2 KORINTUS 5:11
Teks
Kalimat ini keluar tepat setelah Paulus menyebut kursi pengadilan Kristus. Ia baru saja membayangkan dirinya berdiri di sana, dan dari bayangan itu ia menulis: "Karena kami tahu artinya takut akan Tuhan, maka kami meyakinkan orang lain." Ia tidak berkata bahwa ia meyakinkan orang karena ia pandai berbicara, atau karena jemaat Korintus menuntut bukti. Ia meyakinkan orang karena ia sendiri gentar. Lalu ia menambahkan sesuatu yang terdengar hampir seperti permohonan: di hadapan Allah, hidupnya sudah terbuka, tidak ada yang tersembunyi; dan ia berharap bahwa di hati nurani jemaat pun ia sudah nyata. Bukan di mulut mereka, bukan di rapat jemaat, melainkan di tempat paling sunyi dalam diri mereka, tempat seseorang tahu apa yang sebenarnya ia pikirkan tentang orang lain.
Intinya
Bayangkan ruangan itu. Paulus mendiktekan, dan di Korintus ada orang-orang yang menyebutnya licik, tidak konsisten, pandai bicara lewat surat tetapi lemah saat hadir. Ia bisa saja membela diri dengan daftar prestasi. Ia tidak melakukannya. Ia justru membuka alasan terdalam dari seluruh pelayanannya: rasa takut, dalam arti gentar yang sehat, terhadap Tuhan yang kelak menilai. Di sinilah teologi ayat ini menggigit. Pelayanan yang lahir dari takut akan Tuhan tidak bisa sekaligus menjadi pelayanan yang memburu tepuk tangan manusia, sebab dua penonton itu menuntut dua pertunjukan yang berbeda. Paulus memilih penonton yang melihat tembus. "Kami sudah nyata bagi Allah" berarti: tidak ada bagian hidupku yang masih bisa kusembunyikan, dan justru karena itu aku bebas meyakinkan kamu tanpa memanipulasi kamu.
Benang Merah
Ada ketegangan yang sengaja dibiarkan Paulus berdiri di sini. Tiga ayat ke depan ia menulis: "Karena kasih Kristus menguasai kami." Takut dan kasih, dalam satu tarikan napas, sebagai dua mesin yang menggerakkan satu orang yang sama. Itu bukan kontradiksi, melainkan bentuk dewasa dari hidup di bawah salib. Sebab siapa yang duduk di kursi pengadilan itu? Dia yang "tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita." Hakim dan Korban adalah satu Pribadi. Itulah sebabnya takut di sini tidak melumpuhkan Paulus, tetapi membuatnya bergerak keluar, menuju manusia. Sepanjang Alkitab, takut akan Tuhan selalu menjadi awal hikmat, bukan akhirnya; dan di dalam Kristus ia berubah bentuk sekali lagi: gentar yang tidak lagi lari dari hadirat Allah, melainkan justru hidup telanjang di hadapan-Nya tanpa binasa.
Cermin
Pertanyaannya sederhana dan tidak nyaman: di hadapan siapa sebenarnya kamu bermain? Ada versi dirimu yang muncul di rapat kerja, versi lain di meja makan, versi lain lagi di grup chat gereja. Kita semua tahu rasanya mengelola kesan: memilih kata agar terdengar rendah hati, menceritakan kesulitan dengan takaran yang pas supaya dikasihani tetapi tidak diremehkan, menahan satu fakta tentang keuangan, tentang pernikahan, tentang apa yang kita tonton sendirian. Paulus berkata, semua itu sudah lama runtuh di satu tempat: "kami sudah nyata bagi Allah." Bukan akan nyata nanti. Sudah. Dan harapan terdalamnya bukan agar orang memujinya, melainkan agar di hati nurani mereka, di ruang paling sepi itu, ia dikenal apa adanya. Hari ini, kirim satu pesan singkat kepada orang yang selama ini kaujaga kesannya terhadapmu, dan katakan satu hal benar tentang dirimu yang biasanya kausimpan rapat.
Profil
Jemaat Korintus hidup di kota pelabuhan yang gila status. Orator keliling datang membawa pidato berbayar, dan kualitas seseorang diukur dari penampilan, kefasihan, surat rekomendasi, dan jumlah pendukung. Ke dalam budaya itu masuk Paulus: tubuh yang lelah, catatan penjara, cara bicara yang menurut sebagian orang tidak mengesankan. Ketika ia menulis bahwa ia "meyakinkan orang lain," telinga Korintus langsung menangkap kata yang berbau pasar retorika, seolah ia mengaku sedang membujuk, merayu, menjual. Paulus tidak menghindari kata itu. Ia justru membelokkan maknanya: aku memang membujuk, tetapi bukan untuk meraih kalian bagi diriku, melainkan karena aku tahu bahwa aku sendiri akan berdiri di hadapan Kristus. Bagi mereka, itu pukulan telak terhadap seluruh cara mereka menilai pemimpin.
Konteks
Surat ini ditulis dari luka. Hubungan Paulus dengan Korintus sudah retak: kunjungan yang menyakitkan, surat keras yang membuat mereka berduka, rasul-rasul lain yang datang dan menanam curiga bahwa Paulus tidak layak dipercaya, bahkan mungkin bermain uang lewat kolekte untuk Yerusalem. Pasal lima berdiri di tengah pembelaan panjang itu, tetapi pembelaan yang aneh, sebab Paulus tidak membela reputasinya; ia membela pelayanannya dengan membuka motifnya. Ia baru saja berbicara tentang kemah tubuh yang akan dirobohkan, tentang hidup oleh iman dan bukan oleh penglihatan, tentang keinginan untuk berkenan kepada Tuhan. Ayat sebelas adalah titik di mana semua renungan tentang kematian dan penghakiman itu mendarat pada satu hal yang sangat praktis: cara seorang hamba Tuhan memperlakukan orang yang mencurigainya.
Gema Kitab Suci
Dua teks berdiri di kiri dan kanan ayat ini. Yang pertama, Galatia 1:10, di mana Paulus bertanya apakah ia sedang mencari perkenanan manusia atau Allah, dan menyimpulkan bahwa seandainya ia masih mau menyenangkan manusia, ia bukan hamba Kristus. Itulah logika yang sama: satu tuan, satu penonton. Yang kedua, 1 Korintus 4:3-5, di mana ia berkata bahwa penilaian jemaat, bahkan penilaiannya atas dirinya sendiri, sangat kecil artinya, sebab Tuhanlah yang akan menyingkapkan apa yang tersembunyi dalam kegelapan. Kedua teks itu menjelaskan mengapa Paulus di sini terdengar begitu bebas sekaligus begitu rendah hati. Orang yang sudah menyerahkan putusan akhir kepada Kristus tidak perlu memenangkan setiap perdebatan, tetapi juga tidak perlu diam ketika kebenaran dipertaruhkan.
Refleksi
Jika seluruh hidupmu sudah "nyata bagi Allah," bagian mana yang paling ingin kaututup, dan apa yang kejujuran itu katakan tentang di hadapan siapa kamu sebenarnya hidup?
Ketika kamu berusaha meyakinkan orang lain tentang iman, apa yang sebenarnya menggerakkanmu: keinginan agar mereka selamat, atau keinginan agar kamu benar?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang 2 Corinthians 5:11
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti 2 KORINTUS 5:11?
Tentang apakah 2 KORINTUS 5:11?
Apa konteks historis dari 2 KORINTUS 5:11?
Apa yang 2 KORINTUS 5:11 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana 2 KORINTUS 5:11 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang 2 Corinthians 5
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Bapa, ada rindu dalam diriku yang tidak bisa dipuaskan apa pun di dunia ini. Tubuh ini lelah, hatiku sering mengeluh. Tetapi aku tahu Engkau menyiapkan rumah bagiku. Tolong aku menanti dengan sabar, dan tetap percaya hari itu sungguh datang.
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau sendiri yang mengambil langkah pertama dan mendamaikan aku dengan diri-Mu melalui Kristus. Aku tidak perlu lagi hidup sebagai musuh-Mu. Terima kasih juga karena Engkau mempercayakan pelayanan pendamaian itu ke tanganku yang lemah ini.
Paulus menyebut tubuh ini "kemah", bukan rumah. Kemah itu dipasang sebentar, digoyang angin, lalu dibongkar. Mungkin kamu merasakannya: tubuh yang makin lelah, sakit yang tak kunjung pergi. Tapi dengar apa yang dia tahu: "kami mempunyai suatu bangunan dari Allah, suatu rumah yang tidak dibuat oleh tangan manusia." Bukan akan punya. Sudah punya. Yang rapuh padamu bukan akhir ceritamu.
Dan, Dia telah mati bagi semua orang supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup bagi diri mereka sendiri, melainkan bagi Dia yang telah mati dan bangkit bagi mereka."
Perhatikan: Kristus mati bukan hanya supaya kamu selamat, tetapi supaya arah hidupmu berubah. Coba jujur hari ini, keputusan-keputusan kecilmu tadi, untuk siapa kamu ambil?
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi