MAZMUR 59
Teksnya
Malam turun di Gibea. Di luar rumah Daud, orang-orang Saul mengambil posisi, menunggu fajar untuk membunuhnya. Dari dalam, di balik dinding tanah liat, terdengar doa: "Lepaskan aku dari musuh-musuhku, ya Allahku; taruhlah aku di tempat yang tinggi dari mereka yang bangkit melawan aku." Mazmur ini adalah teriakan seorang buronan yang tahu dirinya tidak bersalah, yang mendengar langkah kaki mengelilingi kotanya seperti kawanan anjing lapar, dan yang, entah bagaimana, berakhir dengan nyanyian pagi. Antara ayat pertama dan ayat terakhir tidak ada satu pun ancaman yang dicabut. Yang berubah bukan situasinya, melainkan ke arah mana wajah Daud menoleh.
Intinya
Daud tidak berdoa, "Tolong aku menerima keadaan." Ia berdoa, "Bangkitlah, temui aku dan lihatlah!" Itu bahasa seorang yang menuntut Allah membuka mata. Di balik tuntutan itu ada keyakinan yang jarang kita ucapkan sekeras Daud: bahwa Allah bukan penonton netral atas ketidakadilan, melainkan Hakim yang punya kepentingan. Ia menyebut Allah "penguasa bala tentara, Allah orang Israel", dua nama sekaligus: yang berkuasa atas semesta dan yang terikat perjanjian dengan umat kecil ini. Keselamatan dalam mazmur ini tidak lahir dari kekuatan Daud, tetapi dari kasih setia Allah yang "akan menemuiku". Kata itu, kasih setia, muncul tiga kali dan menjadi tulang punggung seluruh doa: bukan nasib baik, tetapi kesetiaan yang berjanji.
Benang Merah
Yang membuat mazmur ini pedih adalah kalimat "padahal tidak ada pelanggaran atau dosa padaku". Daud sudah diurapi, tetapi belum bertakhta; ia raja yang sah yang diburu seperti penjahat. Pola itu tidak berhenti padanya. Berabad-abad kemudian ada Anak Daud yang lain, juga dikepung pada malam hari, juga tanpa kesalahan, di taman Getsemani, sementara orang-orang bersenjata datang dengan obor. Bedanya menusuk: Daud memohon "habisi dalam murka-Mu", sedangkan Yesus memohon pengampunan bagi para pengepung-Nya. Bukan karena Daud salah dan Yesus benar, melainkan karena penghukuman yang Daud tuntut akhirnya jatuh, dan jatuh ke atas Dia sendiri. Tawa Allah atas bangsa-bangsa dalam ayat 8, yang juga terdengar di Mazmur 2, berakhir di salib dan kebangkitan.
Cermin
Ada jenis penderitaan yang tidak bisa diselesaikan dengan bertobat, karena Anda memang tidak bersalah. Rekan kerja yang menjatuhkan nama Anda di rapat yang tidak Anda hadiri. Keluarga yang memutuskan versi cerita tentang Anda tanpa pernah bertanya. Tetangga yang bicara manis lalu menghunus kalimat. "Lihatlah yang dicurahkan dari mulut mereka; pedang ada di bibir mereka." Daud tidak menyuruh Anda berpura-pura itu tidak sakit. Ia juga tidak menyuruh Anda membalas. Ia melakukan hal yang jauh lebih sulit: menyerahkan seluruh kemarahannya, mentah dan tanpa disaring, ke tangan Allah, dan berhenti di situ. Doa seperti ini adalah cara agar dendam tidak mengeras menjadi karakter. Anda menaruhnya di meja Allah, lalu pulang dengan tangan kosong dan tidur.
Detail
Dua kali, hampir kata demi kata, terdengar refrein yang sama: "Mereka kembali pada malam hari; mereka meraung seperti anjing dan mengelilingi kota." Anjing di dunia Alkitab bukan hewan peliharaan; itu binatang liar yang berkeliaran di luar tembok, mencari bangkai. Daud menggambarkan pasukan elit Saul sebagai kawanan pemulung yang lapar. Dan perhatikan ayat 15: "Mereka mengembara untuk makan, dan bermalam jika mereka tidak kenyang." Mereka tidak pernah kenyang. Itulah nasib orang yang hidup dari memangsa orang lain. Kekuasaan Saul terlihat menakutkan dari luar, tetapi dari sudut pandang doa ini ia justru menyedihkan: melolong sepanjang malam, tidak pernah puas. Sementara itu Daud, yang terkurung, bangun pagi dan bernyanyi.
Profil
Israel yang menyanyikan mazmur ini kemudian bukan lagi Israel Daud. Mereka umat yang berkali-kali dikepung, dijajah, diawasi oleh penguasa asing yang bahasanya tidak mereka mengerti. Ketika mereka menyanyikan "Siapa yang dengar?", mereka sedang mengutip kesombongan setiap tirani yang pernah berdiri di gerbang mereka: keyakinan bahwa tidak ada saksi, tidak ada catatan, tidak ada perhitungan. Bagi jemaat kecil yang berkumpul di reruntuhan atau di pembuangan, kalimat "Engkau, ya TUHAN, tertawa atas mereka" bukan kelakar. Itu satu-satunya perspektif yang membuat mereka bisa berdiri tegak. Kekaisaran terlihat abadi dari bawah; dari atas ia terlihat seperti anjing yang melolong dan tidak pernah kenyang.
Pertanyaan
Bagaimana ayat 11 dan ayat 13 bisa berdiri berdampingan? "Jangan membunuh mereka, jangan sampai bangsaku lupa," lalu dua ayat kemudian, "habisi sampai mereka tidak ada lagi." Sebagian pembaca mencoba mendamaikannya dengan rapi: yang pertama tentang individu, yang kedua tentang kejahatan mereka. Mungkin. Tetapi saya curiga jawabannya lebih jujur dan lebih tidak nyaman: inilah suara orang yang sedang ketakutan pada pukul tiga pagi, dan hati manusia dalam ketakutan memang tidak konsisten. Alkitab tidak menyensornya. Allah membiarkan doa yang setengah matang itu masuk ke dalam kitab pujian umat-Nya. Itu bukan izin untuk membenci; itu izin untuk datang sebelum Anda rapi.
Refleksi
Doa mana yang selama ini Anda tahan karena terlalu mentah untuk diucapkan di hadapan Allah, dan apa yang terjadi jika Anda akhirnya mengucapkannya?
Daud bernyanyi pada pagi hari sementara para pengepung masih di luar. Apa arti "bersorak-sorai pada pagi hari" dalam situasi Anda yang belum berubah?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Psalms 59
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti MAZMUR 59?
Tentang apakah MAZMUR 59?
Apa konteks historis dari MAZMUR 59?
Apa yang MAZMUR 59 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana MAZMUR 59 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Psalms 59
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Daud sedang dikepung. Orang-orang mengintai rumahnya, siap membunuh. Dan di tengah rasa takut itu, ia berseru: "Engkau, ya TUHAN, Allah semesta alam, Allah Israel, bangkitlah untuk menghukum semua bangsa; jangan mengasihani semua pengkhianat yang jahat."
Perhatikan urutannya. Sebelum meminta keadilan, Daud memanggil nama Tuhan tiga kali. Ia mengingat siapa Tuhan sebelum mengingat siapa musuhnya. Mungkin di situlah kekuatanmu hari ini bermula: bukan dengan menghitung ancaman, tapi dengan menyebut nama-Nya.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
