Kejutan Tuhan yang Datang Tepat Waktu
Kejutan yang tepat waktu
Renungan singkat untuk direnungkan dengan tenang, diambil dari bagian Alkitab dalam Yohanes 2:10, Yakobus 1:3-4, Matius 28:2 and Kejadian 24:17-18.
☀ Momen pagi
dan berkata kepadanya, “Setiap orang menghidangkan air anggur yang baik terlebih dahulu dan ketika semua orang puas minum, barulah dihidangkan air anggur yang kurang baik. Namun, engkau menyimpan air anggur yang baik sampai sekarang.”
Yohanes 2:10
Bagaimana kalau yang kau siapkan untuk hari ini ternyata tidak cukup, sebelum harinya bahkan selesai?
Di Kana, pesta pernikahan bukan urusan semalam. Perayaan seperti itu bisa berlangsung sampai tujuh hari, ditanggung oleh keluarga mempelai pria, dan seluruh kampung ikut hadir sebagai saksi sekaligus tamu. Kehabisan anggur di tengah pesta bukan sekadar hal memalukan, itu bisa mencoreng nama keluarga selamanya, sesuatu yang akan diingat dan dibicarakan bertahun-tahun. Pesta itu melindungi kehormatan sebuah rumah tangga yang baru dimulai.
Ketika anggur habis, Maria datang kepada Yesus. Dan Yesus tidak sekadar menutupi kekurangan itu dengan seadanya. Enam tempayan air diubah menjadi anggur, dan menurut si pemimpin pesta, anggur itu justru yang terbaik, disimpan sampai akhir, padahal kebiasaannya justru sebaliknya. Yesus tidak menambal sebuah kegagalan, Ia membalikkan urutan yang biasa berlaku.
Itu memberi gambaran tentang cara Allah bekerja dalam hidup yang biasa saja, dalam pekerjaan hari ini yang mungkin terasa berulang, dalam persediaan yang terasa pas-pasan. Ia bukan Allah yang sekadar cukup menutup lubang, Ia sanggup memberi lebih dari yang diperlukan, di saat yang tidak disangka.
Hari ini
Sebelum berangkat kerja atau memulai rutinitas hari ini, siapkan segelas minuman untuk seseorang di rumah atau di kantor tanpa mereka minta, dan katakan dengan singkat bahwa ini tanda syukur untuk hari yang baru.
✦ Momen siang
Sebab, kamu tahu bahwa ujian terhadap imanmu menghasilkan ketabahan. Biarlah ketabahan memberikan hasil yang penuh supaya kamu menjadi sempurna dan utuh, tidak kekurangan apa-apa.
Yakobus 1:3-4
Sisa makan siang masih di piring, tapi tanganmu sudah menggapai ponsel, mengecek jam, menghitung berapa menit lagi sebelum harus kembali bekerja.
Kata Yunani yang dipakai untuk "endurance" di Yakobus 1:3-4 dan juga di Roma 5:3-4 adalah hupomone. Secara harfiah kata ini berarti "tinggal di bawah". Hupo berarti di bawah, mone berarti tinggal, menetap. Bayangkan sebuah balok penyangga di bawah atap yang berat: ia tidak lari, ia tidak roboh, ia tetap berdiri di tempatnya menahan beban sampai selesai. Ini bukan sikap pasif menunggu badai lewat sambil menutup mata. Ini sikap aktif, memilih tetap berada di posisi yang berat, tidak melarikan diri darinya.
Kata "ketekunan" atau "kesabaran" dalam terjemahan kita menangkap sebagian arti, tapi kehilangan gambaran fisiknya: seseorang yang secara sadar tetap berdiri di bawah tekanan, bukan karena tidak punya pilihan lain, tapi karena memilih untuk belum pergi.
Yakobus menulis bahwa ujian menghasilkan hupomone ini, dan hupomone yang dibiarkan bekerja penuh akan membuat seseorang utuh, tidak kekurangan apa pun. Bukan hasil instan, tapi hasil dari tetap tinggal di bawah beban, bukan menghindarinya.
Siang ini mungkin ada tugas, percakapan, atau tekanan yang sebenarnya ingin engkau hindari. Hupomone bukan soal menahan napas sampai semua berlalu, tapi soal tetap berdiri di tempat yang sulit itu, sampai selesai.
Hari ini
Pilih satu tugas siang ini yang paling ingin engkau hindari karena berat atau melelahkan. Duduklah menghadapinya sekarang juga, sepuluh menit penuh tanpa menggeser ke ponsel atau pekerjaan lain, dan selesaikan bagian pertamanya.
◐ Momen sore
Dan, lihat, terjadilah gempa bumi yang besar karena malaikat Tuhan turun dari surga, datang dan menggulingkan batu itu, kemudian duduk di atasnya.
Matius 28:2
Coba perhatikan satu kata kecil di ayat ini: duduk. Malaikat itu tidak berdiri berjaga, tidak buru-buru pergi. Ia duduk di atas batu yang baru saja digulingkannya, seolah pekerjaan itu selesai dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.
Batu kubur pada masa itu bukan sekadar penutup. Batu besar itu digulingkan lewat semacam alur di tanah, lalu disegel dan dijaga tentara, seperti yang tertulis beberapa ayat sebelumnya. Fungsinya jelas, mengunci kematian supaya tetap final, mencegah siapa pun masuk atau keluar.
Yang menarik, batu itu digulingkan bukan supaya Yesus bisa keluar. Ia sudah bangkit sebelum batu itu bergerak. Batu itu digulingkan supaya manusia bisa melihat masuk, supaya kekosongan kubur itu bisa disaksikan. Kebangkitan tidak menunggu izin batu.
Itu menggugah, karena kita sering hidup seolah ada batu yang menyegel sesuatu untuk selamanya. Sebuah kegagalan, sebuah hubungan yang putus, sebuah masa lalu yang kita anggap sudah mati dan terkunci rapat. Kita menjaga batu itu seolah tugas kita adalah memastikan ia tidak pernah bergeser.
Teks ini tidak menjawab semua pertanyaan tentang batu-batu yang masih terasa berat dalam hidupmu hari ini. Tapi ia menaruh gambar yang sulit dilupakan, seorang malaikat duduk santai di atas sesuatu yang dulu dianggap final.
Hari ini
Ambil kertas kecil sore ini, tuliskan satu hal yang selama ini kamu anggap sudah tertutup rapat dan tidak mungkin berubah, lalu simpan kertas itu di dompet atau di meja kerjamu sebagai pengingat sampai besok.
☾ Momen sore
Hamba itu berlari untuk menemuinya dan berkata, “Tolong, izinkan aku minum sedikit air dari kendimu.” Jawab Ribka, “Minumlah, Tuanku.” Dia pun segera menurunkan kendi itu ke tangannya, lalu memberikan minum kepada hamba itu.
Kejadian 24:17-18
Air keluar begitu saja saat keran diputar, itu yang kita anggap wajar. Dahulu tidak begitu. Air harus dijemput, dipikul, ditunggu gilirannya, dan siapa yang boleh menimbanya di sumur bukan sembarang orang.
Sumur ada di luar tepi kota, dan pada waktu petang, ketika udara mulai sejuk, perempuan-perempuan keluar membawa tempayan untuk menimba. Itu bukan tempat yang aman bagi orang asing untuk sekadar datang dan minta minum. Kepercayaan dibutuhkan di sana, sebab siapa yang menimba memegang kendali atas siapa yang boleh minum.
Di sumur itulah hamba Abraham berdiri, lelah dari perjalanan jauh, dan berdoa agar perempuan yang menimba baginya juga bersedia menimba bagi untanya. Ribka melakukannya tanpa diminta dua kali. Tuhan memakai kebiasaan sehari-hari seorang perempuan yang keluar mengambil air untuk membentuk seluruh jalan hidup satu keluarga.
Ratusan tahun kemudian, Yesus duduk di pinggir sumur lain, di negeri yang orang-orang sebangsa-Nya biasanya hindari. Ia bahkan meminta minum dari tempayan seorang perempuan Samaria, sesuatu yang menerobos batas siapa boleh memberi minum kepada siapa. Sumur yang tadinya menjaga batas, menjadi tempat Ia menawarkan air yang tidak akan membuat orang haus lagi.
Malam ini, pikirkan pekerjaan kecil yang tadi kau lakukan tanpa berpikir, mengisi gelas, menuang air untuk orang lain. Bisa jadi di situlah Tuhan sedang bekerja, seperti di sumur Ribka.
Hari ini
Sebelum tidur, tuanglah segelas air, minumlah perlahan, dan sebutkan satu nama orang yang hari ini membutuhkan pertolongan kecil darimu, lalu doakan dia seperti Ribka memberi minum kepada orang asing yang datang dari jauh.
Baca perikop ini dalam Alkitab Yang Terbuka (AYT)
Ketuk sebuah bagian untuk membaca teks lengkapnya di sini.
10dan berkata kepadanya, “Setiap orang menghidangkan air anggur yang baik terlebih dahulu dan ketika semua orang puas minum, barulah dihidangkan air anggur yang kurang baik. Namun, engkau menyimpan air anggur yang baik sampai sekarang.”
3Sebab, kamu tahu bahwa ujian terhadap imanmu menghasilkan ketabahan.
4Biarlah ketabahan memberikan hasil yang penuh supaya kamu menjadi sempurna dan utuh, tidak kekurangan apa-apa.
2Dan, lihat, terjadilah gempa bumi yang besar karena malaikat Tuhan turun dari surga, datang dan menggulingkan batu itu, kemudian duduk di atasnya.
17Hamba itu berlari untuk menemuinya dan berkata, “Tolong, izinkan aku minum sedikit air dari kendimu.”
18Jawab Ribka, “Minumlah, Tuanku.” Dia pun segera menurunkan kendi itu ke tangannya, lalu memberikan minum kepada hamba itu.
Ingin menggali lebih dalam?
Untuk setiap ayat dalam renungan ini, Anda bisa memperoleh penjelasan Alkitab yang mendalam beserta konteks, latar belakang, dan penerapannya.
Mulai penelusuran mendalam