1 PETRUS 5:2
Teks
Petrus memberi satu perintah dengan tiga penjelas. Perintahnya: "Gembalakanlah domba-domba Allah yang ada padamu!" Lalu ia menutup tiga pintu yang paling sering dimasuki para pemimpin rohani. Bukan karena terpaksa, melainkan dengan rela, sesuai kehendak Allah. Bukan demi keuntungan yang hina, melainkan karena kesediaan hati. Dan dalam ayat berikutnya: bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai teladan. Perhatikan bahwa kawanan itu disebut milik Allah, bukan milik penatua; para penatua hanya menerima titipan. Seluruh ayat ini berdiri di antara dua kenyataan yang Petrus sebut sendiri: penderitaan Kristus yang ia saksikan dengan matanya sendiri, dan kemuliaan yang akan dinyatakan. Di antara salib dan mahkota, itulah tempat pekerjaan menggembalakan berlangsung.
Inti
Ada satu kata Yunani di balik "gembalakanlah", yaitu poimainō, yang berarti merawat kawanan secara menyeluruh: memberi makan, memimpin, mencari yang tersesat, menjaga dari serigala. Bukan sekadar memberi ceramah mingguan. Dan justru di sinilah letak teologinya. Allah tidak memerintah umat-Nya dari jauh melalui birokrasi rohani; Ia menggembalakan, dan Ia mengerjakan penggembalaan itu melalui manusia yang Ia panggil. Karena itu tiga larangan Petrus bukan soal etika kerja, melainkan soal apakah seorang pemimpin sungguh mencerminkan watak Allah atau justru menutupinya. Pemimpin yang terpaksa menampilkan Allah yang enggan. Pemimpin yang mencari untung menampilkan Allah yang bisa dibeli. Pemimpin yang berkuasa atas orang menampilkan Allah sebagai tiran. Jabatan gerejawi selalu berkhotbah tentang Allah, entah sengaja atau tidak.
Benang Merah
Petrus tidak sedang menciptakan bahasa baru. Gambaran gembala sudah tua sekali di Israel, dan hampir selalu muncul dengan nada tajam. Yehezkiel 34 adalah dakwaan terhadap para gembala Israel yang menggemukkan diri sendiri dari susu dan bulu domba, membiarkan yang lemah tercerai-berai, lalu ditutup dengan janji Allah bahwa Ia sendiri yang akan turun mencari domba-domba-Nya. Janji itu tidak dipenuhi lewat program, melainkan lewat seorang Pribadi. Petrus, yang menulis surat ini sebagai "saksi mata penderitaan Kristus", tahu persis bagaimana Gembala itu mencari kawanan-Nya: dengan tubuh yang dirobek. Maka setiap perintah dalam ayat 2 bergantung pada ayat 4, "ketika nanti Sang Gembala Agung datang". Penatua bukan pengganti Kristus, melainkan tangan yang dipinjam sementara. Kawanan itu sudah punya Gembala; para penatua hanya menjaganya sampai Ia kembali menjemputnya sendiri.
Cermin
Kalau Anda memimpin apa pun di gereja, ayat ini menyentuh saraf yang biasanya Anda tutupi. Ada Minggu pagi ketika Anda berangkat bukan karena rela, tetapi karena tidak ada orang lain dan Anda tidak tahan menanggung malunya kalau mundur. Ada rapat di mana Anda bertahan mati-matian pada pendapat Anda, dan Anda tahu itu bukan soal kebenaran melainkan soal siapa yang akhirnya menang. Ada rasa puas yang halus ketika orang bergantung pada Anda, dan rasa kesal ketika mereka mulai bertumbuh tanpa Anda. Ada pula perhitungan diam-diam soal amplop, undangan, nama yang disebut di depan. Petrus tidak menuduh Anda jahat; ia hanya menolak berpura-pura bahwa hati pemimpin itu bersih dengan sendirinya. Hari ini, sebutkan di hadapan Allah satu nama dari orang yang dititipkan kepada Anda, lalu ucapkan dengan suara terdengar: "Dia milik-Mu, bukan milikku."
Detail
"Jangan melakukannya untuk mendapatkan keuntungan yang hina." Perhatikan bahwa Petrus tidak melarang penatua menerima nafkah; ia melarang keuntungan yang hina. Kata yang dipakainya membawa nuansa memalukan, sesuatu yang membuat orang menunduk kalau ketahuan. Yang membuatnya hina bukan uangnya, melainkan arah hatinya: pelayanan berubah menjadi cara mengamankan diri. Dan justru di sinilah ayat 4 masuk sebagai lawan tandingnya, "mahkota kemuliaan yang tidak akan layu". Petrus tidak berkata bahwa pemimpin sejati tidak mencari upah; ia berkata bahwa upahnya belum dibagikan. Setiap keuntungan yang direbut sekarang, dengan cara apa pun, pada akhirnya adalah barang layu yang ditukar dengan barang kekal. Itu bukan idealisme; itu perhitungan yang jernih dari seorang tua yang sudah melihat cukup banyak.
Intertekstualitas
Sulit membaca ayat ini tanpa mendengar sarapan di tepi Danau Tiberias dalam Yohanes 21. Di sana Yesus tidak menegur Petrus dengan ceramah tentang kesetiaan, melainkan tiga kali menanyakan kasihnya dan tiga kali menyerahkan domba-domba-Nya kepadanya. Perhatikan urutannya: pemulihan lebih dulu, tugas kemudian. Petrus tidak menjadi gembala karena ia terbukti kuat, tetapi karena ia diampuni. Ketika ia kini menulis kepada para penatua di Asia Kecil, ia sedang mewariskan apa yang ia terima di pantai itu. Dan bandingkan dengan Yehezkiel 34: para gembala yang dihakimi di sana dituduh memakai kawanan untuk diri sendiri, persis tiga hal yang Petrus larang. Perjanjian Lama mendiagnosis penyakitnya, Injil memberi obatnya, dan surat ini menerapkannya pada gereja yang sedang menderita.
Pertanyaan
Ada yang janggal di sini: kerelaan diperintahkan. "Jangan karena paksaan, tetapi dengan rela." Bagaimana mungkin seseorang diperintah untuk tidak merasa terpaksa? Kalau saya bangun hari Minggu dengan hati kering, apakah saya harus berbohong tentang perasaan saya, atau tetap tinggal di rumah demi kejujuran? Petrus tidak menjawabnya. Ia menambahkan satu frasa saja, "seperti yang Allah kehendaki", dan membiarkannya berdiri. Mungkin memang begitu: kerelaan bukan perasaan yang bisa diproduksi, melainkan buah dari melihat siapa pemilik kawanan itu. Selama saya menganggap jemaat sebagai beban saya, keterpaksaan tidak bisa dihindari. Yang bisa saya lakukan hari ini hanyalah datang dengan hati kering itu kepada Gembala Agung, dan meminta Dia mengubah kewajiban menjadi kasih. Petrus sendiri, di pantai itu, ditanya soal kasih sebelum diberi tugas. Urutannya tidak pernah berubah.
Refleksi
Kalau seseorang mengamati cara Anda memimpin selama sebulan, gambaran Allah seperti apa yang akan mereka simpulkan dari sana?
Upah apa yang diam-diam Anda harapkan dari pelayanan Anda sekarang, dan apa yang berubah kalau Anda percaya upah itu baru dibagikan ketika Sang Gembala Agung datang?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang 1 Peter 5:2
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti 1 PETRUS 5:2?
Tentang apakah 1 PETRUS 5:2?
Apa konteks historis dari 1 PETRUS 5:2?
Apa yang 1 PETRUS 5:2 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana 1 PETRUS 5:2 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang 1 Peter 5
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Terima kasih, Tuhan, untuk saudara-saudara seiman yang menyambutku dengan pelukan hangat dan salam kasih. Lewat mereka aku merasakan damai sejahtera yang Engkau janjikan bagi semua yang ada dalam Kristus. Sungguh, aku tidak pernah Kau biarkan berjalan sendiri.
Perhatikan urutannya. Baru saja Petrus bicara tentang singa yang mengaum, tentang penderitaan yang harus ditanggung sebentar. Lalu ia menutup: "Bagi Dialah kuasa sampai selama-lamanya. Amin." Yang mengaum belum tentu yang berkuasa. Suara paling keras dalam hidupmu hari ini bukan pemilik kata terakhir.
Terima kasih, Tuhan, untuk para gembala yang Engkau tempatkan di tengah kami, yang menggembalakan kawanan domba Allah bukan dengan terpaksa, melainkan dengan sukarela. Terima kasih untuk hati mereka yang rela melayani tanpa mencari keuntungan, dan untuk kasih-Mu yang menjaga kami lewat mereka.
Bapa, hari ini aku datang dengan hati yang penuh kekhawatiran. Aku lelah memikul semuanya sendiri. Kuletakkan beban ini di tangan-Mu, karena aku tahu Engkau peduli padaku. Ajar aku percaya bahwa Engkau memelihara hidupku, bahkan saat aku tidak melihat jalan keluar.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi