dan akhirnya memberinya sebuah cerita.
Gema Kitab Suci
Jawaban yang keluar dari mulut ahli Taurat itu, "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap kekuatanmu, dan dengan segenap akal budimu," adalah Shema, doa yang setiap orang Yahudi ucapkan pagi dan malam, digulung dalam kotak kecil dan diikat di lengan. Ia menyambungnya dengan perintah dari Imamat tentang mengasihi sesama seperti diri sendiri. Penggabungan itu sendiri sudah cemerlang. Tetapi bandingkan dengan sukacita Yesus beberapa ayat sebelumnya: Bapa menyembunyikan hal-hal ini "dari orang bijaksana dan cerdas" dan menyatakannya "kepada bayi-bayi". Ahli Taurat itu berdiri sebagai ilustrasi hidup dari kalimat tersebut. Ia hafal teksnya sempurna dan melewatkan seluruh maksudnya, sementara tujuh puluh orang biasa pulang dengan sukacita.
Profil Pendengar
Pembaca pertama Lukas, kemungkinan besar campuran orang percaya bukan Yahudi dan Yahudi di kota-kota kekaisaran, mendengar adegan ini dengan telinga yang tegang. Banyak dari mereka baru saja meninggalkan sinagoge, atau diusir darinya, karena mengaku Yesus sebagai Mesias. Mereka tahu rasanya diuji oleh orang yang lebih tahu Kitab Suci daripada mereka, ditanyai dengan pertanyaan bercabang di depan umum, dibuat merasa bodoh dan tidak berhak. Bagi mereka, ayat ini adalah napas lega: Yesus tidak takut pada ahli Taurat, dan Ia tidak menjawab dengan gengsi. Sekaligus ini peringatan. Sebab jemaat mereka sendiri mulai punya orang-orang pintar yang gemar menguji. Pertanyaan yang benar bisa keluar dari hati yang salah, dan Lukas ingin mereka tahu bahwa Tuhan mendengar keduanya.
Pertanyaan
Kalau keselamatan adalah anugerah, mengapa Yesus tidak berkata begitu? Ia justru menyetujui jawaban Taurat dan berkata, "Lakukanlah itu, maka kamu akan hidup." Kalimat itu tidak boleh kita perhalus. Yesus sungguh-sungguh menawarkan jalan hukum, karena jalan itu memang sungguh-sungguh ada, secara teori. Masalahnya bukan pada hukum, melainkan pada siapa yang sanggup menempuhnya. Yesus tidak berdebat tentang teori; Ia mengirim orang itu untuk mencobanya, tahu persis bahwa langkah pertama saja, mengasihi Allah dengan segenap hati, sudah akan mematahkannya. Kadang anugerah tidak diberitakan lebih dulu; kadang ia harus ditunggu sampai seseorang kehabisan napas. Apakah orang ini akhirnya kehabisan napas, Lukas tidak memberi tahu kita. Percakapan itu berhenti tanpa penutup, dan mungkin memang begitu seharusnya.
Refleksi
Pertanyaan apa yang terakhir kali kamu ajukan kepada Allah, dan apakah kamu benar-benar bersedia menerima jawaban yang tidak kamu rencanakan?
Di bagian mana hidupmu kamu masih mengukur diri dengan daftar "apa yang harus kulakukan", dan apa yang terjadi bila daftar itu kamu bakar?
Pengetahuan Alkitab siapa yang paling kamu banggakan dalam dirimu, dan kapan terakhir kali pengetahuan itu membuatmu tunduk, bukan menang?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Luke 10:25
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti LUKAS 10:25?
Tentang apakah LUKAS 10:25?
Apa konteks historis dari LUKAS 10:25?
Apa yang LUKAS 10:25 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana LUKAS 10:25 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Luke 10
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Terima kasih, Yesus, karena Engkau tidak menyembunyikan kenyataan ketika berkata, "Aku mengutus kamu seperti anak-anak domba ke tengah-tengah kawanan serigala." Engkau memercayakan pekerjaan-Mu kepadaku yang lemah, dan Engkau sendiri Gembala yang menjaga domba-domba-Mu di jalan itu.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi