Teguh berdiri, tenang menanti Tuhan
Teguh dan berharap
Renungan singkat untuk direnungkan dengan tenang, diambil dari bagian Alkitab dalam Mazmur 40:2, Amsal 17:27-28, Yeremia 12:5 and Mazmur 17:15.
☀ Momen pagi
(40-3) Dia mengangkat aku dari lubang yang bergemuruh, keluar dari rawa lumpur, dan menetapkan kakiku di atas gunung batu; membuat langkah-langkahku tegap.
Mazmur 40:2
Bayangkan kaki yang terjebak di lumpur becek, setiap langkah menyedot lebih dalam, sepatu penuh lumpur, dan tidak ada pegangan untuk menarik diri keluar. Semakin keras berusaha, semakin dalam terperosok. Itulah gambaran yang dipakai pemazmur, bukan lumpur di taman, tapi lumpur yang menelan, tempat orang bisa tenggelam pelan-pelan tanpa disadari orang lain.
Pagi ini mungkin kau merasa seperti itu. Bukan krisis besar yang kelihatan, tapi beban kecil yang menumpuk, kekhawatiran yang menyedot energi sebelum hari dimulai. Kau berdiri, tapi rasanya tidak ada pijakan yang pasti.
Pemazmur tidak bercerita tentang usahanya sendiri mengangkat kaki dari lumpur. Dia bercerita tentang Tuhan yang mengangkatnya, menempatkan kakinya di atas batu, memberi tempat berdiri yang kokoh. Bukan sekadar lolos dari lumpur, tapi diberi dasar yang tidak akan goyah lagi.
Itu bukan jaminan bahwa hari ini akan mudah. Tapi itu jaminan bahwa kau tidak berdiri sendiri di atas tanah yang rapuh. Ada batu di bawah kakimu, dan Tuhan yang menaruhmu di sana.
Hari ini
Sebelum kau melangkah keluar pintu hari ini, berdirilah sebentar dengan kedua telapak kaki menempel rata di lantai. Rasakan pijakan itu, lalu ucapkan pelan, "Terima kasih, Tuhan, karena aku berdiri di atas batu, bukan lumpur."
✦ Momen siang
Dia yang menahan perkataannya memiliki pengetahuan, dan dia yang berpengertian memiliki roh yang tenang. Orang bodoh pun, ketika berdiam diri, disangka berhikmat; ketika dia mengatupkan bibirnya, dia disangka berpengertian.
Amsal 17:27-28
Suara kantin masih berisik ketika kau meletakkan nampan di meja. Sejenak, biarkan bunyi itu memudar dulu di telingamu sebelum kau ikut bicara.
Jam makan siang sering jadi jam curhat. Rekan kerja duduk berdekatan, cerita mengalir, dan tanpa sadar obrolan berbelok ke arah keluhan tentang atasan, sindiran tentang teman sekantor, atau opini yang sebenarnya belum layak diucapkan. Semua terasa wajar, karena semua orang melakukannya.
Amsal justru memuji orang yang menahan kata-katanya, bukan karena ia tidak punya pendapat, tapi karena ia tahu kapan diam lebih berharga daripada bicara. Bahkan orang yang biasanya dianggap kurang bijak pun akan terlihat berhikmat kalau ia memilih menutup mulutnya pada waktu yang tepat.
Hari ini, di tengah obrolan makan siang, kau punya kesempatan kecil untuk mempraktikkan itu. Bukan menjadi dingin atau menjauh dari percakapan, tapi menjadi orang yang tenang, yang tidak buru-buru menambahkan komentar tajam tentang orang lain hanya karena ada celah untuk itu.
Hikmat semacam ini tidak butuh panggung besar. Ia lahir dari keputusan kecil, saat kata-kata sudah di ujung lidah tapi kau memilih menahannya sejenak.
Hari ini
Saat makan siang nanti, kalau obrolan mulai membicarakan seseorang yang tidak hadir, tarik napas dan ganti topik dengan satu pertanyaan netral, tanpa menambahkan komentarmu sendiri tentang orang itu.
◐ Momen sore
“Jika kamu telah berlari dengan orang-orang yang berjalan kaki dan mereka telah membuatmu lelah, lalu bagaimana kamu dapat berlomba dengan kuda-kuda? Dan, jika kepada negeri damai kamu percaya, apa yang akan kamu lakukan di semak belukar dekat Sungai Yordan?
Yeremia 12:5
Wearied. Kata itu mudah dilewatkan, seolah hanya keluhan kecil dari seorang nabi yang capek. Tapi coba berhenti sebentar di kata itu. Yeremia baru berlari dengan orang-orang yang berjalan kaki, bukan dengan pasukan berkuda, dan dia sudah kehabisan napas. Bukan tantangan besar yang menghabiskannya, hanya rutinitas biasa.
Kamis siang seperti ini sering begitu. Bukan krisis besar yang membuatmu lelah, tapi rapat yang bertele-tele, pesan yang belum dibalas, target yang belum tercapai. Hal-hal kecil, yang sebenarnya hanya 'orang berjalan kaki', sudah cukup membuatmu ingin menyerah sebelum sore tiba.
Dan Tuhan tidak menghibur Yeremia di sini. Dia justru bertanya, kalau begitu bagaimana nanti kalau harus melawan kuda? Kalau begitu bagaimana nanti kalau tantangan yang sesungguhnya datang? Ini bukan pertanyaan yang enak didengar waktu kamu sudah lelah duluan.
Pertanyaan itu memang tidak langsung dijawab dalam ayat ini. Mungkin memang tidak seharusnya dijawab cepat. Mungkin justru harus dibawa serta, sebagai kesadaran bahwa kelelahanmu hari ini belum tentu ukuran yang tepat untuk menilai kekuatanmu besok.
Hari ini
Sore ini, sebelum kamu lanjut ke tugas berikutnya, tuliskan satu hal kecil yang sudah membuatmu lelah hari ini di secarik kertas. Lalu di bawahnya tuliskan satu doa singkat, minta kekuatan bukan untuk menyelesaikan semuanya sekarang, tapi untuk bertahan sampai malam.
☾ Momen sore
Akan tetapi, aku akan memandang wajah-Mu dalam kebenaran, Ketika aku bangun, aku akan dipuaskan oleh rupa-Mu.
Mazmur 17:15
Daud menulis mazmur ini ketika ia dikepung oleh orang-orang yang memburu nyawanya, tidur dengan satu mata terbuka, mendengarkan setiap langkah di luar tenda. Namun di tengah ancaman itu, pikirannya justru melayang ke pagi hari, ke saat ia terbangun dan yang pertama dilihatnya bukan musuh, melainkan wajah Tuhan.
Itulah yang menakjubkan dari doa ini. Daud tidak berkata, ‘aku berharap aku bisa lolos malam ini.’ Ia berkata, ‘aku akan puas, ketika bangun, memandang wajah-Mu.’ Kepuasannya tidak bergantung pada situasi yang membaik, tetapi pada Pribadi yang ia percayai akan tetap ada saat mata terbuka esok hari.
Malam ini mungkin harimu penuh deadline, rapat yang melelahkan, atau pikiran yang belum selesai. Tapi seperti Daud, engkau boleh menutup hari dengan mengarahkan hati bukan ke daftar tugas besok, melainkan kepada wajah Tuhan yang sudah menantimu di pagi hari.
Dia yang menjaga Daud di tengah kepungan musuh, menjaga juga engkau di tengah kesibukan yang biasa. Tidak ada malam yang terlalu penuh masalah untuk ditutup dengan harapan sederhana ini: besok aku akan bangun, dan Dia masih ada.
Hari ini
Sebelum mematikan lampu malam ini, pejamkan mata sejenak dan ucapkan pelan-pelan, ‘Tuhan, besok aku ingin bangun dan melihat wajah-Mu.’ Ucapkan ini dengan suara, bukan hanya dalam hati, lalu tidurlah.
Baca perikop ini dalam Alkitab Yang Terbuka (AYT)
Ketuk sebuah bagian untuk membaca teks lengkapnya di sini.
2(40-3) Dia mengangkat aku dari lubang yang bergemuruh, keluar dari rawa lumpur, dan menetapkan kakiku di atas gunung batu; membuat langkah-langkahku tegap.
27Dia yang menahan perkataannya memiliki pengetahuan, dan dia yang berpengertian memiliki roh yang tenang.
28Orang bodoh pun, ketika berdiam diri, disangka berhikmat; ketika dia mengatupkan bibirnya, dia disangka berpengertian.
5“Jika kamu telah berlari dengan orang-orang yang berjalan kaki dan mereka telah membuatmu lelah, lalu bagaimana kamu dapat berlomba dengan kuda-kuda? Dan, jika kepada negeri damai kamu percaya, apa yang akan kamu lakukan di semak belukar dekat Sungai Yordan?
15Akan tetapi, aku akan memandang wajah-Mu dalam kebenaran, Ketika aku bangun, aku akan dipuaskan oleh rupa-Mu.
Ingin menggali lebih dalam?
Untuk setiap ayat dalam renungan ini, Anda bisa memperoleh penjelasan Alkitab yang mendalam beserta konteks, latar belakang, dan penerapannya.
Mulai penelusuran mendalam