1 KORINTUS 7
Teksnya
Jemaat Korintus mengirim pertanyaan, kemungkinan berupa slogan: "adalah baik bagi laki-laki untuk tidak menyentuh perempuan." Paulus tidak menolak slogan itu mentah-mentah, tetapi ia membongkarnya dari dalam: dalam pernikahan tubuh bukan milik sendiri, perceraian bukan pilihan, pasangan yang belum percaya tidak boleh ditinggalkan, orang bersunat maupun tidak bersunat sama saja, budak maupun orang merdeka sama-sama milik Kristus. Lalu ia menarik semuanya ke satu titik: "waktunya sudah singkat" dan "keadaan dunia ini sedang lenyap." Karena itu menikah baik, tidak menikah pun baik; yang menentukan bukan status, melainkan kepada siapa hidup itu terikat.
Intinya
Perhatikan betapa aneh ayat 4 di telinga dunia kuno: "Istri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, melainkan suaminya. Begitu pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, melainkan istrinya." Di Korintus, seorang suami memang berkuasa atas tubuh istrinya; itu hukum umum. Yang meledakkan kebiasaan itu adalah bagian keduanya. Paulus meletakkan kewajiban timbal balik di jantung pernikahan, dan dengan itu ia mencabut akar dari seluruh gagasan kepemilikan sepihak. Dasarnya muncul beberapa ayat kemudian: "Kamu telah ditebus dengan harga lunas." Tidak seorang pun di antara kita memiliki dirinya sendiri, karena kita sudah dibeli. Justru karena itu kita bisa saling memberi diri tanpa takut habis. Anugerah lebih dahulu, baru etika.
Benang Merah
Ketika Paulus berkata istri tidak boleh meninggalkan suaminya dan suami tidak boleh menceraikan istrinya, ia menandainya dengan hati-hati: "bukan dari aku, melainkan dari Tuhan." Ia sedang meneruskan ajaran Yesus tentang perceraian, yang oleh Yesus sendiri ditarik kembali ke Kejadian 2, ke satu tubuh yang tidak boleh dipisahkan manusia. Jadi garis itu utuh: penciptaan, sabda Yesus, nasihat rasuli. Namun Paulus menambahkan sesuatu yang khas Perjanjian Baru: kekudusan sekarang menular ke arah sebaliknya. Dalam Taurat, yang najis mencemari yang kudus; di sini "suami yang tidak percaya itu dikuduskan oleh istrinya." Kekudusan Kristus lebih kuat daripada kenajisan. Itulah sebabnya orang Kristen tidak perlu keluar dari rumah tangganya yang campur; Kristus tidak menular ke luar dengan gemetar, melainkan dengan kuasa.
Cermin
Kalimat "waktunya sudah singkat" bukan ajakan untuk cuek. Paulus tidak berkata jangan menangis, tetapi "mereka yang menangis seolah-olah tidak menangis." Ada jarak setipis kertas antara kita dan segala yang kita pegang: rumah yang baru dicicil, jabatan yang baru diraih, anak yang baru lulus, duka yang belum selesai. Semua itu nyata, dan semua itu sedang lenyap. Pertanyaan yang ditaruh pasal ini di depan hidung kita: apa yang saya perlakukan seolah-olah kekal, padahal tidak? Bagi yang menikah: apakah saya memakai pasangan saya sebagai pemilik, bukan sebagai pemberi diri? Bagi yang sendiri: apakah saya menganggap hidup saya baru mulai nanti, setelah menikah?
Hari ini, tulis di selembar kertas satu hal yang paling Anda takuti kehilangan, lalu ucapkan dengan suara terdengar: "keadaan dunia ini sedang lenyap," dan serahkan hal itu kepada Tuhan dalam doa singkat.
Jalinan dengan Kitab Lain
Tiga jalinan menyala di pasal ini. Pertama, ayat 19: "bersunat maupun tidak bersunat, tidaklah penting." Kalimat itu muncul lagi dalam Galatia, di sana dilengkapi dengan "iman yang bekerja oleh kasih." Paulus jelas sedang memakai rumus yang sudah ia pakai untuk menghancurkan batas Yahudi-Yunani, lalu menerapkannya pada status menikah dan tidak menikah. Kedua, ayat 21 tentang perbudakan berdiri berdekatan dengan surat kepada Filemon: Paulus tidak meledakkan struktur sosial dengan revolusi, tetapi ia menggerogotinya dari dalam dengan sebutan "budak Kristus." Ketiga, dan ini menegangkan: kalimat "biarlah mereka yang mempunyai istri, hiduplah seolah-olah mereka tidak mempunyainya" bergesekan keras dengan Efesus 5, di mana pernikahan justru menjadi gambar Kristus dan gereja. Ketegangan itu tidak perlu diperhalus. Pernikahan adalah tanda mulia dan sekaligus bukan tujuan akhir.
Tokoh Utama
Paulus di pasal ini adalah gembala yang jujur soal batas otoritasnya. Ia membedakan dengan cermat: ini perintah Tuhan, ini pendapat saya, ini kelonggaran bukan perintah. Ia berkata "aku tidak mempunyai perintah dari Tuhan," lalu tetap berani menasihati, dan menutup pasal dengan "menurutku, aku juga mempunyai Roh Allah." Nada itu bukan keraguan, melainkan kerendahan hati yang percaya diri. Yang paling menyentuh adalah keinginannya: "Aku ingin kamu bebas dari kekhawatiran." Di balik semua aturan ada seorang pria yang tidak ingin memasang jerat pada siapa pun, "bukan untuk menaruh jerat atasmu." Ia hidup selibat, mensyukurinya sebagai karunia, dan tetap menolak menjadikan pengalamannya sendiri sebagai hukum bagi orang lain. Itu kedewasaan rohani yang jarang.
Profil Pendengar Pertama
Korintus adalah kota pelabuhan dengan mobilitas sosial tinggi dan moral seksual yang longgar. Di dalam jemaat ada budak, ada orang merdeka, ada perempuan yang baru bertobat sementara suaminya masih menyembah dewa-dewa kota. Bagi perempuan seperti itu, pertanyaan "apakah saya harus pergi?" bukan teori; menceraikan suami kafir berarti kehilangan rumah, nafkah, dan mungkin anak. Sebagian orang Korintus rupanya berpikir bahwa rohani berarti membuang tubuh, membuang seks, membuang ikatan. Paulus menjawab dari arah lain: tinggallah di tempat Anda dipanggil, karena panggilan Allah tidak menuntut perubahan status sosial lebih dahulu. Bagi seorang budak yang mendengar dirinya disebut "orang merdeka milik Tuhan," kalimat itu pasti mengguncang lantai ruangan tempat surat itu dibacakan.
Refleksi
Di mana saya menuntut hak atas tubuh, waktu, atau perhatian orang lain, padahal saya sendiri "ditebus dengan harga lunas" dan bukan milik saya sendiri?
Kalau status saya, menikah atau sendiri, ternyata tidak menentukan nilai saya di hadapan Allah, apa yang harus berubah dalam cara saya menceritakan hidup saya kepada diri sendiri?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang 1 Corinthians 7
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti 1 KORINTUS 7?
Tentang apakah 1 KORINTUS 7?
Apa konteks historis dari 1 KORINTUS 7?
Apa yang 1 KORINTUS 7 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana 1 KORINTUS 7 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang 1 Corinthians 7
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Terima kasih, Tuhan, untuk kelonggaran yang Paulus sebut dalam suratnya: "Aku mengatakan hal ini sebagai kelonggaran, bukan sebagai perintah." Betapa lega hatiku tahu Engkau tidak menekanku dengan aturan kaku, melainkan memberi ruang untuk menimbang dan memilih dengan hikmat.
Dan, seorang perempuan yang mempunyai suami yang tidak percaya, dan suaminya itu setuju untuk hidup bersamanya, ia tidak boleh menceraikan suaminya." Perhatikan kata "setuju untuk hidup bersamanya". Selama pintu itu masih terbuka, Paulus menyuruhmu tinggal. Imanmu bukan alasan untuk pergi, melainkan alasan untuk bertahan. Mungkin kehadiranmu yang sabar itulah khotbah yang sedang ia dengar setiap hari.
Kepada mereka yang sudah menikah, aku memberi perintah, bukan aku, melainkan Tuhan: Istri tidak boleh menceraikan suaminya." Perhatikan kejujuran Paulus. Ia menolak memakai namanya sendiri untuk hal seberat ini. Ada bobot di sana. Janji pernikahanmu tidak bersandar pada perasaanmu hari ini, tetapi pada Dia yang mengikatnya.
Terima kasih, Tuhan, karena pertanyaan jemaat di Korintus tentang hal yang paling pribadi pun Engkau jawab lewat surat Paulus. Aku bersyukur Engkau tidak menganggap remeh pergumulanku soal tubuh, kemurnian, dan hidup melajang, melainkan memberi hikmat yang jelas untuk kujalani.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi