LUKAS 7
Teks
"Kamu tidak memberikan air untuk membasuh kaki-Ku." Kalimat itu, diucapkan di meja makan seorang Farisi, adalah tuduhan paling halus sekaligus paling tajam dalam pasal ini. Lukas 7 merangkai empat adegan yang semuanya berputar pada satu pertanyaan: siapa yang layak. Seorang perwira Romawi yang percaya bahwa satu kata Yesus cukup. Seorang janda di Nain yang anak tunggalnya dikembalikan hidup di gerbang kota. Yohanes Pembaptis, yang di ujung hidupnya bertanya, "Engkaukah yang akan datang itu?" Dan seorang perempuan berdosa yang membasuh kaki Yesus dengan air matanya. Empat kali manusia menghitung kelayakan; empat kali Yesus membongkar hitungan itu.
Inti
Perhatikan dua penilaian yang bertabrakan. Para tua-tua Yahudi berkata tentang perwira itu, "Orang ini layak mendapat pertolongan-Mu, sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang membangun sinagoge bagi kita." Perwira itu sendiri berkata, "aku tidak layak menerima-Mu di rumahku." Yesus tidak memuji daftar jasa; Ia heran pada pengakuan ketidaklayakan. Logika yang sama muncul di perumpamaan utang: yang satu lima ratus dinar, yang lain lima puluh, dan intinya bukan selisihnya melainkan satu kalimat kecil, "keduanya tidak sanggup membayar." Anugerah tidak dinegosiasikan dari posisi kuat. Dan justru di situ letak konsekuensi etisnya: kasih yang sungguh mengalir bukan dari orang yang merasa sudah beres, melainkan dari orang yang tahu berapa besar utangnya dihapus.
Benang Merah
Ketika orang mati itu duduk dan berbicara, orang-orang berseru, "Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita!" Mereka tidak sembarangan. Elia pernah menghidupkan anak seorang janda di Sarfat (1 Raja-raja 17), dan Nain hanya beberapa kilometer dari tanah kelahiran Elisa. Israel mengenali polanya. Tetapi jawaban Yesus kepada murid-murid Yohanes menaikkan taraf: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, "dan kepada orang-orang miskin diberitakan kabar baik." Itu kutipan bebas dari Yesaya 61, nubuat tentang zaman pemulihan Allah sendiri, bukan sekadar seorang nabi lagi. Jadi benang merahnya bukan "Yesus seperti Elia," melainkan: apa yang dijanjikan Allah akan Ia kerjakan sendiri, kini terjadi di jalan-jalan berdebu Galilea, dan yang paling diuntungkan adalah orang-orang yang paling tidak dihitung.
Cermin
Ujilah cara Anda menghitung kelayakan minggu ini. Siapa yang mendapat waktu Anda tanpa syarat, dan siapa yang harus lebih dulu membuktikan diri berguna? Simon mengundang Yesus, tetapi menahan air, ciuman salam, dan minyak: keramahan yang diperhitungkan sampai batas minimum. Itu bisa terjadi di rumah tangga kita, di mana orang serumah menerima sopan-santun tanpa kehangatan. Bisa juga di gereja, di mana kita bangga mendanai bangunan seperti perwira itu, tetapi tidak pernah bertanya siapa pembantu, tetangga, atau bawahan yang sakit dan hampir mati tanpa kita tahu. Dan kalimat paling menusuk: "orang yang sedikit diampuni, sedikit pula mengasihi." Kalau kasih Anda dingin, mungkin masalahnya bukan kurang disiplin rohani, melainkan Anda diam-diam menganggap tagihan Anda hanya lima puluh dinar.
Detail
"Kemudian, Dia mendekat dan menyentuh tandu jenazah itu." Satu gerakan kecil yang membuat seluruh iring-iringan berhenti. Menyentuh usungan mayat membuat seseorang najis menurut Taurat; itu bukan kecelakaan, itu pilihan. Yesus tidak berdiri di pinggir jalan sambil mengucapkan berkat dari jarak aman. Ia masuk ke dalam arus duka, ke titik di mana kematian menempel pada tangan. Di sinilah etika Kristen dimulai jauh sebelum kata-kata penghiburan: pergi ke rumah duka meski tidak tahu harus berkata apa, duduk di sisi tempat tidur rumah sakit yang berbau, menghubungi orang yang kehilangan anak tiga bulan lalu ketika semua orang sudah kembali sibuk. Belas kasihan yang enggan menyentuh belum benar-benar belas kasihan.
Profil
Pembaca pertama Lukas hidup di dunia patronase, di mana bantuan selalu berupa transaksi kehormatan. Kalimat para tua-tua, "ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang membangun sinagoge bagi kita," adalah bahasa yang wajar sekali: jasa dibalas jasa. Mereka juga hidup di bawah pendudukan. Seorang perwira Romawi adalah wajah kekuasaan yang memungut pajak dan menyalibkan pemberontak, dan mendengar Yesus berkata, "bahkan di antara orang Israel pun Aku belum pernah menemukan iman sebesar ini," pasti terasa seperti tamparan. Lalu ada perempuan yang melepas rambutnya di ruang makan penuh laki-laki, sesuatu yang memalukan di mata mereka. Jemaat pertama, yang di dalamnya duduk tuan dan budak, orang Yahudi dan bukan Yahudi, harus belajar dari pasal ini bahwa hierarki mereka baru saja diguncang.
Tokoh Utama
Yesus dalam pasal ini bukan sosok yang tenang tanpa gerak. Ia bisa heran (ayat 9), Ia "berbelaskasihan" kepada janda itu dan berkata sesuatu yang hampir mustahil, "Jangan menangis," tetapi kemudian membuat kalimat itu benar. Ia sabar dengan keraguan Yohanes: tidak menegur, hanya mengirim bukti, lalu membela Yohanes di depan orang banyak justru setelah utusan itu pergi. Ia menyebut nama tuan rumahnya, "Simon," bukan "hai orang Farisi," lalu menelanjangi hatinya dengan sopan yang mengerikan. Dan Ia menerima tuduhan "Ia seorang yang rakus dan peminum" tanpa mengubah kebiasaan makan-Nya bersama para pemungut cukai. "Berbahagialah ia yang tidak tersandung oleh-Ku." Mengikuti Dia berarti menerima risiko disalahmengerti karena bergaul dengan orang yang salah.
Refleksi
Siapa dalam hidup Anda yang secara diam-diam Anda anggap "belum layak" untuk waktu, uang, atau kehangatan Anda, dan apa langkah konkret pekan ini yang membatalkan penilaian itu?
Berapa besar utang yang Anda rasa telah dihapuskan bagi Anda: lima ratus dinar atau lima puluh? Dan bagaimana jawaban itu terlihat dalam cara Anda memperlakukan orang serumah?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Luke 7
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti LUKAS 7?
Tentang apakah LUKAS 7?
Apa konteks historis dari LUKAS 7?
Apa yang LUKAS 7 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana LUKAS 7 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Luke 7
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Tuhan, seperti perempuan yang datang membawa apa yang paling berharga miliknya, aku pun datang dengan tangan yang tidak bersih. Aku sering merasa tidak pantas mendekat. Tapi Engkau tidak mengusirku. Terima kasih sudah menerima aku apa adanya.
Tuhan, Engkau melihat perempuan itu di tengah iring-iringan duka, dan hati-Mu tergerak sebelum ia sempat meminta. Lihatlah juga aku hari ini. Ada hal-hal dalam hidupku yang terasa sudah mati, dan aku lelah berharap. Datanglah, sentuh, dan bangkitkan.
Lihat, Dia orang yang rakus dan pemabuk, sahabat para pengumpul pajak dan orang-orang berdosa!" Kalimat itu dilempar sebagai hinaan, dan Yesus tidak pernah repot membantahnya. Dia rela namanya kotor asal meja-Nya tetap terbuka. Pertanyaannya untukmu: apakah hidupmu masih cukup dekat dengan orang berdosa sampai orang mulai bergosip yang sama?
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau tidak menilai hamba-Mu dari pakaian mewah atau kehidupan yang nyaman. Yohanes Pembaptis tidak berjubah halus, tidak tinggal di istana, namun Engkau memuliakannya. Ajar kami menghargai apa yang Kauhargai, bukan yang dielukan dunia.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
