ROMA 1:16
Teksnya
Paulus baru saja mengaku bahwa ia berutang kepada semua orang dan sangat rindu memberitakan Injil di Roma. Lalu ia menambahkan satu kalimat yang terdengar aneh sebagai alasan: "Sebab, Aku tidak malu akan Injil karena Injil adalah kuasa Allah untuk keselamatan setiap orang yang percaya; pertama-tama untuk orang Yahudi, dan juga untuk orang Yunani." Ia tidak berkata "Injil itu benar" atau "Injil itu indah," melainkan: aku tidak malu. Kalimat itu hanya masuk akal kalau ada sesuatu dalam berita ini yang memang memalukan.
Intinya
Yang memalukan adalah isinya: seorang Yahudi dari provinsi pinggiran, dieksekusi oleh Roma dengan cara yang disediakan bagi budak dan pemberontak. Memberitakan Dia sebagai Tuhan di ibu kota kekaisaran sama saja dengan mengumumkan bahwa yang kalah ternyata menang. Paulus tidak menutupi hal itu; ia justru menyebut berita itu "kuasa Allah." Bukan berita tentang kuasa, melainkan kuasa itu sendiri, yang bekerja saat diucapkan. Kata Yunaninya euangelion, kabar kemenangan yang biasanya dibawa pembawa pesan kaisar ke seluruh provinsi. Paulus memakai kosakata propaganda kekaisaran dan mengisinya dengan salib. Keselamatan tidak datang dari Roma, tidak dari kesalehan, tidak dari status; ia datang kepada "setiap orang yang percaya," dan hanya di situ.
Benang Merah
"Pertama-tama untuk orang Yahudi" bukan basa-basi sopan santun, melainkan pengakuan bahwa Injil ini punya sejarah. Paulus sudah mengatakannya di ayat 2: Injil ini "telah Allah janjikan sebelumnya melalui nabi-nabi-Nya dalam Kitab Suci." Artinya, berita tentang Yesus bukan kejutan yang menyela alur Perjanjian Lama, melainkan ujung dari benang yang sudah lama ditarik: janji kepada Abraham bahwa segala bangsa akan diberkati, janji kepada Daud tentang keturunan yang kerajaan-Nya tidak berakhir, nubuat tentang Hamba yang menanggung kesalahan orang banyak. Yesaya sudah melukiskan pembawa kabar baik yang berlari melintasi gunung untuk mengumumkan bahwa Allah memerintah. Paulus adalah pembawa kabar itu, dan kabarnya adalah Kristus yang bangkit, "yang dinyatakan sebagai Anak Allah yang berkuasa" (ayat 4). Kuasa Injil adalah kuasa kebangkitan-Nya.
Cermin
Rasa malu jarang datang sebagai keyakinan; ia datang sebagai jeda. Sepersekian detik di ruang guru ketika percakapan menyentuh iman dan Anda memilih kalimat yang lebih aman. Kalimat "aku percaya, tapi tidak fanatik" yang Anda ucapkan di meja keluarga besar. Anak sulung yang bertanya apakah Anda sungguh percaya orang mati bisa bangkit, dan Anda menjawab dengan cerita tentang nilai-nilai kebaikan. Kita tidak malu pada Allah secara umum; kita malu pada bagian yang spesifik dan janggal: salib, kebangkitan, penghakiman, dan kenyataan bahwa kita sendiri harus diselamatkan. Paulus tidak menyembuhkan rasa malu itu dengan membuat Injil lebih terhormat. Ia menyembuhkannya dengan mengingatkan bahwa berita yang tampak lemah inilah satu-satunya yang benar-benar mengubah orang.
Gema Kitab Suci
Yesus sendiri pernah berkata bahwa siapa yang malu terhadap Dia dan perkataan-Nya, terhadap orang itu Anak Manusia akan malu ketika datang dalam kemuliaan. Paulus tampaknya menulis dengan kalimat itu di belakang kepalanya; ia yang dulu menganiaya jemaat tahu persis harga dari memihak nama Yesus di depan umum. Dan ayat berikutnya menariknya ke belakang, ke Habakuk: "Orang benar akan hidup oleh imannya." Habakuk mengucapkannya sambil menatap tentara Babel yang mendekat, ketika segala bukti mengatakan Allah telah kalah. Persis di sanalah letak persoalannya: iman selalu diminta justru ketika penampilan luar mempermalukan. Roma yang megah, salib yang hina, dan sebuah kalimat kecil yang menolak tunduk pada penampilan.
