Ketenangan sejati di tengah kesesakan
Damai yang sejati
Renungan singkat untuk direnungkan dengan tenang, diambil dari bagian Alkitab dalam Yesaya 40:31, Amsal 15:15, Yeremia 8:11 and Mazmur 62:1-2.
☀ Momen pagi
Akan tetapi, mereka yang menanti-nantikan TUHAN akan memperoleh kekuatan baru. Mereka akan naik dengan sayap-sayap, seperti burung rajawali. Mereka akan berlari, tetapi tidak menjadi lesu, mereka akan berjalan, tetapi tidak menjadi letih.
Yesaya 40:31
Perhatikan urutan kata kerja di ayat ini. Biasanya kita berpikir naik tinggi seperti rajawali itu yang paling hebat, lalu berlari itu lebih biasa, dan berjalan itu paling sederhana. Tapi justru "berjalan tanpa lelah" ditaruh paling akhir, seolah itu puncaknya, bukan yang paling kecil.
Itu masuk akal kalau kamu pikirkan lagi. Terbang tinggi hanya sesekali terjadi, momen-momen besar yang jarang. Tapi berjalan, melangkah dari satu tugas ke tugas lain sepanjang hari kerja seperti hari ini, itu yang sebenarnya paling menguras. Bukan lompatan besar yang membuat kita lelah, melainkan langkah-langkah kecil yang berulang.
Di situlah Yesaya justru menaruh janji Tuhan. Bukan hanya untuk saat-saat dramatis, tapi untuk langkah harianmu yang biasa saja. Dia yang memberi kekuatan untuk terbang, juga memberi kekuatan untuk sekadar berjalan tanpa jatuh.
Syaratnya satu, menanti Yahweh. Bukan menanti sampai semua beres, tapi menaruh harap kepada-Nya sebelum langkah pertama diambil. Pagi ini, sebelum daftar tugasmu memenuhi pikiran, ada tawaran untuk berhenti sejenak dan menyerahkan kekuatanmu yang terbatas kepada-Nya yang tidak terbatas.
Hari ini
Sebelum kamu melangkah keluar pintu atau membuka laptop pagi ini, berdirilah sebentar dan rentangkan kedua tanganmu selebar mungkin seperti sayap, lalu ucapkan pelan, aku menanti Engkau, Tuhan, hari ini.
✦ Momen siang
Semua hari milik orang yang menderita itu buruk, tetapi hati yang gembira senantiasa berpesta.
Amsal 15:15
Piring di depanmu belum kosong, tapi pikiranmu sudah kembali ke meja kerja. Rapat berikutnya, email yang belum dibalas, target sore ini. Makan siang berubah jadi sekadar mengisi bahan bakar, bukan istirahat.
Amsal ini menaruh dua cara hidup berdampingan. Yang satu menghitung hari sebagai beban, susah payah demi susah payah. Yang lain, dengan hati yang gembira, merasakan setiap hari biasa seolah pesta yang terus berlangsung. Bukan karena keadaannya berbeda, tapi karena hatinya melihat berbeda.
Hari ini mungkin bukan hari istimewa. Kamu makan di meja yang sama, dengan menu yang biasa, di tengah pekerjaan yang belum selesai. Tapi Amsal berkata bahwa perayaan tidak menunggu keadaan sempurna. Ia lahir dari hati yang memilih bersyukur, bahkan untuk hal kecil, semangkuk nasi, sepuluh menit duduk, secangkir kopi yang masih hangat.
Coba lihat sekeliling meja makan siangmu. Ada rekan kerja, ada makanan, ada napas yang masih diberikan hari ini. Hati yang gembira tidak butuh alasan besar, ia hanya butuh mata yang mau melihat pesta kecil yang sudah tersedia.
Hari ini
Sebelum kamu kembali ke meja kerja, kirim satu pesan singkat kepada satu rekan kerja hari ini. Tulis satu kalimat yang membangun hatinya, sesuatu yang tulus dan spesifik, lalu kirim sebelum jam makan siangmu berakhir.
◐ Momen sore
Mereka telah menyembuhkan luka putri jemaat-Ku dengan menganggap enteng, sambil berkata, ‘Damai, damai,’ padahal tidak ada damai.
Yeremia 8:11
Sedikit. Kata kecil ini mudah terlewat, tersembunyi di antara kata yang lebih keras seperti luka dan damai. Tapi di situlah letak tuduhan Allah lewat Yeremia. Bukan karena tidak ada usaha menyembuhkan, tapi karena penyembuhan itu dangkal. Ditempel, bukan diobati sampai ke akar.
Kita mengenal pola ini. Seseorang bercerita tentang pernikahan yang goyah, dan kita balas cepat, semua akan baik-baik saja. Seseorang menangis karena kehilangan, dan kita menepuk bahunya sambil bilang Tuhan punya rencana. Kata-kata itu tidak salah, tapi sering dipakai untuk menutup percakapan, bukan membukanya. Untuk membuat kita merasa sudah menolong, padahal kita hanya menghindar dari luka yang sebenarnya.
Yeremia menyebutnya dusta yang berbaju damai. Damai, damai, padahal tidak ada damai. Ada perbedaan antara menenangkan dan menyembuhkan. Yang satu membuat kita nyaman sesaat, yang lain memaksa kita melihat luka apa adanya sebelum bisa sembuh sungguh.
Siang ini, pertanyaannya bukan untuk orang lain dulu, tapi untuk diri sendiri. Luka mana dalam hidupmu yang selama ini kau tempel dengan kata-kata yang menenangkan, bukan kau hadapi dengan jujur di hadapan Allah?
Hari ini
Ambil kertas kecil. Tuliskan satu luka atau kegelisahan yang biasa kau tutup dengan kalimat semua baik-baik saja. Tulis satu kalimat jujur tentang luka itu, tanpa dipoles, lalu bawa kalimat itu dalam doa singkat sebelum kau lanjutkan pekerjaanmu.
☾ Momen sore
Kepada pemimpin pujian. Menurut Yedutun. Mazmur Daud. (62-2) Hanya pada Allah jiwaku tenang, Dia adalah keselamatanku. (62-3) Hanya Dia gunung batuku dan keselamatanku, tempat perlindungan yang tinggi; aku takkan digoyahkan.
Mazmur 62:1-2
Kenapa pikiranmu masih sibuk menghitung, padahal jam kerja sudah lama selesai? Rapat tadi siang, pesan yang belum dibalas, target yang belum tercapai, semuanya masih berputar di kepala walau tubuh sudah rebah di kasur.
Pemazmur juga tahu rasanya malam yang tidak tenang. Tapi ia menemukan satu tempat untuk menaruh jiwanya yang lelah, bukan pada hasil kerja hari ini, bukan pada rencana besok, melainkan pada Allah sendiri. Bukan berarti semua persoalan langsung selesai malam ini. Tapi jiwa boleh berhenti mengangkat sendiri apa yang terlalu berat.
Ada perbedaan antara tidur karena kelelahan dan tidur karena percaya. Yang pertama hanya menunda beban sampai besok pagi. Yang kedua benar-benar meletakkannya, seperti anak yang akhirnya berhenti menggenggam mainan dan tertidur di pangkuan orang tuanya.
Tuhan tidak menyuruhmu memaksa hati untuk tenang dengan usaha sendiri. Dia menawarkan diri-Nya sebagai gunung batu, tempat berpijak yang tidak akan runtuh walau harimu tadi terasa goyah.
Hari ini
Malam ini, sebelum kau memejamkan mata, ambil selembar kertas kecil. Tuliskan satu hal yang paling membebani pikiranmu hari ini, lalu ucapkan pelan, 'Tuhan, ini kuserahkan kepada-Mu malam ini,' dan letakkan kertas itu di bawah bantalmu sebagai tanda kau benar-benar melepaskannya.
Baca perikop ini dalam Alkitab Yang Terbuka (AYT)
Ketuk sebuah bagian untuk membaca teks lengkapnya di sini.
31Akan tetapi, mereka yang menanti-nantikan TUHAN akan memperoleh kekuatan baru. Mereka akan naik dengan sayap-sayap, seperti burung rajawali. Mereka akan berlari, tetapi tidak menjadi lesu, mereka akan berjalan, tetapi tidak menjadi letih.
15Semua hari milik orang yang menderita itu buruk, tetapi hati yang gembira senantiasa berpesta.
11Mereka telah menyembuhkan luka putri jemaat-Ku dengan menganggap enteng, sambil berkata, ‘Damai, damai,’ padahal tidak ada damai.
1Kepada pemimpin pujian. Menurut Yedutun. Mazmur Daud. (62-2) Hanya pada Allah jiwaku tenang, Dia adalah keselamatanku.
2(62-3) Hanya Dia gunung batuku dan keselamatanku, tempat perlindungan yang tinggi; aku takkan digoyahkan.
Ingin menggali lebih dalam?
Untuk setiap ayat dalam renungan ini, Anda bisa memperoleh penjelasan Alkitab yang mendalam beserta konteks, latar belakang, dan penerapannya.
Mulai penelusuran mendalam