Tuhan hadir saat kita berseru
Tuhan yang menjawab
Renungan singkat untuk direnungkan dengan tenang, diambil dari bagian Alkitab dalam Lukas 5:2, Markus 2:1-2, Yunus 3:5-6 and 2 Raja-raja 6:5-6.
☀ Momen pagi
dan melihat dua perahu yang sedang sandar di tepi danau itu, tetapi para nelayan sudah keluar dari perahu-perahu itu dan sedang mencuci jala mereka.
Lukas 5:2
Jaring yang sudah dicuci bersih pagi itu, tidak pernah dipakai lagi.
Nelayan di Galilea bekerja semalaman menjaring ikan, lalu begitu fajar, mereka harus mencuci jaring dari lumpur dan rumput laut supaya kering dan siap dipakai lagi esok hari. Ini bukan momen rohani, hanya rutinitas biasa, pekerjaan yang harus selesai sebelum mereka pulang dan beristirahat.
Ke tempat itulah Yesus datang. Bukan ke rumah ibadah, bukan pada jam yang khusus, tapi ke tepi danau, di tengah pekerjaan yang belum tuntas. Dia meminjam perahu Simon, mengajar orang banyak, lalu menyuruh mereka menebarkan lagi jaring yang baru saja mereka bersihkan dengan tangan sendiri.
Ikan yang tertangkap begitu banyak sampai jaring itu mulai koyak. Dan setelah semua kerja keras itu, mereka menepikan perahu, meninggalkan segalanya, termasuk jaring yang pagi itu baru saja mereka cuci, lalu mengikut Yesus.
Ada sesuatu yang jujur di sini. Yesus tidak menyapa mereka di luar pekerjaan mereka, tapi tepat di tengahnya, saat tangan mereka masih basah dan lelah. Panggilan-Nya tidak menunggu sampai semua beres. Pagi ini, apa pun yang sedang kamu siapkan atau kerjakan, bisa jadi tempat yang sama.
Hari ini
Sebelum kamu mulai pekerjaan pertama hari ini, pegang satu benda kerja yang biasa kamu pakai, tas, laptop, atau cangkir kopi, dan ucapkan dengan suara pelan, Tuhan, pakai apa yang ada di tanganku hari ini.
✦ Momen siang
Beberapa hari kemudian, ketika Yesus kembali ke Kapernaum, terdengar kabar bahwa Dia berada di rumah. Banyak orang dikumpulkan sampai tidak ada tempat lagi, bahkan di dekat pintu sekalipun, dan Dia memberitakan firman kepada mereka.
Markus 2:1-2
Pernahkah kau merasa begitu penuh jadwal sampai ruang kerjamu sendiri terasa sesak, penuh orang yang butuh sesuatu darimu, dan kau tidak tahu lagi harus mulai dari mana?
Kapernaum bukan kota suci. Ia bukan Yerusalem dengan bait suci dan para imam. Kapernaum adalah kota kerja: nelayan menambatkan perahu, pemungut cukai duduk di pos mereka, orang datang dan pergi karena kota ini ada di jalur dagang tepi danau Galilea. Justru di sini Yesus memilih tinggal. Rumah yang disebut dalam ayat ini kemungkinan besar rumah Petrus, tempat Yesus pernah menyembuhkan ibu mertua Petrus. Dan begitu tersiar kabar bahwa Ia ada di situ, orang-orang berbondong-bondong datang, sampai pintu pun tidak bisa dilewati lagi.
Yesus tidak menunggu suasana tenang untuk bicara. Di tengah rumah yang sesak, di kota yang sibuk dengan urusan dagang dan pajak, Ia tetap mengucapkan firman. Bukan di ruang hening, tapi di ruang penuh manusia dengan segala keperluannya.
Itu berarti tempat kerjamu, rumahmu yang berantakan, kantormu yang bising, bisa jadi tempat yang sama layaknya didengar. Kau tidak perlu menunggu keadaan lengang untuk mengenali Dia hadir di situ.
Hari ini
Sebelum jam istirahat ini selesai, cari satu rekan kerja yang biasanya terlewat, yang jarang disapa karena semua orang sibuk, dan ajak bicara sungguh-sungguh selama beberapa menit, dengarkan tanpa terburu-buru kembali ke meja.
◐ Momen sore
Orang-orang Niniwe percaya kepada Allah. Mereka menyerukan puasa dan mengenakan kain kabung, dari yang terbesar sampai yang terkecil di antara mereka. Ketika kabar itu sampai kepada Raja Niniwe, ia bangun dari takhtanya, menanggalkan jubahnya, mengenakan pada dirinya kain kabung, dan duduk di atas abu.
Yunus 3:5-6
Jam dua siang, layar laptop menyala dengan kabar yang tidak enak, tapi kau menutup rapat wajah dan lanjut ke rapat berikutnya seolah tidak terjadi apa-apa. Tidak ada yang tahu, dan mungkin memang begitu maksudmu.
Di Niniwe hal seperti itu mustahil. Ketika berita penghakiman sampai ke kota itu, orang-orang tidak menyimpannya sendiri-sendiri. Mereka mengenakan kain kasar dari bulu kambing, dari orang paling berpengaruh sampai paling biasa. Bahkan raja turun dari takhtanya, menanggalkan jubah kerajaan, dan duduk di abu, tempat yang biasanya untuk orang yang sudah tidak berdaya lagi.