Konteks
Surat ini ditulis sekitar tahun 57, kemungkinan dari Korintus, kepada jemaat yang belum pernah Paulus kunjungi. Roma adalah kota sejuta penduduk, penuh kuil, patung, dan ingatan kolektif akan kemenangan militer. Beberapa tahun sebelumnya Kaisar Klaudius mengusir orang Yahudi dari kota; ketika mereka kembali, jemaat sudah didominasi orang bukan Yahudi. Ketegangan antara kedua kelompok itu membayangi seluruh surat. Karena itu urutan "pertama-tama untuk orang Yahudi, dan juga untuk orang Yunani" bukan detail sepele: Paulus menegaskan prioritas historis Israel tanpa memberi siapa pun keunggulan di hadapan Allah. Syaratnya satu dan sama untuk semua: percaya. Dalam kota yang mengatur segalanya menurut peringkat kehormatan, kalimat itu meruntuhkan tangga.
Tokoh Utama
Di balik keberanian Paulus berdiri Allah yang lebih dahulu menolak merasa malu. Ia mengikat nama-Nya pada seorang bayi dari keturunan Daud, pada tukang kayu Nazaret, pada tubuh yang tergantung telanjang di luar tembok kota. Allah yang bisa saja menyelamatkan dengan cara yang terhormat memilih cara yang membuat-Nya ditertawakan. Itulah potret hati-Nya: kasih yang tidak menjaga gengsi. Dan Ia tidak berhenti di sana; Ia membangkitkan Yesus dan menjadikan berita tentang Dia sebagai alat kuasa-Nya, sehingga yang percaya diselamatkan bukan oleh kelayakan mereka melainkan oleh anugerah. Jika Allah tidak malu mengaitkan diri dengan kita, pertanyaan Paulus menjadi wajar: mengapa kita malu mengaitkan diri dengan Dia?
Refleksi
Di lingkungan mana persisnya saya paling sering memperhalus Injil agar terdengar lebih terhormat, dan apa yang sebenarnya saya lindungi di situ?
Kalau Injil adalah kuasa Allah dan bukan sekadar informasi, apa artinya itu untuk cara saya berbicara tentang Yesus kepada orang yang tampaknya paling jauh?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Romans 1:16
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti ROMA 1:16?
Tentang apakah ROMA 1:16?
Apa konteks historis dari ROMA 1:16?
Apa yang ROMA 1:16 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana ROMA 1:16 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Romans 1
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Sebab, murka Allah dinyatakan dari surga atas semua kefasikan dan kejahatan manusia, yang menindas kebenaran dengan kejahatan mereka." Perhatikan kata menindas. Artinya kebenaran itu ada, sudah kita tahu, tetapi kita menekannya supaya diam. Murka Allah bukan ledakan emosi tiba-tiba, melainkan tanggapan-Nya atas hati yang terus membungkam suara yang sebenarnya sudah didengar. Apa yang sedang kamu tahan hari ini supaya tidak bersuara?
Terima kasih untuk hati Paulus yang berkata, "aku sangat ingin memberitakan Injil kepada kamu juga yang ada di Roma." Karena kerinduan seperti itu, kabar baik terus berjalan sampai ke telingaku. Tanamkan kerinduan yang sama di hatiku hari ini.
Tiga kali dalam pasal ini Paulus menulis kalimat yang sama: "Allah menyerahkan mereka." Bukan gambaran Allah yang meledak marah, melainkan Allah yang melepaskan genggaman-Nya. Ternyata hukuman paling menakutkan adalah dibiarkan mendapat persis apa yang kita mau. Adakah sesuatu yang kaupegang erat sekali, sambil diam-diam berharap Tuhan tidak pernah melepaskanmu?
Meskipun mengaku diri berhikmat, mereka menjadi bodoh." Yang mengerikan bukan ketidaktahuan, melainkan rasa yakin bahwa kita sudah tahu. Kebodohan di sini lahir dari kesombongan yang menolak berterima kasih kepada Allah. Coba periksa: di bagian hidup mana kamu merasa paling tidak butuh nasihat siapa pun? Mungkin di situlah kegelapan mulai bekerja tanpa kamu sadari.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi