Allah Memanggil yang Terlupakan
Panggilan bagi yang ragu
Renungan singkat untuk direnungkan dengan tenang, diambil dari bagian Alkitab dalam Matius 20:6-7, Yoel 2:28, Matius 25:24 and Hakim-Hakim 6:12.
☀ Momen pagi
Dan, kira-kira pada jam kesebelas, ia pergi dan menemukan yang lainnya sedang berdiri dan berkata kepada mereka, ‘Mengapa kamu berdiri di sini menganggur sepanjang hari?’ Mereka berkata kepadanya, ‘Karena belum ada yang mempekerjakan kami.’ Pemilik kebun itu berkata kepada mereka, ‘Kamu, pergilah juga ke kebun anggurku.’
Matius 20:6-7
Bayangkan debu yang sudah menempel di kaki mereka sejak pagi. Matahari hampir turun, bayang-bayang memanjang di alun-alun pasar, dan mereka masih berdiri di sana, di tempat yang sama sejak subuh. Bukan karena malas. Orang-orang ini menunggu dipanggil, dan sepanjang hari tidak ada yang memanggil.
Detail yang sering terlewat: pemilik ladang itu tidak cuma datang sekali. Ia keluar lagi dan lagi, sampai jam kesebelas, jam terakhir dari hari kerja dua belas jam. Satu jam sebelum matahari terbenam, ketika hampir semua orang sudah menyerah mencari kerja hari itu, Ia masih mencari orang yang bisa dipakai.
Tanya-Nya bukan tuduhan, tapi keheranan yang penuh perhatian: mengapa kamu berdiri di sini sepanjang hari tanpa pekerjaan? Jawaban mereka sederhana dan pahit, tidak ada yang mempekerjakan kami. Bukan pilihan mereka untuk menganggur. Dan justru kepada orang-orang yang paling sedikit waktunya inilah panggilan itu datang.
Hari ini mungkin kamu merasa seperti sudah tertinggal, sudah terlalu siang untuk mulai apa pun yang berarti. Perumpamaan ini tidak bicara soal upah dulu. Ia bicara soal seorang yang masih keluar mencari, sampai jam terakhir, dan tetap memberi pekerjaan yang berarti kepada yang berdiri kosong tangan.
Hari ini
Pilih satu hal yang sudah kamu tunda hari ini karena merasa sudah terlambat untuk memulainya. Kerjakan lima menit pertamanya sekarang juga, sebagai jawabmu atas panggilan itu.
✦ Momen siang
“Setelah itu, akan terjadi, Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia. Anak-anakmu laki-laki dan anak-anakmu perempuan akan bernubuat, orang-orang tua akan mendapat mimpi, pemuda-pemuda akan mendapat penglihatan.
Yoel 2:28
Kata itu: dicurahkan. Bukan menetes, bukan dibagi hemat sedikit-sedikit, melainkan dicurahkan, seperti seseorang menumpahkan seluruh isi kendi sampai habis. Kali ini yang dicurahkan bukan air ke tanah kering, melainkan Roh Allah ke atas manusia.
Kata ini keras karena keadaannya keras. Yoel menulis sesudah bangsa itu dihantam tulah belalang yang menghabiskan setiap daun, setiap tunas, setiap panen. Lumbung kosong, ladang gundul, orang-orang berpuasa dan menangis di depan mezbah karena tidak ada lagi yang bisa dipersembahkan. Di tengah reruntuhan itulah Allah berjanji, bukan sekadar panen baru, tapi diri-Nya sendiri, dicurahkan bukan hanya kepada imam atau nabi, melainkan kepada segala manusia, anak laki-laki dan perempuan, orang tua dan orang muda.
Batas lama dirobek. Dahulu hanya segelintir orang menerima Roh untuk tugas khusus. Sekarang janji itu terbuka lebar, sampai ke pekerja biasa, ke siapa saja yang sedang berdiri di ladang yang gundul.
Hari ini kau mungkin ada di titik yang mirip, proyek yang belum selesai, energi yang menipis begitu jam makan siang tiba, rasa bahwa apa yang kau kerjakan pagi ini belum cukup. Firman ini tidak bicara tentang lumbung yang sudah penuh, tapi tentang Roh yang justru dicurahkan ke ladang yang masih kosong.
Hari ini
Sebelum kembali ke meja kerja, sebutkan satu hal spesifik yang membuatmu lelah atau buntu siang ini, lalu ucapkan pelan-pelan, "Curahkan Roh-Mu di sini," sebelum kau berdiri dari kursi.
◐ Momen sore
Kemudian, orang yang menerima 1 talenta juga menghadap dan berkata, ‘Tuan, aku tahu engkau orang yang kejam, menuai di tempat yang engkau tidak menabur, dan mengumpulkan di tempat yang engkau tidak menyebarkan benih.
Matius 25:24
Seorang budak berlutut di tanah kering, tangannya kotor karena menggali lubang di bawah pohon zaitun. Ia memasukkan uang majikannya ke dalam kain, menguburkannya, lalu menutupnya kembali dengan tanah. Itu bukan tindakan malas. Itu tindakan orang yang ketakutan.
Kita biasanya buru-buru ke hamba yang lima dan dua talenta, menghitung berapa untung yang mereka hasilkan. Detail yang sering terlewat justru ada di sini, pada alasan hamba ketiga. Ia tidak mengaku malas atau bodoh. Ia mengaku takut, dan ketakutannya lahir dari gambaran tertentu tentang tuannya: keras, suka memanen apa yang tidak ia tanam sendiri. Satu talenta pada masa itu bukan jumlah kecil, nilainya setara upah puluhan tahun kerja seorang buruh. Ini bukan cerita tentang bakat kecil yang harus disyukuri, ini cerita tentang kepercayaan besar yang bisa dikubur karena gambaran yang salah tentang siapa yang memberinya.
Di sinilah teks ini masih menoyor pembacanya hari ini. Bukan pertanyaan apakah kita punya banyak atau sedikit, tapi gambaran apa tentang Allah yang membuat kita lebih memilih menguburkan daripada mempertaruhkan. Ketakutan yang menyamar sebagai kehati-hatian bisa menjadi kuburan bagi hal-hal yang sebenarnya dipercayakan untuk dipakai.
Hari ini
Ambil kertas kecil, tuliskan satu hal yang selama ini kaupendam karena takut gagal atau takut dinilai keras oleh orang lain. Sore ini, sebelum jam kerja usai, lakukan satu langkah kecil dengan hal itu, kirim pesan itu, ajukan pertanyaan itu, mulai percakapan itu.
☾ Momen sore
Lalu, Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya, dan berfirman, “TUHAN menyertai engkau, ya pahlawan yang perkasa!”
Hakim-Hakim 6:12
Pantaskah Engkau memanggilku begitu, Tuhan, padahal aku sedang bersembunyi dan gemetar ketakutan?
Gideon tidak sedang berdiri gagah di ladang. Ia berada di dalam pemerasan anggur, tempat sempit yang rendah dan tertutup, memukul-mukul gandum di sana. Biasanya gandum ditampi di tempat terbuka, di atas bukit, supaya angin memisahkan sekam dari biji. Tapi Gideon tidak berani ke sana. Orang Midian bisa melihatnya. Jadi ia bekerja keras di tempat yang salah, tanpa angin, sendirian, penuh takut, hanya supaya keluarganya punya sedikit makanan tersisa.
Di tengah kerja yang melelahkan dan tersembunyi itulah malaikat Yahweh datang dan menyapanya sebagai pahlawan yang gagah berani. Bukan setelah Gideon menang perang. Bukan setelah ia merasa kuat. Justru saat ia paling kecil dan paling takut.
Mungkin hari ini kau juga melakukan banyak hal kecil yang tidak terlihat siapa pun, dengan tenaga yang terasa sia-sia karena keadaan tidak ideal. Kau tidak merasa seperti pahlawan. Tapi Tuhan tidak menunggu kau merasa kuat dulu baru Dia hadir. Dia datang justru ke tempat sempit itu, ke dalam pemerasan anggurmu, dan berkata bahwa Dia menyertaimu di sana.
Hari ini
Malam ini, ambil satu hal kecil yang kau kerjakan hari ini dengan lelah atau takut, sesuatu yang rasanya tidak dilihat siapa pun. Ucapkan dengan suara pelan, "Tuhan, Engkau melihatku di sana," dan serahkan hal itu kepada-Nya sebelum kau tidur.
Baca perikop ini dalam Alkitab Yang Terbuka (AYT)
Ketuk sebuah bagian untuk membaca teks lengkapnya di sini.
6Dan, kira-kira pada jam kesebelas, ia pergi dan menemukan yang lainnya sedang berdiri dan berkata kepada mereka, ‘Mengapa kamu berdiri di sini menganggur sepanjang hari?’
7Mereka berkata kepadanya, ‘Karena belum ada yang mempekerjakan kami.’ Pemilik kebun itu berkata kepada mereka, ‘Kamu, pergilah juga ke kebun anggurku.’
28“Setelah itu, akan terjadi, Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia. Anak-anakmu laki-laki dan anak-anakmu perempuan akan bernubuat, orang-orang tua akan mendapat mimpi, pemuda-pemuda akan mendapat penglihatan.
24Kemudian, orang yang menerima 1 talenta juga menghadap dan berkata, ‘Tuan, aku tahu engkau orang yang kejam, menuai di tempat yang engkau tidak menabur, dan mengumpulkan di tempat yang engkau tidak menyebarkan benih.
12Lalu, Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya, dan berfirman, “TUHAN menyertai engkau, ya pahlawan yang perkasa!”
Ingin menggali lebih dalam?
Untuk setiap ayat dalam renungan ini, Anda bisa memperoleh penjelasan Alkitab yang mendalam beserta konteks, latar belakang, dan penerapannya.
Mulai penelusuran mendalam