Abigail, Ibu Amasa: Sebuah Nama dalam Dua Ayat
Siapa dia dan kapan ia hidup
Abigail (אֲבִיגַ֫יִל) adalah seorang perempuan yang hidup pada masa kerajaan bersatu, sekitar 1095 SM sampai 975 SM, menurut era menurut kronologi Ussher (1650). Jejaknya dalam teks sangat kecil: tiga ayat, dua perikop, dua kitab. Penyebutan pertama ada di 2 Samuel 17:25, yang terakhir dalam 1 Tawarikh. Keterangan singkat yang melekat padanya adalah bahwa ia saudara perempuan David. Catatan keluarga yang terkumpul mencantumkan Jesse dan Nahash sebagai orang tuanya, Jether sebagai suaminya, Amasa sebagai anaknya, dan di antara saudara-saudaranya ada David dan Zeruiah. Satu hal harus dikatakan terus terang sejak awal: tidak satu pun adegan diceritakan tentang dia. Setiap penyebutan berbentuk daftar, silsilah, atau catatan sambil lalu.
Namanya dalam daftar keturunan (1 Tawarikh 2:16-17)
Penyebutan yang satu berbentuk silsilah murni: "Saudara-saudara perempuan mereka adalah Zeruya dan Abigail. Anak-anak Zeruya ada tiga orang, yaitu: Abisai, Yoab, dan Asael. Abigail melahirkan Amasa, dan ayah Amasa adalah Yeter, orang Ismael" (1 Tawarikh 2:16-17).
Perhatikan apa yang diberikan ayat ini dan apa yang tidak. Ia diberi seorang saudara perempuan, Zeruya, dan ketiga anak Zeruya disebutkan namanya: Abisai, Yoab, Asael. Ia sendiri diberi satu anak, Amasa, dan satu suami, Yeter, orang Ismael. Tidak ada perkataan, tidak ada tindakan, tidak ada tempat tinggal, tidak ada penilaian baik atau buruk. Yang dicatat hanyalah bahwa ia melahirkan. Dari dua ayat pendek ini saja sudah jelas bahwa Amasa dan Yoab adalah anak dari dua perempuan yang bersaudara.
Namanya ketika Absalom mengangkat Amasa (2 Samuel 17:25)
Penyebutan yang lain muncul dalam konteks yang jauh lebih tegang, tetapi tetap bukan sebagai adegan tentang dirinya: "Absalom mengangkat Amasa untuk menggantikan Yoab mengepalai tentara. Amasa adalah anak dari seorang bernama Yitra, orang Ismael, yang telah memperistri Abigail, anak Nahas, saudara perempuan Zeruya, ibu Yoab" (2 Samuel 17:25).
Di sini Abigail hadir semata-mata untuk menjelaskan siapa Amasa. Ia adalah semacam tanda kurung dalam kalimat tentang orang lain. Justru tanda kurung itulah yang membuat ayat ini tajam: orang yang diangkat Absalom untuk menggantikan Yoab adalah anak dari saudara perempuan ibu Yoab. Abigail dan Zeruya melahirkan dua laki-laki yang kemudian berdiri berhadapan dalam urusan kepala tentara. Teks tidak memberi komentar apa pun atas hal itu, dan kita pun tidak boleh menambahkan apa yang tidak dikatakannya.
Dua ejaan nama suami, dua nama ayah
Kedua perikop tidak persis sama, dan itu patut disebut dengan jujur. Dalam 1 Tawarikh 2:17 ayah Amasa dieja Yeter, orang Ismael; dalam 2 Samuel 17:25 ia disebut Yitra, orang Ismael. Yang lebih mencolok menyangkut ayah Abigail sendiri: 2 Samuel 17:25 menyebutnya "anak Nahas", sementara catatan keluarga yang terkumpul mencantumkan Jesse dan juga Nahash sebagai orang tuanya. Bagaimana keduanya harus disatukan, tidak dijelaskan oleh satu pun ayat yang ada pada kita. Pembaca yang jujur membiarkan pertanyaan itu terbuka dan tidak menutupnya dengan dugaan.
Tidak ada kegagalan yang dicatat, dan tidak ada pujian
Karena tidak ada adegan, tidak ada pula dosa yang dicatat tentang perempuan ini. Tetapi ketiadaan itu bukan pujian, dan tidak boleh dibaca sebagai pujian. Tidak ada satu kalimat pun yang memuji imannya, tidak ada doanya yang dikutip, tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulutnya. Diamnya teks bukan kesaksian baik dan bukan pula kesaksian buruk. Yang tersedia hanyalah namanya, ayahnya, suaminya, saudara perempuannya, dan anaknya.
Yang tidak kita ketahui
Daftarnya panjang. Kita tidak tahu kapan ia lahir dan kapan ia mati. Kita tidak tahu di mana ia tinggal. Kita tidak tahu apakah ia masih hidup ketika Absalom mengangkat anaknya mengepalai tentara (2 Samuel 17:25). Kita tidak tahu bagaimana ia bertemu Yeter, orang Ismael, atau bagaimana keadaan rumah tangganya (1 Tawarikh 2:17). Kita tidak tahu bagaimana hubungan antara Nahas dan Jesse dalam asal usulnya. Kita tidak tahu bagaimana ia memandang anaknya sendiri ataupun ketiga anak saudara perempuannya. Semua itu tidak diceritakan, dan dugaan kita tidak dapat menggantikannya.
Nama yang tetap berdiri
Yang tersisa tetap bernilai bagi pembaca yang berpengalaman. Seorang perempuan dicatat dua kali, dalam dua kitab, di dalam daftar keturunan dan di dalam sebuah catatan tentang pengangkatan panglima. Ia tidak memerlukan sebuah kisah agar namanya tercantum. Cukup bahwa namanya dibiarkan berdiri di tengah deretan nama, sebagai ibu Amasa dan saudara perempuan Zeruya, ketika begitu banyak nama lain dari zamannya tidak dituliskan sama sekali (1 Tawarikh 2:16-17; 2 Samuel 17:25).