Kain itu bukan sekadar tanda perasaan sedih di dalam hati. Ia dikenakan di tubuh, gatal dan kasar di kulit sepanjang hari, tidak bisa dilepas begitu saja saat mulai merasa lebih baik. Abu di kepala mengingatkan pada debu, pada kefanaan. Praktik ini memaksa duka dan salah keluar, terlihat oleh seluruh kota, sampai tidak ada seorang pun yang harus menanggung malunya sendirian, sebab semua orang memakainya bersama.
Yang menarik, raja pun ikut, tidak dikecualikan karena jabatannya. Dan Allah tidak sedang menuntut sandiwara religius di sini. Dia melihat lebih dalam dari kain di badan, ke hati yang mau berbalik. Pertanyaannya untuk hari ini, apa yang sedang kau simpan rapi di balik wajah tenang, yang sebenarnya butuh diakui secara nyata, bukan hanya dipikirkan diam-diam?
Hari ini
Ambil satu hal yang selama ini kau tahan sendiri, entah kesalahan atau kekhawatiran, dan ucapkan itu dengan suara keras dalam doa singkat sore ini, sebutkan namanya, jangan hanya dalam pikiran.
☾ Momen sore
Saat salah seorang sedang menumbangkan sebatang pohon, mata kapaknya jatuh ke dalam air. Lalu, ia berseru sambil berkata, “Aduh, Tuanku! Itu barang pinjaman!” Abdi Allah itu berkata, “Ke mana jatuhnya?” Orang itu menunjukkan tempat itu, lalu Elisa memotong sepotong kayu dan melemparkannya ke sana, sehingga mata kapak itu timbul.
2 Raja-raja 6:5-6
Mata kapak dari besi itu berat, dan begitu lepas dari gagangnya, ia langsung tenggelam ke dasar sungai Yordan yang keruh, hilang dalam hitungan detik. Bukan barang murah pula. Bagi murid nabi yang muda itu, besi itu bukan miliknya sendiri, ia pinjam dari orang lain, dan kehilangannya berarti hutang yang mungkin tak sanggup ia bayar.
Itu sebabnya ia berteriak, "celaka, tuanku, itu pinjaman." Bukan sekadar kecewa, tapi cemas. Ada beban di dada yang tidak kelihatan orang lain, hanya dia yang tahu betapa beratnya kehilangan itu bagi dirinya.
Elisa tidak menegur ketakutannya, tidak juga meremehkan soal kecil ini. Ia bertanya, "di mana jatuhnya," lalu melempar sepotong kayu ke tempat itu, dan besi yang berat itu naik ke permukaan. Bukan sungai yang berubah sifatnya, bukan hukum alam yang dibalik selamanya, hanya satu keping besi yang dikembalikan pada satu petang, pada satu orang yang cemas.
Hari ini mungkin ada yang terasa tenggelam dalam dirimu, kata yang salah ucap, waktu yang terasa sia-sia, sesuatu yang kau pinjam dari orang lain, entah kepercayaan, waktu, atau kesempatan, dan sekarang terasa hilang begitu saja. Elisa mengajarkan bahwa Tuhan tidak terlalu besar untuk urusan sekecil ini.
Hari ini
Ambil secarik kertas malam ini, tuliskan satu hal yang terasa hilang atau rusak hari ini, lalu ucapkan dengan suara pelan, "Tuhan, di sinilah jatuhnya," sebelum kau menyimpan kertas itu dan pergi tidur.
Baca perikop ini dalam Alkitab Yang Terbuka (AYT)
Ketuk sebuah bagian untuk membaca teks lengkapnya di sini.
2dan melihat dua perahu yang sedang sandar di tepi danau itu, tetapi para nelayan sudah keluar dari perahu-perahu itu dan sedang mencuci jala mereka.
1Beberapa hari kemudian, ketika Yesus kembali ke Kapernaum, terdengar kabar bahwa Dia berada di rumah.
2Banyak orang dikumpulkan sampai tidak ada tempat lagi, bahkan di dekat pintu sekalipun, dan Dia memberitakan firman kepada mereka.
5Orang-orang Niniwe percaya kepada Allah. Mereka menyerukan puasa dan mengenakan kain kabung, dari yang terbesar sampai yang terkecil di antara mereka.
6Ketika kabar itu sampai kepada Raja Niniwe, ia bangun dari takhtanya, menanggalkan jubahnya, mengenakan pada dirinya kain kabung, dan duduk di atas abu.
5Saat salah seorang sedang menumbangkan sebatang pohon, mata kapaknya jatuh ke dalam air. Lalu, ia berseru sambil berkata, “Aduh, Tuanku! Itu barang pinjaman!”
6Abdi Allah itu berkata, “Ke mana jatuhnya?” Orang itu menunjukkan tempat itu, lalu Elisa memotong sepotong kayu dan melemparkannya ke sana, sehingga mata kapak itu timbul.
Ingin menggali lebih dalam?
Untuk setiap ayat dalam renungan ini, Anda bisa memperoleh penjelasan Alkitab yang mendalam beserta konteks, latar belakang, dan penerapannya.
Mulai penelusuran mendalam