TITUS 3:2
Teksnya
Bayangkan Titus membuka gulungan surat itu di sebuah rumah di Kreta, di ruangan yang penuh orang: budak, pedagang, perempuan yang baru kemarin masih menyembah dewa-dewi pelabuhan. Ia membaca perintah tentang tunduk kepada pemerintah, lalu sampai pada kalimat ini, dan suaranya melambat. Empat hal, singkat seperti daftar belanja, tetapi masing-masing menusuk: jangan menjelekkan nama siapa pun, jangan mencari pertengkaran, jadilah orang yang ramah, dan bersikaplah "benar-benar lemah lembut terhadap semua orang." Bukan terhadap saudara seiman saja. Terhadap semua. Termasuk tetangga yang mengejek, termasuk majikan yang tidak adil, termasuk pejabat Roma yang memungut pajak dengan tangan berat. Di ruangan itu, kalimat pendek tadi terasa jauh lebih panjang daripada bunyinya.
Intinya
Perhatikan kata sambung di ayat berikutnya: "Sebab, kita dahulu juga bodoh, tidak taat, tersesat." Paulus tidak menuntut kelemahlembutan sebagai gaya kepribadian atau sopan santun budaya. Ia menariknya keluar dari ingatan. Kamu bisa lembut kepada orang yang menyebalkan hanya kalau kamu ingat bahwa kamu pun pernah berada di pihak yang menyebalkan, dan bahwa yang mengubahmu bukan kecerdasanmu melainkan "kemurahan dan kasih Allah" yang dinyatakan. Fitnah dan pertengkaran selalu lahir dari rasa lebih tinggi: aku berhak menilaimu, aku berdiri di tanah yang lebih bersih. Anugerah merobohkan tanah tinggi itu. Karena itu kelemahlembutan bukan sikap lemah, melainkan bentuk paling jujur dari orang yang tahu persis berapa harga keselamatannya sendiri, dan tahu ia tidak membayarnya.
Benang Merah
Kelemahlembutan bukan penemuan Paulus. Sepanjang Perjanjian Lama ada garis tipis yang terus muncul: Musa yang disebut paling lembut di antara manusia justru orang yang paling berani berhadapan dengan Firaun; nabi-nabi menjanjikan Raja yang datang bukan dengan kuda perang. Garis itu berujung pada Yesus, yang di hadapan Pilatus, penguasa yang punya hak membunuh-Nya, tidak memfitnah dan tidak bertengkar. Ia diam bukan karena tidak punya argumen, melainkan karena Ia sedang menyelamatkan orang-orang yang meludahi-Nya. Karena itu ayat 2 tidak berdiri sendiri; ia menempel pada ayat 5, pada "pembasuhan kelahiran kembali dan pembaruan Roh Kudus." Sikap yang diminta dari jemaat Kreta adalah bentuk kecil, sehari-hari, dari cara Allah sendiri memperlakukan musuh-musuh-Nya. Kita meniru bukan sebuah etika, melainkan sebuah Pribadi.
Cermin
Di mana kalimat ini menggigit hidupmu? Mungkin di grup WhatsApp keluarga, tempat kamu punya satu kalimat tajam yang sudah lama kamu simpan untuk saudara iparmu. Mungkin di kantor, ketika kamu menyebut kekurangan rekan kerja kepada atasan dengan nada prihatin, padahal kamu tahu persis apa yang sedang kamu lakukan. Mungkin di kolom komentar tentang politik, tempat kamu merasa paling benar dan paling bebas. Paulus memakai kata "tidak memfitnah siapa pun", dan dalam bahasa aslinya kata itu berakar pada blasphemeo, mencemarkan nama. Menghancurkan nama orang ternyata bertetangga dekat dengan menghujat Allah. Itu mengganggu, dan memang seharusnya mengganggu. Hari ini juga: buka percakapan terakhir di mana kamu membicarakan seseorang dengan buruk, lalu tulis satu kalimat kepada orang yang kamu ajak bicara itu, mencabut apa yang kamu katakan.
