Percaya saat hidup tak pasti
Percaya dan tenang
Renungan singkat untuk direnungkan dengan tenang, diambil dari bagian Alkitab dalam Mazmur 28:7, Yakobus 4:13-14, Pengkhotbah 2:22-23 and Mazmur 3:5.
☀ Momen pagi
TUHAN adalah kekuatanku dan perisaiku. Aku percaya kepada-Nya di dalam hatiku, aku pun tertolong, karena itu hatiku bersukaria. Dan, dengan nyanyianku, aku hendak bersyukur kepada-Nya.
Mazmur 28:7
Jam masih menunjukkan pukul 05:50 ketika alarm ketiga akhirnya membangunkanmu, dan pikiranmu sudah melompat ke rapat pukul sembilan, tugas yang belum selesai kemarin, serta sarapan yang harus disiapkan sebelum semua orang berangkat. Belum apa-apa, badan sudah terasa berat duluan.
Di tengah pagi yang seperti itu, pemazmur berkata sesuatu yang sederhana tapi berani: Yahweh adalah kekuatanku dan perisaiku. Bukan rencana yang rapi, bukan tubuh yang segar, tapi Tuhan sendiri yang jadi sandaran hari ini. Ia tidak menunggu sampai kamu merasa siap dulu baru menjadi kekuatanmu.
Hatiku percaya kepada-Nya, kata pemazmur, dan aku tertolong. Ada jeda di situ, seolah pertolongan itu datang justru setelah hati memilih percaya, bukan setelah semua masalah selesai. Kamu boleh mulai hari ini dengan hati yang masih lelah, asal diarahkan kepada Dia.
Dan yang menarik, respons pemazmur bukan cemas yang ditahan-tahan, tapi hati yang bersorak dan mau bersyukur dengan nyanyian. Bukan karena hari sudah ringan, tapi karena ia tahu siapa yang berjalan bersamanya sepanjang hari itu.
Hari ini
Sebelum kamu meraih ponsel atau membuka daftar tugas pagi ini, ucapkan dengan suara pelan, cukup untuk didengar dirimu sendiri, kalimat ini: Yahweh adalah kekuatanku dan perisaiku, hari ini aku percaya kepada-Nya. Lakukan ini sekarang, sebelum kaki melangkah keluar kamar.
✦ Momen siang
Sekarang, dengarkanlah hai kamu yang berkata, “Hari ini atau besok, kami akan pergi ke kota ini dan itu, tinggal di sana selama setahun, berdagang, dan mendapat keuntungan,” padahal kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu seperti uap yang muncul sebentar, dan kemudian lenyap.
Yakobus 4:13-14
Seorang pedagang di pasar zaman Yakobus sudah menghitung untungnya tahun depan, padahal ia belum tahu apakah besok pagi ia masih bisa membuka kiosnya. Ia bicara seolah hari-hari ke depan sudah ada dalam genggamannya.
Siang ini mungkin kalender kerjamu juga penuh begitu. Rapat sore, target minggu depan, proyek bulan depan, semua sudah tersusun rapi di kepala seakan pasti terjadi. Tidak ada yang salah dengan merencanakan, tapi ada nada diam-diam yang menyelinap: seolah waktu ada di tangan kita.
Yakobus tidak melarang rencana. Ia menegur kepastian yang keliru tempat. Hidup ini digambarkannya seperti uap, tampak sebentar lalu hilang. Bukan untuk membuat kita takut, tapi untuk membebaskan kita dari beban berpura-pura mengendalikan sesuatu yang sebenarnya bukan milik kita.
Di tengah jam makan siang yang terjepit di antara dua rapat, ini kesempatan kecil untuk berhenti sejenak dari ilusi itu. Bukan berhenti bekerja, hanya berhenti berpura-pura tahu segalanya.
Hari ini
Ambil ponsel atau agendamu sekarang, buka jadwal besok, dan tulis satu kalimat kecil di sampingnya: kalau Tuhan menghendaki. Biarkan kalimat itu jadi pengingat setiap kali matamu melihat jadwal itu sepanjang minggu ini.
◐ Momen sore
Apa yang didapat seseorang dari segala kerja keras dan keinginan hati yang menyertai kerja kerasnya di bawah matahari? Sebab, sepanjang seluruh harinya, kerja kerasnya adalah kepedihan dan kejengkelan. Pada malam hari pun, akal budinya tidak beristirahat. Ini pun kesia-siaan.
Pengkhotbah 2:22-23
Jam tiga sore, layar laptop masih menyala, tapi pikiranmu sudah lama pergi entah ke mana. Ada rasa lelah yang bukan cuma di badan, tapi di dalam, di tempat yang biasanya menyimpan alasan kenapa kamu bangun pagi tadi.
Si Pengkhotbah tidak menghibur kita di sini. Ia tidak bilang, tenang saja, semua ada gunanya. Ia justru berkata: aku sudah kerja keras, dan hasilnya cuma kesedihan, kegelisahan, malam yang tak tenang. Itu kata orang bijak, bukan orang yang gagal.
Mungkin itu yang membuat teks ini terasa jujur. Ia tidak buru-buru menutup lukanya dengan kalimat rohani. Ia membiarkan pertanyaannya menggantung: untuk apa semua jerih payah ini, kalau ujungnya cuma lelah yang berulang?
Alkitab tidak selalu menjawab pertanyaan itu di ayat berikutnya. Kadang jawabannya datang jauh kemudian, atau tidak datang sama sekali hari ini. Yang ditawarkan bukan solusi instan, tapi izin untuk mengakui: pekerjaanku hari ini terasa sia-sia, dan aku lelah, dan itu boleh diucapkan di hadapan Tuhan tanpa harus segera diberi makna.
Hari ini
Ambil selembar kertas kecil sekarang. Tuliskan satu pekerjaan hari ini yang terasa paling sia-sia atau paling melelahkan, lalu di bawahnya tulis satu kalimat, 'Tuhan, aku serahkan ini pada-Mu.' Lipat kertas itu, simpan di saku, dan biarkan ada di sana sampai malam.
☾ Momen sore
(3-6) Aku berbaring dan tidur; aku bangun karena TUHAN sandaranku.
Mazmur 3:5
Jam setengah sepuluh malam, laptop kerjamu masih menyala di meja dapur, tab-tab email besok belum tertutup semua. Ada satu pesan dari rekan kerja yang belum kau balas, dan pikiranmu masih menyusun kalimat balasannya sambil menyikat gigi. Hari Rabu ini terasa panjang, penuh keputusan kecil yang menguras lebih dari yang kau sadari.
Daud menulis mazmur ini di tengah tekanan yang jauh lebih berat daripada email yang belum terbalas, ia dikejar musuh, dikepung ancaman dari segala arah. Tapi lihatlah yang ia lakukan sebelum tidur, ia berbaring dan benar-benar tidur, lalu bangun dengan segar. Bukan karena masalahnya selesai, tapi karena ia tahu siapa yang menopangnya sepanjang malam.
Itu bukan sikap masa bodoh. Itu keyakinan bahwa malam ini bukan giliranmu untuk menjaga dunia tetap berputar. Tuhan tidak mengantuk, tidak butuh istirahat, dan Dia tetap bekerja saat kau tidak lagi mampu berpikir jernih.
Malam ini boleh kau tutup laptopmu tanpa menyelesaikan semua hal. Bukan karena kau tidak peduli, tapi karena kau percaya ada Tangan lain yang tetap terjaga.
Hari ini
Tutup laptopmu sekarang, lalu ucapkan pelan sebelum berbaring, "Aku laid myself down and sleep, karena Yahweh sustains me" dengan kata-katamu sendiri, dan biarkan pesan yang belum terbalas itu menunggu sampai pagi.
Baca perikop ini dalam Alkitab Yang Terbuka (AYT)
Ketuk sebuah bagian untuk membaca teks lengkapnya di sini.
7TUHAN adalah kekuatanku dan perisaiku. Aku percaya kepada-Nya di dalam hatiku, aku pun tertolong, karena itu hatiku bersukaria. Dan, dengan nyanyianku, aku hendak bersyukur kepada-Nya.
13Sekarang, dengarkanlah hai kamu yang berkata, “Hari ini atau besok, kami akan pergi ke kota ini dan itu, tinggal di sana selama setahun, berdagang, dan mendapat keuntungan,”
14padahal kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu seperti uap yang muncul sebentar, dan kemudian lenyap.
22Apa yang didapat seseorang dari segala kerja keras dan keinginan hati yang menyertai kerja kerasnya di bawah matahari?
23Sebab, sepanjang seluruh harinya, kerja kerasnya adalah kepedihan dan kejengkelan. Pada malam hari pun, akal budinya tidak beristirahat. Ini pun kesia-siaan.
5(3-6) Aku berbaring dan tidur; aku bangun karena TUHAN sandaranku.
Ingin menggali lebih dalam?
Untuk setiap ayat dalam renungan ini, Anda bisa memperoleh penjelasan Alkitab yang mendalam beserta konteks, latar belakang, dan penerapannya.
Mulai penelusuran mendalam