Bertahan setia di tempat sulit
Setia dalam pergumulan
Renungan singkat untuk direnungkan dengan tenang, diambil dari bagian Alkitab dalam Yohanes 18:18, Kejadian 32:28, Matius 13:28-29 and Yeremia 29:7.
☀ Momen pagi
Setelah membuat perapian, para pelayan dan perwira berdiri di sana karena waktu itu udara terasa dingin, dan mereka berdiang. Petrus juga bersama mereka, berdiri dan berdiang.
Yohanes 18:18
Berdiri di antara orang banyak, dekat api yang hangat, biasanya terasa seperti tempat paling aman untuk bersembunyi. Tidak ada yang benar-benar memperhatikanmu di tengah begitu banyak wajah lain. Tapi justru di situlah Petrus jatuh.
Malam itu dingin. Yesus sedang diinterogasi di dalam, dan Petrus, yang tadinya berjanji akan mati bersama-Nya, memilih menyelinap masuk ke halaman, mengikuti dari jarak aman. Ia berdiri di antara para penjaga dan hamba, orang-orang yang justru menangkap gurunya, hanya untuk menghangatkan tubuh. Kebutuhan yang begitu manusiawi, sekadar mencari kehangatan di malam dingin, menjadi tempat di mana identitasnya sebagai murid Kristus diuji dan runtuh tiga kali.
Yang mahal dari malam itu bukan hanya kata-kata penyangkalan, tapi kesadaran sesudahnya: bahwa ia bisa berdiri sedekat itu dengan Yesus dalam hati, tapi menjauh justru saat dibutuhkan untuk mengakui-Nya di depan orang lain.
Hari ini kau mungkin juga akan berdiri di antara orang-orang yang tidak sejalan dengan imanmu, di kantor, di grup chat, di meja makan. Tidak ada yang salah dengan mencari kehangatan, rasa diterima, rasa aman. Tapi pertanyaan Petrus bisa datang kapan saja: siapa yang kau ikuti sebenarnya?
Hari ini
Sebelum kau berangkat pagi ini, ucapkan satu kalimat singkat dengan suara pelan, sendirian, sebelum orang lain sempat bertanya: "Aku murid-Nya." Katakan itu sekarang, saat belum ada tekanan, supaya nanti saat ditanya, jawabanmu sudah lebih dulu berakar.
✦ Momen siang
Kemudian, Dia berkata, “Namamu bukan lagi Yakub, melainkan Israel sebab kamu telah bergulat dengan Allah dan manusia, dan kamu menang.”
Kejadian 32:28
Jacob berjalan pincang ketika fajar itu tiba. Semalaman ia bergulat dengan sesosok yang tidak mau melepaskannya, dan ia pun tidak mau melepaskan-Nya. Ia tidak menang karena lebih kuat, ia menang karena bertahan sampai terang datang.
Nama Yakub sendiri berarti sesuatu seperti pengambil tumit, penipu, orang yang selalu mengambil jalan pintas. Sepanjang hidupnya ia memang begitu, merebut hak sulung, mencuri berkat, lari dari kakaknya. Tetapi malam itu di tepi sungai Yabok, namanya diganti. Israel, artinya orang yang bergumul dengan Allah dan menang. Bukan nama kemenangan atas musuh, melainkan nama seorang yang berani berpegang erat pada Allah sampai ia diberkati, walau harus pincang seumur hidup karenanya.
Di tengah hari kerja seperti ini, mungkin identitas kita ditentukan oleh target yang belum tercapai, atau oleh reputasi yang harus dijaga. Israel mengajarkan sesuatu yang lain, bahwa nama sejati seseorang bisa lahir justru dari pergumulan yang belum selesai, dari luka yang masih membekas, dari keberanian untuk tidak melepaskan Allah walau lelah.
Hari ini
Ambil selembar kertas atau buka catatan di ponsel. Tuliskan namamu sendiri, lalu di bawahnya tulis kalimat singkat, aku bergumul dan tidak melepaskan-Nya. Simpan tulisan itu di sakumu sampai sore ini tiba.
◐ Momen sore
Ia berkata kepada mereka, ‘Seorang musuh telah melakukannya.’ Lalu, hamba-hamba itu berkata kepadanya, ‘Apakah engkau mau kami pergi dan mengumpulkannya?’ Akan tetapi, tuan itu berkata, ‘Jangan! Sebab, ketika kamu mengumpulkan lalang-lalang itu, jangan-jangan kamu juga mencabut gandum itu bersamanya.
Matius 13:28-29
Jam dua siang, di depan spreadsheet berisi nama-nama rekan kerja, kau diam-diam membuat daftar dalam kepala: yang ini bisa diandalkan, yang itu cuma menambah beban. Tanpa sadar kau sedang memilah ladang.
Dalam perumpamaan ini yang bersuara duluan bukan si pemilik ladang, melainkan hamba-hambanya. Mereka melihat lalang tumbuh di antara gandum, dan reaksi pertama mereka wajar sekali: cabut saja. Mereka ingin bersih, ingin cepat, ingin jelas mana yang benar dan mana yang salah. Yang sering terlewat adalah ini, bahwa lalang yang dimaksud, saat masih muda, hampir tak bisa dibedakan dari gandum. Akarnya pun sudah saling melilit di bawah tanah. Mencabut satu berarti merusak yang lain.
Di situlah teks ini berbalik menghadap pembacanya. Bukan hanya orang lain yang kau golongkan lalang, ladang itu juga hatimu sendiri, tempat yang baik dan yang belum baik tumbuh berdampingan, belum selesai dipilah, belum waktunya dipilah.
Tuan itu tidak menyuruh hamba-hambanya menutup mata. Ia menyuruh mereka menahan tangan sampai waktunya tiba. Itu bukan sikap pasif, itu kesabaran yang sadar bahwa penilaian kita hari ini sering terlalu dini dan terlalu kasar.
Hari ini
Ambil selembar kertas kecil, tulis satu nama orang yang belakangan ini sudah kau anggap 'lalang' dalam hidupmu, lalu selipkan kertas itu di dalam Alkitabmu sebagai tanda bahwa hari ini kau berhenti mencabutnya sendiri.
☾ Momen sore
Usahakanlah kesejahteraan kota tempat Aku telah mengirimmu ke pembuangan, dan berdoalah kepada TUHAN untuk kota itu karena dalam kesejahteraan kota itulah kamu akan memperoleh kesejahteraan.’
Yeremia 29:7
Kapan terakhir kali kamu berdoa untuk tempat yang sebenarnya tidak ingin kamu tinggali?
Kata ini ditulis dalam surat, bukan khotbah. Yeremia mengirimkannya kepada orang-orang Israel yang diangkut paksa ke Babel, jauh dari rumah, dari Bait Suci, dari segala yang mereka kenal sebagai milik Allah. Ada nabi-nabi lain yang berjanji: sebentar lagi kalian pulang, jangan menetap, jangan berharap di sini. Tapi Yahweh justru menyuruh mereka membangun rumah, menanam kebun, menikahkan anak-anak mereka di Babel, dan mencari kesejahteraan kota tempat mereka dibuang.
Itu bukan nasihat untuk pasrah pada nasib. Itu perintah untuk hidup penuh di tempat yang tidak mereka pilih sendiri, sambil tetap berdoa kepada Yahweh untuk kota itu.
Hari ini kamu mungkin pulang ke kota, kompleks, kantor, atau sekolah yang bukan pilihan idealmu. Mungkin kamu menghitung hari sampai bisa pindah, atau diam-diam menganggap tempat ini hanya persinggahan. Firman ini datang untuk membalik itu malam ini: kesejahteraanmu terikat pada kesejahteraan tempat yang kamu tinggali sekarang, bukan tempat yang kamu impikan nanti.
Hari ini
Malam ini, ambil selembar kertas kecil. Tuliskan nama jalan, kompleks, atau kantor tempatmu berada sehari-hari, lalu ucapkan satu doa singkat untuk kedamaian tempat itu sebelum kamu tidur.
Baca perikop ini dalam Alkitab Yang Terbuka (AYT)
Ketuk sebuah bagian untuk membaca teks lengkapnya di sini.
18Setelah membuat perapian, para pelayan dan perwira berdiri di sana karena waktu itu udara terasa dingin, dan mereka berdiang. Petrus juga bersama mereka, berdiri dan berdiang.
28Kemudian, Dia berkata, “Namamu bukan lagi Yakub, melainkan Israel sebab kamu telah bergulat dengan Allah dan manusia, dan kamu menang.”
28Ia berkata kepada mereka, ‘Seorang musuh telah melakukannya.’ Lalu, hamba-hamba itu berkata kepadanya, ‘Apakah engkau mau kami pergi dan mengumpulkannya?’
29Akan tetapi, tuan itu berkata, ‘Jangan! Sebab, ketika kamu mengumpulkan lalang-lalang itu, jangan-jangan kamu juga mencabut gandum itu bersamanya.
7Usahakanlah kesejahteraan kota tempat Aku telah mengirimmu ke pembuangan, dan berdoalah kepada TUHAN untuk kota itu karena dalam kesejahteraan kota itulah kamu akan memperoleh kesejahteraan.’
Ingin menggali lebih dalam?
Untuk setiap ayat dalam renungan ini, Anda bisa memperoleh penjelasan Alkitab yang mendalam beserta konteks, latar belakang, dan penerapannya.
Mulai penelusuran mendalam