Pertanyaannya
Lalu bagaimana dengan ketidakadilan? Kalau seorang budak Kreta harus "benar-benar bersikap lemah lembut terhadap semua orang," apakah Paulus sedang menyuruhnya diam saat dipukuli? Jujur saja: teks ini tidak menjawabnya. Paulus tidak menambahkan pengecualian, dan kita tidak berhak menambahkannya untuk dia. Yang bisa kita katakan hanyalah ini: kelemahlembutan dalam Alkitab tidak pernah berarti kebutaan terhadap kejahatan. Paulus sendiri, beberapa ayat kemudian, menyuruh Titus menjauhi orang yang memecah belah setelah diperingatkan dua kali. Jadi ada batas, ada teguran, ada perpisahan. Tetapi tidak ada izin untuk membalas dengan lidah yang mencemarkan. Ketegangan itu tetap ada, dan mungkin memang harus tetap ada, supaya kita tidak terlalu cepat memakai keadilan sebagai alasan untuk kekasaran.
Profilnya
Kreta punya reputasi buruk, dan Paulus sendiri mengutipnya di pasal pertama tanpa basa-basi. Pulau itu keras, gaduh, penuh perdebatan tentang silsilah dan hukum. Jemaat-jemaat kecil ini hidup di bawah pengawasan tetangga yang curiga: kelompok baru, pertemuan tertutup, budak dan majikan duduk bersama. Setiap gosip yang keluar dari mulut orang Kristen akan segera menjadi bukti bahwa agama baru ini sama saja. Maka ketika Titus membaca "tidak bertengkar, ramah," para pendengar tidak mendengar nasihat kepribadian; mereka mendengar strategi bertahan hidup dan kesaksian sekaligus. Reputasi Injil di pulau itu bergantung pada apakah orang-orang ini bisa menahan lidah di pasar. Itu beban yang berat, dan mereka merasakannya jauh lebih tajam daripada kita.
Gema Kitab Suci
Dua gema layak didengar. Yang pertama, ucapan bahagia Yesus tentang orang yang lemah lembut yang akan memiliki bumi: janji itu membalik logika kekuasaan, dan Paulus di Kreta sedang menerjemahkannya ke dalam kehidupan orang tanpa kuasa. Yang kedua, Yakobus tentang lidah yang kecil tetapi membakar hutan; ia menyebutnya sebagai ujian sesungguhnya dari kesalehan. Menariknya, ketiga penulis ini sepakat pada satu hal yang jarang kita khotbahkan: kedewasaan rohani paling kelihatan bukan dalam doa yang panjang, melainkan dalam apa yang tidak kita katakan tentang orang lain saat mereka tidak ada di ruangan.
Refleksi
Nama siapa yang paling sering rusak ketika kamu berbicara, dan apa sebenarnya yang kamu dapatkan dari merusaknya?
Kalau kelemahlembutanmu hanya berlaku untuk orang seiman, apa yang sedang kamu katakan tentang anugerah yang kamu terima?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Titus 3:2
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti TITUS 3:2?
Tentang apakah TITUS 3:2?
Apa konteks historis dari TITUS 3:2?
Apa yang TITUS 3:2 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana TITUS 3:2 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Titus 3
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Yang telah Allah curahkan ke atas kita dengan limpah melalui Kristus Yesus, Juru Selamat kita." Perhatikan kata dicurahkan. Bukan ditetesi, bukan ditakar sesuai prestasi. Padahal ayat 3 baru saja menyebut kita dulu bodoh, sesat, diperbudak nafsu. Justru kepada orang seperti itu Allah mencurahkan Roh-Nya sampai meluap. Sudahkah kamu berhenti mengukur kasih itu?
Bapa, aku tahu betul aku tidak pernah bisa membayar apa pun untuk berdiri di hadapan-Mu. Namun karena kebaikan-Mu, aku dinyatakan benar dan diberi tempat sebagai anak. Tolong aku hidup dari pengharapan itu hari ini, bukan dari rasa takut kurang layak.
Zenas dan Apolos hanya numpang lewat. Mereka bukan jemaat tetap Titus, tetapi Paulus menulis: "Usahakanlah dengan sungguh-sungguh supaya Zenas, ahli Taurat itu, dan Apolos meneruskan perjalanan mereka, dan jagalah supaya mereka tidak kekurangan apa pun." Kasih diuji justru pada orang yang cuma singgah sebentar. Siapa yang sedang lewat dalam hidupmu, dan diam-diam kekurangan?
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau menaruh kata "dahulu" di depan hidupku. Dahulu aku bodoh, disesatkan, diperbudak oleh berbagai keinginan, saling membenci. Engkau tidak membiarkan aku tinggal di sana. Kau tarik aku keluar dan memberiku hati yang baru untuk mengasihi.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi