Iman yang bertumbuh lewat sesama
Iman dan kebersamaan
Renungan singkat untuk direnungkan dengan tenang, diambil dari bagian Alkitab dalam Yohanes 2:11, Kisah Para Rasul 12:5, Matius 18:21 and Kisah Para Rasul 18:26.
☀ Momen pagi
Tanda ajaib pertama ini Yesus lakukan di Kana, Galilea, dan menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya.
Yohanes 2:11
Para pelayan di pesta pernikahan itu hanya menerima perintah yang tidak masuk akal: isi enam tempayan batu itu dengan air, lalu bawa ke pemimpin pesta. Mereka taat tanpa penjelasan, dengan tangan basah dan pertanyaan yang tidak terjawab.
Tempayan-tempayan itu bukan tempayan biasa. Tempayan itu dipakai untuk penyucian menurut adat Yahudi, dan tiap tempayan bisa menampung puluhan liter air. Ketika Yesus mengubah air itu menjadi anggur, jumlahnya sangat banyak, cukup untuk seluruh pesta yang sedang kehabisan sukacita.
Yang menarik, pemimpin pesta mencicipi anggur terbaik itu tanpa tahu dari mana asalnya. Hanya para pelayan yang tahu, karena merekalah yang mengisi air itu dengan tangan mereka sendiri. Mukjizat ini terjadi lewat tangan orang-orang yang melakukan tugas paling sederhana, bukan lewat mereka yang duduk di kursi kehormatan.
Yohanes menulis bahwa inilah tanda pertama Yesus, dan lewat tanda itu murid-murid-Nya percaya. Kemuliaan-Nya tidak selalu tampak megah sejak awal. Kadang tersembunyi dalam air yang dituang, dalam kerja yang tampak biasa, sampai tiba waktunya semuanya berubah.
Hari ini mungkin dimulai dengan tugas-tugas yang terasa kecil dan tidak istimewa. Kau tidak perlu tahu bagaimana semuanya akan berakhir untuk tetap setia mengisi tempayanmu sendiri hari ini.
Hari ini
Sebelum memulai pekerjaan pertamamu pagi ini, ucapkan dengan suara pelan, Tuhan, pakai yang biasa ini. Lalu kerjakan tugas itu dengan penuh perhatian, sebagai bagian kecil dari sesuatu yang mungkin sedang Dia kerjakan lebih besar dari yang kau lihat.
✦ Momen siang
Maka, Petrus ditahan di dalam penjara, tetapi doa bagi Petrus terus-menerus dipanjatkan kepada Allah oleh jemaat.
Kisah Para Rasul 12:5
Pernah kau berdoa begitu keras sampai tidak percaya waktu jawabannya benar-benar datang?
Petrus dipenjara, dan Herodes sudah merencanakan eksekusinya keesokan harinya. Tidak ada jalan keluar yang masuk akal. Kata Yunani yang dipakai untuk doa jemaat di sini, ektenōs, berarti tegang seperti tali yang direntangkan penuh. Ini bukan doa sopan sebelum tidur. Ini doa yang menahan napas sepanjang malam, doa orang yang tahu waktunya hampir habis.
Doa itu tidak berpura-pura tenang. Doa itu berani berkata kepada Tuhan bahwa keadaan ini genting, bahwa mereka tidak punya rencana cadangan, hanya permohonan yang diulang terus sampai pagi. Dan yang menarik, ketika Petrus benar-benar mengetuk pintu, mereka sendiri tidak percaya. Doa mereka lebih berani daripada iman mereka.
Itu justru yang membuatnya jujur. Kau tidak perlu menunggu sampai kata-katamu rapi atau imanmu kuat dulu sebelum berdoa. Di tengah hari kerja yang penuh tekanan, ketika ada satu hal yang membuatmu tegang dari pagi, itulah bahan doa yang paling jujur, bukan yang paling indah.
Hari ini
Ambil satu nama, satu situasi yang sedang membuatmu tegang hari ini, entah rekan kerja, keluarga, atau keputusan yang menggantung. Tuliskan namanya di kertas atau catatan ponsel, lalu ucapkan doa singkat dan lugas untuknya sekarang, tanpa merapikan kata-katamu.
◐ Momen sore
Kemudian, Petrus datang kepada Yesus dan bertanya, “Tuhan, seberapa sering seharusnya aku mengampuni saudaraku yang berdosa terhadapku? Sampai 7 kali?”
Matius 18:21
Jam tiga sore, pesan itu masuk lagi di layar ponsel. Nama yang sama, alasan yang sama, permintaan maaf yang terasa seperti rekaman yang diputar ulang. Kamu sudah memaafkan orang ini bulan lalu, minggu lalu, bahkan kemarin. Pertanyaan yang muncul bukan lagi 'haruskah aku memaafkan', tapi 'sampai kapan'.
Pertanyaan itu persis yang diajukan Petrus kepada Yesus. Ia baru saja mendengar Yesus mengajar tentang saudara yang berbuat salah, tentang menegur, tentang proses jemaat yang panjang untuk memulihkan hubungan yang retak. Di tengah percakapan itu Petrus bertanya, berapa kali ia harus mengampuni saudaranya yang bersalah kepadanya. Ia menawarkan angka tujuh, jumlah yang dalam kebiasaan orang Yahudi saat itu sudah dianggap murah hati, jauh lebih dari cukup dibanding kelaziman mengampuni tiga kali.
Petrus mengira ia sedang bermurah hati. Ia melipatgandakan angka yang biasa dan menambahkan satu, seolah kemurahan hati bisa dihitung dan disepakati batasnya, seolah ada titik di mana seseorang boleh berhenti mencoba dengan hati nurani yang bersih. Pertanyaan itu sendiri sudah menyingkapkan sesuatu tentang hati manusia, yang selalu ingin tahu di mana garis berhenti itu berada.
Yesus belum menjawab di ayat ini. Pertanyaan Petrus dibiarkan berdiri sendiri dulu, terbuka, menggantung di udara seperti pertanyaanmu sendiri sore ini. Berapa kali. Sampai kapan. Pertanyaan itu jujur, dan tidak salah untuk bertanya begitu ketika luka itu nyata dan berulang.
Hari ini
Ambil kertas kecil, tuliskan nama orang yang sedang kamu hitung-hitung kesalahannya hari ini, lalu sobek perlahan kertas itu sebagai tanda kamu berhenti menghitung, setidaknya untuk hari ini.
☾ Momen sore
Ia mulai berbicara dengan berani di dalam sinagoge, tetapi ketika Priskila dan Akwila mendengarkannya, mereka menariknya ke samping dan menjelaskan kepadanya Jalan Allah dengan lebih tepat.
Kisah Para Rasul 18:26
Dunia mengajarkan bahwa dikoreksi di tengah keahlianmu adalah tanda kegagalan, sesuatu yang harus dihindari atau disembunyikan. Tapi lihat apa yang terjadi pada Apolos.
Dia bukan orang biasa. Fasih, menguasai Kitab Suci, berani bicara di depan umum, mengajar tentang Yesus dengan tepat. Tapi ada satu bagian yang belum lengkap, ia hanya mengenal baptisan Yohanes. Priscilla dan Akwila, sepasang pembuat tenda yang mendengarnya, tidak mempermalukannya di depan orang banyak. Mereka menariknya ke samping, diam-diam, dan menjelaskan jalan Allah dengan lebih saksama.
Itu yang mengubah segalanya, bukan karena Apolos salah besar, tapi karena ia mau ditarik ke samping. Kefasihannya tidak membuatnya menolak untuk belajar lagi.
Malam ini mungkin ada momen serupa yang lewat begitu saja, seseorang yang menegurmu dengan lembut, sebuah pemahaman yang baru genap hari ini, sebuah percakapan yang diam-diam menyempurnakan sesuatu dalam dirimu. Jangan buru-buru melupakannya. Tuhan sering bekerja lewat orang-orang biasa yang berani menarik kita ke samping, bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk melengkapi.
Hari ini
Malam ini, tuliskan nama satu orang yang pernah dengan lembut mengoreksi atau mengajarimu sesuatu, lalu kirimkan pesan singkat kepadanya untuk mengucap terima kasih sebelum kau tidur.
Baca perikop ini dalam Alkitab Yang Terbuka (AYT)
Ketuk sebuah bagian untuk membaca teks lengkapnya di sini.
11Tanda ajaib pertama ini Yesus lakukan di Kana, Galilea, dan menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya.
5Maka, Petrus ditahan di dalam penjara, tetapi doa bagi Petrus terus-menerus dipanjatkan kepada Allah oleh jemaat.
21Kemudian, Petrus datang kepada Yesus dan bertanya, “Tuhan, seberapa sering seharusnya aku mengampuni saudaraku yang berdosa terhadapku? Sampai 7 kali?”
26Ia mulai berbicara dengan berani di dalam sinagoge, tetapi ketika Priskila dan Akwila mendengarkannya, mereka menariknya ke samping dan menjelaskan kepadanya Jalan Allah dengan lebih tepat.
Ingin menggali lebih dalam?
Untuk setiap ayat dalam renungan ini, Anda bisa memperoleh penjelasan Alkitab yang mendalam beserta konteks, latar belakang, dan penerapannya.
Mulai penelusuran mendalam